Minggu, 06 Maret 2011

Arak-arakan Dewi Laut

Akhirnya, sebagai calon festival hunter professional (haha!), saya ngga perlu merogoh kocek terlalu dalam karena harus ‘dinas’ ke luar kota. Yes! Hari ini sebuah arak-arakan Dewi Laut diadakan di kota tempat saya berdomisili, Surabaya. Finally, ada acara keren di dalam kota sendiri!

Sebenarnya saya kurang banyak tahu tentang tradisi umat Konghucu yang satu ini. Tadi datang on the spot juga langsung motrat-motret, sambil nanya-nanya random kepada beberapa umat yang kebetulan berjalan bersampingan. Patung Makco (Dewi Laut) ini terakhir kali diarak keluar dari Klenteng Hok An Kiong di Jalan Coklat pada tahun 1964. Acara ini terlihat sangat meriah karena diikuti ratusan umat, dan sempat menjadi tontonan banyak warga di kawasan Kota Lama. Banyak yang pasang tampang heran, karena di hari Minggu pagi ini tiba-tiba jalanan dipenuhi segerombolan orang memakai ikat kepala berwarna merah, membawa beberapa ‘persenjataan’ seperti tombak serta beramai-ramai mengusung tandu. Ya maklum saja kalau banyak yang bertanya-tanya ada keramaian apa pagi itu, karena arak-arakan ini sudah tiga puluh tahun lebih menghilang dari permukaan.


Namun, untuk yang tinggak di kota seperti di Semarang dan Tuban, pasti sudah familiar dengan tradisi ini, karena dua kota tersebut sering mengadakan arak-arakan serupa yang bahkan lebih besar dari acara siang tadi. Kabarnya, umat yang ikut mengarak sebanyak ribuan orang. Wih, ngga kebayang ada ‘lautan merah’ yang memenuhi jalanan kota.

Kirab yang dilakukan hari ini mengambil rute dari altar asal Dewi Laut yaitu di klenteng Hok An Kiong Jl. Coklat menyusuri Jl.Kembang Jepun, Jl.Dukuh (Klenteng Hong Tiek Hian), Jl.Waspada hingga Jl.Slompretan untuk dikembalikan lagi di klenteng semula. Walau panas menyengat, namun sepanjang perjalanan, ratusan umat Konghucu tampak bersemangat mengantar Dewi Laut untuk menebar berkah sepanjang jalan, sembari terus-menerus merapal doa. Uniknya pada setiap perempatan atau pertigaan, arak-arakan yang mengusung tandu harus bergerak memutar hingga tiga kali. Dari yang saya dengar sih, para pengusung tandu ini juga tidak boleh sembarangan, paling tidak dia harus menjadi vegetarian tiga hari sebelum kirab dilaksanakan. Acara agak terganggu pada saat tandu berada di depan Klenteng Hong Tiek Hian. Rupanya ada dua orang yang asik menonton kirab dari lantai dua Klenteng.

“Istilahnya, ngga boleh ada manusia yang lebih tinggi dari Dewi, Mbak, makanya tadi ngga jadi masuk ke klenteng Dukuh,” kata seorang wanita yang mengira saya wartawan. Dan acara ini dengan sukses memaksa saya berolah raga jalan kaki ‘agak cepat’ mengelilingi sedikit jalanan di kawasan Pecinan. Tapi so far, mengikuti kirab ini terasa sangat seru, penuh tabuhan genderang tapi tetap terasa sakral.

PS: Nikmati juga reportase dan foto-foto super duper keren dari dua temen saya dengan klik tautan berikut.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar