Rabu, 24 April 2013

Makan Apa di Festival Teluk Jailolo?



Gunung Jailolo habitat buah pala

Festival Teluk Jailolo 2013 sudah di depan mata. Dua kawan saya, @wiranurmansyah dan @kenarrox, beruntung berhasil mengantongi tiket gratis menuju pulau kecil di Halmahera Barat tersebut. Eh, bukan beruntung deng. Mereka patut menang lah ya, atas kerja keras otak mencari sudut pandang kreatif yang jarang dipikirkan orang lain saat membuat tulisan. :D

Anyway, buat kalian-kalian yang berencana kesana. Please, do two this important things: have fun and eat a lot! Itulah mengapa saya sengaja membuat postingan ini. Sekedar bernostalgia dengan masakan Bu Fao, satu-satunya pemilik homestay di Jailolo yang juga bertugas menyediakan masakan-masakan khas Maluku untuk tamu-tamu. Selama di sana, saya ngga kenal makan pagi, siang, atau malem. Asal ada makanan baru yang terhidang di meja, maka rombongan saya selalu dengan senang hati dan lapang dada untuk menyantapnya. Hehehe... 

Pisang Mulut Bebek
Mengapa dinamakan demikian? Karena kata orang sana bentuk si pisang mirip dengan lengkungan mulut bebek. Awalnya saya mengira, fungsi pisang ini sama seperti pisang di warung-warung Jawa, sebagai hidangan penutup atau sebagai camilan saja. Namun tidak di sini. Warga lokal menyantapnya sebagai pengganti nasi. Biasanya bersanding dengan menu ikan. Selain digoreng, umumnya pisang ini direbus dengan santan, yang kemudian disebut sebagai pisang santang. Nah, yang kayak gini nih sempet saya coba di homestay Bu Fao. Setelah di rebus warna pisang berubah menjadi kecoklatan dengan sisa-sisa santan yang menempel. Memang tak terlalu empuk sih, apalagi saya doyan makan pisang yang udah matang banget. Ternyata untuk membuat pisang santang memang sengaja dipilih buah yang masih muda agar tidak hancur. 


Papeda
Dari dulu saya penasaran banget dengan menu satu ini. Papeda memang tidak hanya bisa didapatkan di Maluku. Daerah dengan pangan pokok sagu biasanya juga membuat menu serupa, seperti Papua. Cara bikinnya? (Katanya) mudah kok! Tepung sagu ditaburi garam dan gula. Diaduk sembari dituangi air mendidih sampai lembut dan berwarna putih bening. Tekstur papeda yang menyerupai lem ini biasanya membuat orang asing kayak saya melongo. Rupanya perlu sepasang sumpit atau semacamnya lah untuk menuang papeda dari mangkuk besar ke piring-piring. Perlu sedikit kebiasaan untuk jago dalam hal satu ini. Seperti tepung yang lain, papeda ini pun sebenarnya terasa hambar. Karena itulah setiap ada hidangan papeda, umumnya disediakan pula sup ikan kuning yang Ya Tuhaaaaaan.... endang mbambang! Wenak tenan! Sueger, tuips! Kalau udah pake perpaduan papeda dan sup ikan kuning, ya ngga perlu ambil nasi lah ya. Dijamin kenyang!




Nasi Jaha
Nah, yang ini mirip banget rasanya sama lemper. Tapi tanpa filling daging. Nasi jaha juga terbuat dari beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang. Makanan ini oily dan lengket banget di mulut. Nasi Jaha kabarnya juga ada di Sulawesi. Meskipun judulnya ada kata 'nasi', tapi saya anggap sebagai camilan macem lemper. Hehe...



Nasi Kembar
Ini baru nasi beneran nih. Rasanya manis ya seperti nasi-nasi lainnya. Sekilas bentuknya yang terbalut daun pisang, bikin saya ingat lontong di Jawa. Tapi teksturnya ngga selembut itu. Karena nasi ini setelah berada dalam dua selongsong daun pisang, kemudian dimasukkan dalam bambu untuk dibakar. Makanya agak-agak keras gitu. Tapi wangi banget terkena paparan daun pisang.


Ikan Dabu-Dabu Manta
Pertama kali mendengar nama menu ini, saya beneran ngga ngarep bakal makan manta (pari). Dari ribuan warung sego sambel yang berjejer di Surabaya, hanya ikan pari yang ngga saya suka. Menurut saya, baunya aneh. Terlebih mendegar kisah ikan pari dan anak-anak Jermal, yang.. eum.. udahlah. Jadi ngga laper nanti. Hehe..


Alhamdulillah, ternyata 'manta' dalam bahasa lokal berarti mentah. Dinamakan seperi itu karena masakan ini dihidangkan dengan rajangan bumbu dan sayuran segar tanpa direbus atau digoreng. Biasanya sih pake ikan jenis tongkol. 

Setelah dibersihkan, ikan dibakar terlebih dahulu. Namun, ajaibnya saya sama sekali tidak melihat sisa-sisa pembakaran yang menempel di badan ikan. Bersih dan matang dengan sempurna. Sepertinya ada teknik khusus yang digunakan oleh masyarakat lokal dalam membakar ikan. Selanjutnya, tomat, cabai rawit, bawang merah dipotong kasar dan ditaburkan di atas ikan yang telah dibakar. Tak lupa beberapa helai daun kemangi dan perasan jeruk nipis untuk menambah harum dan rasa segar. Luar biasa enak! Saya nambah berkali-kali. Walaupun katanya sudah banyak yang jual di Jawa tapi biarin deh, jangan-jangan saya ngga bisa balik lagi ngerasain masakan Bu Fao. Beda tangan bisa beda rasa juga.

Menu masakan ini juga bisa dimodifikasi menjadi dabu-dabu rica. Baik rica maupun manta, biasanya sih disantap dengan pisang mulut bebek santang ataupun rebusan ubi. Kalo saya tetep pake nasi. Nasi for the win! Hehehe...

Gohu Ikan
Yang ini faporit!! Primadona di hati saya pokoknya! Hehehe... Sesungguhnya gohu ikan ini masakan yang masih mentah. Tapi ngga tau kok bisa ngga anyir yah. Jadi ikan ini memang harus segar dari nelayan dan dimasak saat itu juga. Biasanya sih jenis tuna dan cakalang. Ikan yang baru ditangkap ini segera dibersihkan dan dilumuri garam, kemudian dipotong menjadi seperti dadu-dadu kecil. Berbagai rempah yang wangi dan segar juga turut dilumurkan. Ada bawang merah, perasan jeruk nipis, rajangan cabe rawit, dan pasti daun kemangi. Semua itu disiram dengan sedikit minyak panas. 


Beneran ngga kayak mentah. Tangan saya ngga bisa berhenti ngambil. Huahahaha... Orang asing yang baru bertandang ke Jailolo pasti bilang bahwa gohu ikan ini mirip sashimi. Lah, saya sih nurut aja, ngga pernah makan sashimi sih. :p Anyway, biasanya gohu ikan ini dimakan bareng pisang santang atau roti sagu yang bentuknya mirip roti tawar panggang.


Selamat makan sodara-sodara, teruslah memperkaya lidah dengan khazanah kuliner Indonesia yang beragam. Hehe. Makanan di atas kayaknya minim resiko meningkatkan kolesterol yah? Jadi kayaknya aman nih buat yang suka cenat-cenut setelah makan jerohan. Selain dari homestay Bu Fao, makanan-makanan ini juga kembali dihidangkan dalam acara Horom Sasadu, semacem upacara paska panen gitu. Makan terus 7 hari 7 malem di balai adat! Buat yang mau berencana ke Festival Jailolo bulan Mei mendatang, nitip salam buat Bu Fao yah. Makanlah sampai puas, karena Bu Fao ngga buka franchise sampai Jawa. []


Horom Sasadu saat Festival Teluk Jailolo 2012

Minggu, 21 April 2013

Dulu, Hujan Tak Pernah Semengerikan Hari Ini

Badan kami sudah letih. Setelah berputar-putar berkeliling beberapa bagian di Surabaya sedari pagi, akhirnya kami pulang ke rumah menjelang Maghrib. Baju saya basah, sedangkan Mas Dian masih mengenakan jas hujan yang hanya sepasang itu. Kami memang sempat merasakan diterpa hujan angin hingga memutuskan berhenti di tepian jalan cukup lama. Saat kondisi cukup kondusif, Mas Dian menyalakan motor butut saya lagi. Hingga terpaksa berteduh di bawah jembatan layang, saat hujan tiba-tiba kembali menggila. 

Perjalanan ke pusat kota memang menjadi sangat jauh saat saya dan suami menyewa rumah di pinggiran Surabaya Timur. Selama hampir empat bulan sebelum menikah, saya berputar-putar mencari rumah yang strategis dan terjangkau dompet. Tipikal orang Indonesia lah, maunya murah dan bagus. Tentu saja yang seperti itu mustahil didapatkan di zaman apa-apa serba mahal ini. Mau murah ya di pinggiran! 

Banyak sekali perumahan mini yang di bangun di pinggiran kota Surabaya. Saya pun akhirnya menempati salah satunya, yang masih terbilang dekat dengan pusat kota dibandingkan yang lain. Namun tetap saja, daerah tempat tinggal saya ini lebih dekat dengan tambak dan perairan Surabaya Timur daripada Stasiun Gubeng. Tapi tetap bersyukur, mendapat rumah dengan halaman ekstra. Eksta besar dan ekstra juga tenaga perawatannya. 

Maghrib itu kami tiba di rumah. Hujan deras tadi rupanya menimpa wilayah kontrakan kami pula. Berharap segera mandi dan makan malam lalu santai-santai, saya cepat-cepat membuka pintu. Seketika kaget! Rumah kami ternyata kebanjiran! Air hujan masuk dari sela pintu ruang tamu. Merembet hingga ke kamar depan. Arrrgh... 

Saya dan Mas Dian kerja bakti malam itu. Mengepel lantai, mengeluarkan barang di kardus yang dasarnya digenangi air, lalu mengepaknya kembali. Tentu saja, semua kegiatan itu dibarengi dengan rutukan tentang desain rumah kontrakan yang serba kurang perhitungan. Sebelumnya memang pemilik rumah ini juga sudah berwanti-wanti agar sabar dengan rumah ini. Dia menyalahkan tukang bangunan yang bekerja sesuka hati tak sesuai perintah.

Semenjak kejadian itu, kami memperbanyak membeli keset dan kain pel. Semua dipasang berjejeran di sela pintu ruang tamu. Setiap hujan turun, Mas Dian selalu sigap keluar rumah untuk mengecek arah angin hujan. Bila condong miring ke Timur maka siap-siap ruang tamu akan tergenang lagi. Bila condong ke Barat, kami berlari ke pintu belakang dekat dapur tempat jemuran berada. Entah ide siapa yang menaruh pipa talang buangan air dari genteng ke dalam area rumah. Ya meskipun itu hanya sepetak kecil tempat jemuran yang tak beratap, sepertinya lebih baik untuk mengalirkan pipa tersebut ke arah luar. Jangan heran bila kelak datang ke rumah saya, kalian melihat banyak tumpukan keset di depan pintu. 

Persoalan tak berhenti di situ. Di kamar kami sendiri pun sama. Selang beberapa hari diributkan oleh masuknya air dari depan dan belakang, rupanya masih ada tempat yang harus mendapat pengawasan. Rembesan air di dinding kamar yang kata pemiliknya sudah ditambal berulang-ulang itu masih saja ada. Mengalir seperti air terjun mini. Meskipun lebarnya hanya 0,5 cm, tapi kalo ada tujuh rembesan ya itu namanya persoalan. Kami pun menaruh keset di pojokan kamar. 

Sehari setelah Mas Dian kembali ke Sumba, lampu ruang tengah tiba-tiba mati. Saya lantas menggantinya dengan yang baru. Tapi tak juga menyala. Lantas lampu baru tersebut saya coba pada fitting lainnya di kamar depan dan sukses menyala dengan terang. Masih bersabar, saya pasang lagi lampu itu di tempat yang mati. Gelap. Seketika saya menelepon suami, dan tangis saya pecah. 

Kalau dipikir saat ini, saya hanya bisa geleng-geleng kepala, bagaimana sebuah bohlam lampu mampu membuat saya menangis sekencang itu. Saya pernah terombang-ambing di laut perairan Madura-Sapudi selama tiga jam. Beberapa penumpang sudah menangis dan menyebut asma Allah. Tapi saya tidak meneteskan air mata sedikit pun. Malah berusaha untuk tidur. Di Sintang, saya pernah mendaki Bukit Kelam yang ternyata memang kelam. Saya hampir pingsan karena kurang gula. Tapi tak juga merengek minta turun ke bawah. Saya tetap berjalan sembari mengunyah wafer yang diberikan seorang kawan dan terus berpikir positif agar cepat sampai di camping ground. Lantas bertahun kemudian, saya di kamar, tersedu karena sebuah bohlam lampu. 

Seiring dengan seringnya hujan turun, maka rumput-rumput liar di halaman rumah pun tumbuh subur. Sebelum kembali ke Sumba, Mas Dian sempat menyemprotnya dengan herbisida lalu memangkasnya dengan gunting ruput. Tapi seperti kata Shancai, rumput liar bisa tumbuh dimanapun dan kapanpun. Maka mereka kembali bermunculan ijo royo-royo. 

Dulu, hujan tak pernah semengerikan ini. Setiap mendung terlihat, saya selalu was-was. Meninggalkan rumah untuk keluar kota menggarap pekerjaan pun tak bisa terlalu lama. Pikiran saya selalu ke rumah. Memang sudah ada keset-keset. Tapi toh mereka butuh dicuci dan dikeringkan agar rumah tak menjadi lembab dan menjadi tempat tinggal favorit berbagai jamur dan penyakit. Ah, pokoknya...!

Hujan di tengah malam adalah hujan paling mengerikan bagi saya. Apalagi jika terlihat cahaya petir yang menyambar. Membuat tidur saya semakin tidak enak untuk dilanjutkan. Ah tapi apapun itu, semuanya harus disyukuri ya. Paling ngga, warna rupa-rupa di awal bulan sudah menghiasi kehidupan pernikahan kami. Hari ini jalan menuju bulan ketiga kami mengontrak rumah ini. Ada banyak hal yang membuat saya berubah secara drastis. Ada yang enak, ada pula yang tak nyaman. Kapan-kapan saya ceritakan. :)

Sabtu, 30 Maret 2013

Transportasi Menuju Rammang-Rammang

Setelah postingan transportasi menuju Tanjung Bira, sekarang saya mau share transportasi ke Rammang-Rammang. Ini lebih karena saya pengen balik lagi kesana, for sure! Dan takut lupa rutenya. Buat yang belum tau dan malas googling, Rammang-Rammang ini sebetulnya sebuah desa di Maros. Kalau denger kata Maros apa sih yang terlintas? Jejeran Karst? Bantimurung yang surga kupu-kupu itu? Yap, keduanya betul! Tapi kemarin saya memang sengaja tidak mampir TN Bantimurung yang air terjun itu, karena hmm... katanya sih jadi tempat pacaran doang. Hahaha.. katanya lho yaaa... Lagian kalo pas musim ujan, katanya jugaaa, ngga banyak kupu-kupu terbang. Yaudah, saya memutuskan untuk ke Karst maros, yang sebetulnya pun masih merupakan bagian dari wilayah TN Bantimurung.

Nah, how to get there?

Gampang banget. Dari pusat kota Makassar, coba naik taksi atau pete-pete jurusan Mandai. Nah, lebih enaknya lagi, bilang aja turun depan Bandara (Sultan Hasanuddin). Terus, oper pete-pete yang jurusan Pangkep, minta turun di pertigaan pabrik semen Bosowa. Tarif yang dikenakan untuk pete-pete Pangkep ini 7500 rupiah. Tapi kayaknya, beda sopir, beda juga tarifnya. Saya sempat bayar 5000 doang tapi disuruh nambah, hehe... Yaudah... Total perjalanan dari pusat kota Makassar kira-kira 60-90 menit, tergantung kemacetan dan tingkat kengeteman pete-pete.

Abis itu, saya dan teman jalan kaki menyusuri jalan yang menuju pabrik semen tersebut. Sebetulnya ada pete-pete yang juga lewat sini, tapi kalau masih pagi belum ada. Kalau ngga kuat jalan, bisa naik ojek kok. Kira-kira 500 meter dari jalan raya tadi, di sebelah kiri ada gapura yang bunyinya Selamat Datang di Karst Maros. Masuk aja, cyin! Pas di pete-pete saya udah ngaplo gitu ngeliat jejeran karst dari kejauhan. Berasa di Ha Long Bay... Padahal ya belum pernah ke sana haha... Tapi mirip aja gitu kalo liat gambarnya di gugel. 

Ini belum masuk Rammang-Rammang, karena untuk menuju desa tersebut harus pake perahu dan menyusuri sungai. Jadi saya putuskan untuk mencari sungai itu dulu alih-alih masuk ke gapura tadi. Ya kira-kira nambah jalan kaki lagi 100 meter lah. Sampe nemu jembatan, ada dermaga keciiil banget di sebelah kiri. Sayangnya, waktu itu saya cuman nemu ibu-ibu lagi nyuci baju, dan anak-anak kecil berenang-renang di kali. 

Menurut info ibu tersebut, yang punya perahu sedang entah kemana. Memang kabarnya sih belum banyak yang menyewakan perahu ke Rammang-Rammang. Hanya ada satu dua orang. Tarifnya berkisar 100 ribuan. Sungainya ngga lebar kok, tapi di sepanjang kanan kirinya 'ditumbuhi' karst gitu. Alhasil saya cuman bisa celingak-celinguk aja di bibir dermaga. Dan setelah beberapa lama yang nyewain perahu ngga muncul juga, saya dan temen memutuskan untuk ciao. Kami kembali menuju gapura tersebut untuk melihat karst yang di berada di tengah persawahan. That's why I wanna go back there, karena belum kesampean nyusurin karst yang di pinggir sungai. 

Someday, yah, someday :)

Btw, foto karst Maros bisa diklik lewat sini sementara ya:
http://instagram.com/p/XOpi4Figee/

Lagi males nyolokin hardisk hehe... 

Rabu, 27 Maret 2013

Transportasi Menuju Tanjung Bira

Sebenernya saya amat sangat jarang nulis guidance kayak gini. Tapi berhubung kemarin sudah diberi berbagai macam kemudahan, maka saya janji pada diri sendiri untuk sharing tentang transportasi menuju Tanjung Bira dari Makassar. Saat berencana menuju tempat ini, tentu saya sudah riset lokasi dan sebagainya, hanya saja, informasi yang saya butuhkan belum ada atau masih setengah-setengah. Jadi, semoga ini bisa membantu teman-teman yang ingin vakansi ke kaki Sulawesi. :)

Kalau ditilik dari gugelmep, Tanjung Bira dan pusat kota Makassar hanya berjarak tak lebih dari 200 km. Ya kira-kira makan waktu 4 jam. Nah perjalanan via darat bisa menggunakan dua pilihan. Rental mobil atau pakai angkutan umum. Dari info salah seorang teman baru di Bira yang menggunakan opsi pertama, dia berujar bahwa tarif sewa mobil dari Terminal Mallengkeri ke Bira sebesar 300.000 rupiah. Itu pun deal setelah tawar-menawar. 

Yang kedua, pakai angkutan umum. Ini ada dua pilihan lagi. Pakai mobil berplat kuning atau bus menuju Selayar. Yang paling banyak di-share di blog-blog perjalanan adalah mobil berplat kuning.   Mobil ini biasanya bermerk Avanza atau Panther atau Kijang. Banyak berjejer di Terminal Mallengkeri. Nah, ini pun juga harus pinter-pinter nawar. Apalagi kalau si mas sopir paham betul bahwa kita bukan orang lokal. Biasanya sih harganya dinaekin :p Kisaran sih antara 30-50 ribu rupiah. Sayangnya, mobil-mobil ini baru berangkat setelah penumpang penuh, atau bahkan overload, menurut saya. Ya bayangkan, normalnya kan mobil seperti itu diisi 8 orang termasuk sopir ya? Nah, kalau yang ini biasanya nyampe 10 orang penumpang doang. Ngetem nunggu penumpang bisa berjam-jam sendiri. Belum di jalan juga pake acara berhenti-berhenti (katanya). Kalau dari Makassar jam 9 pagi bisa jadi nyampe Bira jam 5 sore. 

Petugas resepsionis hotel tempat saya menginap di Makassar juga bercerita, "saya terlalu siang ke Mallengkeri. Hanya ada satu Kijang saja, kena tarif 150.000 ke Bira." Jadi kalau memutuskan pakai mobil plat kuning, usahakan datang pagi-pagi ke Mallengkeri. Oh iya, umumnya mobil plat kuning ngga sampe Bira, mereka hanya berhenti di Bulukumba. Lalu kita harus oper pakai pete-pete (angkutan dalam kota) untuk ke Bira. Udah deket sih antara Bulukumba dan Bira, paling 30 menit sampai 1 jam lah tergantung kebaikan sopir pete-pete untuk ngga ngetem lama-lama hehe... Ya kalau beruntung, katanya sih ada juga kok mobil plat kuning yang nyampe Bira. Jadi jangan lupa bertanya ya sebelum ngarep yang iya-iya :)

Oke, kalau saya sendiri, pakai moda transportasi bus ke Selayar. Ada tiga perusahaan otobus yang melayani rute Makassar - Selayar; Mahkota, Sumber Mas, satu lagi maaf saya lupa hehe... Berangkatnya semua jam 09.00 pagi dari Terminal Mallengkeri. Rute yang saya tempuh minggu lalu (22 Maret 2013) dari hotel di Jalan Jampea ke Karebosi jalan kaki, lumayan jauuuh :)) terus sampe nemuin pete-pete warna merah yang lewat Mallengkeri. Yap, ini pete-pete lewat doang, ga nge-pool di terminal Mallengkeri, jadinya karena keasyikan ngobrol, kebablas lah saya dan si temen. Kudu balik arah naik bentor 15.000, fufufu... Tarif pete-petenya sih cuman 3000 per orang. Tapi lambreta bo, sopirnya doyan ngetem. Kalau waktunya terlalu mepet, mending naik taksi deh.

Dari Terminal Mallengkeri jangan kaget kalau udah banyak calo menanti. Tapi ngga seberingas di Ubung sih :p Kalau ditanya mau kemana, bilang aja ke Selayar, ngga apa-apa mereka ngga nggigit. Ntar pasti ditunjukin tempat bus Selayar yang lagi parkir jejer-jejer. Nah, waktu itu, saya milih Mahkota. Kayaknya sih baik Mahkota maupun Sumber Mas sama-sama bagus dan bersih kok. Untuk turun Bira, tarifnya 70.000 per orang. Udah dapet kursi empuk dan AC, plus sealbum lagu-lagu Wali lewat layar LCD. 

Kenapa pake bus? Pertimbangan saya adalah waktu. Kalau saya dua minggu di Sulawesi Selatan sih nyantai aja kali ya. Tapi ini terbatas hanya 4 hari. Ke Tanjung Bira pun hanya ada waktu 2 hari saja. Bus ke Selayar pasti berangkat tepat waktu, karena mereka kan ngejar kapal yang bakal nyebrang ke Selayar. Waktu itu, bus yang saya tumpangi berangkat setelah Sumber Mas. Jadi ya kira-kira pukul 09.15 lah. Busnya enak dan nyaman. Pak sopir juga asik nyopirnya. Oya, jangan kaget kalau tiba-tiba bus berhenti di pinggir jalan raya Takalar (eh atau Talakar ya?). Ini tuh udah tradisi, ngasih waktu penumpang buat beli jagung rebus biar ngga kelaperan di jalan. Saya ikutan beli hehe, jagungnya kecil paling 15 senti, plus bulirnya banyak yang hilang entah kemana, warnanya kuning pucat hampir mirip putih mutiara. Tapi enak :9

Ngga lama kok, abis itu bus jalan lagi... Sampai Bantaeng bus berhenti dan di sini dipersilahkan buat makan siang bagi yang laper. Tentu saja tarifnya ngga included lunch ya. Bayar sendiri lah :) Kenyang makan, perjalanan lanjut lagi hingga sampai ke Pelabuhan Bira pukul 14.30. Dari sini, yang mau ke Bira harus turun dong. Yaiya dong ya, masak mo lanjut Selayar. Ya ngga ngelarang juga sih, tapi tarifnya kan beda... *dibahas*

Kemarin sih dari pelabuhan saya dan si teman memutuskan jalan kaki ke arah guesthouse di wilayah pantai pasir putih. Ternyata jauuuuhh hahaha... Hampir dua kilo deh itu kayaknya. Kalau udah terlalu siang, emang jarang banget ada pete-pete lewat. Kalau ada ojek dan ngga kuat jalan mending ngojek aja. Kalau pengen ngelemesin kaki sambil liat-liat suasana kampung, mending jalan santai :) Tapi biasanya sih jam segitu, Bira lagi panas-panasnya.

Untuk transportasi pulang menuju Makassar lagi, saya pake moda yang sama. Kita cukup menunggu datangnya kapal dari Selayar di Pelabuhan Bira dan langsung naik deh kalau ada bus ke Makassar. Karena saya, udah terlanjur nyaman sama si Mahkota, ya akhirnya pake bus yang sama dengan sopir yang sama pula. Stand by lah di pelabuhan jam 10 pagi. Kalau mau pake mobil plat kuning, bisa juga kok. Bisa dari Bira, yang mungkin kebetulan ada warga mo ke Makassar pagi-pagi, atau naik pete-pete dulu ke Terminal Bulukumba. 

Oke, sekian, semoga bermanfaat :)

Menutup hari di Bira :)

Sabtu, 16 Maret 2013

Tentang Sebuah Artikel Makanan

Minggu lalu saya sempat membeli sebuah majalah pariwisata yang baru beredar sebagai edisi pertama di Indonesia. Sebenarnya bukan baru juga sih, DestinAsian Indonesia, nama majalah tersebut, sudah mempunyai induk berjudul serupa yang telah terbit lama kalau tidak salah di Singapore. 

Lalu, apa yang membuat saya hingga membuat tulisan ini? 

Jadi ceiritanya, karena sibuk ngurus rumah (dan suami), saya baru sempat kemarin benar-benar membaca isinya. Sungguh ini bukan iklan, bahkan saya ngga dapet apa-apa juga dari nulis ini hahaha... Hanya saja, saya harus acungi jempol salah satu artikel di rubrik Food Stuff. Bukan, ini bukan tentang review 100 kata menu makanan dengan dilengkapi alamat warung dan harga sepiringnya. Food Stuff dalam edisi pertama ini ditulis oleh Gemma Price. Well, I dont know who she is. Coba buat yang penasaran, bisa gugling. Memang sih yang dibahas bukan masakan Indonesia, melainkan beberapa menu masakan di kota Hue, Vietnam. What fascinated me is bagaimana dia menuliskan sebuah makanan dengan begitu indah. Indah, dalam kamus saya, bukan hanya yang bagus-bagus secara diksi. Namun, karena ada hal-hal lain yang membuat saya terangguk-angguk. 

Menulis makanan dalam artikel ini, bukan hanya tentang rasa, penampakan luar dan harga. Tapi melibatkan unsur lain. Tentang bagaimana si koki memperlakukan makanan tersebut, dari membeli bahan di lapak-lapak pasar, tawar-menawar, hingga tersaji di atas piring. Tentang tanah yang menyuburkan bumbu-bumbunya. Musim-musim yang memperkaya daftar kulinari kota Hue. Hingga kebiasaan sosial masyarakat berkaitan dengan satu menu itu. 

Err, looks complicated ya? Well, ngga juga sih. Entah mengapa tulisan makanan yang berjudul Dua Kutub Hue ini begitu mudah dicerna. Belum pernah saya membaca artikel perjalanan tentang makanan yang terasa begitu intim seperti ini, terutama di majalah pariwisata nasional yang jumlanya membludak. Ini memang pinter-pinter gaya yang nulis sih ya. Sekali lagi, bagi saya tulisan perjalanan bukan jurnal ilmiah skripsi, namun bisa sangat berisi dengan menambahkan 'keluwesan' di sana-sini. Apalagi si Mbak Gemma ini gemar memakai diksi-diksi yang tak biasa dalam menulis artikel makanan. 

Contohnya, "Warga Hue gemar mengunyah sepanjang hari dan kota ini punya banyak opsi berharga terhangkau untuk memuaskan hobi tersebut. Dalam kasta kuliner Hue, makanan jalanan dan menu bangsawan punya status yang sama luhur."

Saya pikir, jarang sekali tulisan makanan dalam majalah pariwisata yang menghabiskan empat halaman.  Tapi dari artikel ini, saya belajar bahwa semua itu mungkin dilakukan dengan pengamatan yang jeli. 

Sayangnya, saya belum pernah punya kesempatan untuk mencari buku Jalan Sutera garapan Pak Bondan. Menurut teman saya, beliau sangat cerdas dalam memaparkan sebuah menu makanan seperti artikel yang baru saja saya baca di DestinAsian. 

Jaman canggih seperti ini, banyak sekali food blogger yang bertebaran di dunia maya. Tentu saja ini menyenangkan. Apalagi saya suka makan, hahaaa... Saya pun masih belajar, bagaimana menulis interpretasi dari sebuah makanan dengan kreatif dan gaya yang menarik. Terlebih bukan melulu tentang info yang sudah dapat di-gugling ratusan orang. Atau hanya umbar foto bagus saja. Karena dalam sebuah tangkapan lensa, kuah sup yang terlalu asin akan nampak sama saja dengan kuah sup yang kebanyakan merica. 

Selamat jalan-jalan, makan-makan, dan menulis! :)

Baru beli lombok di warung depan komplek rumah, found out that they have interesting color contrast... 
Ora penting yowesben :p