Jumat, 15 Agustus 2014

Minggu ke-39: Bertemu Anak Lanang (2)

Di atas kasur saya didorong kesana kemari dan melewati beberapa pintu. Ruang operasi rumah sakit ini letaknya sangat terisolir, pikir saya saat itu. Hingga akhirnya saya dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang sangat benderang. Suhu di dalamnya mirip kulkas. Saya bergidik kedinginan. Seorang operator ruang operasi menyapa dan menanyakan beberapa hal untuk basa-basi sembari memasang kabel ini itu di lengan saya. 

Sebentar lagi... perut saya dibedel-bedel. Lagi-lagi ketakutan itu muncul. Rasa sakit pasca operasi cesar kabarnya melebihi kontraksi melahirkan per vagina. Duh, Gusti... paringi power.

Beberapa orang bermasker dan berseragam hijau mulai memasuki ruangan yang dinginnya kurang ajar itu. Salah satunya bertindak sebagai dokter anastesi. Tubuh saya dimiringkan ke kanan dan diposisikan meringkuk. Lantas seorang lelaki memegang badan saya kuat-kuat sembari berujar, "sebentar lagi Mbak dibius, suntik dua kali di punggung, usahakan jangan berontak ya."

Dan saat itu saya baru inget kabar burung yang mengatakan bahwa suntik bius itu sakit sekali. Haduh, ngga ada waktu untuk mempersiapkan mental jadi saya cuma menjawab dengan lirih, "Oh oke.."

Nervous setengah mati sembari merapal doa semoga saya tahan sakitnya. Dokter anestesi mulai mengusap punggung lokasi penyuntikan. 

"Sudah, Mbak, sebentar lagi kaki Mbak akan merasa kesemutan," ujar lelaki yang memegangi kaki dan tangan saya tadi. 

HLOH? Sudah beneran nih, kok ngga berasa sakitnya?? Hahahaha... Di saat-saat seperti saya masih sempetnya tersenyum girang karena merasa menang. Badan saya kembali ditelentangkan, selembar kain dibentangkan di atas leher, sehingga saya tidak bisa melihat bagaimana proses ubek-ubek perut itu terjadi. 

Batas pandangan saya hanya lampu yang terletak di langit-langit saja. Saat kaki mulai kesemutan, saya memilih memejamkan mata. Sayup-sayup saya mendengar suara dokter obgyn yang baru datang. 

Oke, sebentar lagi...

Saat itu memori saya kembali ke belakang, saat saya masih lajang, saat saya melakukan berbagai hal yang dulu tidak kepikiran untuk dilakukan ketika traveling. Pada awal kehamilan, saya selalu menerka-nerka, sesakit apa melahirkan itu? Saya pernah bertahan dalam suasana tidak enak ketika melakukan perjalanan, dan berhasil melaluinya. Saya pasti juga bisa melewati masa kesakitan saat melahirkan. 

Tapi kenyataannya saya harus dioperasi di ruangan sedingin ini. Cita-cita untuk melahirkan normal harus ditunda dulu. Keinginan untuk IMD pun harus diikhlaskan karena kebijakan rumah sakit tidak mengizinkan pasien operasi untuk IMD. Ya sudah, selama bayi saya tidak diberi susu formula sebagai pengganti IMD, saya terima. Saya pun harus rela tidak bisa mendengar suami melantunkan adzan di telinga sang bayi karena Mas Dian tidak diperbolehkan masuk ke ruang steril itu. 

Ah, apapun... sebentar lagi saya menjadi Ibu. 

Meskipun sudah kebal dari rasa sakit, namun saat itu saya bisa merasakan isi perut ini seperti digoyang-goyang atau diobok-obok, ya semacam itulah. Lalu suara-suara pun muncul, "yak, bagus, tarik, yak oke... ketuban hampir habis, tapi plasenta masih bagus nih..." 

1 detik, 2 detik, oweeeek... bayi saya menangis... 

"Bu, ini bayinya laki-laki ya," ujar seorang bidan sembari menggendong bayi saya yang masih telanjang. 

Alhamdulillah. Pelan-pelan air mata saya menetes juga. 

Bidan langsung membawa sang bayi untuk dibersihkan. Perjalanan saya untuk menimangnya masih cukup panjang. Saya masih berada di dalam ruangan itu kira-kira 30 menit pasca melahirkan untuk dijahit dan sebagainya.

Sedang apa bayi saya? Bagaimana reaksi Mas Dian di luar sana? Orang tua dan keluarga besar saya yang super ribut itu apakah juga ada di luar?

Setelah semua beres, operator kamar operasi membawa saya ke ICU. Saya ditempatkan di salah satu bilik yang hanya terpisah kelambu dengan pasien lain. Saya yang tak sadar sepenuhnya, tiba-tiba mual.

"Mas, muntah, Mas..." lalu.. howeekk... Saya pun mengeluarkan isi perut. Untung seorang perawat segera mengambil plastik. Tapi kayaknya sih hanya air saja yang keluar, karena sebelum operasi saya harus puasa sedari jam 9 malam. 

Setelah muntah, saya pun tertidur. Saat itu jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul 8 pagi. 

Sepertinya saya sudah tidur cukup lama, namun rupanya belum ada satu jam terlelap. Badan saya terasa kaku, terutama bagian bawah pinggang. Clekit-cletkit mulai timbul. Dan saya haus luar biasa namun belum diperbolehkan untuk minum apa-apa. 

Ruangan ICU hanya dijaga oleh beberapa perawat yang sedang sibuk ngerumpi. Suara salah satu dari mereka terlalu keras untuk ukuran ruang perawatan seperti ini. Seorang perawat laki-laki nampak mendekat.

"Mbak, sudah bangun? Latihan bergerak ya, badannya dimiringkan ke kanan ke kiri," ujarnya.
"Oh, oke Mas. Ini sampai kapan saya di ICU?" tanya saya.
"Ya observasi aturannya 6 jam pasca operasi, Mbak," tambahnya lantas berlalu mengecek pasien lainnya.

Duh, 6 jam, sendirian. Mas Dian mana sih kok ngga ke sini? Batin saya. Baru saya sadar bahwa pasien lainnya pun juga sendirian tanpa ditunggu oleh keluarganya. Mungkin memang ngga boleh masuk ya... Hm... Sesuai perintah Mas perawat, saya mulai coba-coba memiringkan badan dengan berpegangan pada kasur. 

Oke. Ternyata. Susah. Dan. Sakit. HUHUUHUUUU... Tidur aja deh. 

Sukses memejamkan mata cukup lama, ketika bangun saya melihat Mas Dian dadah-dadah dari pintu ICU. Saya bingung mau berucap apa. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan, tapi apa daya jarak kasur dan pintu ICU cukup jauh jadinya saya membalas dengan melambaikan tangan juga. 

Lantas pintu ICU ditutup kembali oleh perawat. 

Hffftt... 

to be continued lagi deh ya.. hehe..

Selasa, 15 Juli 2014

Minggu ke-39: Bertemu Anak Lanang (1)

5 Mei 2014, saya masih ingat, dokter kandungan bertubuh subur itu memberi informasi tentang indeks ketuban saya yang rendah ditambah kepala janin belum terkunci di panggul. Jika tak ada kontraksi dan pembukaan dalam satu minggu ke depan, maka opsi caesar harus dilakukan. Kaget, karena saya mampu menghadapi vonis tersebut dengan cukup tenang. Apalagi tidak ada suami di samping, tidak ada sandaran bahu untuk tersedu-sedu. Masih ada waktu satu minggu untuk berusaha lahiran secara normal dan terus merapalkan doa-doa.

Sesampainya di rumah, saya segera browsing tentang kasus ketuban sedikit alias oligohidramnion. Memang sangat beresiko pada hidup janin, persis seperti yang dikatakan sang dokter. Kebanyakan ibu hamil yang mengalaminya pun melahirkan di meja operasi. Mas Dian, suami saya, buru-buru mengganti jadwal perjalanan yang semula akan ke Jember sekitar tanggal 12 Mei menjadi 3 hari sebelumnya. Tak bisa menggeser hari lagi karena dia masih harus berdinas di Kupang dan Bandung secara berurutan.

"Kalo memang harus segera lahiran, jangan dipaksa nunggu aku." Begitu pesannya. Saya amini, namun dengan tidak ikhlas. Suami saya harus mendampingi saat melahirkan, karena itu keinginan terbesar saya semenjak hamil. Saya ingin melihatnya mengumandangkan adzan di telinga si bayi kelak. Selama 9 bulan lebih, saya selalu membisikkan cita-cita tersebut pada janin yang masih di perut.
"Tunggu ayahmu ya kalau mau lahir..."

Setibanya Mas Dian di Jember, kami segera ke dokter kembali. Tenggat waktu seminggu pun telah berlalu namun janin saya masih nyaman di dalam rahim. Gerakannya pun masih aktif. Sayang, indeks ketuban saya nampak semakin rendah. Saya langsung membayangkan janin saya megap-megap di dalam.

Dokter menyarankan saya untuk melakukan tes CTG untuk mengetahui gerakan jantung janin. Maka malam itu pun kami ke rumah sakit untuk tes CTG. Dari grafik hasil tes tersebut, sudah bisa ditebak oleh sang dokter bahwa detak jantungnya kurang stabil. Namun dari grafik tersebut juga diketahui bahwa sudah mulai ada tanda kontraksi rahim walaupun tidak sekuat untuk melakukan pembukaan jalan lahir. Maka, sekali lagi dokter membolehkan saya menunggu agar bisa melahirkan secara normal, hanya dalam tiga hari. Lewat dari itu resikonya bermacam dari ketuban keruh, janin keracunan hingga kematian. Hati saya tentu maknyes.

Daripada tambah stress memikirkannya, malam itu kami masih sempat jalan-jalan ke alun-alun karena Mas Dian ingin mencoba lensa manual jadul terbarunya. Lumayan, saya punya foto kenang-kenangan masa hamil H-3 melahirkan. Acara jalan-jalan murah meriah itu mampu jadi mood booster sebelum mengabarkan berita kepada orang tua kami. 



14 Mei 2014, tidak ada yang berubah. Janin masih aktif bergerak, tidak ada sakit karena kontraksi, hingga sore hari saya periksa bidan pun, kepala janin masih belum terkunci di panggul. Setelah berbagai usaha dilakukan, sore itu, saya dan Mas Dian diantar kakak saya, meluncur ke rumah sakit Jember Klinik. Kami menyerahkan surat pengantar operasi dari dokter dan lantas mengurus berbagai administrasi di meja pendaftaran. Bidan berkata bahwa saya akan dioperasi besok pagi sekitar pukul 7. Perasaan saya saat itu, hm... luar biasa tenang. Apapun yang terjadi, at least, Mas Dian sudah di samping. Sesuai keinginan di awal kehamilan. 

Maka, malam itu pun saya dan Mas Dian mulai menginap di salah satu kamar rawat. Saya masih sempat jalan-jalan melemaskan kaki mengelilingi rumah sakit. Siapa tahu, tiba-tiba dalam hitungan menit, sang bayi merangsek masuk ke panggul lantas saya dibopong ke ruang bersalin dan oweeek.. oweeek.. lahirlah... :)

Namun, Tuhan belum menghendaki skenario seperti itu. 

Malam hari, orang tua dan keluarga besar saya berkumpul di rumah sakit. Pakde, budhe, paklik, bulik, para sepupu sudah lengkap. Beberapa bermuka muram sembari berulang menanyakan keadaan saya. Jujur saja, I'm totally fine. Apalagi saya belum diinfus jadi masih bebas kesana kemari. Kamar Anthurium 105 itu sangat riuh dengan segala percakapan keluarga besar. Saya agak was-was ada pengusiran di kamar ini oleh perawat rumah sakit saking ramainya suasana di dalam. 

Begitulah karakter keluarga Ayah saya. Gemar berkumpul, berceloteh, tertawa dan berbagai kegiatan ramai-ramai lainnya. Dulu, saya berharap bisa lahiran di Surabaya agar lebih sepi. Hanya ada suami dan orang tua saja agar saya lebih konsentrasi pada lahiran. Somehow, suasana sunyi akan membuat pikiran saya lebih rileks. Tapi, yah.. lagi-lagi skenario saya harus diganti. 

Seluruh keluarga saya agak terkejut saat pintu dibuka oleh bidan dan dokter kandungan. Saya kira mereka bakal marah-marah melihat pengunjung sebanyak itu. Tapi rupanya tidak hehehe... Seluruh keluarga kecuali suami, lantas keluar ruangan dengan kesadaran sendiri. Usai memeriksa detak jantung janin, dokter menginformasikan bahwa jadwal operasi saya maju menjadi setengah 6 pagi. Hm, baiklah... lebih cepat mungkin lebih baik. 

Sekitar pukul 9 malam, seluruh keluarga meninggalkan saya dan suami. Satu per satu mereka menyalami dan mencium pipi saya serta menyelipkan doa-doa manis. Dibalik berbagai kehebohan yang sering dilakukan oleh keluarga besar saya, tidak bisa dipungkiri bahwa kami semua saling menyayangi dan mengasihi dalam ikatan yang kuat. Hal ini pernah saya rindukan saat saya pertama kali lebaran di kota suami yang begitu sepi. 

Tak lama setelah itu, dua bidan datang untuk memasang infus. FYI, ini adalah operasi dan rawat inap pertama saya seumur hidup. Alhamdulillah, selama 26 tahun, orang tua merawat saya dengan begitu baik sehingga tak pernah sebelumnya saya merasakan menginap di kasur rumah sakit dan dipasangi berbagai instrumen. Salah satu bidan, menyarankan mandi sekitar pukul 4 pagi karena setelah operasi saya tidak boleh mandi selama beberapa hari. 

Malam itu, saya tidak bisa tidur. Kerasa juga deh deg-degannya... walopun mungkin saya lebih tak nyaman karena ada jarum infus yang tertancap. Rasanya tidak bebas. Saya tengok suami, dia sudah pulas di sofa. Pukul tiga pagi saya membangunkannya, meminta tolong untuk diambilkan mukenah. Di atas kasur, saya melaksanakan sholat malam, berdoa untuk kelancaran operasi beberapa jam lagi. Usai sholat, saya dan suami ngobrol ngalor ngidul karena sama-sama tak bisa tidur. Saat hampir pukul empat pagi, saya bersiap untuk mandi dan berganti kostum operasi. Pengalaman mandi dengan tangan terinfus ternyata merepotkan ya... 

Pukul 5 pagi, dua bidan semalam datang lagi. Ada yang menyuntikkan antibiotik di lengan bawah, yang mungkin untuk uji alergi. Suntikan ini sepertinya suntikan paling nyeri seumur-umur bertemu dengan jarum injeksi. Alhamdulillah tidak ada reaksi gatal, tapi nyut-nyutan minta ampun. Yang kedua, mereka memasang kateter untuk menampung urin. Masya Allah sakit banget rasanya! Badan saya terkejut, hingga bidan menyuruh saya rileks, agar kateter bisa segera terpasang. Hfft! Bidan-bidan ini bekerja begitu cepat sehingga saya baru sadar bahwa sebentar lagi saya akan dibawa ke ruang operasi. Deg-degan, meeeen!

Kasur pun didorong keluar kamar. Rupanya orang tua saya sudah datang. Kami tak sempat berbincang, saya hanya mencium tangan suami, Mama dan Ayah. Meminta restu dan sekaligus meminta maaf. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti di meja operasi. Membayangkan berbagai hal membuat perjalanan menuju ruang operasi terasa sentimentil dalam benak saya. Beberapa kali, mata saya panas karena menahan tangis. Saya tak ingin cengeng mewek-mewek, namun beberapa tetes air mata akhirnya lolos juga. 

to be continued... biar ga kepanjangen aja sih :p

Selasa, 06 Mei 2014

38 Weeks: The Hardest Week?

Entah ini bakal menjadi minggu terberat atau tidak? 

Semalam setelah pulang kontrol dari dokter kandungan, perasaan saya campur aduk karena divonis indeks ketuban saya rendah atau dalam istilah medis disebut oligohidramnion (bila indeks ketuban kurang dari 5 cm). Dari empat titik kuadran di perut, hanya terdeteksi satu kantung ketuban dengan indeks 4 cm. Tiga titik lainnya (sepertinya) kosong melompong. 

Posisi kepala bayi saya tersayang juga masih belum ingin mengunci di panggul, walopun letaknya sudah oke di bawah. Dia masih floating gitu... 

Karena dua kondisi tadi, dokter menyarankan agar saya segera mengambil keputusan untuk operasi cesar. Pada saat itu, saya masih bersikap biasa saja. Tenang, inhale exhale. Saya sendiri malah heran kok bisa setenang itu, mana tanpa dampingan suami pula. Mungkin ini salah satu efek belajar Hypnobirthing sedari trimester awal, bahwa bayi akan menentukan sendiri ingin dilahirkan dengan cara apa. Orang tua harus tetap tenang, ikhlas dan selalu berpikir positif dengan segala perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar rahim. Alhamdulillah, afirmasi ini bekerja dengan baik saat dokter melontarkan kata sectio cesar. 

Ngga tanggung-tanggung, dokter menyarankan operasi esok hari. Lalu saya utarakan bahwa sang Ayah baru akan sampai Jember kira-kira tanggal 12 Mei. Dokter pun sedikit melunak dengan memberi  kesempatan satu minggu, dengan catatan saya rajin melakukan monitoring gerakan bayi. Sedikit saja gerakan bayi terasa lemah dan perut terasa sepi, saya harus buru-buru lapor ke rumah sakit agar segera dilakukan tindakan.

Apa hubungan gerakan janin dengan ketuban kurang? Ketuban adalah salah satu media tumbuh kembang janin selama di rahim. Jumlahnya harus pas tidak kurang dan tidak berlebihan, karena masing-masing ada resikonya. Bagaimana janin bisa berkembang dengan baik, bila medianya tidak mumpuni. Istilah singkatnya demikian. Untuk lebih jelasnya tentang oligohidramnion mungkin bisa digugling sendiri ya, daripada saya salah kata dan persepsi. 

Usai dari dokter, saya segera telepon suami. Kebetulan dia sedang dinas luar kota di Kupang. Minggu depan memang dia sudah ambil cuti untuk pulang ke Jawa, namun sebelumnya dia harus melewati seminggu di Kupang dan Bandung dulu untuk rapat. Rencana beberes rumah Surabaya sebelum lahiran pun batal. Mas Dian memajukan tiket kereta agar segera sampai di Jember. 

Lalu apa rencana saya? Setuju operasi? Bertahan normal?

Saya serahkan sepenuhnya kepada sang bayi yang tersayang. Seminggu ini saya pusatkan beberapa usaha untuk memperbaiki posisi kepala janin agar bersedia masuk panggul dengan cara melakukan berbagai gerakan yang mendukung yang sudah dipelajari saat senam hamil. Contohnya, sujud, nungging, pelvic rocking menggunakan birthing ball dan tentu saja jalan kaki. Selain itu, saya juga berusaha menambah volume air ketuban dengan meningkatkan asupan air putih dan elektrolit yang di dapat dari air kelapa muda, juga memperbanyak buah dan sayur. Cara ini memang tidak paten dan entah teruji klinis atau tidak. Tapi, paling tidak, itulah yang saya dapatkan dari browsing sana sini untuk meningkatkan volume ketuban. 

Tidak lupa juga saya lakukan pencatatan gerakan bayi yang tiap setengah jam harus minimal ada empat kali gerakan. Gerakan bayi di minggu-minggu hamil tua ini, memang saya rasakan tak sama seperti trimester lalu. Dulu, saya sampai beraduh-aduh saking sakitnya tendangan si janin. Mungkin karena rahim masih cukup luas untuk dia berekspresi ya. Sekarang, lebih kalem namun frekuensinya masih aman. Alhamdulillah. 

Usaha lain yang saya lakukan dengan kontrol jantung janin dua hari sekali di bidan rumah sakit tempat rencana dilahirkan. Alhamdulillah juga, tadi diperiksa pun masih batas wajar. Masih ada yang ketinggalan? Yap, komunikasi dengan janin, agar menjadi satu tim yang kompak dalam persalinan nanti. 

Saya berharap minggu ini tidak seberat yang terlihat. Hingga tulisan ini ditulis saya masih bisa tertawa, berolahraga dengan santai dan tidak bermuram durja menyalahkan keadaan. Setidaknya seminggu ini saya tahu, saya akan berusaha sebaik mungkin. Apapun yang diinginkan si bayi untuk melihat dunia. Insya Allah saya dan suami siap. []

Kamis, 10 April 2014

The Strongest Woman in My World

Ada satu hal yang harus saya syukuri di saat tengah hamil seperti ini, bahwa saya masih mempunyai seorang Ibunda, yang biasa saya panggil Mama. 

Apa hubungannya?

Dalam kasus saya, banyak sekali hubungannya. Seperti yang pembaca budiman sudah tau (pura-puranya ini blog pembacanya jutaan ya... hehe), bahwa saya menikah dengan seorang lelaki yang memiliki pekerjaan berlokasi beberapa pulau dari Jawa. Karena saya punya tanggung jawab di Surabaya, otomatis untuk sementara ini kami harus menjalani long distance marriage. Hih, mana enaknya? Ngga enak, trust me. Tetapi kadang, pilihan paling jelek pun harus diambil demi rencana-rencana yang lebih indah nantinya. 

Ketika saya positif hamil, praktis perhatian orang tua dan mertua pun jadi meningkat beberapa level. Mungkin bukan karena posisi si jabang bayi sebagai cucu pertama kedua belah pihak. Saya sih melihat mereka prihatin dengan keadaan saya yang berbadan dua namun tinggal sendirian di sebuah kontrakan nun jauh di pojokan Surabaya. 

Mama jadi sering mengunjungi saya selama berminggu-minggu meninggalkan rumah di Jember. Saya ingin sekali tidak merepotkan beliau yang rambut putihnya sudah dimana-mana itu, tapi apalah daya... Saya lahir dari rahim seorang wanita yang keras kepala in a good way ya. Mama tentu tidak tega meninggalkan saya mual-mual seorang diri atau kerepotan masak karena mendadak saya jadi males nongkrong berlama-lama di dapur. Pada awal kehamilan, saya masih harus mengurus proyek video yang membuat saya harus tahan banting bolak-balik kontrakan ke tengah kota Surabaya, which is cukup jauh. 

Saya berjanji setelah proyek selesai, akan kembali ke rumah orang tua di Jember dan hanya pergi ke Surabaya saat kontrol dokter saja. Bagaimana pun kontrakan tidak bisa ditinggal begitu saja dalam keadaan Surabaya sedang rajin-rajinnya diguyur hujan. Banjir, bocor dan halaman yang penuh ilalang liar menjadi momok bagi saya saat harus meninggalkan kontrakan berminggu-minggu. 

Sebenarnya Mama tidak keberatan berlama-lama di Surabaya dan membantu saya selama hamil. Apalagi Mama saya senang plesir dan sering bosan dengan rutinitas di rumah Jember yang begitu-begitu saja. Ditambah adik lelaki Mama yang berdomisili di Surabaya sedang menderita stroke. Kerap kali, saat Mama datang dari Jember, beliau membawa banyak bahan makanan untuk stok Om saya itu mengingat istri Om saya tidak terlalu bisa memasak. Saat saya bilang 'membawa banyak bahan makanan', itu benar-benar buanyak dan berat. Padahal sering Mama saya hanya seorang diri berangkat dari Jember ke Surabaya menggunakan kereta dengan gembolan super berat. Saya hanya bisa mengomel karena tidak tega Mama menguras tenaga seperti itu. Tapi Mama saya lagi-lagi bersikap cuek dan santai. Adalah kegembiraan tersendiri jika Mama bisa bagi-bagi lauk dan membuatkan berbagai masakan untuk adiknya yang tengah sakit keras. 

"Mama ini ngga punya apa-apa, jadi cuman bisa masakin Om. Di Surabaya apa-apa mahal, ikan jelek-jelek, mending belanja di Jember terus dibawa ke sini, " ujarnya ketika saya meminta untuk sekali-kali hanya membawa dompet saja saat bertandang ke Surabaya. 

Saat memasuki trimester kedua, ternyata istri kakak saya positif hamil anak pertama juga. Kebetulan kakak saya dan istrinya masih tinggal bersama Mama dan Ayah di rumah Jember. Jadilah saya semakin ngga bisa egois untuk membiarkan Mama berlama-lama di rumah Surabaya. Sebagai orang tua, Mama harus bersikap adil memberikan perhatian untuk anak-anaknya yang sama-sama tengah mengandung. Pada suatu makan malam di rumah Jember, Ayah saya berangan-angan agar saya kembali ke rumah mereka saja. 

"Kasian Mama bolak-balik," ujar Ayah. 

Salah kalau Ayah mengira saya tidak memikirkan semua ini. Pada akhirnya memang saya memutuskan untuk melahirkan di Jember. Mama rupanya agak bersedih karena frekuensi mengunjungi adiknya yang sakit pun jadi berkurang sejak saya meninggalkan Surabaya. 

8 April 2014 kemarin lusa, Mama berulang tahun yang ke-53. Saya berharap bisa memberikan lebih dari sekedar ucapan dan doa. Tapi saya tak pernah tahu apa yang harus saya berikan. Dibelanjakan beberapa potong baju baru pun tidak akan melegakan. Saya hanya merasa berhutang terlalu banyak pada beliau, terutama saat masa kehamilan ini. Sungguh ingin berterima kasih melebihi apapun. 

"Saat hamil dan menyusui memang paling lebih enak kalau dekat dengan ibu sendiri, terutama kalau baru pertama kali melahirkan," kata seorang bidan di rumah sakit tempat saya mengikuti senam hamil.

Saya harus mengamini pernyataan tersebut. Bukan berarti dekat dengan mertua tidak enak lho... Tapi ada bonding yang tidak terganti yang muncul selama Mama membantu saya melewati masa kehamilan. Makanya saya bersyukur luar biasa masih punya seorang ibu (dan mau direpotin putrinya). 

Semoga dengan melahirkan cucu yang sehat untuk Mama, bisa menjadi hadiah yang berarti. []

Minggu, 06 April 2014

34 Weeks of Pregnancy: Waiting and Waiting

Dua minggu lagi resmi membawa si janin selama 9 bulan di dalam rahim. Well, semakin senang, excited ngeliat kalender (teuteup), dan rada bingung plus... bosan. Apalagi kalau ngeliat status temen-temen pada plesiran ke sana kemari, sedangkan saya hanya sibuk tidur-tiduran sambil pegang hape. Hahahaa... 

Entahlah, frekuensi ngantuk semakin meningkat. Perut mudah lapar tapi tak boleh diisi terlalu kenyang. Mengapa? Karena nanti sayanya jadi mual. Mungkin karena lambung udah sempit terdesak badan si bayi. Pernah suatu malam kira-kira seminggu lalu, saya tidak bisa tidur karena perut mulas luar biasa, sampai keluar keringat dingin. Mencoba tidur berbagai posisi juga tidak bisa segera terlelap, dari miring ke kiri sampai nungging-nungging. Jadinya saya berusaha menahan sembari ditelpon suami sepanjang malam sekedar melupakan sakit.

Saat itu, yang saya gumamkan dalam hati hanya satu, "jangan lahir dulu, Nak... belum cukup bulan... santai-santai dulu ya di dalam. Ayahmu juga belum datang." Lewat tengah malam, akhirnya saya bisa terlelap. Esok harinya, badan lemas dan perut mual laiknya hamil muda. 

Alhamdulillah, saat dibawa ke dokter, si bayi tidak ada masalah. Malah lewat layar USG saya bisa melihat, kaki-kaki mungilnya sedang berputar-putar seperti sedang mengayuh sepeda. :')

Mengapa bisa semulas itu? Kalau Braxton Hicks kok kayaknya bukan ya? Mungkin lebih karena saya kebanyakan makan keju pada sore harinya. Sudah lama tidak makan susu dan turunannya membuat perut saya bekerja lebih giat untuk memproduksi enzim pencerna keju. Yap, saya memang termasuk golongan yang tidak mengonsumsi susu ibu hamil. Hal-hal semacam itu memang keyakinan masing-masing lah ya. Tapi saya tau persis kondisi badan saya saat dihantam susu hingga mengambil keputusan ini. 

Buat yang ngga doyan susu atau intoleran, tidak mengonsumsi susu ibu hamil selama masa mengandung, bukan masalah kok. Dokter obgyn saya juga tidak ambil pusing dan tidak menyarankan harus minum susu bumil. Mau beli silahkan, ngga mau beli juga ngga bakal kenapa-kenapa. Gitu prinsipnya. 

Hmm... cerita apa lagi ya.. Minggu ini berat janin sudah 2,1 kg. Kalo versi saya sih, paling berasa membawa 'gembolan' besar bukan saat jalan kaki, tapi ketika tidur. Apalagi jika posisi badan ingin diubah, misal dari miring ke kiri lalu ke kanan. Rasanya berbagai benda di dalam rahim ikut bergerak. Tentu hal semacam ini, tidak bisa saya lakukan dengan cepat. Musti slow motion dulu, agar yang di dalam perut menyesuaikan diri kalau emaknya bosen di satu posisi. 

Ini sudah bulan April, dan Insya Allah bulan depan, bakal benar-benar bertemu si bayi. Walaupun saya bosan luar biasa dengan kegiatan akhir-akhir ini, tapi saya berusaha menikmati masa-masa akhir kehamilan. Gerakan-gerakan janin yang katanya bakal dikangenin nanti. Memang kadang timbul iri kalau melihat teman-teman terdekat pada asik jalan-jalan, pengen nemplok ikutan gitu. Ditambah kalau suami sudah ikut plesiran bersama kawan kantornya, rasanya ngga adil kalau saya bengong sendirian di kamar. Tapi apalah daya, sudah memutuskan untuk hamil, ya harus terima plus minusnya. Insya Allah rejeki yang di dalam rahim ini tidak terganti. Amiiinn... 

Nanti kita jalan-jalan kalau sudah lahiran ya, Nak :) 

*teuteup*