Rabu, 19 Oktober 2016

Harmoni Gamelan Wirun

Ji ro lu pat… dolanan karo aku…
Ji ro lu pat… dolanan karo aku…

(Satu dua tiga empat... yuk bermain denganku...)

Saya ternganga melihat sebuah tayangan di youtube yang kabarnya sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Adalah sekelompok warga negara Polandia, yang tampak sedang asyik memainkan gamelan sembari melantunkan nyanyian berbahasa Jawa tadi. 

Meskipun saya tidak bisa bermain gamelan, namun dengan menonton tayangan itu saja, hati ikut bergetar. Antara bangga sekaligus kagum melihat ada masyarakat asing begitu fasih memainkan salah satu alat musik tradisional Indonesia.

Seketika itu saya memahami perasaan Ibu Ari, wanita pemilik industri pembuatan gamelan Ajigongso di Kabupaten Sukoharjo. Wanita itu bercerita dengan agak emosional tentang perjalanannya ke Pulau Dewata.

“Saat datang ke Denpasar, saya tidak sengaja melihat kempul buatan saya sedang dimainkan di sebuah sanggar. Saya minta izin melihat logonya, tiba-tiba ingin menangis rasanya. Betul itu buatan saya…”

Sebulan lalu, saya bertemu Ibu Ari di kediaman beliau saat saya melakukan perjalanan dadakan ke Solo. Liburan singkat ke kota yang akrab dengan kuliner tengkleng itu memang sering kali saya lakukan secara tiba-tiba. Akses dari Yogyakarta menuju Solo begitu mudah dan terjangkau. Hanya dengan 8000 rupiah dan duduk manis selama satu jam di dalam kereta, maka saya sudah sampai di Stasiun Solo Balapan.

Saat itu tujuan saya hanya dua hal, berbelanja di pasar antik Triwindu dan berkunjung ke industri pembuatan gamelan terbesar di Indonesia. Lokasinya di Desa Wirun, Kabupaten Sukoharjo yang bersebelahan persis dengan Solo. Dari stasiun Solo Balapan, saya berkendara menggunakan motor sewaan menuju Wirun. Desa tersebut  rupanya sudah tertanda dengan jelas di aplikasi peta digital dalam smartphone. Perjalanan berlangsung selama setengah jam dengan jarak tempuh hampir 10 km.

Meskipun berlokasi di Sukoharjo, namun beberapa hotel di Solo, kerap kali menyediakan paket kunjungan ke Desa Wisata Wirun. Selain dikenal sebagai sentra produsen gamelan, desa tersebut juga identik dengan industri penyulingan alkohol dan pembuatan genting. Ditambah lagi dengan suguhan alam berupa bentangan sawah-sawah yang mengelilingi desa.

Tak banyak yang saya ketahui tentang desa wisata tersebut sebelumnya. Bertemu Ibu Ari pun adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan. Saat saya berputar-putar jalanan desa, tiba-tiba terdengar dentang logam ditempa dari balik dinding sebuah rumah. Suaranya begitu nyaring, hingga saya memutuskan untuk memarkir motor di sana.

Benar dugaan saya, rumah tersebut adalah salah satu tempat produksi gamelan di Desa Wirun. Segera saya sapa seorang wanita yang tampak sedang membersihkan beberapa gamelan berwarna keemasan.

“Nama saya Ari, orang sini biasa nyebut Ari Ajigongso,” ujarnya menyambut jabat tangan saya.


Ibu Ari meneruskan usaha milik sang bapak yang sudah meninggal tahun 8 tahun silam. Dari penuturannya, industri gamelan di Desa Wirun pernah mencapai kejayaan pada awal tahun 90-an. Kini yang tersisa tinggal sepuluh pengelola saja. Walaupun demikian, mereka masih saling terikat darah persaudaraan karena berasal dari satu keturunan, yaitu Mbah Roso, yang dikenal sebagai pelopor industri gamelan Desa Wirun.

“Ini namanya bonang, yang itu kenong. Banyak sekali macam alat musik dalam gamelan. Ada yang dipukul, ditiup, digesek.” Ibu Ari nampaknya paham betul melihat raut wajah saya yang kebingungan melihat berbagai instrumen musik bertebaran di sana. Satu set gamelan lengkap biasa dijumpai dalam acara karawitan untuk mengiringi pertunjukan kesenian Jawa seperti wayang. 


Pembuatan gamelan termasuk pekerjaan kasar yang membutuhkan tenaga ekstra dan kulit tahan panas. Siang yang terik itu rupanya hari keberuntungan saya karena bersamaan dengan proses pembuatan sebuah gong. Akhir-akhir ini industri pembuatan gamelan sedang lesu. Proses produksi hanya dilakukan saat ada pesanan saja kata Ibu Ari.

Prang! Prang! Prang! 

Seorang lelaki berkupluk putih memukul-mukul gulungan tembaga dengan sekuat tenaga. Kelak tembaga tersebut akan dilebur bersamaan dengan timah di dalam bara api dengan perbandingan tertentu. Campuran tembaga dan timah akan menghasilkan bahan untuk gamelan perunggu.

“Perhitungannya harus tepat. Salah seratus gram saja, bisa-bisa gong tidak berbunyi,” ujar Ibu Ari. Rupanya tak hanya perasaan wanita saja yang sensitif, gamelan pun demikian jika formula penyusunnya kurang tepat. Dalam hati saya menjura keilmuan para pembuat gamelan zaman dahulu kala.  


Setelah dilebur, campuran tadi akan dicetak menyerupai lempengan. Lalu dibentuk sesuai dengan gamelan yang diinginkan dengan cara dipukul-pukul berulang-ulang. Dalam waktu setengah hari, pekerja Ibu Ari yang berjumlah dua belas lelaki, bisa memproduksi satu gong.  Saat itu para pekerja sedang menyelesaikan gong berdiameter 80 cm yang dibandrol dengan harga sekitar 9 juta rupiah.

Karena bobotnya yang luar biasa, sistem pengerjaan satu gong pun digarap secara bergotong-royong. Sekitar delapan orang mengerumuni sebuah perapian, tempat di mana gong tersebut dibentuk. Dengan tongkat besi, mereka tampak asyik membolak-balik lempengan itu laiknya sedang menggoreng tahu bulat di dalam wajan. Saya bergidik ngeri saat percikan api melayang-layang di ruang produksi. 



Industri pembuatan gamelan juga mengenal tingkatan kualitas. Gamelan berbahan dasar perunggu terbukti lebih awet dan tingkat kemewahannya nomor wahid. Lalu ada pula gamelan dari kuningan yang setingkat lebih rendah kualitasnya dibanding perunggu. Jarang sekali ada produsen gamelan kuningan karena harganya hanya selisih sedikit saja dibanding perunggu yang terbukti lebih bagus. Kualitas paling akhir adalah gamelan besi yang lebih mudah retak dibanding dua bahan lainnya.

Masing-masing industri gamelan di Desa Wirun ini memiliki pasar langganan tersendiri. Ada yang di sekitaran Jawa namun ada pula yang menjualnya hingga ke Bali. Tak jarang juga gamelan-gamelan buatan Wirun terbang hingga ke manca negara. Bisa jadi gamelan yang dimainkan oleh warga Polandia di Warsawa dalam tayangan youtube tadi merupakan salah satu buatan desa ini.


“Turis asing memang sering mampir kemari, ada yang hanya lihat-lihat dan bertanya saja. Tidak masalah buat saya, hitung-hitung berbagi pengetahuan. Syukur-syukur kalau ada yang pesan. Bapak saya sendiri pernah menggarap pesanan untuk dikirim ke Jepang,” cerita Ibu Ari dengan bangga.

Seperti usaha-usaha lain, produksi gamelan di Wirun pun pernah merasakan naik turunnya permintaan. Pernah ramai, namun juga kadang sepi berturut-turut. Kebanyakan para pemesan hanya membeli satu atau dua alat gamelan saja. Sangat langka mendapatkan kustomer yang menginginkan satu set gamelan apalagi harganya bisa mencapai 500 juta rupiah. Perkumpulan seni baik di Jawa atau Bali biasanya sudah memiliki satu set gamelan. Alat musik ini memang terbilang awet. Mereka hanya datang sesekali untuk memperbaiki gong atau tukar tambah gamelan lain yang sudah rusak.

“Mudah-mudahan, suatu hari nanti tiap kecamatan di Jawa Tengah, punya kelompok-kelompok seni yang menyediakan satu set gamelan. Jadi anak-anak muda bisa belajar bermain gamelan dengan lebih mudah.”

Saya mengamini harapan Ibu Ari. Saat ini kegiatan karawitan sering dijumpai sebagai ekstrakurikuler di sekolah-sekolah di Jawa Tengah. Di sana murid-murid berkenalan dengan gamelan serta berlatih tembang Jawa. Adanya kelompok seni di lingkungan rumah, seperti yang Ibu Ari harapkan, pasti akan membantu menelurkan generasi muda yang berminat mendalami musik tradisional Jawa tersebut. Tentu saja tak hanya regenerasi penabuhnya yang diperlukan, namun keberadaan industri pembuatannya di Desa Wirun juga harus lestari agar gaung harmoni gamelan senantiasa mendunia. []

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah).

Kamis, 13 Oktober 2016

Run Kebo Run!


 

Tengah tahun 2012

“Put, aku beli roti dulu ya buat sarapan…”
Andi Fachri, lelaki yang kalau tidak salah asli Semarang itu, menyebrang jalan menuju mini market 24 jam. Saya merapatkan jaket sembari terkantuk-kantuk di pinggir jalan yang gelap. Fajar memang masih jauh. Namun kami sudah bersiap melaju menuju Jembrana. Pukul 04.00 WITA, Mas Andi menjemput saya di hotel. Lelaki yang baru beberapa bulan tinggal di Denpasar ini berbaik hati menjadi teman perjalanan saya. Karena masih nubitol ini pula, dia mengandalkan peta digital untuk keluar dari pusat kota Denpasar.

“Ada jalan tembusan…,” katanya saat kami agak sedikit berputar-putar mencari di mana jalan yang dimaksud. Mungkin ini efek karena jalan terlalu gelap. Mau tanya orang juga sepertinya mereka masih terlelap. Beruntung kami melewati sebuah pasar kecil yang sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Langit mulai berubah warna. Sementara motor masih terus melaju. Pantat saya yang sudah lama tidak merasakan berkendara jauh rasanya pegal dan kaku. Sesekali kami berhenti untuk mengecek peta lewat smartphone. Saya menghela nafas lega saat melintasi sebuah patung lelaki penunggang kerbau, salah satu ikon dari kota Jembrana. Perjalanan lebih dari tiga jam itu sepertinya akan segera mencapai tujuan.

Jembrana terletak di Bali bagian Barat. Jauh dari hiruk pikuk pariwisata yang hampir terpusat di Bali Selatan dan Tengah. Bagian Barat ini memang sebagian besar adalah tanah yang berstatus taman nasional. Wajar bila banyak hutan di kanan-kiri. Turis yang datang rata-rata penggemar wisata minat khusus. Meski pegal, saya terhibur dengan warna-warni pagi sepanjang perjalanan ini. Kabut, terasering, perbukitan, dan siluet gunung yang terlihat monokrom di kejauhan. Hal serupa mungkin sudah susah ditemukan di wilayah-wilayah touristy Bali lainnya yang penuh bangunan tinggi menjulang.

Pagi itu kami memang berniat menonton balap kerbau atau biasa disebut Makepung. Sebuah perhelatan besar yang hanya bisa disaksikan di Jembrana saja. Makepung memang selalu berlangsung sedari pagi hari pukul 6 pagi. Membuat para wisatawan dari Denpasar harus bangun pagi-pagi buta untuk mengejar acara tersebut. Apalagi memang tak terlalu banyak penginapan yang ada di Jembrana.

Makepung hari itu berlangsung di daerah Delod Berawah. Jalanan begitu lengang sepanjang menuju tempat tersebut. Kanan kiri hanya terdapat persawahan. Saya berharap tak salah melihat agenda Makepung di website pemerintah kabupaten Jembrana. Saya punya pengalaman tak enak berkaitan agenda acara budaya yang diinformasikan lewat internet. Sudah jauh-jauh datang ke Bantul (Yogyakarta), malah tidak ada acara apa-apa. Beberapa orang juga ikut kecele. Tidak lucu rasanya kalau kali ini pun saya bernasib sama.

Mas Andi berkali-kali menggumam, “kok sepi banget ya…”. Membuat saya semakin was-was. Hingga akhirnya kami mulai melihat segerombolan kerbau memadati jalanan. Rupanya perjalanan sedari subuh ini tak sia-sia. Acara ini benar-benar tepat waktu. Tak beberapa lama setelah memarkir kendaraan, pasangan kerbau pertama yang dilombakan sudah dilepas. Riuh pun sontak terdengar.

Pagi itu tercatat hampir 250 pasang kerbau yang memperebutkan piala bergilir Jembrana Cup. Peserta terbagi dalam dua grup yakni Blok Ijogading Timur dan Barat. Lintasan balap yang digunakan adalah sebuah jalan desa yang bentuknya melingkar. Di bagian tengah lintasan terdapat beberapa petak sawah. Lebar jalan lintasan lebih kurang hanya tiga meter saja. Di sini tantangannya, saat sepasang kerbau harus mendahului pasangan di depan. Setiap kali peluit ditiupkan, ada dua pasang kerbau dari grup berbeda yang adu balap. Begitu seterusnya, hingga mendapatkan nama-nama pemenang untuk mengikuti putaran final yang diadakan siang itu juga.


Jangan abaikan keselamatan diri saking enaknya mengikuti atmosfer balap ini. Tak jarang ada kerbau yang mengamuk dan berusaha keluar dari lintasan. Beberapa orang tampak ambil jalan aman: menikmati perlombaan dengan duduk di atap genting rumah.

Semakin siang, aura persaingan semakin terasa. Teriakan-teriakan joki terdengar bersahutan demi memacu tenaga kerbau-kerbaunya. Setiap detik terasa begitu berarti dalam derap hewan-hewan ini. Penonton pun bersorak tak kalah riuh saat jagoannya berhasil mencapai garis finish.

Bosan berada di lintasan, saya memutuskan untuk keluar dan melihat lebih dekat di garis finish. Berjalan berjingkat-jingkat di tepian agar tak tertabrak gerobak kerbau. Seorang kameramen TV lokal bahkan hampir kehilangan gadget-nya karena terlalu menjorok tengah lintasan. Dia mengelus dada, memeluk kameranya yang hampir wassalam.

Di garis finish rupanya masih ada PR yang menanti para anggota tim balap yaitu menghentikan laju kerbau. Bayangkan, kerbau yang sudah dalam keadaan on-fire lari gradak-gruduk harus dihentikan begitu mencapai garis akhir. Kalau tidak kuat, bisa saja anggota tim ini terseret atau bahkan terlempar srudukan kepala kerbau.



Saya lantas bergerak ke arah pantai. Kebetulan lintas balap ini tak jauh dari Pantai Delod Berawah. Hanya perlu berjalan beberapa meter saja. Pantai ini tak setenar pantai-pantai lain di Bali. Dari segi pemandangan dan fasilitas, Pantai Delod Berawah jauh kalah dengan yang lain. Di bawah pohon-pohon rindang di tepian pantai, berjejer kerbau-kerbau yang telah berlomba. Saya bergidik ngeri saat berjalan di samping hewan-hewan itu. Nafas mereka masih terpacu kencang. Debaran detak jantungnya bisa terlihat jelas di permukaan kulit. Dag dug dag dug… Seorang lelaki nampak mengguyurkan air dingin di bagian pantat dua kerbaunya yang berdarah. Entah mengapa, saya jadi ikutan merasa perih.


"Ini luka akibat tungket, mbak…," kata Pak Nyoman sembari mengangkat sebuah tongkat sepanjang 40 cm yang diselimuti paku-paku kecil. Balap kerbau ini mengingatkan saya pada Karapan Sapi di Madura. Sama halnya seperti di Jembrana, Karapan Sapi menggunakan tongkat yang lebih kecil untuk memacu sapi-sapi agar berlari lebih kencang. Alhasil, banyak darah berceceran di bagian pantat hewan-hewan tersebut. Yang merasa mual melihat darah, sebaiknya jangan pernah nonton Makepung atau Karapan Sapi. Mungkin kesakitan inilah yang harus dibayar hewan-hewan ini setelah melewati bulan-bulan penuh kenyamanan. Pada perkembangannya sapi dalam Karapan maupun kerbau dalam Makepung ini memang sengaja dibesarkan untuk menjadi pembalap.

"Sekarang sudah banyak yang punya traktor pengganti kerbau di sawah," sambung lelaki yang sudah puluhan tahun mengikuti Makepung ini.  Tentu saja biaya perawatan kerbau balap tak semurah dengan yang dipekerjakan di sawah. Beberapa ada yang meningkatkan vitalitas dengan menggunakan ramuan tradisional dan makanan-makanan lainnya. Bisa jadi makanan untuk hewan ini lebih mahal daripada sepiring nasi majikannya. Mereka begitu dimanja laiknya merawat seorang bayi.



Pak Nyoman dan sang joki mengajak kerbau-kerbau balapnya berlatih dua minggu sekali menjelang pertandingan. "Saya latih di medan lumpur, karena lebih berat," ujarnya yang kerap kali mengganti kata joki dengan sebutan 'sopir'. Penunggang kerbau juga harus punya stamina lebih. Beberapa kali saya melihat joki-joki yang menggelepar pingsan setelah memacu kerbau-kerbaunya beberapa kali putaran. Apalagi final dilaksanakan menjelang tengah hari, di mana sengatan mentari sangat menguras energi.

Konon, zaman dahulu kala, Makepung memang dilakukan di tengah sawah basah. Para penunggangnya mengenakan pakaian tradisional laiknya prajurit kerajaan. Kegiatan berlari-lari dengan kerbau ini awalnya memang bertujuan untuk membajak lahan sebelum ditanami padi agar menjadi gembur. Karena sapi hewan yang disucikan di Bali, maka pekerjaan bajak sawah tradisional ini dilakukan oleh kawanan kerbau.


Tak jauh dari arena balap, saya melihat segerombol lelaki mengenakan pakaian tradisional Bali berwarna merah jambu. Mereka adalah para pemain Jegog, kesenian musik khas dari Jembrana yang semua instrumennya terbuat dari bambu. Tahun 2012 ini, konon Jegog telah mencapai usia 100 tahun sejak pertama kali dibuat oleh seorang petani setempat. Kesenian ini tak tersedia di daerah lain di Bali. Untuk dapat menikmati atau belajar pada ahlinya, wisatawan dapat mengunjungi Desa Sekar Agung, Jembrana. []


Makepung adalah tradisi berlarian dengan kerbau yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Jembrana. Dahulu kala, Makepung digelar sebelum masa tanam padi. Tujuannya memang untuk membajak lahan basah. Pada perkembangannya, kegiatan ini pun dilombakan secara terjadwal mulai dari bulan Juni di tingkat kecamatan, hingga kisaran November untuk memperebutkan gelar juara tingkat kabupaten. Ditambah dengan adanya peningkatan teknologi pertanian, kerbau-kerbau ini tak lagi bekerja di sawah. Mereka dirawat sebagai kerbau balap. Setiap jadwal Makepung, ada dua grup besar yang berlomba. Perhelatan ini pun tak lepas dari iringan kesenian musik dari bambu khas Jembrana yang disebut Jegog. Info pelaksanaan Makepung tiap tahun bisa dilihat melalu situs pemerintah kabupaten Jembrana (http://www.jembranakab.go.id/)

Rabu, 21 September 2016

Pedas Menyengat dari Jogja

Benarkah orang aseli Jogja itu hanya doyan makanan manis tanpa campur tangan cabai rawit? Kalau menilik selera masakan keluarga mertua saya dari Godean, bisa jadi memang benar sih. Lantas, apakah kuliner Jogja yang dipadati pengunjung hanya kisaran gudeg saja? Ternyata tidak juga. Setelah tinggal beberapa bulan di Sleman, saya akhirnya menemukan cukup banyak warung yang melejit karena keberanian menggunakan cabai di dalam kuliner andalannya.

Mangut Lele Mbah Marto
Mencari warung Mangut Lele Mbah Marto memang butuh kejelian. Informasi dari mulut ke mulut kompak mengatakan bahwa warung legendaris ini terletak di dekat pintu keluar Insitut Seni Indonesia (ISI) Jalan Parangtritis. Memang tidak salah, tapi tidak ada signage tentang warung ini saat saya sudah berada di depan ISI. Bertanya pada warga lokal sekitar adalah opsi terakhir yang harus dilakukan.

Mbah Marto menggunakan kediamannya untuk dijadikan warung. Rumah sederhana di tengah gang sempit itu hanya diisi beberapa meja dan kursi panjang untuk tempat pembeli. Datang dan masuklah ke dalam dapurnya untuk mengambil sendiri menu masakan yang diinginkan. Tidak perlu sungkan, karena memang beginilah aturan tak tertulis di warung ini. Anda akan menemukan Mbah Marto yang biasa ditemani kerabatnya, sedang bercengkrama di dapur sambil sesekali menyapa pelanggan dengan bahasa Jawa halus.

Menu spesial warung ini adalah mangut lele, yaitu lele yang diasap dan dimasak menggunakan kuah santan pedas. Seporsinya dihargai 10000 rupiah (tahun 2012-an). Selain itu juga terdapat gudeg dengan daun pepaya, garang asem ati, dan opor ayam. Mbah Marto hanya membuka warungnya untuk jam makan siang, yaitu 11.00-16.00 saja. Jika sudah berada di sepuataran ISI, jangan sungkan untuk bertanya pada warga sekitar. Jangan menyerah jika harus tersasar terlebih dahulu, karena itulah sensasi untuk menemukan warung kuliner milik Mbah Marto.


 
Entok Slenget Kang Tanir
Entok dalam Bahasa Jawa adalah itik manila, sedangkan slenget berarti menyengat. Kang Tanir memberi nama warung sesuai dengan spesialisasinya memasak rica-rica itik pedas yang mampu menyengat lidah pembelinya. Lokasi warung ini terletak di daerah Turi yang sejuk. Dari pusat kota Yogya perlu setidaknya 45 menit berkendara menuju warung ini. Meskipun jauh, dijamin tidak akan menyesal berkunjung kemari. Kanan kiri jalan dipenuhi dengan hamparan sawah dan kebun salak pondoh. Pada akhir pekan, jalanan menuju Turi akan disesaki oleh kendaraan yang hendak berwisata di lereng Gunung Merapi di Kaliurang.

Warung Kang Tanir buka pukul 16.30 sore, di mana udara Turi menjadi semakin dingin menjelang gelap. Pas sekali jika memesan sepiring entok slenget dengan nasi panas. Anda bisa meminta tingkat kepedasan yang sesuai dengan toleransi lidah. Pertama, Kang Tanir akan mengambil beberapa cabai rawit untuk ditumbuk kasar. Lalu dimasukkan ke dalam satu wajan berisi potongan entok yang telah direbus sebelumnya. Setelah ditambah kecap dan bumbu lainnya, semua campuran itu dimasak dengan api yang besar. Entok slenget dibandrol 25000 rupiah per porsi termasuk nasi, sepiring potongan kubis mentah dan timun segar plus teh atau jeruk hangat. Jika hendak berkunjung di akhir pekan, pastikan Anda datang lebih awal. Karena hanya dalam waktu 2-3 jam, stok daging entok bisa ludes seketika.
Lokasi: Pasar Agropolitan Pules, Donokerto, Turi, Sleman.





Penyetan Mas Kobis
Sekitar 10 tahun lalu, warung Penyetan Mas Kobis hanya menempati sepetak poskamling di daerah Universitas Negeri Yogyakarta. Warung ini menjadi andalan mahasiswa-mahasiswa terutama yang doyan pedas. Namun sekarang, warung ini sudah memiliki tempat yang luas dan banyak cabang sehingga menjangkau berbagai kalangan.

Penyetan Mas Kobis menyediakan menu berupa ayam, tahu tempe, telur, ikan nila, ati ampela dan lele dengan kisaran harga 5000 – 12000 rupiah. Buka sedari jam 11.00 – 23.00. Jangan lupa selalu cantumkan seberapa pedas sambal yang Anda inginkan. Dua atau dua puluh cabai pun akan tetap dilayani. Cabai-cabai ini ditumbuk kasar dengan bawang putih lalu ditambah sedikit minyak goreng panas. Kemudian lauk yang Anda pesan akan digeprek atau dihancurkan di dalam cobek berisi sambal bawang tadi. Bahkan jika Anda memesan terong atau kol goreng pun akan turut digeprek juga. Hasil akhir penampakan menu di warung ini memang terkesan berantakan. Tapi itulah ciri khas penyetan Mas Kobis sedari bertahun-tahun lalu. Meskipun tak menarik dilihat, bukan berarti tak sedap di lidah, bukan?
Lokasi: Pusat di Jalan Alamanda sebelah timur Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta


Waikabubak At a Glance

Desember 2014
 
Setahun terakhir, Sumba, sebuah pulau di antara gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur mendadak ramai dikunjungi wisatawan, terutama dari kancah domestik. Kebanyakan mereka tergiur menikmati Sumba setelah booming sebuah film nasional garapan Mira Lesmana yang mengambil lokasi syuting di pulau tersebut. Selain suguhan alam yang memanjakan mata, budaya Marapu yang dianut penduduk lokal juga menjadi daya tarik tersendiri.

Plesiran kali ini akan membawa kaki kamu ke Waikabubak, ibukota Kabupaten Sumba Barat. Sumba memiliki dua bandar udara yaitu di Waingapu (Sumba Timur) dan Tambolaka (Sumba Barat). Pilihan paling dekat adalah mendarat di Tambolaka lantas lanjut jalan darat menggunakan travel atau mobil sewaan selama satu jam menuju Waikabubak.

Kampung Tarung dan Kampung Waitabar
Kedua kampung ini terletak di pusat kota Waikabubak sehingga sangat mudah akses untuk mencapainya. Tarung dan Waitabar merupakan representasi kampung asli Marapu yang masih eksis hingga abad ini. Keduanya terletak bersebelahan, sehingga wisatawan bisa langsung menuju Waitabar dari Tarung dengan berjalan kaki saja.

Pengunjung bisa melihat jejeran hunian tradisional beratap alang-alang kering yang dalam bahasa lokal disebut uma alang. Meskipun tampak rapuh, namun alang-alang ini kuat hingga belasan tahun terpapar hujan dan sengatan panas. Lain soal jika terhempas angin kencang. Di bagian tengah rumah terdapat sebuah tungku yang zaman dulu digunakan sebagai pusat kehidupan karena tidak ada listrik. Berbagai ritual harus dilaksanakan jika pemilik rumah hendak merenovasi. Sekedar mengganti alang-alang pun ada aturannya. Untuk memasang 1 tiang kayu penyangga rumah, pemilik harus memotong kurban terlebih dahulu.

Uma alang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, karena kegiatan spiritual juga dilakukan di dalamnya. Bagian bawah biasa digunakan untuk menampung hewan peliharaan. Lalu lantai atasnya digunakan untuk tempat tinggal utama, dan bagian paling atas atau menara yang menjulang tinggi digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga. Ada yang mengatakan juga bahwa bagian tersebut tempat berdiamnya roh leluhur.

Pada perkembangannya, banyak sekali uma alang di kampung lain yang kini menjadi rumah dinding bata atau sekedar mengganti atap daun menjadi seng. Selain uma alang, salah satu budaya Marapu di Sumba adalah mengubur jenazah keluarga di sebuah kubur batu yang terletak di halaman rumah. Pengunjung bisa melihat banyak kubur batu bertebaran di kedua kampung ini.


Lapangan Pasola Lamboya dan Pantai Kerewe
Apakah kamu pernah mendengar tentang Pasola? Sebuah perayaan paska panen di Sumba di mana para pemuda lokal saling melemparkan tombak ke kubu lawan sembari berkuda. Pasola digelar di beberapa desa terutama di Kabupaten Sumba Barat dan Barat Daya. Salah satu yang terdekat dengan Waikabubak adalah gelaran Pasola di kecamatan Lamboya, hanya berkendara selama 60 menit saja. Menarik apabila kedatanganmu tepat saat perayaan ini yaitu sekitar Februari – Maret.

Pasola Lamboya dilaksanakan di sebuah lapangan padang rumput yang begitu luas dan kerap disebut bukit Hobba Kalla. Pemadangan dari sini begitu menyejukkan mata. Kamu bisa menikmati lanskap persawahan, atap-atap uma alang yang menyembul di balik pepohonan serta melihat Pantai Kerewe dari kejauhan. Hanya butuh 30 menit saja untuk mencapai pantai tersebut.

Biasanya, para penonton Pasola kerap berkunjung ke Pantai Kerewe setelah perayaan berakhir. Mereka berenang dan menikmati ombak yang cukup bersahabat. Pada hari-hari biasa, pantai ini cukup sepi. Kamu bisa duduk-duduk di bibir pantai sembari menyeruput kelapa muda yang biasa dijajakan anak-anak kampung sekitar. Segar baru petik dari pohonnya dan murah lagi!

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Pulau Sumba memiliki dua taman nasional yang masih relatif baru usia berdirinya yaitu Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan Manupeu Tanah Daru. Kalau kamu mencari obyek menarik di sekitar Waikabubak, maka menjelajah Air Terjun Lapopu adalah keharusan.

Air terjun alami ini adalah bagian dari zona wisata Taman Nasional Manupeu Tanah Daru yang terletak di kecamatan Wanokaka. Akses kendaraan roda empat terbilang cukup mudah karena jalan aspal sudah dibangun akhir tahun lalu. Hanya memakan waktu kurang dari satu jam saja dari pusat kota Waikabubak. Kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki sepanjang 400 meter dan melewati jembatan bambu. Sebelum masuk ke area air terjun, wisatawan wajib lapor di pos jaga yang tersedia serta membayar retribusi sebanyak 5000 rupiah. Sedangkan mereka yang dari manca negara ditarik 100000 rupiah. Untuk kepentingan penelitian, izin harus melalui kantor balai taman nasional tersebut lebih dahulu dan mengurus simaksi.

Jangan heran, bila kamu tak kuasa untuk berenang di air terjun berundak ini. Begitu segar! Arus sungainya pun relatif tenang dan dangkal. Cocok untuk yang doyan bermain air. Apalagi bila datang di tengah hari, saat mentari menyengat kulit. Suara derasnya air yang jatuh dari ketinggian begitu syahdu beradu dengan cicit burung-burung. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru juga disebut surga untuk birdwatching. Untuk kegiatan tersebut, wisatawan perlu didampingi petugas dari taman nasional yang mengetahui lokasi-lokasi strategis untuk melihat burung endemic seperti kakatua jambul jingga dan julang Sumba.

Rabu, 14 September 2016

Sembilan Candi di Lereng Gunung Ungaran


Agustus 2013

Matahari masih malas muncul saat saya dan keluarga tiba di pelataran parkir Candi Gedong Songo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kami memang sengaja berangkat setelah subuh untuk menghindari kemacetan yang mengular di musim liburan. Jarak tempuh dari pusat kota Semarang menuju candi ini kurang lebih dari 40 km, tak sampai satu jam berkendara. Tentu saja, kalau tidak ada acara mampir-mampir.

Candi Gedong Songo terletak di lereng gunung Ungaran, sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Kebun-kebun sayur bertebaran di kanan kiri jalan. Bunga-bunga hias pun juga tumbuh subur. Selama perjalanan beberapa kali kami melihat petani sayur yang siap menjajakan hasil panennya. Sawi, bawang daun, tomat nampak segar di dalam karung-karung dagangan. Dari aplikasi smartphone, pagi itu suhu tercatat 18 derajat. Dingin dan begitu sejuk.

Dalam bahasa Jawa, Gedong Songo berarti Sembilan Gedung. Candi-candi Hindu di sini dahulunya berada terpisah-pisah menjadi sembilan kompleks. Namun sekarang, wisatawan hanya bisa menikmati lima kompleks saja, sedangkan empat kompleks lain hanya tinggal puing kenangan saja.

Dari segi ukuran, candi-candi di sini tak terlalu besar dan lebih mirip dengan candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. Karena kesamaan ukuran dan topografi alam itu pula banyak sumber bacaan yang menyebut bahwa candi Gedong Songo masih bersaudara dengan candi Arjuna. Sama-sama dibangun masa Dinasti Sanjaya, sekitar abad ke-8. Relief Dewa-Dewi di dinding batu juga tak terlalu tampak karena dimakan usia. Meskipun demikian Candi Gedong Songo masih memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Terutama bagi mereka yang jenuh tersengat terik mentari di Semarang dan sekitarnya.

Dari komplek Candi Gedong pertama hingga kelima, kami berjalan mengikuti jalan setapak yang telah disediakan dengan rapi oleh pengelola. Candi Gedong pertama tercatat berdiri di sekitar ketinggian 1208 meter di atas permukaan laut. Semakin lama memang semakin menanjak dan menguras tenaga, namun pengunjung dapat beristirahat di warung-warung di tengah rimbunnya hutan pinus. Menghangatkan diri dengan segelas teh panas dan sepiring mie rebus, sembari menikmati pemandangan kebun-kebun lombok, kubis dan sawi yang berada di areal candi. 

Candi Gedong kelima berada di area tertinggi yaitu 1300 meter di atas permukaan laut. Dari atas sini, pengunjung bisa melihat Candi Gedong ketiga yang nampak cantik berlatar belakang hutan pinus penuh kabut. Masing-masing kompleks candi memiliki jumlah candi yang berbeda-beda, walaupun hanya satu hingga tiga candi saja yang masih berdiri. Misalnya pada Candi Gedong keempat, dari puing-puing yang tersisa, seharusnya kompleks itu terdiri atas 9 candi. Bisa dibayangkan ramainya Candi Hindu di lereng Gunung Ungaran ini pada belasan abad lalu. Apabila dijumlah, mungkin saja terdapat puluhan candi di kompleks Gedong Songo ini.

Tak terlalu banyak kompleks Candi di Jawa yang lengkap dengan suguhan pemandangan alam dataran tinggi ditambah hembusan angin sejuk seperti di Gedong Songo ini. Di antara kompleks Candi Gedong ketiga dan keempat, pengunjung akan melewati sumber air panas belerang yang dikelola menjadi sebuah pemandian mini. Konon, air seperti ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit seperti jerawat dan gatal-gatal karena jamur.

Bagi yang tak kuat berjalan jauh dan menanjak, ada opsi menggunakan jasa kuda di sini. Tarifnya tak sampai 100 ribu untuk rute candi Gedong pertama hingga terakhir, lantas kembali lagi ke pintu masuk. Pengelolaan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam di Candi Gedong Songo ini boleh diacungi jempol, padahal tiket masuk wisatakan lokal hanya 7.500 rupiah saja per orang. Taman-taman di kompleks candi sangat dirawat, begitu pula dengan penataan areal warung dan penjaja souvenir. Untuk kuliner yang populer di sini, pengunjung bisa menyantap Sate Kelinci dengan harga per porsi 15.000 rupiah yang bisa ditemukan pada hampir semua warung di Gedong Songo.


Tepat setelah menapaki candi tertinggi, saya dan keluarga akhirnya tergoda menikmati semangkok mie rebus yang asapnya mengepul-ngepul. Perut semakin keroncongan saat mencium aroma bumbu yang tersiram air panas. Nikmat sekali! Setelah tenaga terkumpul kembali, kami turun menuju parkiran. Rupanya, keputusan untuk berangkat ke Gedong Songo sepagi mungkin sudah sangat tepat. Meskipun perjalanan dari candi ke candi diliputi kabut tebal, namun hal itu malah menambah efek mistis cagar budaya tua ini. Semakin siang, pengunjung yang datang semakin membludak. Beberapa keluarga menyewa tikar dan asyik piknik di taman-taman candi. Untuk sekedar memarkir pun pengunjung bermobil harus bersabar menunggu ada tempat kosong dari mobil lain yang meninggalkan area. Maka, datang sepagi mungkin adalah tips terbaik menuju Gedong Songo jika Anda ingin menikmati kesyahduan pemandangan di sekitar candi. []