Kamis, 10 April 2014

The Strongest Woman in My World

Ada satu hal yang harus saya syukuri di saat tengah hamil seperti ini, bahwa saya masih mempunyai seorang Ibunda, yang biasa saya panggil Mama. 

Apa hubungannya?

Dalam kasus saya, banyak sekali hubungannya. Seperti yang pembaca budiman sudah tau (pura-puranya ini blog pembacanya jutaan ya... hehe), bahwa saya menikah dengan seorang lelaki yang memiliki pekerjaan berlokasi beberapa pulau dari Jawa. Karena saya punya tanggung jawab di Surabaya, otomatis untuk sementara ini kami harus menjalani long distance marriage. Hih, mana enaknya? Ngga enak, trust me. Tetapi kadang, pilihan paling jelek pun harus diambil demi rencana-rencana yang lebih indah nantinya. 

Ketika saya positif hamil, praktis perhatian orang tua dan mertua pun jadi meningkat beberapa level. Mungkin bukan karena posisi si jabang bayi sebagai cucu pertama kedua belah pihak. Saya sih melihat mereka prihatin dengan keadaan saya yang berbadan dua namun tinggal sendirian di sebuah kontrakan nun jauh di pojokan Surabaya. 

Mama jadi sering mengunjungi saya selama berminggu-minggu meninggalkan rumah di Jember. Saya ingin sekali tidak merepotkan beliau yang rambut putihnya sudah dimana-mana itu, tapi apalah daya... Saya lahir dari rahim seorang wanita yang keras kepala in a good way ya. Mama tentu tidak tega meninggalkan saya mual-mual seorang diri atau kerepotan masak karena mendadak saya jadi males nongkrong berlama-lama di dapur. Pada awal kehamilan, saya masih harus mengurus proyek video yang membuat saya harus tahan banting bolak-balik kontrakan ke tengah kota Surabaya, which is cukup jauh. 

Saya berjanji setelah proyek selesai, akan kembali ke rumah orang tua di Jember dan hanya pergi ke Surabaya saat kontrol dokter saja. Bagaimana pun kontrakan tidak bisa ditinggal begitu saja dalam keadaan Surabaya sedang rajin-rajinnya diguyur hujan. Banjir, bocor dan halaman yang penuh ilalang liar menjadi momok bagi saya saat harus meninggalkan kontrakan berminggu-minggu. 

Sebenarnya Mama tidak keberatan berlama-lama di Surabaya dan membantu saya selama hamil. Apalagi Mama saya senang plesir dan sering bosan dengan rutinitas di rumah Jember yang begitu-begitu saja. Ditambah adik lelaki Mama yang berdomisili di Surabaya sedang menderita stroke. Kerap kali, saat Mama datang dari Jember, beliau membawa banyak bahan makanan untuk stok Om saya itu mengingat istri Om saya tidak terlalu bisa memasak. Saat saya bilang 'membawa banyak bahan makanan', itu benar-benar buanyak dan berat. Padahal sering Mama saya hanya seorang diri berangkat dari Jember ke Surabaya menggunakan kereta dengan gembolan super berat. Saya hanya bisa mengomel karena tidak tega Mama menguras tenaga seperti itu. Tapi Mama saya lagi-lagi bersikap cuek dan santai. Adalah kegembiraan tersendiri jika Mama bisa bagi-bagi lauk dan membuatkan berbagai masakan untuk adiknya yang tengah sakit keras. 

"Mama ini ngga punya apa-apa, jadi cuman bisa masakin Om. Di Surabaya apa-apa mahal, ikan jelek-jelek, mending belanja di Jember terus dibawa ke sini, " ujarnya ketika saya meminta untuk sekali-kali hanya membawa dompet saja saat bertandang ke Surabaya. 

Saat memasuki trimester kedua, ternyata istri kakak saya positif hamil anak pertama juga. Kebetulan kakak saya dan istrinya masih tinggal bersama Mama dan Ayah di rumah Jember. Jadilah saya semakin ngga bisa egois untuk membiarkan Mama berlama-lama di rumah Surabaya. Sebagai orang tua, Mama harus bersikap adil memberikan perhatian untuk anak-anaknya yang sama-sama tengah mengandung. Pada suatu makan malam di rumah Jember, Ayah saya berangan-angan agar saya kembali ke rumah mereka saja. 

"Kasian Mama bolak-balik," ujar Ayah. 

Salah kalau Ayah mengira saya tidak memikirkan semua ini. Pada akhirnya memang saya memutuskan untuk melahirkan di Jember. Mama rupanya agak bersedih karena frekuensi mengunjungi adiknya yang sakit pun jadi berkurang sejak saya meninggalkan Surabaya. 

8 April 2014 kemarin lusa, Mama berulang tahun yang ke-53. Saya berharap bisa memberikan lebih dari sekedar ucapan dan doa. Tapi saya tak pernah tahu apa yang harus saya berikan. Dibelanjakan beberapa potong baju baru pun tidak akan melegakan. Saya hanya merasa berhutang terlalu banyak pada beliau, terutama saat masa kehamilan ini. Sungguh ingin berterima kasih melebihi apapun. 

"Saat hamil dan menyusui memang paling lebih enak kalau dekat dengan ibu sendiri, terutama kalau baru pertama kali melahirkan," kata seorang bidan di rumah sakit tempat saya mengikuti senam hamil.

Saya harus mengamini pernyataan tersebut. Bukan berarti dekat dengan mertua tidak enak lho... Tapi ada bonding yang tidak terganti yang muncul selama Mama membantu saya melewati masa kehamilan. Makanya saya bersyukur luar biasa masih punya seorang ibu (dan mau direpotin putrinya). 

Semoga dengan melahirkan cucu yang sehat untuk Mama, bisa menjadi hadiah yang berarti. []

Minggu, 06 April 2014

34 Weeks of Pregnancy: Waiting and Waiting

Dua minggu lagi resmi membawa si janin selama 9 bulan di dalam rahim. Well, semakin senang, excited ngeliat kalender (teuteup), dan rada bingung plus... bosan. Apalagi kalau ngeliat status temen-temen pada plesiran ke sana kemari, sedangkan saya hanya sibuk tidur-tiduran sambil pegang hape. Hahahaa... 

Entahlah, frekuensi ngantuk semakin meningkat. Perut mudah lapar tapi tak boleh diisi terlalu kenyang. Mengapa? Karena nanti sayanya jadi mual. Mungkin karena lambung udah sempit terdesak badan si bayi. Pernah suatu malam kira-kira seminggu lalu, saya tidak bisa tidur karena perut mulas luar biasa, sampai keluar keringat dingin. Mencoba tidur berbagai posisi juga tidak bisa segera terlelap, dari miring ke kiri sampai nungging-nungging. Jadinya saya berusaha menahan sembari ditelpon suami sepanjang malam sekedar melupakan sakit.

Saat itu, yang saya gumamkan dalam hati hanya satu, "jangan lahir dulu, Nak... belum cukup bulan... santai-santai dulu ya di dalam. Ayahmu juga belum datang." Lewat tengah malam, akhirnya saya bisa terlelap. Esok harinya, badan lemas dan perut mual laiknya hamil muda. 

Alhamdulillah, saat dibawa ke dokter, si bayi tidak ada masalah. Malah lewat layar USG saya bisa melihat, kaki-kaki mungilnya sedang berputar-putar seperti sedang mengayuh sepeda. :')

Mengapa bisa semulas itu? Kalau Braxton Hicks kok kayaknya bukan ya? Mungkin lebih karena saya kebanyakan makan keju pada sore harinya. Sudah lama tidak makan susu dan turunannya membuat perut saya bekerja lebih giat untuk memproduksi enzim pencerna keju. Yap, saya memang termasuk golongan yang tidak mengonsumsi susu ibu hamil. Hal-hal semacam itu memang keyakinan masing-masing lah ya. Tapi saya tau persis kondisi badan saya saat dihantam susu hingga mengambil keputusan ini. 

Buat yang ngga doyan susu atau intoleran, tidak mengonsumsi susu ibu hamil selama masa mengandung, bukan masalah kok. Dokter obgyn saya juga tidak ambil pusing dan tidak menyarankan harus minum susu bumil. Mau beli silahkan, ngga mau beli juga ngga bakal kenapa-kenapa. Gitu prinsipnya. 

Hmm... cerita apa lagi ya.. Minggu ini berat janin sudah 2,1 kg. Kalo versi saya sih, paling berasa membawa 'gembolan' besar bukan saat jalan kaki, tapi ketika tidur. Apalagi jika posisi badan ingin diubah, misal dari miring ke kiri lalu ke kanan. Rasanya berbagai benda di dalam rahim ikut bergerak. Tentu hal semacam ini, tidak bisa saya lakukan dengan cepat. Musti slow motion dulu, agar yang di dalam perut menyesuaikan diri kalau emaknya bosen di satu posisi. 

Ini sudah bulan April, dan Insya Allah bulan depan, bakal benar-benar bertemu si bayi. Walaupun saya bosan luar biasa dengan kegiatan akhir-akhir ini, tapi saya berusaha menikmati masa-masa akhir kehamilan. Gerakan-gerakan janin yang katanya bakal dikangenin nanti. Memang kadang timbul iri kalau melihat teman-teman terdekat pada asik jalan-jalan, pengen nemplok ikutan gitu. Ditambah kalau suami sudah ikut plesiran bersama kawan kantornya, rasanya ngga adil kalau saya bengong sendirian di kamar. Tapi apalah daya, sudah memutuskan untuk hamil, ya harus terima plus minusnya. Insya Allah rejeki yang di dalam rahim ini tidak terganti. Amiiinn... 

Nanti kita jalan-jalan kalau sudah lahiran ya, Nak :) 

*teuteup*

Rabu, 19 Maret 2014

Entering The Last Trimester: A New Chapter For Us

Leaving my-very-happy second trimester and start counting the days! Seminggu lagi sudah resmi membawa janin ini selama 8 bulan di dalam rahim. Artinya, kurang lebih tinggal dua bulan saja sebelum bear-benar mendengar suara rengekan si bayi. 

Sejauh ini saya disibukkan dengan proses pindahan dokter. Setelah berembug panjang lebar dengan suami dengan mempertimbangkan permintaan kedua belah pihak orang tua, akhirnya kami memutuskan InsyaAllah akan menjalani persalinan di kampung halaman saya, Jember. 

Karena selama 7 bulan awal, saya dan suami tak pernah mengira perubahan ini, otomatis saya agak kelabakan mencari dokter dan rumah sakit di Jember yang paling sreg dengan keinginan hati. Apalagi selama di Surabaya pun saya tak pernah berganti dokter kandungan saking sudah nyamannya sedari awal. 

Rupanya keluar dari zona nyaman memang tak pernah gampang. Terbukti saya jadi gampang kepikiran ini itu selama hampir sebulan, susah tidur juga (walaupun mostly karena perut saya sudah membesar), dan menjadi sangat tidak stabil. Perubahan ini tampak sangat sederhana dan  mudah dilakukan di mata orang lain, tapi sebagai calon ibu, wajar kalau saya mempunyai keinginan pribadi bila menyangkut jabang bayi saya sendiri. Melakukan transfer dokter bagi saya berarti sudah siap menghadapi perbedaan 'tangan', sikap dan mungkin juga keilmuan. Well, sekali lagi, manusia hanya berencana saja. Apapun itu semoga membawa kebaikan untuk keluarga kecil kami. Alhamdulillah, segala 'drama' ini sudah berhasil kami lewati dengan lapang dada.

Saya juga sudah mulai berbelanja ini itu untuk keperluan sang bayi. Lumayan untuk mood booster. Namun, hal yang menyenangkan ini akan berubah menyeramkan sesampainya di meja kasir. Hahaha... Kebutuhan si mungil jaman sekarang memang macam-macam ya, lucu-lucu lagi, sebagai orang tua harusnya memang pandai-pandai mengontrol keinginan pribadi. Yang dibeli harusnya yang butuh saja. Sejauh ini sih seperti itu, entah nanti kalau bayinya sudah lahir. :p

Memasuki trimester akhir, bukan persoalan belanja keperluan bayi melulu ya. Justru saya berusaha mengisi otak dengan artikel-artikel yang bermanfaat untung menghadapi persalinan. Berjam-jam di depan laptop, membaca ini itu. Lalu sedikit banyak mulai mempraktekkan senam hamil untuk kekuatan badan. Dan tentu saja, masih berlatih relaksasi dari Hypnobirthing hampir setiap hari. 

Menjalani kehamilan sebesar ini dengan kondisi jauh dari suami, rupanya tak semudah bayangan saya. Di trimester awal dan kedua, semua tampak oke. Namun, hormonal imbalance semakin menjadi-jadi memasuki trimester akhir. Jadi lebih sering kangen si calon ayah, kepingin ditemenin belanja, jalan kaki pagi atau mencari makanan yang diidam-idamkan. Mungkin suami saya juga sudah bosan tiap kali saya nanya kapan dia bisa pulang. Saya pun kadang sudah bosan melihat kalender hampir tiap saat, dan melakukan kegiatan yang itu-itu saja. 

Anyway, bayi saya sudah bisa apa saja di dalam rahim? Yang jelas, gerakannya makin luar biasa kencang. It's good, kata dokter. Bukti bahwa dia tumbuh sehat hingga menjadi aktif bermain di dalam kolam ketuban. Beratnya pun sudah melaju (cukup kencang), sehingga sekarang saya menjadi agak was-was tiap ingin melahap sesuatu. Sayangnya, keinginan untuk nyemil berbagai macam makanan ringan selalu datang hampir tiap saat. Kalau sudah seperti itu, biasanya saya langsung rebahan di kasur dan mensugesti diri agar tidur saja. Sembari berniat bahwa saya akan melahap semuanya tanpa mikir A, B, C begitu persalinan dilewati. :9

Kamis, 13 Februari 2014

Menjadi Nominator Lomba Foto Sadar Wisata 2013


Sebelumnya, mari saya tegaskan dulu bahwa pengumuman ini sudah lebih dari 6 bulan lalu usianya. Hehehe... jadi pemenangnya pun sudah ketauan kira-kira bulan Oktober 2013 lampau ya. Tapi berhubung belum saya dokumentasikan di dalam blog, jadilah hari ini saya niat posting walaupun beritanya sudah basi. 

Jadi, Lomba Foto Sadar Wisata adalah salah satu lomba foto yang rutin diselenggarakan tiap tahun oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Nah, kira-kira sejak 2009 atau 2010 gitu ya, saya rajin ngikuti lomba foto ini secara diam-diam dan tak tahu diri hahaa... Ya, gimana ngga tahu diri, wong megang kamera aja baru kemarin lusa udah nekat ikut-ikutan lomba taraf nasional. Saya ingat betul, foto batch pertama yang saya kirim salah satunya bertema pantai di Karimun Jawa, tempat berlibur sehari setelah dinyatakan lulus sidang skripsi. Apakah saya berhasil menggondol belasan juta rupiah sebagai pemenang? Tentu sajaaa... tidak. 

Mungkin terlihat bodoh dan percuma, saat saya kembali mengikutkan beberapa foto batch kedua pada tahun berikutnya. Lalu ada peningkatan kah? Masih tetap tidak ada yang lolos juga. Entah mengapa, saya masih ngga menyesal membuang uang untuk mencetak foto-foto lalu mengirim ke panitia di Jakarta dan lantas menerima kenyataan kalau ngga menang. Kenapa? Karena dengan seperti itu saya bisa lebih belajar lagi, bagaimana sih mengambil foto yang bagus JIKA dinilai dari kacamata Kemenparekraf. 

Dari ikut lomba-lomba ini juga saya akhirnya nyadar bahwa foto yang menarik itu sifatnya relatif. Bagi kita si pengambil foto, mungkin foto A udah sangat super teknik motretnya  tambah lagi tingkat kesusahan pengambilan momen patut diapresiasi. Tapi setelah sampai di tangan orang lain, dalam hal lomba tentu saja para juri, bisa jadi foto A tersebut biasa aja, klise, dan tidak menarik. Kita mau protes sampe kayang pun ngotot kalo foto A buagus buanget juga ngga bakal ada hasilnya. Karena ya seperti itulah seni berkompetisi. Masih banyak variabel di dunia fotografi yang berpengaruh pada sebuah karya. Jika sekiranya kita ngga gampang nrimo, ya mungkin lebih baik ngga usah ikut lomba ya. 

Pada saat Lomba Foto Sadar Wisata digelar lagi pada 2013, saya sempat ragu apakah mau ikut lagi atau tidak. Saya lupa, sudah berapa batch foto saya yang dikirim untuk ikut berkompetisi pada lomba ini (dan masih kalah aja). Iseng liat-liat stok foto terbaru, dan memilih beberapa untuk (mungkin) diikutkan lomba. Hingga hampir hari terakhir pengumpulan, saya masih bimbang dan memang ngga seambisius tahun-tahun sebelumnya.

Pernah denger kutipan ini ngga, a quitter never wins and a winner never quits? Lah kok pas ada aja yang ngetwit kayak gitu pas saya ragu ikutan lomba. Dari stok foto yang sudah saya pilah-pilah dan berusaha mengambil pelajaran dari tahun-tahun lalu, akhirnya saya kirim juga beberapa karya saya, dengan embel-embel nothing to lose yang penting usaha dan nyoba. 

Ndilalah, beberapa bulan kemudian saya mendapat email dan sms bahwa saya masuk sebagai 30 nominator Lomba Foto Sadar Wisata 2013. Wuidih! Seneng banget dong ya! Apalagi foto yang lolos adalah foto dari kampung kelahiran sendiri di Jember.

Dari foto tersebut saya berusaha menggambarkan suasana pagi saat nelayan pulang melaut di Pantai Papuma. Meskipun saya sering plesir ke Papuma, karena merupakan pantai paling 'dekat' pusat kota, namun saya ngga pernah ke sana saat subuh-subuh. Pada saat itu, kebetulan suami saya (yang statusnya masih calon) datang bertandang ke Jember bersama keluarganya untuk nembung atau melamar saya gitu deh. Hehehe... Keesokan harinya kami berdua piknik dadakan ke Papuma setelah subuh berkumandang. Perjalanan kira-kira 40 menit menggunakan motor dengan sangu dua kamera yaitu Nikon d5000 milik saya dan Canon poket milik si (calon) suami, yang saya lupa serinya. :p

Karena suami saya baru membeli handphone HTC OneV, jadilah dia lebih banyak memotret dengan gadget tersebut. Dan karena saya malas membongkar kamera besar (baca: DSLR), akhirnya saya pun lebih sering menggunakan poket Canon. Foto yang lolos menjadi 30 nominasi di lomba ini adalah salah satu hasil poket Canon. 

Dari sini saya belajar lagi, bahwa alat bukanlah segala-galanya. Terbukti bertahun-tahun sebelumnya saya selalu menyerahkan hasil foto dari DSLR untuk lomba, eh lah kok yang masuk nominasi akhirnya malah dari kamera kecil yang sering kali disepelekan. Sekarang jaman makin canggih ya, mirrorless juga sudah banyak yang mumpuni dan harganya malah jauh di atas DSLR entry level. 

Dengan menjadi nominator, otomatis ini pertama kalinya foto saya dicetak besar mungkin sekitar 20R dan dipamerkan di hadapan orang banyak. Waktu itu sih pamerannya di Grand Indonesia di Jakarta. Sayangnya, saya tidak bisa hadir, kecuali ada tiket pesawat gratis dari panitia untuk rute SUB-CGK PP yaa hahaha... Padahal pengen banget foto narsis di depan karya saya sendiri. 

Seorang teman di Yogyakarta, Lingga Binangkit, yang juga menjadi salah satu nominator, pun tidak bisa berangkat ke Jakarta. Mungkin kami adalah contoh fotografer kere yang ngga mampu beli tiket transpor ke Jakarta ya, hahahahaa... Tapi beruntungnya, salah seorang teman Lingga ada yang datang ke pameran dan memotretkan hasil karya kami yang sedang dipajang di sana. Terima kasih, teman Lingga! :D

Walaupun akhirnya saya tidak menang, tapi saya sudah cukup bisa berbangga diri bisa masuk nominasi. Apalagi kalau melihat 'riwayat kerajinan' saya ikut lomba ini sejak beberapa tahun lalu. :p

Apakah tahun ini saya akan ikut lagi? Hahaha, entahlah, karena selain tak punya stok foto terbaru, mungkin saya akan disibukkan dengan kelahiran si anak pertama... :D


Foto saya yang tengah tentang suasana nelayan di Papuma yang pulang melaut


PS:

Rabu, 12 Februari 2014

Selamat Ulang Tahun, (Calon) Bapaknya Anak-Anak

Norwegian Wood versi Bromo, 2013

12 Feb 2014

Dua tahun lalu, masih bisa barengan ya, ulang tahun di Waingapu. Setahun setelahnya, kita ulang tahun di mana ya, Jember atau Semarang gitu kan? Waktu itu status sudah sah suami istri, belum seminggu sih sahnya hehe... Tahun ini kudu sabar dulu, terpisah jarak ratusan kilometer, Jember - Waingapu. 

Doa memang selalu terlantun setiap saat untuk kesehatan; rejeki yang tidak ada tandingannya. Tapi tahun ini, di usia 30 tahun, lumayan spesial ya. Sembari menanti kehadiran anak pertama di bulan Mei, terselip doa agar kelak menjadi Bapak yang terbaik buat anak-anak. Ngga perlu diperlihatkan untuk orang lain, cukup untuk keluarga kecil kita sendiri yang tau. 

Semoga derajat kesabaran dan keimanan (beserta kegantengan) ikut meningkat seiring bertambahnya usia (dan rambut putih). Jangan khawatir Sayang, aku bakal semakin rajin mencabuti uban-uban di kepala. Tarifnya masih 5000 rupiah per uban kan?

*ternyata matre* :p

Semoga ulang tahun depan, kita bertiga bisa berkumpul dalam satu atap, mungkin sekedar makan pisang goreng dan minum Naraya dingin, sembari gelimbungan di kasur bersama si anak pertama yang pasti sudah mulai merangkak-rangkak dan hobi memporak-porandakan isi kamar. 


Selamat ulang tahun, (Bapak) Dian Prasetyo Nugroho. We love you :)