Sabtu, 29 Mei 2010

Photostory from Waisak 2554 at Mendut and Borobudur

Candi Mendut di kecamatan Mungkid, Magelang, merupakan candi Buddha yang dibangun pada masa dinasti Syailendra. Setiap bulan Mei, pada malam purnama pertama, candi ini didatangi oleh ribuan umat Buddha yang akan mengikuti seluruh prosesi Waisak.






Prosesi detik suci Waisak tahun ini dilakukan pada pukul 06.07.03 WIB. Tidak hanya ummat dari daerah Jawa Tengah, saya menyaksikan beberapa rombongan dari ibukota juga merayakan Waisak di Candi Mendut ini.



Di samping komplek bangunan candi Mendut, terdapat sebuah vihara yang juga sangat ramai dikunjungi pada saat Waisak berlangsung. Di dalam vihara ini terdapat beberapa arca Buddha, tempat ibadah, taman-taman cantik lengkap dengan kolam teratainya. Di salah satu sudut, bahkan terdapat sebuah pohon dengan buah-buahan sebesar melon bergelantungan, sayangnya buah itu tidak dapat dimakan karena rasanya yang pahit. Yap, baru saya tahu dari tukang kebun sekitar, bahwa buah itu bernama buah Maja. Buah yang konon, menginspirasi Raden Wijaya, untuk memberi nama kerajaannya dengan nama Majapahit.


Pada saat hari raya Waisak, pedagang anak ayam dan burung Gereja akan mendapatkan untung berlipat ganda, karena umat Buddha memiliki tradisi 'buang sial' dengan melepas burung atau hewan lainnya, seperti ikan atau anak ayam ketika Waisak tiba.




Setelah prosesi berakhir, beberapa orang tampak membagi-bagikan kotak kecil berwarna merah bata pada siapa saja di sekitar pelataran candi Mendut. Wah, senang rasanya, karena saya dan Sulih pun kebagian kotak yang berisi rupang Buddha itu... :)


Setelah dari Candi Mendut, saya dan Sulih melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur, yang hanya berjarak 3 km. Ternyata di sepanjang jalan ini, sudah banyak masyarakat sekitar yang menanti arak-arakan perayaan Waisak dari Mendut menuju Borobudur.


Hari itu, baik Candi Mendut maupun Borobudur, free of charge :)
Saya dan Sulih memutuskan untuk memasuki kompleks Borobudur melalui resort Manohara (yes, Manohara haha...). Walaupun perjalanan jadi lebih jauh karena kita harus berjalan kaki dari pertigaan pintu masuk Borobudur, tapi saya senang luar biasa, melihat hamparan sawah dan deretan bukit sepanjang jalanan yang masih sepi itu. Suasananya asik, anginnya enak, dan kami berdua pun menyempatkan tidur-tiduran di bale-bale Manohara, hehe...








Ternyata di Borobudur lebih ramai daripada di Candi Mendut. Karena di sini tidak hanya ada satu altar, tapi buanyak sekali. Kaki saya rasanya ngga mampu kalau harus mengelilingi satu-satu. Yap, datang ke Borobudur pada saat Waisak memang pengalaman yang unik. Tapi yang harus diperhatikan adalah jadwal ketika akan dilangsungkan Puja Bakti, karena pada saat itu Candi Borobur harus steril dari wisatawan hingga malam hari.


Tidak hanya dari Indonesia saja, para Bhiksu Thailand pun nampak di sekitar Candi Borobudur.




Iring-iringan Bhiksu, Bhikuni, dan para umat Buddha dari Candi Mendut ketika sore mulai menjelang. Bersama-sama mereka akan bergabung dan menggelar rangkaian Puja Bakti di depan Candi Borobudur.




Dan saya luar biasa senang, ketika panitia penyelenggara memberikan izin dan sedikit waktu untuk pengunjung yang ingin mengambil gambar di altar terdepan, sebelum Puja Bakti dilaksanakan. Yap, tepat setelah memotret ini, baterai kamera saya habis tak tersisa :)


Mmm... walaupun tidak bisa menyaksikan hingga acara pelepasan lampion, tapi saya sudah bersyukur karena tidak ada kendala selama saya dan Sulih menyaksikan Waisak, dan terus terang kami berdua juga sudah lemas ngga karuan karena naik turun kompleks candi yang seeebegitu besarnya...


Yap, big thanks to Sulih Yekti Ngutamani, dan selamat merayakan Waisak bagi umat Buddha di seluruh dunia, terutama untuk Kakek saya di Bali :)

4 komentar:

  1. put, foto2mu tambah suangaaarrr!!!

    mantep!!!

    BalasHapus
  2. hooo iya kah? tengkyu kalo begitu :p

    BalasHapus
  3. yup.... bagus2... keren2 lo fotonya

    BalasHapus