Jumat, 30 April 2010

The Monophones and The Others

Beberapa hari yang lalu, saya ngga sengaja menemukan folder The Monophones di dalam hardisk external saya. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada nama foldernya, The Monophone – A Voyage to the Velvet Sun. Saya ngga tau itu siapa atau apa. Saya juga sudah lupa siapa yang ngasih folder itu. Yahhh.. hardisk saya itu suka kelayapan kayak yang punya. Pulang-pulang free space-nya sudah berkurang. Well, ternyata folder itu mengandung tujuh lagu. Okelah, saya mulai pasang telinga baik-baik, untuk memutuskan perlu dihapus atau ngga dari hardisk.


Terus terang saya ngga mendengarkan intro, langsung saya skip ke next track. Sepertinya saya terpengaruh temen kosan saya, Rina, yang suka bawel kalau dengerin lagu isinya kebanyakan suara musik daripada suara manusia.


Ketika mendengarkan lagu berjudul Mentari, saya langsung bisa menerka band ini pasti bergenre retro. Menurut saya menjadi lagu pertama dalam suatu album itu kedudukannya sangat penting! Sebagai pembuka, dia harus punya kemampuan menggoda pendengar untuk melanjutkan ke lagu berikutnya. Dan menurut saya, The Monophones melakukannya dengan baik dan benar, hoho... Then, lanjut ke track berikutnya, lagu yang memiliki judul sama dengan album, A Voyage to the Velvet Sun. Waaaw, lagu ini bikin saya menaikkan volume speaker laptop, haha... Lagu ini bikin saya pengen nyanyi juga. Langsung saja saya masuk google, tapi agak susah juga sih nyari liriknya... Dari browsing itu juga saya baru tahu kalau The Monophones ini band indie dari Jogja dan album ini sudah dikeluarkan sekitar tiga tahun lalu, hahaaa... Bel masuk sekolah udah bunyi tapi saya masih selimutan di kasur, wokelah... saya telat!


Begitu dapet liriknya, lagu ini saya repeat terus sampai saya hapal. Hahaaaa... Dan ngga tahu gimana, semakin dibaca, saya semakin inget dengan perjalanan dua sahabat saya yang intelek tingkat tinggi tapi unfortunately masih berprofesi sebagai jobseeker. Walopun udah dilempar kesana kemari, mengikuti berbagai interview dan seperangkat model tes masuk, di dalam dan luar pulau, menghabiskan banyak ongkos, banyak tenaga, yang ngga bisa dipungkiri kadang membuat mereka masuk ke zona saturasi, tapi temen-temen saya ini anti-desperate dan gooo ahead!!


I will wait until the sun won't be shining

I will wait until the earth stop turning

I will wait until the stars gone glimmering

And when has come the time

I'll standing till the end


Memasuki track 4. Volume laptop yang emang lagi keras itu mendadak saya kecilkan. Kaget aja lagu Rain of July itu intronya udah jadul, melas banget lagi. Huhu… Dalam bayangan saya, ada lelaki mirip Rano Karno pas masih gondrong dan langsing, berdiri di tengah derasnya hujan dengan wajah jadul yang suram dan nelangsa, di depan rumah seorang perempuan yang mirip Yessy Gusman. Si (mirip) Yessy cuman bisa ngeliat si (mirip) Rano dari balik jendela dengan tatapan merana. Ya, percintaan mereka ngga disetujuin ama tetangga si (mirip) Yessy. Hm, settingnya itu tanggal 4 Juli aja lah… Kenapa? Karena tanggal 5-nya, saya ulang tahun, jadi cuaca harus cerah. Mwahahaaa… bagus sekali film produksi otak saya. Tapi serius, ini lagu gloomy tapi enak. Yap, enak! Padahal kesan pertama adalah aneh. Tapi begitu mendengarkan lebih lama, saya yakin akan mengulang lagu ini berkali-kali dengan volume max. Hahaa... en I did it. Dengarkan juga versi akustiknya di track terakhir, wiiih… kali ini si (mirip) Rano ngga cuman berdiri nelangsa aja, tapi udah ngesot bawa-bawa silet.


Sejak Naif mengeluarkan lagu Mobil Balap, saya mulai suka sama band, kebanyakan berlabel indie, yang membawakan nada jadul. Walopun saya suka musik retro abad 21, tapi anehnya saya bukan penggemar berat The Beatles, Koes Plus, apalagi Elvis Presley, padahal katanya mereka itu para dewa retro.Tapi jauh dari playlist winamp saya hehe… Saya baru benar-benar mendengarkan The Beatles ketika nonton film Across the Universe.


Baru-baru ini saya juga mendengarkan kompilasi Day to Embrace (yang rilisnya sudah bertahun-tahun lalu juga). Di situ ada sebuah track yang hobi saya puter berulang-ulang, judulnya Ode tentang Kecantikan dari Greats. Nah, band dari Surabaya ini juga bau-bau retro. Tapi beda banget sama si The Monophones. Makanya mendadak saya jadi penasaran, sebenernya ada berapa aliran retro sih di dunia ini??? Apalagi saya juga hobi ngedengerin yang lain kayak The Banery, White Shoes and The Couple Company, Sore, dan band-band lain yang saya kira retro tapi ternyata bukan, atau sebaliknya… Hehe..


Nah, dari situ yang bikin saya ngga paham, sebenernya batas sebuah band disebut retro itu kayak gimana? Apakah penampilan di panggung harus pake celana cutbray, kemeja press bodi, kacamata polisi Amrik, atau yang cewe pake rok sampe di atas pinggang? Atau dari segi sampul album, harus mengusung tema pop art kayak The Monophones ini atau Mesin Waktu-nya Naif? Gimana cara menentukan apakah si band ini retro atau ngga tanpa melihat profilnya di MySpace?


Maka, saya, dengan iseng hati dan kurang kerjaan nanya temen yang cukup kompeten dalam bidang ini, disamping bidang kefarmasian tentu saja hehe… Begini, dia bilang, ngga ada pakem buat sebuah band untuk dibilang retro, cuman ada pattern tertentu yang khas sound retro. Walopun retro itu banyak cabangnya, tapi secara umum, retro tuh ada aliran good boy atau retro pop seperti White Shoes, en sepertinya The Monophones juga kayak masuk ke sini sih. Ada juga bad boy atau retro rock en roll kayak Elvis gitu, di sini sound gitar biasanya lebih ke drive atau grunch. Nah kalo si good boy, biasanya rajin pake nada-nada minor terus dinyanyiin secara lay back.


Apa itu drive?? (Anjie Drive?? Sheila Marcia??) Apa itu grunch?? Apa lagi itu lay back??


Saya lebih bisa merasakan daripada memahami pengertiannya hahaa… intinya saya ngga ngerti kata-kata itu, tapi sesuai instruksi teman saya: bandingin aja Mobil Balap versi Naif dengan versinya The Brandals… Naaah, baru dari situ saya bisa merasakan, oooh grunch tuh kayak gini, oooh pattern-nya rock en roll retro tuh kayak gitu…


*Mwhaahaa, ini sok tahu tingkat tinggi, sodara! Jangan percaya!*


Ada lagi tuh retro swing, hm kalau dari bau-bau namanya, ini pasti jazz jaman dulu. Tapi (kata dia lagi) biasanya tiap band retro malah menamai aliran mereka sendiri. Retro apaaa gitu, retro gloomy, retro keroncong, atau Retro Karno mungkin, hahaaa... Yah itu kalau saya yang bikin band.


Saya pernah baca, Naif sendiri ngga pernah mengkotak-kotakkan musik mereka harus retro, tapi mereka merasa nyaman saja dengan nada seperti itu. Nah, mungkin si ’nada seperti itu’ lah yang keluarnya menjadi sebuah sound vintage. ’Nada seperti itu’ juga yang mungkin dimaksud si temen saya tadi sebagai ’pattern khas’. Widddihhh... saya emang excellent with morality!


Oke, jadi maksud dari postingan ini adalah saya sedang suka The Monophones karena bisa memainkan ’nada seperti itu’. Saya ngga mau tau itu termasuk pop–retro atau swing-retro atau retro yang lain, hehe... Intinya kalau ada lagi lagu yang jatuhnya seperti nada itu, pasti nasibnya akan seperti Rain of July: saya putar berulang-ulang.



Thanks to Gami, teman kuliah saya, seorang vokalis band lokal beraliran rock n roll jadoel, yang jam terbang manggungnya sudah ngga bisa dihitung lagi, padat merayap, eh pernah muncul di Arek TV juga! *ihiiiiiiy, masuk tipi reeek…*

Good luck for ur band, and be hepi in Bandung with ur lovely motorbike, Mbah Koong :)



3 komentar:

  1. wah, resensimu mantep put :) aku suka :) anw, aku malah gak tau ngerungokno the monophones.. engko tak coba ahhhh...

    BalasHapus
  2. dapet liriknya dimana ?
    minta dong .

    BalasHapus
  3. Sya malah baru denger lagu itu skrg, setelah temen minjem hp buat download lagu, katanya lagu soundtrack film "catatan akhir sekolah".. pas di denger cocok, jd sering di repeat. :D yg judulnya rain of july

    BalasHapus