Rabu, 21 September 2016

Waikabubak At a Glance

Desember 2014
 
Setahun terakhir, Sumba, sebuah pulau di antara gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur mendadak ramai dikunjungi wisatawan, terutama dari kancah domestik. Kebanyakan mereka tergiur menikmati Sumba setelah booming sebuah film nasional garapan Mira Lesmana yang mengambil lokasi syuting di pulau tersebut. Selain suguhan alam yang memanjakan mata, budaya Marapu yang dianut penduduk lokal juga menjadi daya tarik tersendiri.

Plesiran kali ini akan membawa kaki kamu ke Waikabubak, ibukota Kabupaten Sumba Barat. Sumba memiliki dua bandar udara yaitu di Waingapu (Sumba Timur) dan Tambolaka (Sumba Barat). Pilihan paling dekat adalah mendarat di Tambolaka lantas lanjut jalan darat menggunakan travel atau mobil sewaan selama satu jam menuju Waikabubak.

Kampung Tarung dan Kampung Waitabar
Kedua kampung ini terletak di pusat kota Waikabubak sehingga sangat mudah akses untuk mencapainya. Tarung dan Waitabar merupakan representasi kampung asli Marapu yang masih eksis hingga abad ini. Keduanya terletak bersebelahan, sehingga wisatawan bisa langsung menuju Waitabar dari Tarung dengan berjalan kaki saja.

Pengunjung bisa melihat jejeran hunian tradisional beratap alang-alang kering yang dalam bahasa lokal disebut uma alang. Meskipun tampak rapuh, namun alang-alang ini kuat hingga belasan tahun terpapar hujan dan sengatan panas. Lain soal jika terhempas angin kencang. Di bagian tengah rumah terdapat sebuah tungku yang zaman dulu digunakan sebagai pusat kehidupan karena tidak ada listrik. Berbagai ritual harus dilaksanakan jika pemilik rumah hendak merenovasi. Sekedar mengganti alang-alang pun ada aturannya. Untuk memasang 1 tiang kayu penyangga rumah, pemilik harus memotong kurban terlebih dahulu.

Uma alang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, karena kegiatan spiritual juga dilakukan di dalamnya. Bagian bawah biasa digunakan untuk menampung hewan peliharaan. Lalu lantai atasnya digunakan untuk tempat tinggal utama, dan bagian paling atas atau menara yang menjulang tinggi digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga. Ada yang mengatakan juga bahwa bagian tersebut tempat berdiamnya roh leluhur.

Pada perkembangannya, banyak sekali uma alang di kampung lain yang kini menjadi rumah dinding bata atau sekedar mengganti atap daun menjadi seng. Selain uma alang, salah satu budaya Marapu di Sumba adalah mengubur jenazah keluarga di sebuah kubur batu yang terletak di halaman rumah. Pengunjung bisa melihat banyak kubur batu bertebaran di kedua kampung ini.


Lapangan Pasola Lamboya dan Pantai Kerewe
Apakah kamu pernah mendengar tentang Pasola? Sebuah perayaan paska panen di Sumba di mana para pemuda lokal saling melemparkan tombak ke kubu lawan sembari berkuda. Pasola digelar di beberapa desa terutama di Kabupaten Sumba Barat dan Barat Daya. Salah satu yang terdekat dengan Waikabubak adalah gelaran Pasola di kecamatan Lamboya, hanya berkendara selama 60 menit saja. Menarik apabila kedatanganmu tepat saat perayaan ini yaitu sekitar Februari – Maret.

Pasola Lamboya dilaksanakan di sebuah lapangan padang rumput yang begitu luas dan kerap disebut bukit Hobba Kalla. Pemadangan dari sini begitu menyejukkan mata. Kamu bisa menikmati lanskap persawahan, atap-atap uma alang yang menyembul di balik pepohonan serta melihat Pantai Kerewe dari kejauhan. Hanya butuh 30 menit saja untuk mencapai pantai tersebut.

Biasanya, para penonton Pasola kerap berkunjung ke Pantai Kerewe setelah perayaan berakhir. Mereka berenang dan menikmati ombak yang cukup bersahabat. Pada hari-hari biasa, pantai ini cukup sepi. Kamu bisa duduk-duduk di bibir pantai sembari menyeruput kelapa muda yang biasa dijajakan anak-anak kampung sekitar. Segar baru petik dari pohonnya dan murah lagi!

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Pulau Sumba memiliki dua taman nasional yang masih relatif baru usia berdirinya yaitu Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan Manupeu Tanah Daru. Kalau kamu mencari obyek menarik di sekitar Waikabubak, maka menjelajah Air Terjun Lapopu adalah keharusan.

Air terjun alami ini adalah bagian dari zona wisata Taman Nasional Manupeu Tanah Daru yang terletak di kecamatan Wanokaka. Akses kendaraan roda empat terbilang cukup mudah karena jalan aspal sudah dibangun akhir tahun lalu. Hanya memakan waktu kurang dari satu jam saja dari pusat kota Waikabubak. Kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki sepanjang 400 meter dan melewati jembatan bambu. Sebelum masuk ke area air terjun, wisatawan wajib lapor di pos jaga yang tersedia serta membayar retribusi sebanyak 5000 rupiah. Sedangkan mereka yang dari manca negara ditarik 100000 rupiah. Untuk kepentingan penelitian, izin harus melalui kantor balai taman nasional tersebut lebih dahulu dan mengurus simaksi.

Jangan heran, bila kamu tak kuasa untuk berenang di air terjun berundak ini. Begitu segar! Arus sungainya pun relatif tenang dan dangkal. Cocok untuk yang doyan bermain air. Apalagi bila datang di tengah hari, saat mentari menyengat kulit. Suara derasnya air yang jatuh dari ketinggian begitu syahdu beradu dengan cicit burung-burung. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru juga disebut surga untuk birdwatching. Untuk kegiatan tersebut, wisatawan perlu didampingi petugas dari taman nasional yang mengetahui lokasi-lokasi strategis untuk melihat burung endemic seperti kakatua jambul jingga dan julang Sumba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar