Rabu, 14 September 2016

Sembilan Candi di Lereng Gunung Ungaran


Agustus 2013

Matahari masih malas muncul saat saya dan keluarga tiba di pelataran parkir Candi Gedong Songo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kami memang sengaja berangkat setelah subuh untuk menghindari kemacetan yang mengular di musim liburan. Jarak tempuh dari pusat kota Semarang menuju candi ini kurang lebih dari 40 km, tak sampai satu jam berkendara. Tentu saja, kalau tidak ada acara mampir-mampir.

Candi Gedong Songo terletak di lereng gunung Ungaran, sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Kebun-kebun sayur bertebaran di kanan kiri jalan. Bunga-bunga hias pun juga tumbuh subur. Selama perjalanan beberapa kali kami melihat petani sayur yang siap menjajakan hasil panennya. Sawi, bawang daun, tomat nampak segar di dalam karung-karung dagangan. Dari aplikasi smartphone, pagi itu suhu tercatat 18 derajat. Dingin dan begitu sejuk.

Dalam bahasa Jawa, Gedong Songo berarti Sembilan Gedung. Candi-candi Hindu di sini dahulunya berada terpisah-pisah menjadi sembilan kompleks. Namun sekarang, wisatawan hanya bisa menikmati lima kompleks saja, sedangkan empat kompleks lain hanya tinggal puing kenangan saja.

Dari segi ukuran, candi-candi di sini tak terlalu besar dan lebih mirip dengan candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. Karena kesamaan ukuran dan topografi alam itu pula banyak sumber bacaan yang menyebut bahwa candi Gedong Songo masih bersaudara dengan candi Arjuna. Sama-sama dibangun masa Dinasti Sanjaya, sekitar abad ke-8. Relief Dewa-Dewi di dinding batu juga tak terlalu tampak karena dimakan usia. Meskipun demikian Candi Gedong Songo masih memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Terutama bagi mereka yang jenuh tersengat terik mentari di Semarang dan sekitarnya.

Dari komplek Candi Gedong pertama hingga kelima, kami berjalan mengikuti jalan setapak yang telah disediakan dengan rapi oleh pengelola. Candi Gedong pertama tercatat berdiri di sekitar ketinggian 1208 meter di atas permukaan laut. Semakin lama memang semakin menanjak dan menguras tenaga, namun pengunjung dapat beristirahat di warung-warung di tengah rimbunnya hutan pinus. Menghangatkan diri dengan segelas teh panas dan sepiring mie rebus, sembari menikmati pemandangan kebun-kebun lombok, kubis dan sawi yang berada di areal candi. 

Candi Gedong kelima berada di area tertinggi yaitu 1300 meter di atas permukaan laut. Dari atas sini, pengunjung bisa melihat Candi Gedong ketiga yang nampak cantik berlatar belakang hutan pinus penuh kabut. Masing-masing kompleks candi memiliki jumlah candi yang berbeda-beda, walaupun hanya satu hingga tiga candi saja yang masih berdiri. Misalnya pada Candi Gedong keempat, dari puing-puing yang tersisa, seharusnya kompleks itu terdiri atas 9 candi. Bisa dibayangkan ramainya Candi Hindu di lereng Gunung Ungaran ini pada belasan abad lalu. Apabila dijumlah, mungkin saja terdapat puluhan candi di kompleks Gedong Songo ini.

Tak terlalu banyak kompleks Candi di Jawa yang lengkap dengan suguhan pemandangan alam dataran tinggi ditambah hembusan angin sejuk seperti di Gedong Songo ini. Di antara kompleks Candi Gedong ketiga dan keempat, pengunjung akan melewati sumber air panas belerang yang dikelola menjadi sebuah pemandian mini. Konon, air seperti ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit seperti jerawat dan gatal-gatal karena jamur.

Bagi yang tak kuat berjalan jauh dan menanjak, ada opsi menggunakan jasa kuda di sini. Tarifnya tak sampai 100 ribu untuk rute candi Gedong pertama hingga terakhir, lantas kembali lagi ke pintu masuk. Pengelolaan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam di Candi Gedong Songo ini boleh diacungi jempol, padahal tiket masuk wisatakan lokal hanya 7.500 rupiah saja per orang. Taman-taman di kompleks candi sangat dirawat, begitu pula dengan penataan areal warung dan penjaja souvenir. Untuk kuliner yang populer di sini, pengunjung bisa menyantap Sate Kelinci dengan harga per porsi 15.000 rupiah yang bisa ditemukan pada hampir semua warung di Gedong Songo.


Tepat setelah menapaki candi tertinggi, saya dan keluarga akhirnya tergoda menikmati semangkok mie rebus yang asapnya mengepul-ngepul. Perut semakin keroncongan saat mencium aroma bumbu yang tersiram air panas. Nikmat sekali! Setelah tenaga terkumpul kembali, kami turun menuju parkiran. Rupanya, keputusan untuk berangkat ke Gedong Songo sepagi mungkin sudah sangat tepat. Meskipun perjalanan dari candi ke candi diliputi kabut tebal, namun hal itu malah menambah efek mistis cagar budaya tua ini. Semakin siang, pengunjung yang datang semakin membludak. Beberapa keluarga menyewa tikar dan asyik piknik di taman-taman candi. Untuk sekedar memarkir pun pengunjung bermobil harus bersabar menunggu ada tempat kosong dari mobil lain yang meninggalkan area. Maka, datang sepagi mungkin adalah tips terbaik menuju Gedong Songo jika Anda ingin menikmati kesyahduan pemandangan di sekitar candi. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar