Selasa, 17 Januari 2012

Mandi


"Sudah mandi, Nak?" Pak Hajau masuk ke kamar tempat kami menginap selama di desa Tanjung Lokang. Kamar itu begitu luas, hingga kami bertujuh sepakat tidur bersama-sama dalam satu ruang. Bukan pengiritan, karena harga sewa pondok ini hitungannya per kepala. Jadi ya sama saja. Mungkin kami terlalu kekeluargaan kali ya, sampai tidurpun bareng-bareng, tapi cukuplah membuat suasana menjadi tidak semenyeramkan yang saya kira. Mengingat malam di pondok tak ada aliran listrik, hanya terdengar suara langkah dan lolongan anjing, sesekali angin juga ikut bernyanyi menggerakkan daun-daun dari pepohonan raksasa di depan kamar. 

"Sudah, Pak." Mbak Anty yang menjawab. Masih di balik dekapan sarung dan pangkuan kasur, saya melirik wanita berkaca mata yang asik duduk di samping saya itu. Mata kami kemudian beradu seakan berbicara sesuatu.

"Diem lu," hardik Mbak Anty, yang lantas ikut tertawa cekikikan pelan. Saya tahu dia bohong. Kami sudah mengira pertanyaan seperti itu akan terlontar lagi dari Pak Hajau pagi ini. Yah, kalau bukan Pak Hajau, mungkin putranya yang hobi mbanyol, Bang Saleh, yang ganti bertanya. Pagi dan sore, "sudah mandi atau belum" adalah pertanyaan basa-basi favorit mereka. 

Ini masih terlalu pagi untuk melakukan ritual mandi kala liburan. Entah kebetulan atau bagaimana, setiap pertanyaan itu muncul, kami selalu dalam kondisi belum mandi. Lama-lama malu juga. Jadi Mbak Anty memutuskan untuk melakukan sedikit variasi jawaban pagi ini. 

Setelah pulang dari Kalimantan, saya menyadari bahwa banyak pengalaman mandi yang begitu tak terlupakan. Mandi pada saat perjalanan seminggu di Tanjung Lokang mungkin menjadi yang paling berkesan. Sebenarnya sih, pengalaman beraneka cara mandi ini sudah terjadi sejak awal perjalanan. Hari pertama menginjakkan kaki di Kalimantan Barat, rombongan langsung capcus menuju Singkawang. Kami bermalam di rumah keluarga Bang Bule, salah seorang pendamping Rakata yang rambutnya sepanjang model shampoo itu.

Karena sudah malam, kala itu, saya, Mbak Anty maupun Mas Ian, memutuskan untuk tidak mandi. Hehehe, kami cuci muka, gosok gigi, lalu berganti pakaian seragam kebangsaan untuk tidur. Pagi menjelang, ritual mandi pun mau tak mau datang menghadang.

Saya, adalah yang pertama menuju kamar mandi. Letaknya tak berada di dalam rumah. Harus melewati ladang kecil terlebih dahulu, Saya diantar oleh seorang gadis, yang ah, saya lupa namanya. 

"Kamar mandi kami unik, Kak… Mohon maklum," ujarnya.

"Ah, tak apa," jawab saya jujur. 

Kamar mandi yang dimaksud adalah sebuah ruangan kecil, beralaskan semen, beratapkan langit biru awan putih. Ada sumur, dua baskom besar dan empat dinding berupa bilik bambu. Ada juga sarung tergantung di salah satu sudut. Basah dan lembab. Saya mulai menimba beberapa ember air untuk ditadah dalam baskom. Sebenernya saya pengen ngikutin cara orang-orang yang mandi di sungai, yaitu menggunakan sarung. Mungkin itulah guna ada sebuah sarung coklat kotak-kotak di sana. 

Oke! Begitu saya raih si sarung, ternyata ada seekor kodok coklat besar basah yang melompat dari dalamnya. Kagetnya Masya Allah! Saya ngga jadi pake ritual sarung-sarungan. Buru-buru mandi seperti biasa. Ngga mau ngurusin bakal ada yang ngintip atau ngga. Keberadaan si kodok yang masih nongkrong di dekat sarung, memicu saya untuk segera menuntaskan mandi dan meninggalkan bilik menuju ke rumah kembali.

Perjalanan menuju Tanjung Lokang memang menjadi highlight dalam petualangan tim kami. Sampan bergerak dari Kedamin, Putussibau dikemudikan oleh Bang Saleh dan Pak Hajau. Mereka adalah pasangan ayah dan anak Dayak Punan Hovongan asli Tanjung Lokang yang sangat humoris. Tidak ada bosan-bosannya bercanda dengan Bang Saleh yang sangat lugu ataupun Pak Hajau yang tak pernah terlihat marah. Ya, kami tak pernah bosan, kecuali saat pertanyaan tentang mandi kerap datang.

Tanjung Lokang tidak bisa ditempuh dalam sehari perjalanan. Kami harus menginap terlebih dahulu di Resort Nanga Bungan, milik Taman Nasional Betung Kerihung. Kata "resort" janganlah dibayangkan dengan resort-resort jetset yang ada di Ubud ataupun Seminyak. Resort ini berupa rumah panggung yang sangat amat sederhana. Terletak di tepian Nanga Bungan. Nanga dalam bahasa lokal artinya muara. Saat itu kami memang berada di sebuah persimpangan Sungai Bungan dan Sungai Kapuas. 

Saya memutuskan untuk tidak mandi malam itu. Hanya mencuci muka, gosok gigi, lalu segera tidur. Kami menempati sebuah kamar yang hanya berukuran 3x3 meter. Terasa sangat sempit karena kamar itu ditempati tujuh orang sekaligus. Hahaha!

"Put, lu kok dorong-dorong gue sih dari semalem?" kata Mbak Anty yang menggerutu ketika tubuhnya terus merapat ke Mas Ian.
"Tuh, si Oceng nyerempet mulu!" tuduh saya ke Bang Oceng. Kami memang hanya tidur beralaskan  sleeping bag saja. Ruangan semakin sempit ketika ransel-ransel puluhan liter juga masuk ke dalam. Yah pokoknya, banyak keluhan datang ketika pagi menjelang.
Bang Saleh kemudian masuk kamar, "Selamat pagi semua! Putri, Anty, sudah mandi?"
Aaarrghhh… Baru juga bangun, Bang! 

14 jam terapung di atas sampan, akhirnya kaki ini menginjak juga ke Desa Tanjung Lokang. Ini adalah desa terakhir di sepanjang Sungai Bungan. Di ujung sana, di balik hutan belantara, adalah wilayah Kalimantan bagian Timur. Wisatawan sering melakukan cross borneo dengan melewati rute ini. Perlu digaris bawahi, wisatawan yang saya maksud adalah wisatawan manca negara. Rasanya, ngga perlu saya bahas mengapa orang Indonesia mayoritas lebih suka lintas negara di Asia Tenggara daripada masuk-masuk hutan dan susur sungai raksasa di tanah Borneo seperti ini. Desa ini juga sering kali didatangi oleh researcher yang kebanyakan datang dari benua Eropa. Bisa saya lihat dari daftar tamu ketika mengisi buku tamu di rumah Bang Herman, seorang bendahara desa. 

Desa Tanjung Lokang bukanlah desa tertinggal seperti bayangan orang-orang perkotaan pada umumnya bila melihat sebuah kampung berada di balik belantara hutan. Boleh dikatakan, penduduk desa ini cukup makmur dengan mata pencaharian menambang emas di sepanjang sungai. Masing-masing rumah memiliki generator untuk mengalirkan listrik di malam hari. 

Kami menempati sebuah pondok berupa rumah panggung yang memang sudah disediakan khusus untuk wisatawan yang datang. See, sudah ada menejemen wisata yang cukup baik di sini. Ada sekitar 4 kamar besar yang berjejer di sana. Ada 2 kamar mandi dengan fasilitas yang sangat modern, yaitu toilet duduk. Ah, tapi sayang, tak ada air dan listrik yang mengalir di pondok ini. Percuma saja ada bak mandi dan toilet duduk.

"Bang, mandinya di mana ya?" tanya saya pada Bang Bule.
"Hm… di sungai, Mbak.. Semua penduduk juga mandi di sungai... Kita menyatu dengan alam…," ujarnya sok puitis. Kadang guyonannya garing sih. :p

Setiap kali sampai di sebuah destinasi, hal pertama yang biasa saya lakukan adalah mandi. Tapi mandi kali ini rupanya agak spesial, sehingga membuat saya bingung karena harus melakukan berbagai persiapan. 

Saya dan Mbak Anty akhirnya memutuskan untuk mandi di sebuah sungai kecil di belakang pondok. Sedangkan Mas Ian melangkah ke sungai yang lebih besar di dekat tempat bersandarnya sampan. Hanya ada kami berdua di sana. Sungai ini agak menjorok ke bawah, tertutup sebuah bukit gundul yang disulap menjadi ladang oleh penduduk setempat.

Ini mungkin menjadi proses mandi paling lama yang pernah saya lakukan. Pertama, kami ngga mau melepas baju begitu saja seperti gadis-gadis di sini pada umumnya. Mungkin harusnya kami pinjam sarung untuk dipakai kemben. Ah, tapi toh saya masih tetap akan risih. 

"Yaudahlah, pake baju lengkap aja!" ujar saya akhirnya. Hanya ada satu gayung saat itu. Entah Bang Abdi nemu dimana. Kejernihan air sungai memang ngga perlu diragukan lagi. Tapi mungkin karena tidak terbiasa, saya dan Mbak Anty sangat kerepotan dalam hal ini.

"Eh, Put, lu minggir dulu, deh.. Gua mau pipis.. Lu jangan kesono ya…"
"Eh, kalau pup di mana ya?"
"Ada ikan kecil! Lucu.. Berdua-duaan.."
"Ya ampun, shampoonya hanyuuut, Mbaaak.."
"Aku mo nyuci baju di mana, ya?"
"Nyuci baju di sini aja, Put, kayak di film-film, digeprok-geprok di batu…"
"Eh, sandal gueee..."
"Ada ranjau, Mbaaaak!" Dan kami pun buyar berhamburan ketika 'ranjau' tadi numpang lewat.
"Sial, siapa sih yang lagi boker di sono! Pasti Oceng tuh!" Saya terbahak melihat tingkah laku kami berdua yang sangat katrok abis. Tak seperti teman-teman lelaki kami yang dengan sangat gampang mandi di manapun pada medan seperti apapun.

Entahlah, bersih atau tidak, adegan mandi rempong seperti itu. Saya tidak terlalu puas sih sebenarnya. Tapi yah sudahlah, yang penting sudah ganti baju kering dan bersih. Sementara baju yang kami buat untuk mandi-mandian tadi dijemur di depan pondok. Oh iya, perjalanan di Tanjung Lokang ini juga menjadi rekor dalam hal membawa pakaian ganti. 7 hari di Tanjung Lokang, saya hanya membawa dua kaos bersih, satu celana kain untuk tidur, satu celana kargo untuk jalan, dan sarung. Sarung adalah benda wajib, karena sesungguhnya saya susah tidur tanpa belaian selimut. Semua dipakai bergantian. Kotor, cuci, jemur, pakai, kotor, cuci, jemur, begitu seterusnya. Heheehe, dan saya sangat menikmati proses ini. :D

Dari Tanjung Lokang, kami bergerak menyusur Sungai Bulit lebih dalam. Tak ada desa atau pemukiman lagi. Kami berencana menuju Data Opet, sebuah dataran di tengah hutan yang dulunya adalah kampung nenek moyang penduduk Tanjung Lokang. Selain itu, kami dijadwalkan untuk mengunjungi dua liang (goa) yang begitu dikeramatkan oleh masyarakat Dayak Punan Hovongan. Perjalanan ditempuh menggunakan sampan selama 3 jam. 

Kami berencana menginap semalam di sini. Yak! Pemirsa! Ini adalah camping pertama seumur hidup saya. Langsung di tengah hutan, di pinggir derasnya arus Sungai Bulit. Tentu saja, duet rempong ini, saya dan Mbak Anty plus Mas Ian, memutuskan untuk ngga mandi selama di Data Opet. Pertama sih, saya males mandi di sungai yang sudah berhasil menghanyutkan wajan kami beberapa meter itu. Untungnya kami tidak kehilangan penggorengan andalan saat masak ketika si wajan tersangkut batu. Yak! Sungai Bulit arusnya sangat deras dan warna airnya keruh. Eh tapi toh saya minum air dari di sini juga sih! Hahaha… Ah sudahlah, airnya kan dimasak dulu ya! Iya kan?

Alasan kedua, gila kali ya, di sungai kecil yang arusnya santai-santai aja, kita mandi dengan kerepotan maksimal, apalagi di sungai yang gedenya macem kayak gini. Syukur kalo abis mandi, ngga ada pacet iseng nemplok di kaki. Ah, mending ngga usa mandi deh!



Malam itu, kami berganti pakaian seragam wajib tidur.Ternyata, hutan di malam hari begitu gelap ya... Saya nyaris tidak bisa melihat apa-apa kecuali bayangan pohon. Tenda dome hanya diisi oleh saya dan mbak  Anty. Apes, tenda dome satunya tertinggal di Tanjung Lokang. Jadilah Mas Ian tidur bersama bapak-bapak penduduk yang menjadi motoris kami. Mereka tidur hanya beratapkan terpal. Lebih apes lagi, malam itu hujan mengguyur begitu derasnya. Pasti amat dingin di luar sana.

Saya tidak langsung tidur. Mbak Anty sudah terlelap. Di dalam tenda dome saya begitu menikmati suara siraman air hujan yang bertabrakan dengan kain tenda. Saya bisa merasakan air mengalir dengan deras dari balik punggung saya. Krucuk... krucuk.... Tapi entahlah, saya merasa hujan ini sebenarnya tidak menambah efek seram. Saya justru sangat menikmati. Dan ah, saya rindu mandi, kawan. Pada detik itu pula saya bergumam dalam hati, "what the hell am I doing here?"

Hehehe...

"Mas, kalo orang TN, mandinya di mana?" Keesokan harinya saya iseng bertanya pada Mas Fajar, seorang pegawai Taman Nasional Betung Kerihun yang ikut mengawal perjalanan tim kami.

"Ya, sama, Mbak, di sungai…," ujar lelaki asli Yogyakarta ini.

Hmf… Saya manyun lagi. Saya begitu merindukan mandi yang biasa saya lakukan. Ngga lega mandi di sungai meski airnya jutaan liter lebih banyak daripada sebuah bak di kamar mandi.

"Itu, Bang Herman punya kamar mandi, Mbak…," sambung Mas Fajar kemudian. Mata saya langsung berbinar seperti habis menerima honor tulisan, segera saya menghampiri Bang Herman untuk melakukan konfirmasi.

"Bang Herman, boleh tak, aku dan Mbak Anty numpang mandi di rumah Abang nanti sepulang dari Data Opet?" 

"Boleh saja, silahkan…" 

Ah, Bang Herman baik! Saya langsung berkoar-koar pada Mas Ian, pamer bahwa akhirnya saya dan Mbak Anty bisa mandi dengan leluasa lagi. Hoyeee!! Oh iya, beruntung kami hanya semalam saja di Data Opet. Saya mendadak menderita flu yang cukup berat. Dan kaki saya juga sempet ketempelan pacet. Pacet itu begitu gemuk, asik menyedot darah saya di pergelangan kaki. Seandainya kamu penyedot lemat, Cet, aku biarkan kamu nongkrong di situ. Tsah!

Kami tiba di Tanjung Lokang tepat setelah senja rampung. Saya tak sabar ingin segera ke rumah Bang Herman dan mandi di sana. Meskipun harus gelap-gelapan menyusur jalan kampung danmenyeberang sungai kecil, ah tak apaaaa… Yang penting malam ini saya mandi di kamar mandi!!!

Mbak Anty mendapat giliran pertama untuk mandi. Saya menunggu di serambi depan bersama Bang Herman. Generator mulai dinyalakan, listrik menerangi rumah panggung ini seketika. Kak Kristina, istri Bang Herman baru datang dari sungai di belakang rumah. Pasti habis mandi. Tubuhnya masih dibalut handuk besar putih. Dua anak Bang Herman menonton TV layar datar di ruang tamu. Mereka menyaksikan acara lagu-lagu milik stasiun TV negara tetangga. Tak heran. Semua yang berkaitan dengan negara tetangga memang tampak lebih eksis di tempat ini.

Tak lama setelah Mbak Anty mandi, giliran saya masuk ke kamar mandi. Well, perasaan saya susah digambarkan. Memang berlebihan, tapi rasanya destinasi terindah saat itu adalah kamar mandi. Hahaha… Byar byur byar byur!

Setelah mandi, kami tidak langsung pulang, karena Kak Kristina menyuguhkan kopi hitam dan donat dengan meses warna-warni. Huaaa… Rasanya sudah lama saya ngga makan donat! Ah, sudahlah. Puas ngobrol tentang berbagai hal, kami berpamitan meninggalkan rumah ditemani Bang Saleh karena jalan di sini begitu gelap gulita, yah apalagi harus ada adegan nyebrang sungai segala. 

Di dalam kamar pondok, Mbak Anty lalu berujar, "Put, lu mandi berapa gayung tadi?"
"Hm, banyaklah, Mbak…"
"Haduh, itu airnya uda kotor, Put! Gua cuman mandi tiga gayung kayaknya. Lu ngga ngebau apa-apa tadi di kamar mandi?"
"Nggak.. Aku kan pilek..."
"Oh iya deng! Duh, itu kan air sungai yang disedot ke atas, nah kayaknya udah beberapa hari ngga pernah diutak-atik. Tadi pompa airnya juga ngga nyala, jadi ngga bisa nampung air sungai baru. Air sungai kan isinya macem-macem, Put.. itu tadi baunya kayak air basi… Udah besok kita mandi di sungai belakang aja."

Oke mendengar berbagai penjelasan itu, saya bersyukur sedang flu. Membayangkan banyak bakteri dalam air tadi, seketika saya langsung mengambil obat gosok andalan yaitu minyak kayu putih dan mengusapnya secara random. Bagi saya, minyak kayu putih lebih ajaib daripada antibiotik. :D

Acara mandi selanjut-selanjutnya pun dilakukan di sungai belakang pondok kami tercinta. Lama-lama kami cukup terlatih kok mandi dan buang air di sungai. Di sungai pun kami sering membicarakan banyak hal. Pernah saat itu, jam delapan pagi, kami sudah berada di sungai kesayangan. Sambil santai duduk di bebatuan saya mencuci muka dengan malas. Pagi di sini rasanya terberkati, suara gemericik kali dan curahan oksigen segar yang tak terkontaminasi. 

"Jam segini, temen-temen gue lagi kejebak macet nih di Jakarta..."

Mbak Anty terbahak. Saya juga. Seekor anjing mendekat, mengendus-endus tanah di tepi sungai, bermain-main di sana. Ikan belang oranye-hitam masih berdua-duaan di dekat bebatuan. Di bawah langit yang sama, di atas tanah Indonesia yang sama. Tanjung Lokang dan Jakarta. Ah, rasanya tak usah dibanding-bandingkan. :)

Ketika hari kepulangan meninggalkan Tanjung Lokang tiba, tak henti-hentinya saya berharap untuk segera sampai di Resort Nanga Bungan TN Betung Kerihun. Kamar mandi sudah pasti menjadi sasaran saya. Kami memang harus mampir dan bermalam di sana, untuk beristirahan dari perjalanan di atas sampan yang sangat panjang dan melelahkan. 

Dan benar saja, sesampainya di Resort Nanga Bungan, air dari bukit yang dialirkan ke kamar mandi begitu tumpah ruah. Bahkan kran pun kadang tidak dimatikan, dan dibiarkan saja air alami itu terbuang ke sungai kembali. Saya mandi dengan penuh penghayatan. Tak pernah seumur-umur saya begitu mencintai ritual mandi ini. Rasanya ingin berlama-lama di kamar mandi mengguyur tubuh dengan air yang begitu segar itu. 

Sejak saat itu, di destinasi lain di Kalimantan Barat, saya menjadi orang yang paling rajin mandi. Beberapa hari setelah kembali ke Jawa, Mas Ian dan Mbak Anty sempet bilang bahwa mereka sangat merindukan saat-saat saya ngomel ketika mereka berdua malas mandi. Hehe! Bagaimana pun, setiap perjalanan selalu membawa pelajaran. Bisa mandi dua kali sehari dengan air bersih melimpah plus tembok tertutup adalah aktivitas sederhana yang harus dinikmati dan disyukuri. 

:)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar