Minggu, 27 Februari 2011

Belanja Terus Sampai Mati*

Saat itu bulan puasa Ramadhan memasuki hari kelima belas. Pukul sepuluh pagi saya dengan malas melajukan motor menuju Jembatan Merah Plaza (JMP) ditemani Yayas, seorang teman kuliah dan anak hakim terkenal. Semalam Ibu saya sms, mengingatkan saya untuk membeli dua pasang mukena di JMP untuk hadiah lebaran Mbak yang bantu-bantu di rumah Jember.

Sebenernya tugas itu sudah jamuran umurnya. Saya enggan sekali memasuki pusat perbelanjaan di bulan puasa, terutama seperti Jembatan Merah Plaza, mall favorit ibu saya. Selain jauh dari tempat kosan, pukul lima sore JMP sudah nutup. Dan itu memaksa saya untuk pergi pagi-pagi sekali atau sore sekali demi menghindari macet dan gerahnya Surabaya. Alasan lain, tentu saja karena saya ngga tahan melihat orang sebegitu banyaknya berdesak-desakan, kayak penampakan segelas dawet ayu. Mereka memenuhi stand-stand diskonan main obok-obokan berebut barang bagus dengan harga miring.

Pusing ngeliatnya.

Beberapa tahun terakhir, ketika sudah mulai memahami sifat-sifat kota Surabaya, saya sangat menghindari pusat perbelanjaan di manapun dia berada ketika Lebaran sudah dekat. Entahlah menurut saya itu sama saja dengan mengurangi pahala puasa. Begini, Surabaya itu sudah ditakdirkan menjadi kota yang serba gerah. Bangun tidur, badan gobyos kayak abis nguli. Siangan dikit, kamar kosan berubah jadi sauna. Mau keluar, mata silau banget kena matahari. Biasanya saya mencari cara yang efektif dan efisien yaitu dengan menjadi pecinta kampus walaupun ngga ada kuliah. Dari pagi hingga sore menjelang, saya akan di kampus. Di ruang baca terutama, karena di sana, saya ngga akan kekurangan stok AC. Adem.

Nah, menembus matahari demi belanja pada H minus dikit Lebaran, adalah tindakan yang kurang bijaksana. Terutama kalo Anda sekalian pengguna motor dan angkutan umum. Dehidrasi akan melanda kerongkongan yang kering seperti minta diguyur segelas es teler. Bete satu. Sampai mall, parkiran penuh. Bete dua. Masuk ke dalam mall, begitu mau bayar, antre panjang kayak main ular tangga. Bete tiga. Males antre, batal lah baju baru dibeli. Bete empat. Kebanyakan menggerutu, puasa pun berasa ngga afdol. Bete lima.

Tapi toh, akhirnya tiba juga saat yang tidak dinantikan itu. Saya dan Yayas sengaja berangkat ’lebih pagi’ untuk menghindari panas dan macet. Tapi pukul sepuluh pagi, Surabaya sudah cukup matang. Antrean parkir motor sudah panjang. Apakah sedang terjadi transmigrasi dadakan di dalam pusat perbelanjaan di kawasan Kota Lama Surabaya itu?

Suasana di Tunjungan Plaza tidak jauh beda. Yang membedakan cuman kenyamanan tempat saja. Di JMP gerah, di TP dingin. Gerai-gerai toko baju, tidak pandang merk, berlomba-lomba menampilkan koleksi Idul Fitri di etalase. Berbagai pernak pernik berbau Ramadhan dipasang untuk mendukung suasana. Box-box baju diskon menjadi tempat keramat yang selalu ramai akan pembeli.

Maka tulisan ini juga lebih afdol dengan mendengarkan lagu jaman baheula yang dibawakan oleh Dhea Ananda. Entah judulnya apa, saya lupa. Yang jelas lirik di dalamnya bagaikan obat bius bagi anak-anak kecil macam saya saat itu. Bunyinya seperti ini: baju baru... Alhamdulillah... tuk dipakai di hari raya...

Ohh ya ya, saya ngga mau sok-sok ngga suka kalo dibeliin baju baru. Saya malah hobi merengek kepada ibu untuk melaksanakan ritual cari-baju-untuk-sholat-Ied. Untung di kota kecil yang terbina itu ada sebuah department store yang cukup kece pada jaman saya masih pake seragam merah putih. Memakai segala sesuatu serba baru dan bagus pada saat hari raya rasanya seperti benar-benar terlahir fitri kembali walopun puasanya setengah hari. :p

Beberapa mall bahkan menggelar midnite sale menjelang akhir bulan puasa. Barang branded tapi mahal, itu uda klise, sopir angkot juga ngerti. Nah, kalo dapet branded dengan harga miring, itu baru namanya prestasi. Saya pernah satu kali ikut-ikutan ritual berburu diskon dini hari. Wiih, suasana belanjanya lebih magis daripada jam normal. Antre kasirnya sadis pula!! Just like there’s no tomorrow...

Yah, rupanya, beberapa setan masih belum benar-benar terpenjara di bulan Ramadhan. Simak saja sebagian lirik Efek Rumah Kaca ini: Atas bujukan setan, hasrat yang dijebak jaman, kita belanja terus sampai mati.

Saya juga ngga paham sejarah awalnya, hingga belanja menjelang Lebaran (mungkin) bisa disejajarkan derajat pahalanya dengan melakukan Sholat Taraweh full selama satu bulan Ramadhan. Rayuan gombal diskon mungkin lebih berasa efeknya ketimbang bujuk manis pria picisan mana pun. Kalau udah ngeliat diskonan, yang ada tuh barang yang semula ngga butuh, jadi ’dibutuh-butuhkan’. Itu manusiawi menurut saya, hehee... maka yang kuat iman adalah yang menang.

Kecuali profesi Anda setenar pedangdut Dewi Persik, kalo dipikir-pikir lagi, siapa sih yang bakal memperhatikan kostum kita sampe sebegitu detilnya? Memakai model apa? Payet yang gimana? Desainernya siapa? Tapi banyak yang ngga peduli tuh, buktinya mall-mall masih sangat rame tiap Lebaran datang. Rasa puas terhadap diri sendiri mungkin lebih penting daripada pandangan orang lain. Kalau ada yang perhatian, anggap saja itu bonus.

Bisa jadi, ini semua karena efek THR. Saat zakat sudah dikeluarkan, dan dompet masih dirasa tebal, maka pelampiasannya bisa dengan belanja. Apalagi bila dihubungkan dengan mudik di kampung. Mari kita bicara kampung dalam konteks sebenarnya. Kalo Anda bekerja di Jakarta, lalu berkata akan mudik ke ’kampung’ Surabaya, ya itu namanya kebohongan publik.

Saya ambil satu kisah. Bulan puasa lalu seorang Tante saya, yang terkenal rock en roll abis, mudik ke sebuah desa kecil di sekitaran Ternate bersama seorang putrinya, via kapal laut dengan bawaan sebanyak delapan belas koper!! Yap, dua perempuan dan delapan belas koper.

Konon, desa pesisir di Ternate sana, tempat kelahiran beliau ini, memang tidak pernah terjamah oleh investor-investor shopping centre. Lah wong sinyal henpon aja datang dan pergi sesukanya. Nah, maka dari itu, Tante saya ini selalu membawa oleh-oleh dari Jawa, dari Darmo Trade Centre lebih tepatnya. Berbagai pakaian, mukena, sarung, sepatu, kerudung, siap ditebar secara cuma-cuma untuk keluarga besar di sana.

Bisa saya bayangkan ketika semua koper dibuka, serempak seluruh keluarga berhamburan menanti jatahnya. Nah, menurut saya, ini baru yang namanya belanja Idul Fitri, belanja untuk membahagiakan sanak saudara dengan ikhlas. Bagi beliau, ribuan kilometer yang ditempuh, ditemani dengan delapan belas koper, terombang-ambing di atas laut lebih dari tiga malam bukanlah masalah gawat. Melihat sang ibunda yang sudah ompong tertawa bahagia menggunakan mukena baru hasil jerih payah beliau bekerja di Jawa, maka delapan belas koper rasanya mungkin seringan menggendong satu backpack.


*Judul postingan ini diambil dari sebuah lagu Efek Rumah Kaca - Belanja Terus Sampai Mati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar