Kamis, 04 Oktober 2012

From Lokang to Jakarta

"Pusing aku, Put! Belum lagi itu macet dimana-mana!" Bang Herman berceloteh lewat saluran telepon. Nada suaranya benar-benar serius menghujat ibukota republik ini. Saya tak tahan untuk tak terkekeh.

"Orang Jakarta kalau dibawa ke Tanjung Lokang juga pasti bakalan stress, Bang!" ujar saya tak mau kalah. 

"Eh tapi aku sudah ke monas! Hahaha!"

Bang Herman, adalah salah seorang lelaki Dayak Punan Hovongan yang tinggal di Tanjung Lokang, Putussibau, Kalimantan Barat. Berprofesi sebagai bendahara desa, pria beranak dua ini sangat doyan bercanda. Apalagi jika sudah combo berduet dengan sepupunya, Bang Saleh, motorist sampan kami. 

Bang Herman memang tak berpendidikan tinggi, tempat tinggalnya juga jauh di pedalaman hutan dan sungai Kapuas, tapi bukan berarti dia tak melek teknologi. Dengan modal generator mandiri, tiap malam Bang Herman dan keluarganya menikmati hiburan dari negeri tetangga lewat televisi layar datarnya. Saat saya menumpang mandi di kediamannya, kedua anak Bang Herman malah sedang asyik menikmati tayangan K-Pop. Bang Herman juga memiliki sebuah laptop yang tak terlalu ia kuasai. Berada jauh dari keramaian kota, bertempat tinggal di desa yang butuh bersampan dua malam, hingga mandi dan mencuci di sungai, tidak mengindikasikan seseorang itu "tak mampu" secara finansial. Jangan pernah meremehkan. Justru mungkin kekayaan mereka kalau ditotal bisa melebihi pejabat ibukota. Bedanya, mereka yang di Tanjung Lokang hidup sederhana. 

Beberapa minggu lalu, Mas Ian, rekan satu tim saya di ACI Detikcom menelepon mengabarkan bahwa Bang Herman dan kedelapan kawannya sedang berada di Jakarta. 

"Ibunya sakit, Put. Dirujuk dari Pontianak disuruh ke Jakarta. Sekarang dirawat di RSCM. Wah pokoknya seru banget, gue bonceng Bang Herman naik motor, ngebantuin nyari kosan. Satu kamar buat bersembilan!" Mas Ian tertawa geli. Saya lantas membayangkan Bang Herman yang resah gelisah menyusuri jalanan Jakarta dengan motor.

"Tapi gue kasian euy, mereka kan ngga ada sodara di sini. Gue bantu tenaga aja sebisa mungkin. Kemarin gue beliin nasi padang, dan biar seneng dimakan rame-rame gitu ," ujar Mas Ian, yang terkenal sebagai model kolor andalan seantero ACI 2011.

Dibalik keluguan yang diceritakan Mas Ian dan Bang Herman, saya malah sibuk berpikir bagaimana keriwehan sembilan orang bergerak dari Tanjung Lokang menuju Jakarta. Dalam keadaan membawa dua orang yang sakit pula. Menggunakan sampan, menginap di desa Nanga Bungan kala sore menjelang, lalu lanjut bersampan kembali hingga sampai Putussibau. Bersampan di sini tidak sesederhana, naik sampan lalu hidupkan mesin dan susur sungai. Bersampan di Kapuas Hulu, itu artinya kamu harus melewati bebatuan raksasa yang siap menghantam jika tak hati-hati. Lalu kamu harus siap turun dari sampan saat riam panjang menghadang, dan beramai-ramai menarik dan menahan sampan untuk berhasil melewati riam. Dan mereka, penduduk Dayak Hovongan, adalah pejalan sekaligus pelompat paling lihai yang pernah saya lihat. Pantas jika telapak kaki mereka lebar dan tebal. Tubuh pasti menyesuaikan diri dengan alam. 

Suatu hari, kami menuju daerah Data Oped, tempat awal masyarakat Tanjung Lokang bermukim ratusan tahun lalu. Perjalanan bersampan ditempuh tiga jam 'saja'. Riam yang kami lewati lebih panjang, meski tak seganas riam-riam saat menuju Tanjung Lokang dari Nanga Bungan. Seperti biasa, saat ada riam, kami bergegas turun dari sampan dan berjalan di bebatuan tajam di pinggir sungai. Lah kok, saya sok-sok ngga pake sepatu! Alhasil telapak kaki saya lecet. Dan cara jalan saya yang termasuk level lamban, jadinya malah super lamban karena luka tadi. 

"Lamban sekali kalian berdua! Sudah tak usah turun dari sampan lagi kalau ada riam!" ujar Bang Herman pada saya dan Mbak Anty dengan wajah sok serius. Kami meringis minta dimaklumi atas nama gender. Pada riam berikutnya, bapak-bapak Punan Hovongan benar-benar melarang kami turun dari sampan. Saya duduk diam, tegang saat mulai diangkat dan ditarik oleh sekelompok pria berotot. Ah, otot Mas Ian yang buatan gym jadi tak ada apa-apanya di sini. Haha!

Foto diambil saat saya berada di sampan, tidak diizinkan turun :p

Selesai bersandar di Putussibau, perjalanan masih belum usai, Bung! Dilanjutkan dengan angkutan umum, atau sewa mobil untuk menuju Pontianak dengan total perjalanan 17 jam. And we talk about jalanan di Borneo nih ya, jangan disamain dengan Pantura. Jalurnya asoy geboy. Mending nenggak antimo beneran deh sebelum berangkat. Sampai di Pontianak, Bang Herman dan rombongan terbang menuju ibukota, membaur dengan sesaknya Jakarta.

Biasanya saya melihat berita serupa lewat televisi atau media cetak. Tapi karena pernah merasakan sendiri, saya merasa terenyuh dengan perjalanan rombongan dari Tanjung Lokang ini. Sangat panjang dan tidak gampang. Paling tidak untuk orang awam seperti saya. Memikirkan perjalanan mereka saja, saya langsung capek. 

Meski sudah hampir satu tahun perjalanan memorable di Kalimantan Barat, namun Bang Herman dan Bang Saleh masih sering bertukar kabar dengan kami. Tentu saja saat mereka menemukan sinyal telepon di Putussibau, karena hanya ada telepon satelit untuk emergency case di Tanjung Lokang.

Malam ini saya kembali menelepon Bang Herman yang masih juga di Jakarta. Menanyakan kabar sang Ibu dan kerabat lainnya yang masih terbaring di rumah sakit.

"Sudah dioperasi kemarin tanggal 8, Put. Pas sekali kamu telepon, sekalian aku pamit besok pulang ke Lokang...," ujarnya.

"Lho, Ibu Abang sudah betul sehat? Tak apa dibawa pulang besok?" tanya saya, kembali membayangkan perjalanan super panjang dan melelahkan itu.

"Ibu masih di rumah sakit untuk pemulihan. Ada adikku yang kuliah di Jogja yang menemani."

"Ah, sayang sekali aku tidak bisa ke Jakarta ya, Bang, padahal kepingin ketemu lagi, hehe..."

"Iya, memang Surabaya itu jauh ya?"

"Semalam lah, Bang kalau naik kereta..."

"Wah jauh juga... Macam ke Pontianak... Kapan kau ke Lokang lagi?"

"Kalau harga bensin ke sana udah murah, Bang! Hahaha..." 
Belum saya sebut ya, untuk transportasi satu sampan saja memakan hampir dua puluh juta, tidak termasuk biaya pulangnya tuh... Hahaha, edan kan Indonesia! Makanya jangan bayangkan hanya ke Raja Ampat saja rute paling mahal di negeri ini. Masih ada susur sungai raksasa yang bisa bikin kantong kering mendadak. 

"Besok naik apa, Bang ke Kalimantan?" tanya saya kemudian.

"Naik 'spit'!" Spit adalah sebutan mereka untuk sampan. Mungkin serapan dari mesin yang dipakai pada speedboat, yang ditempel pada ekor sampan. Bodohnya, saya percaya saja ucapan Bang Herman, karena dalam pikiran saya mereka akan naik kapal laut.

"Waduh berapa hari, Bang?"

"Ya kenapa kau percaya. Mana ada spit ke Pontianak."

Saya tergelak bodoh. "Jangan kapok ke Jawa ya, Bang..."

"Ah tak maulah aku ke Jakarta lagi, apalagi naik bajaj, pusing!"

Mas Ian, Bang Herman, dan Mbak Anty menggunakan ikat kepala dari daun yang katanya agar tak tersesat di hutan
***

Jumat, 28 September 2012

Menyaring Matahari


Manusia memang aneh, kadang ia mencerca matahari, tapi tak jarang pula mengejarnya susah payah. Mengasup berbagai teknologi modern demi merekam senja yang sempurna. Ah, kadang pun semua yang kekinian itu tak murah harganya. Mungkin ratusan tahun lalu, menikmati senja tak perlu seribet hari ini. Hahaha... Tapi itu sah-sah saja. Momen satu ini memang memiliki ribuan impresi yang bersifat personal. Toh juga banyak yang bilang, tak ada senja yang sama setiap harinya. So, go get your gear! :D

PS: Postingan buat #TurnamenFotoPerjalanan dengan host ronde ke-4 @giri_prasetyo

Kamis, 27 September 2012

365

Tuhan pernah menguji hubungan ini di bulan-bulan pertama. Di saat orang pacaran seharusnya asyik memadu kasih dan saling melempar sayang, saya dan pacar justru 'menggelar' drama perselisihan yang cukup alot. Si pacar yang punya sederet mantan (baca: banyak), mengaku agak kerepotan karena ngga pernah punya pacar 'berprofesi' penulis perjalanan seperti saya. Dua tahun belakangan, pekerjaan ini membuat saya cukup mobile kesana kemari dengan bebasnya. Berada di tempat yang terjamah atau tidak oleh sinyal telepon bukanlah hal penting bagi saya. Asal rutin mengirim kabar 'posisi' lewat sms kepada ayah atau mama di rumah, maka saya sudah masuk zona aman-aman saja bepergian. 

Tuhan mungkin memang sengaja ngga ngasih pacar dalam jangka waktu yang lama. Terakhir pacaran, adalah saat memasuki bangku SMA. Itupun tidak lama. Setelah itu, posisi pacar kosong melompong tidak ada yang mengisi, sampai akhirnya saya lulus kuliah dan mulai rajin menjadi kontributor majalah wisata. Anehnya, saya juga ngga ngoyo nyari pacar. Ah aneh pokoknya, hahaha... Tapi saya punya cukup banyak teman dekat yang bisa diandalkan tiap waktu. Saya merasa, belum butuh juga nyari pacar. Ntar malah saya dilarang traveling dan harus sering lapor ini itu kayak satpam, hehehe. Bukan berarti saya ngga pernah naksir kanan kiri ya. Paling lama sih saya naksir cowo kosan depan, gendut, plontos dan rajin sholat tarawih. Forgive me, God, karena sering ke musholla hanya untuk ngeliat si dia ikut sholat tarawih! :D

Lalu, Tuhan mempertemukan saya dengan si pacar yang belum jadi pacar. Cerita ketemunya gimana lalu jadiannya gimana, ntaran aja akhir tahun saya bikinin ebooknya. Halah! :)) Pada intinya, kehidupan perpacaran kita di bulan awal sempat sangat manis, seperti kebanyakan orang menjalin hubungan baru gitu deh. Status hubungan jarak jauh Jawa-Sumba, toh tak pernah menjadi masalah yang super serius buat saya. Pokoknya hubungan ini jadi berasa tambah manis karena tak lama setelah itu saya terpilih menjadi salah satu peserta keliling Indonesia atas sponsor detikcom. 

Tuhan memang baik hati memberika rejeki sekaligus ujian dalam waktu bersamaan. Si pacar yang tak pernah punya hubungan LDRBTST (long distance relationship bonus tanpa sinyal telpon) mulai belingsatan protes ini itu. Saya pun yang hampir ngga pernah kesulitan ngurus 'perijinan' saat traveling mulai males harus begini begitu. Dua orang keras kepala mulai mengeluarkan tanduk egonya masing-masing.

Tuhan mengirim saya ke Tanjung Lokang, sebuah desa kecil yang dihuni Dayak Punan Hovongan di belantara Kalimantan Barat. Praktis, seminggu saya ngga menjamah handphone. Lah ngapain? Orang ngga ada BTS di sana. Tanjung Lokang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun, which is saya juga berkesempatan bertemu dengan satu dua orang petugas taman nasional. Ngobrol juga lumayan nyambung, apalagi posisi pacar juga sama-sama bekerja di taman nasional di Sumba. Dalam hati saya bersyukur, pacar saya tidak ditempatkan di kawasan dengan mobilitas sesusah ini, dengan sistem komunikasi yang sangat terbatas. Saya benar-benar bersyukur.

Tuhan menyelipkan rasa rindu ketika saya tak tahu harus menghubunginya dengan cara apa. Saya hanya mampu mengatakannya pada teman satu tim, dan menuliskan di catatan kecil bahwa saya kangen suara si pacar. Di dalam belantara hutan, saya membayangkan sedang apa dia saat itu di Sumba.

Namun Tuhan juga menitipkan amarah pada si pacar. Tepat setelah 7 hari kembali dari desa Tanjung Lokang, masih di atas sampan kecil, saya menghidupkan handphone nokimin jadul. Sms dari ayah masuk dan menanyakan kabar. Saya membalas bahwa saya berada di sampan dan hampir sampai Putussibau dalam keadaan sehat. Tak sabar, saya mengirim pesan kepada si pacar dengan isi serupa. Saya ingin segera berbagi pengalaman berharga selama 7 hari di Tanjung Lokang. Tapi pesan itu tak berbalas, hingga maghrib menjelang saat saya sudah berada di daratan. Telepon pun tak diterima. Setelah membuka email dari dia yang dikirim beberapa hari sebelum saya mendarat, barulah saya benar-benar sadar bahwa dia ngambek. Dalam surat elektronik itu dia berbicara tentang komitmen, tentang pilihan dan sebagainya. Luntur sudah niat saya untuk berbagi cerita tentang Tanjung Lokang. Saya lelah, dan akhirnya turut marah. Detik itu saya merasa, bahwa hubungan ini akan berakhir prematur.

Entah apa yang Tuhan lakukan. Tapi 26 September ini tepat setahun saya berhubungan dengannya. Jauh meninggalkan apa yang sudah terjadi di awal jadian. Jauh dari perkiraan saya bahwa hubungan ini ngga akan bertahan. Bukan berarti tak ada batu sandungan juga sih. Karena pada dasarnya kami adalah pribadi yang sama-sama keras kepala. Walaupun si pacar mengaku memiliki sedikit sifat mengayomi (iya deh, mas :p). 

Tetap, hanya Tuhan yang tau bagaimana nasib akhir hubungan ini. Saya menulis ini juga semata untuk mengingat hal yang sudah pernah terjadi. Berjalan bersama dan saling berkompromi mungkin hal yang lebih krusial daripada merancang masa depan dengan muluk. 

"Gue jadian ama Dani udah 6 taun sebelum akhirnya mutusin buat nikah. Pernah putus sebulan karena masalah yang cukup serius. Tapi hati gue selalu bilang, bahwa gue masih mau ngeusahain hubungan ini biar terus jalan. Dan ya, akhirnya gue ngajak Dani balikan lagi dan emang ngga semudah itu untuk kembali kayak dulu, semua atas usaha bareng-bareng." Mbak Anty, teman satu tim saya berujar demikian di malam saya tak-peduli-lagi-bagaimana-kelanjutannya. Saya menurunkan ego ke level yang lebih rendah, dan mulai meraih handphone lagi. Menelpon dan menelpon hingga pacar saya, yang juga (mungkin) menurunkan egonya, akhirnya mengeluarkan suara. Saya kangen dan marah bersamaan saat suara itu muncul. Deeeemm... :p

Well, I don't know what to say... I love you for sure (yaiyalah) and thank you for this 365 days... Still counting kan ya? Hehe :)


Rabu, 19 September 2012

Gadis Tenganan Pegringsingan


Tenganan Pegringsingan adalah salah satu desa adat yang dihuni oleh keturunan Bali Aga. Letaknya cukup nyelempit tersembunyi di balik perbukitan daerah Karangasem.  Setiap bulan kelima penanggalan Bali (usaba sambah), gadis-gadis Tenganan Pegringsingan melakukan prosesi Manyunan, yaitu berayun di ayunan tradisional. Beramai-ramai mereka menghias rambut dan mengenakan tenun Pegringsingan, selembar kain yang bernilai tinggi baik dari segi materi maupun spiritual bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan. 

Note: Posting ini dibuat untuk meramaikan #TurnamenFotoPerjalanan oleh @duaransel dan @wiranurmansyah sebagai tuan rumah ronde ketiga :)

Jumat, 31 Agustus 2012

Setahun Lalu di Lasem


Sepeda jengki tua itu melintas begitu saja di depan mata saya. Seorang kakek yang mengendarainya sempat melambai dan tersenyum lebar. Saya agak terlambat sekian detik membalas sapaan ramah tersebut. Konsentrasi terlalu fokus pada deretan truk dan bis yang menghambat kaki saya untuk menyebrang jalan. Perlu beberapa saat untuk berhasil mengingat siapa kakek berkacamata tadi.

Memori saya lalu melompat pada kunjungan kemarin sore. Sebuah pintu kayu jati bercat merah menyolok, dengan kaligrafi China berwarna kuning keemasan terukir di atasnya. Letak rumah tersebut di Jalan Babagan, salah satu daerah yang dipenuhi dengan jejeran rumah berarsitektur Tiongkok di Lasem. Saya berkenalan dengan penghuni rumah berpintu apik itu. Seorang lelaki peranakan Tionghoa berusia lanjut yang memiliki nama Indonesia, Junaedi. Orang yang juga baru saja menyapa saya di tepi jalan raya Lasem.

Kediaman Pak Junaedi mengingatkan saya pada banyaknya sumber bacaan yang mengatakan bahwa Lasem bagaikan Little Tiongkok di Jawa. Rasanya tidak adil jika saya setuju begitu saja, sementara dua kaki ini belum pernah sama sekali menginjak tanah di Cina. Pun ini adalah kunjungan pertama saya di Lasem. Namun memang arsitektural kota kecil ini sangat unik dibandingkan daerah lain di sekitarnya. Ada pula folklore yang kerap terdengar jika Anda berkunjung ke Lasem.

Disebutlah seorang peranakan bermarga Han yang tinggal di Lasem ratusan tahun lalu. Han Wie Sing jatuh sakit dan meninggal ditengah carut-marut perilaku anak-anaknya yang gemar menghabiskan harta keluarga demi berjudi. Bahkan, dana yang dikumpulkan dari para saudara dan tetangga untuk menguburkan sang ayah pun berakhir mengenaskan di meja perjudian. Uang sudah tak punya, sementara jenazah harus segera dikuburkan. Maka di suatu malam, anak-anak Han Wie Sing sepakat membawa jenazah sang ayah yang hanya dibungkus sehelai tikar, ke sebuah tanah perkuburan. Tidak ada peti mati, tidak ada prosesi.

Di tengah perjalanan, hujan mendadak jatuh mengguyur bumi dengan begitu lebatnya. Kilat dan petir berkali-kali datang menyambar. Anak-anak Han Wie Sing ngeri ketika terjebak dalam hujan petir itu. Alih-alih segera mengubur jenazah, mereka mencari tempat berteduh. Ah, tapi mereka tak cukup sabar untuk menanti hujan reda. Keduanya sepakat untuk pulang dan meninggalkan jenazah di tanah tersebut dengan maksud menguburkannya esok hari.

Tapi sayangnya, jenazah itu sudah hilang ketika mereka datang kembali, digantikan sebuah nisan tanpa nama. Konon, saat itu juga terdengar sebuah suara murka seorang laki-laki yang melarang marga Han keturunannya untuk menginjakkan kaki di Lasem. Meski telah berlalu tiga ratus tahun lalu, namun kutukan marga Han ini kabarnya, masih dipercaya hingga detik saya berada di Jalan Babagan dan mendengar cerita ini digulirkan.

Penasaran membawa kaki saya mengunjungi makam Han yang tersohor. Melewati komplek pekuburan Muslim, menyendiri di tengah-tengah hamparan sawah, berdiri sebuah nisan besar berwarna putih yang secara arsitektural tak jauh beda dengan makam Cina lainnya. Saya tak tahu apakah di dalamnya adalah jenazah Han Wie Sing yang kerap disebut dalam folklore tadi, atau seorang Han lainnya. Yang pasti folklore ini seakan menciptakan identitas lain untuk Lasem, yakni sebagai sebuah kota terlarang bagi marga Han. Entah benar atau tidak, namun cerita ini tetap diturunkan dan dituturkan sebagai bahan pembelajaran hidup pada generasi berikutnya.

“Mari silahkan masuk! Rumah ini pernah dibuat untuk syuting film Ca Bau Kan dan Karma,” ucap Pak Junaedi, ketika saya mengutarakan kekaguman pada tiap sudut rumah tua ini. Hijau muda menjadi dominasi tiap ruangan yang ada di dalamnya. Sangat kontras dengan pintu kayu di depan. Pemilihan warna memang cukup berperan penting dalam budaya Tionghoa. Masing-masing memiliki makna dan maksud sesuai yang diinginkan oleh si pemilik rumah. Seperti warna merah menyala yang merepresentasikan keinginan penghuni rumah untuk mendapatkan kemakmuran dan keberuntungan.

Hampir seluruh kampung di Lasem memiliki model arsitektur rumah khas Tiongkok seperti kediaman Pak Junaedi. Dua buah daun pintu kayu di depan dengan ukiran tulisan China di atas permukaannya, melekat tepat di tengah tembok besar bagai benteng yang mengelilingi seluruh kediaman tersebut. Luas satu rumah bisa mencapai 1000 meter persegi, atau bahkan lebih! Ironisnya, rumah seluas lapangan tersebut hanya dihuni satu hingga dua orang saja. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang lanjut usia ini menghabiskan hari-hari mereka. Just like living in a lonely planet.

Begitu pintu kayu terbuka, maka saya seperti bermain dengan mesin waktu yang mampu mengantar imaji pada wujud arsitektur ratusan tahun lalu. Halaman depan menjadi semacam karpet merah sebelum memasuki ruang tamu yang terbuka. Beberapa kursi kuno tertata rapi di tiap sudut ruangan tersebut. Lukisan portrait leluhur pertama di pajang di sisi kanan dan kiri ruangan tersebut. Dua buah kaca vintage penuh ukiran tergantung di tembok, bersanding di sebelah wajah pemilik rumah.

“Ini buyut saya dari Tiongkok, beliau menikah dengan wanita asli Lasem. Saya adalah generasi ke empat yang tinggal di rumah ini.” Pak Junaedi menunjuk dua lukisan hitam putih berukuran extra besar di ruang tamu. Tepat di tengahnya terdapat sebuah pintu menuju ruangan di dalam rumah. Saya melihat sebuah altar sederhana berdiri di tengah ruangan temaram. Ada bingkai foto leluhur keluarga di atasnya. Melewati altar, kaki saya di bawa masuk ke ruangan belakang di mana terdapat dapur, sumur dan kamar mandi. Selebihnya adalah halaman yang ditumbuhi oleh pepohonan.

Rumah Tiongkok ini umumnya didesain mengikuti feng shui yang menganut aturan utara sebagai lambang air, timur mewakili elemen kayu, selatan sebagai api, dan barat yang menggambarkan logam. Mungkin karena hal itulah, rumah-rumah tradisional lainnya juga memiliki bentuk, tatanan, dan detil ornamen yang sama persis. Yang membedakan hanyalah warna cat pintu depan, warna tembok di dalam rumah, serta modifikasi halaman depan dan belakang.

Rumah Pak Sigit Witjaksono, contohnya. Karena berprofesi sebagai seorang pembatik, maka beliau menyulap halaman belakang rumah menjadi sebuah studio batik sederhana. Siang itu seorang wanita tua bernama Sumini yang membukakan pintu. Tidak ada kaligrafi Cina terukir di atas permukaan kayu jati tersebut. Sengaja dihilangkan oleh tuan rumah demi mematuhi aturan pemerintah masa Orde Baru lalu. Berbeda dengan rumah Pak Junaedi yang lebih simple, kediaman Pak Sigit tampak sangat meriah. Dinding ruang tamunya dipenuhi oleh foto leluhur dan keturunan yang ditata acak termasuk portrait Gus Dur dan Bung Karno. Ditambah lagi kedatangan saya juga disambut oleh suara lagu-lagu Mandarin yang diputar dengan volume maksimal.

“Kalau ngomong sama Bapak, suaranya harus keras. Pendengaran Bapak kurang bagus.” Ibu Sumini, yang sudah 23 tahun bekerja sebagai pengrajin batik pesisiran di sini, bertutur menggunakan bahasa Jawa halus. Maka lewat kediaman ini, saya kini melihat Lasem dari sudut pandang identitas yang lain lagi. Yaitu sebagai salah satu kota penghasil batik pesisiran.

“Meski sudah tua, tapi saya ini suka karaoke!” kata Pak Sigit sembari mematikan televisi 14 inch di ruang tamu. Senyum selalu terkembang di wajah kakek berusia 82 tahun ini. Masih tampak bugar, kala saya bertandang ke rumahnya. Beliau mengenakan batik berwarna merah cerah hasil desain sendiri. Dalam sejarah perbatikan, Lasem terkenal sebagai daerah penghasil warna merah secerah darah ayam. Pak Sigit berbangga hati ketika menyebutkan bahwa 10 hingga 20 tahun lalu tidak ada kota-kota batik lain seperti Yogyakarta dan Solo yang mampu menghasilkan warna merah seperti Lasem. Penelitian menyebutkan bahwa keunikan tersebut adalah pengaruh dari kandungan mineral pada sumber air di Lasem yang tidak terdapat pada daerah lainnya.

“Tapi sekarang teknologi sudah maju, banyak daerah yang sudah bisa membuat warna merah darah ayam,” ujar Pak Sigit yang juga memiliki nama Njo Tjoen Hian ini. Batik Lasem juga dikenal memiliki corak yang khas, yaitu gabungan dengan nuansa Tiongkok, seperti adanya gambar burung Hong dan singa. Yang terkenal adalah motif batik Tiga Negeri. Dalam perkembangannya, Pak Sigit juga menambahkan huruf-huruf Mandarin, yang bila dirangkai artinya akan membentuk sebuah kata mutiara, di atas batik produksinya. Tak banyak pembatik yang bekerja di studio sederhana miliknya. Saya hitung tak sampai sepuluh wanita berada di sana.

Kakek yang mengaku pernah berakting menjadi ayah Ferry Salim dalam Ca Bau Kan ini juga sedikit banyak mengungkit sejarah Lasem yang beliau kutip dari Babad Badrasanti. Kitab berbahasa jawa kuno tersebut tersebut juga memuat tentang kedatangan Laksamana Ceng Ho pertama kali di kota pesisir ini. Dalam ekspedisi Ceng Ho ini, seorang gadis, anak dari nahkoda kapal yang dikenal sebagai Putri Campa, menikah dengan petinggi kerajaan Lasem yaitu Pangeran Badranala. Putri Campa inilah yang konon, berperan dalam sejarah perbatikan di Lasem, sehingga tampak kental bernuansa Tiongkok.

Lasem adalah contoh daerah pesisir utara Jawa dengan sejarah dan ragam budaya yang tak habis jika dikuliti dalam sehari saja. Sudut-sudut kota kecil ini kaya akan peninggalan kerajaan, jejak kekuasaan Belanda, hingga tanda pendatang dari Tiongkok. Kekayaan arsitektural adalah bukti nyata bahwa kota ini memiliki catatan cerita masa lalu yang panjang. Satu klenteng saja bisa memuat kisah yang berlembar-lembar. Sementara di Lasem terdapat tiga klenteng tua yang keindahan detil bangunannya masih terjaga dan sangat terawat.

Cu An Kiong contohnya. Sebuah klenteng yang dipercaya sebagai klenteng tertua di Lasem, berdiri di Jalan Dasun tepat menghadap ke sebuah sungai kecil. Di dalamnya terdapat patung Dewi Laut, sebagai dewi pelindung para pendatang yang tinggal menetap di Lasem. Klenteng cantik ini masih mempertahankan berbagai ornamen kuno penuh makna dan bernilai tinggi. Ukiran kayu sebagai pintu klenteng disebutkan asli buatan tangan para pendatang dari Tiongkok berabad lalu. Ditambah pula deretan lukisan yang digambar langsung di permukaan dinding sebagai ‘kitab’ pencerita sejarah berdirinya klenteng.

Jangan heran bila menemukan kantor polisi bergaya kolonial di pinggir Jalan Raya Lasem. Bangunan dan rumah-rumah indische juga memiliki detail yang tak kalah menarik dibandingkan rumah peranakan Tionghoa. Sebuah rumah bergaya kolonial yang sempat saya kunjungi bahkan memiliki lebih dari lima desain cetakan ubin yang berbeda-beda pada tiap sudut ruangan di dalamnya. Menurut Pak Slamet, sang penjaga rumah, ubin seperti itu sudah tidak bisa diproduksi lagi. Walaupun terkesan berantakan karena bermain tabrak pattern serta warna, namun pemandangan di rumah yang konon dibangun pada tahun 1800an ini, menjadi keunikan tersendiri. Susah untuk ditemukan pada rumah-rumah modern zaman sekarang sekalipun katanya menganut gaya Eropa. Rumah indische umumnya memiliki ornamen khas yang berpola serba melengkung, entah itu pagar rumah, kursi, tiang penyangga ataupun lampu teras. Persamaan dengan rumah tradisional Tionghoa, hanya satu, rumah indische juga memiliki luas yang tak kira-kira.

Namun, miris ketika melihat sebagian besar rumah-rumah kuno ini ditinggal penerusnya dalam keadaan tak terawat, lantai mulai tertutup debu, daun-daun kering berserakan, pohon mati hingga rumput liar menjulang di halaman depan, cat-cat tembok yang mengelupas, ornamen besi yang semula cantik kini menjadi onggokan berkarat, banyak kayu dimakan rayap bahkan dicuri oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Lalu rasa salut saya mulai timbul, melihat beberapa orang yang sudah berusia lanjut tetapi masih berusaha merawat rumah leluhurnya sebaik mungkin. Meskipun itu artinya, mereka harus tinggal seorang diri di dalamnya.

Bayangkan ratusan tahun lalu, kota kecil yang dihimpit oleh Surabaya dan Semarang ini, merupakan salah satu daerah di pesisir Pantai Utara Jawa yang begitu sibuk. Lasem, berada di titik koordinat perdagangan yang sangat menggiurkan bagi para saudagar besar untuk bersandar. Tak berlebihan mungkin, bila dahulu kala Lasem pernah diduga sebagai daerah favorit untuk menyelundupkan opium di Pulau Jawa karena letaknya yang strategis.

Lasem kini mungkin tak lagi seramai dan sejaya ratusan tahun lalu. Bagi sebagian orang, kota tua ini tak lebih dari jalur lewat kendaraan raksasa yang melaju di sepanjang Pantura. Ya, saya menemukan sebuah buku di Jalan Dasun yang berjudul Lasem: Negeri Dampoawang Yang Terlupakan. Tapi melupakan kota kecil ini mungkin tak bisa dilakukan begitu saja oleh sebagian orang lain, karena bagaimanapun Lasem memiliki peran penting yang tak bisa dihapus dari catatan sejarah panjang akan kedatangan leluhur Tionghoa di Nusantara. [Mei 2011]