Rabu, 07 Juli 2010

Di Balik Jendela Sancaka

Well, gambar-gambar ini saya ambil 3 tahun yang lalu, dari balik jendela kereta Sancaka yang membawa saya pulang dari Jogja. Iseng only sih. Diambil menggunakan kamera hape N70 saya tersayang, ditransfer dalam hardisk lalu diedit-edit sesuka hati. Hape N70 ini merupakan hape tercanggih yang pernah saya punya, tertahan banting, terbocel-bocel casingnya, dan belakangan menjadi hape terlemot loadingnya. Maka dimasukkanlah kamu, wahai hape, dalam kardus untuk segera dijual. Mudah-mudahan cepet laku dengan harga yang memuaskan. Bye... bye...






time is running out!!!

Senin, 05 Juli 2010

Twentysomething

Alhamdulilllah, saya sudah segede ini :)

Wanna say BIG thanks... buat semuanya, keluarga, sanak saudara, handai taulan, sahabat dekat, teman-teman sejawat, para travelers yang keren-keren dan orang-orang yang belum saya kenal, yang sudah berbaik hati menelepon saya, mengirim pesan, ngewall facebook, dan sebagainya... Terima kasih untuk doa-doa yang sudah dengan tulus dipanjatkan. I really appreciate!!!

Saya sendiri menganggap umur dua puluh tiga adalah umur krisis. Yaaah, krisis segalanya. Mendadak saya ngga punya cita-cita, haha... lama-lama keliatan agak ngeblur gitu... Ngga tau lah... saya ambil positifnya saja... Paling ngga, saya ngga perlu ngoyo-ngoyo banget mengejar sesuatu... saya masih bisa belok kanan-kiri, ketemu si ini, ketemu si itu, ngerasain ini, ngerasain itu... Tapi saya sepenuhnya sadar kalo punya mimpi besar, tapi ngga kerja keras, itu namanya asbun- asal bunyi. Semoga akan mengalir dengan sendirinya, nanti...

So, selamat ulang tahun untuk saya, dan semuanya yang bertanggal lahir sama! Semoga hidup kita bermanfaat :)


After years of expensive education
A car full of books and anticipation
I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot
But the world don't need scholars as much as I thought
Maybe I'll go traveling for a year
Finding myself, or start a career
I could work for the poor, though I'm hungry for fame
We all seem so different but we're just the same
...
But I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me
(Jamie Cullum-Twentysomething)


Saya seksi sekali pas umur dua tahun :))

Rejeki itu ada dimana-mana, dan banyak bentuknya, kuncinya cuman satu, ingat Gusti Pangeran (Bapak saya, 2010; di bangku tunggu stasiun Jember minggu lalu, diucapkan dalam bahasa Jawa, ditranslet sesuai aslinya, hehe... )

Sabtu, 03 Juli 2010

E-Book When Will You Come Home


Sebuah catatan kecil tentang perjalanan lima hari di Sumenep dan Pulau Sapudi disusun dengan semangat 45 oleh dua teman saya, Ayos dan Nuran. Saya dan Nurul, as their travelmates, juga turut menyumbang sedikit isi otak kami di e-book yang maha keren ini. Hehe... Silahkan di-download di sini atau bisa dibaca secara online via Scribd juga. All free!! Grateeeiisss...

Ternyata National Geographic Traveler bulan Juli pun sedang mengulas tentang Pulau Madura. Hahaaa... kebetulan yang lumayan aneh :)

Sebenernya saya pun pengen cerita banyak di blog ini, tapi isi kepala saya sedang terbagi-bagi kesana-kemari, jadi ngga bisa fokus en ngga bisa niat banget, jadilah ngga posting apa-apa, kecuali tulisan singkat ala kadarnya tentang Children of Sapudi.

Well, selamat membaca e-book ini, semoga bermanfaat, dan keep traveling :)

Children of Sapudi

Sejauh ini saya hanya punya satu kenalan yang memiliki nama 'cukup' panjang dan aneh: Rikianarsyi Arrasyidinta N Wiranto Putri. Adalah seorang gadis Bandung yang saya kenal dari Ayos.

Suatu hari di kamar, sambil tidur-tiduran nonton gosip, saya iseng bilang pada si Rikian yang kebetulan sedang berada di Jember, "Rik, orang kan biasanya ambil kuliah S2, S3 tuh buat manjang-manjangin namanya.. lah menurutku, kamu cukup sampai S1 aja, namamu uda sebegitu panjangnya kayak rel."

Saya lupa nanya, huruf N dalam namanya itu berkepanjangan apa. Jangan-jangan NKRI! Buset.

Then, dua minggu yang lalu saya traveling ke Pulau Sapudi. Pulau yang masih mempercayai adanya kuda terbang dan emas sebesar kuda (eh, serius ini!). Di sana, saya dan travelmates menginap di rumah seorang paranormal bernama Pak Harto. Huheeheee jodoh itu emang susah ditebak! Mimpi apa saya kok bisa nginep di kediaman dukun.

Nah, si Pak Harto ini memiliki 3 orang anak. Yang pertama bernama Sultan si pendiam, yang kedua Nanda yang bulu matanya lentik, yang terakhir Jinggan. Sepertinya sih, tampak luar, itu adalah sebuah nama biasa.

Saya iseng aja nanya pada si bungsu, "nama panjang Jinggan siapa sih?"

Lalu si kecil berambut keriting ini menghela napas, tampak berpikir keras. Jari jemarinya mulai menghitung serangkaian nama yang keluar dari mulutnya.

Haha.. apakah saya dibodohin? Ketika tau bahwa ada sembilan nama yang dia sebut.

"Ken Ayu Dewi Rengganis Luh Jinggang Diah Pitaloka..."

Oke, saya missed satu nama. Saya lupa, tapi yang saya ingat semua berjumlah sembilan, karena saya bertanya berkali-kali.

"Nama Nanda siapa?" lanjut saya. "Kalau Sultan?" Haaa... saya ngga tau diri. Ini namanya penyiksaan. Mungkin saya bisa dituntut KPAI kalo menyuruhnya mengeluarkan serentetan nama-nama unik yang belum pernah saya denger sebelumnya. Lalu saya suruh mengulanginya lagi. Lalu saya cerita ke temen-temen saya, dan mereka akan bertanya langsung pada Jinggan. Muwahhaaa.. maafkan, Mbak Puput... *saya ngga tau kenapa nama saya berubah menjadi Mbak Puput di Pulau Sapudi ini...*

Well, ternyata ketiga bocah Sapudi ini sudah menurunkan reputasi Rikian!! Mungkin karena Pak Harto sendiri orangnya nano-nano -misterius, aneh, unik, ngga jelas, absurd- maka beliau tidak akan rela jikalau anak-anak kecilnya hanya bernama sesimpel Dwi Putri, seperti saya, haha.... Dan dari sekian banyak nama yang disebut, saya hanya bisa ingat satu nama, si Tengah-Nanda yang menurut saya keren sekali: Aruki. Sounds soooo alien. Japanese alien. Hehe.. Just like Kal-el Coppola Cage, anak om Nicolas Cage, yang diambil dari nama Kripton-nya Clark Kent, si Superman. Repot banget jadi anak seleb.

Si 'Aruki' ini juga yang selalu rajin mengingatkan saya untuk berlibur kembali ke Sapudi suatu hari nanti. Waah, rasanya gimanaaaa gitu terdengar di telinga saya. Apalagi dia menyatakan sebanyak tiga kali... Haha... Apalagi juga, ketika saya ingat rasanya naik rodeo boat dari Kalianget ke Sapudi... Waseeek...

Well, Aruki... gosipnya kamu punya 'kemampuan' lebih seperti Pak Harto, yaa semoga bermanfaat pada tempat yang semestinya, em.. sejujurnya sih, kalo boleh saya bilang, lebih asik jadi fotografer lhooo daripada dukun togel :)

*postingan-desperate-housewives karena bikin note tentang perjalanan Sapudi ngga jadi-jadi... poor me..

Rabu, 30 Juni 2010

The A-Team


Waw, akhirnya saya nonton film ini juga... Sempet bingung mo nonton Toy Story 3 duluan ato The A-Team, tapi berhubung Bradley Cooper dan kawan-kawan ini sepertinya ngga lama lagi akan meninggalkan studio XXI, maka saya tunda dulu nonton kartunnya.

The A-Team ini dulunya, tahun 1983 hingga 1987 gitu, pernah diserialkan hingga mencapai sembilan puluhan episode. Sebuah serial TV yang sangat berjaya pada masa itu, bercerita tentang kisah kasih empat orang mantan tentara Amerika Serikat dalam menyelamatkan dunia dari kejahatan.

Tunggu, jangan bayangkan film The A-Team, dengan tipikal film 'pistol-pistolan' lainnnya seperti S.W.A.T atau trilogy-nya Bourne yang sungguh menegangkan hingga bernafas pun rasanya susah. The A-Team memang film action, tapi karena keempat ranger itu punya tingkat kewarasan yang jauh dibawah normal, maka film ini sukses bikin saya dan temen-temen ngakak sampe kram perut dari awal hingga akhir film. Terutama ngeliat tingkah laku si pilot edan, Kapten Murdock ketika mengemudikan berbagai helikopter layaknya mainan. Dia adalah pasien rumah sakit jiwa yang sangat canggih, yang rasanya juga bikin saya rela nonton film ini dua kali, hahaa...

Tapi, kalo kalian ngga pernah liat serial TVnya, ngga perlu khawatir, saya pun begitu... Si sutradara Joe Carnahan, menampilkan profil masing-masing ranger di awal cerita, yang langsung disusul dengan cepat, aksi gila-gilaan mereka, di darat dan di udara, melawan sekelompok tentara Meksiko. Film yang ngga bertele-tele ini pada akhirnya menjadi tontonan yang menghibur setengah mati dan tidak membosankan, karena isinya ngga dar der dor melulu...

Well, andaikan yang memerankan Kolonel Hannibal Smith itu om Nicolas Cage...
:)