Selasa, 11 Februari 2014

The Second Trimester: More Than Enough

More than enough?

Maksudnya piye?

Begini, saat memasuki trimester kedua, itulah saat-saat yang menyenangkan terjadi sehingga trimester ini berasa sangat cepat berlalu. Tiba-tiba saja, pada saat saya menulis postingan ini, usia kandungan saya sudah menuju minggu ke-27, yaitu awal mula trimester tiga.

Pada trimester kedua saya resmi bebas dari flu, batuk, pilek, nyeri pinggang, dan mual muntah. Dan hey, tekanan darah saya pun naik yang biasa cuman 90/70, sudah bisa menyentuh 100/80. Prestasi banget! 

Satu-satunya "kerepotan" yang harus saya lakukan adalah makaaaan. Yap, makaaan sesering mungkin. Ini dikarenakan kenaikan berat badan saya iriiit banget. 3 bulan pertama hanya mentok naik 2 kilogram. Mau ngga mau, berat badan harus didorong terus demi pertambahan gizi si janin. Well, sungguh saya ngga sedang melakukan program diet apapun. Makan saya juga sudah banyak, 4 kali sehari malah. Di trimester kedua ini saya lagi doyan kue-kuean tepung gitu. Dari jajanan pasar hingga menu sarapan orang ameriki ya, pancake. Es krim pun tak kekurangan stok, selalu ada di freezer. 

Ngemil menjadi kegiatan yang super syahdu. Apalagi kalau saya sudah pengeeen banget sesuatu, lalu sesuatu itu tersedia di hadapan saya. Bahagianyaaa... lebih dari cukup! :D

Pada trimester kedua ini juga, saya dan suami sempat satu minggu di Yogyakarta karena suatu urusan berkaitan dengan aplikasi beasiswa S2 si suami. Wah, karena sudah lebih dari setaun ngga ke Jogja, maka kami pun rela menerobos hujan demi berwisata kuliner. Sudah kangen berat sama berbagai bakmi godog! Selama satu minggu itu saya ngerepotin suami yang sedang flu untuk makan ini itu dan turut menikmati pancake dengan topping es krim. :p

Di hari Minggu pagi yang selo, kami berdua sempat jalan-jalan di UGM, melewati mantan kampus (dan mantan-mantan kenangan si suami :p). Itung-itung ngelemesin kaki ya olah raga pagi di UGM, dan ngenalin janin ke kampus ayahnya. Sekalian juga deh saya foto-foto maternity. *halah*

Abisnya, ngga punya foto pas hamil :p

Setelah pulang dari Jogja, suami masih ada waktu seminggu lagi di Surabaya. Hasyek!! Maka, kepingin makan ini itu pun semakin lancar prosesnya. Tinggal ambil kunci motor, ngeng ngeeeng, berangkatlah kita ngemil. 

Cemilan favorit saya selama trimester kedua ini adalah es krim tutty fruity dan terang bulan pisang keju yang meleleh di lidah saat masih ngepul-ngepul... MasyaAllah nikmatnyaaaa... (sekali lagi) lebih dari cukup! :D

Sudah makan segitu banyaknya ternyata berat badan saya naiknya juga masih irit banget hahahaa... Hingga minggu ke-24, saya 'baru' naik 5 kg sejak awal positif hamil. Sempet deg-degan juga janinnya gimana. Tapi Alhamdulillah, so far kata pak dokter, janin dalam kondisi normal dan sehat. Saya juga belum disuruh naikin berat badan yang drastis gitu. Mungkin masih dalam rentang yang wajar ya. Tapi, tiap ketemu temen atau saudara gitu ya, selalu dibilang badan saya ngga kayak orang hamil. Hiks. Udah ada 1257 orang kayaknya yang komen kayak gitu :| 

Eniwei, seiring perkembangannya, si janin sudah pinter banget nendangin perut ibunya. Kadang saya berasa lagi ditinjuin segala. Entah ni anak lagi latian apa gitu ya di dalem. Lucu saat direkam, perut saya kayak ada gelombangnya, tapi kalau gerakan dia mengenai tulang saya, lumayan juga nyerinya. +_+

Tapi kalau ngga ada gerakan, saya malah sibuk nyariin dia. Hehehe... rempong ya emaknya. Semakin lama juga, saya sering ngerasain kangen sama anak sampe pingin punya mesin USG sendiri... hahaha... Kontrol ke dokter yang rutin sebulan sekali jadi berasa lamaaa banget saking kepingin ketemu di layar monitor. 

Belum lahir, tapi sayangnya udah kebangetan ini :p Eniwei, perjuangan (makan) masih akan berlanjut demi perkembangan si bebi!  Beberapa malam terakhir, saya agak susah tidur karena perut yang mulai nampak offside. Anggap saja ini pemanasan sebelum berucap selamat datang trimester akhir, minggu depan. :)

Sabtu, 08 Februari 2014

Setahun dan Seratus


Subuh tadi ditelepon Mas Dian dan dengan suara yang masih berat karena terkantuk-kantuk, dia berujar, "Selamat ulang tahun buat kita berdua, hehe..."

Well, ternyata sudah setahun kami membina biduk rumah tangga. 

(((biduk)))

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, ternyata memang tidak ada yang lebih baik dari keputusan untuk menikah pada 8 Feb 2013 lalu. Seperti kata orang-orang tua, jalan masih panjang. Perkawinan bukanlah hal gampang dan remeh, tapi tentu saja, Allah sudah berpesan bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan jalan keluar. 

Semoga, ya, semoga, apa yang menjadi rencana keluarga kecil ini dapat dicapai pada waktu yang tepat. Amin. 

Anywaaaay... 100 days to go!  Estimasi kelahiran yang ada di perut saya sekarang, hehe.. Semakin excited, deg-degan campur aduk! Apapun itu sehat terus ya, Nak. We love you so much :*

Selasa, 28 Januari 2014

Cerita Tiga Bulan Pertama (2-end)

Apakah saya bisa dikatakan selamat dari 'penderitaan' morning sickness?

Bisa iya, bisa tidak. Memasuki minggu ke delapan, badan saya lebih gampang drop. Padahal minggu-minggu sebelumnya, saya masih bisa menyetir motor dan mengurus proyek video di Pemkot Surabaya. Bolak-balik yang melelahkan karena lokasi cukup jauh dan proses negosiasi dengan klien yang kadang makan ati. Mungkin saya memang tak cocok bekerja dengan plat merah. Entahlah. 

Suami, orang tua dan mertua mulai mewanti-wanti agar tak ambruk terlebih stress. Apalagi hamil muda masih rentan tertimpa banyak problem, seperti keguguran dan embrio tak berkembang atau biasa dikenal blighted ovum. Tentu saja, yang bisa mengukur seberapa lelah dan seberapa kuat badan ini, ya pasti saya sendiri.

Alih-alih mual dan muntah, 'penyakit' yang lebih banyak mengganggu kehamilan saya di trimester awal adalah pusing, batuk dan nyeri pinggang. Saya memang pernah beberapa kali mual hingga harus dimuntahkan, tapi hitungannya tak sampai sebulan, itu pun tak setiap hari. Sehingga boleh sih dikatakan saya cukup selamat dari 'derita' morning sickness. Apalagi mendengar tetangga yang berdiri-pun-tak-mampu hingga menginjak bulan kelima. Atau seorang teman yang wajib nongkrong di depan toilet setiap jam 9 malam karena memasuki waktu rutin isi makan malamnya akan keluar dari perut. Memang setiap kehamilan itu unik, tak perlu dibanding-bandingkan. Cukup berucap Alhamdulillah masih bisa begini begitu selama trimester awal.

Nah, seperti yang sudah saya sebut tadi. Gangguan yang paling membekas dan terasa sakit banget adalah pusing, batuk dan nyeri pinggang. Di 3 bulan awal, terhitung 2 kali saya ke dokter obgyn dengan keluhan batuk dan pilek yang berkepanjangan. Saya sampe keheranan dari mana asalnya batuk dan pilek ini karena setelah dinyatakan hamil saya jarang banget jajan aneh-aneh. Lalu saya pun menyalahkan cuaca Surabaya yang sedang labil-labilnya. Puanas menyengat buanget sampai hampir menyentuh 40 derajat Celcius. Saya masih ingat hari-hari kepanasan itu benar-benar menyiksa. Apalagi suhu tubuh ibu hamil sendiri pun sudah lebih tinggi daripada yang tidak hamil.

Batuk yang saya derita bisa sampai 2-4 minggu. Sembuh hanya beberapa minggu lantas muncul kembali. Saya hampir desperate ngurusin batuk yang satu ini. Riaknya banyak banget dan hampir selalu keluar tiap kali saya batukkan. Ada yang bilang bahwa batuk berkepanjangan adalah bawaan bayi. Duh, coba batuknya batuk duit ya, hehe... Sebenarnya memang susah dijelaskan secara logika ya, bawaan bayi tuh seperti apa prosesnya. Yang dokter bisa katakan hanya penurunan daya tahan tubuh yang kerap terjadi sepanjang kehamilan. Saat menulis postingan ini, usia kandungan saya masuk 24 minggu,  dan sudah sebulan saya terbebas dari batuk yang ketiga. Alhamdulillah, ngga mau lagi Ya Allah. 

Nah, di bulan-bulan awal saya juga mengalami nyeri pinggang yang anehnya cuman di bagian pinggang kiri sampai pantat kiri aja. Paling terasa sakit banget saat berdiri setelah duduk berlama-lama, atau naik motor lebih dari setengah jam. Saking nyerinya, cara jalan saya pun hampir terseret-seret.  Bersin pun pinggang saya terasa nyeri! Klop banget, apalagi masa-masa itu saya sedang menderita batuk parah. Ketika saya curhatkan ke dokter, beliau berujar bahwa semua nyeri pinggang itu akibat pembesaran rahim yang kadang 'menyenggol' urat-urat saraf. Saya diresepkan anti nyeri, yang hanya saya minum dua kali, lantas nyeri pinggang pun pudar hingga saat ini. Alhamdulillah.

Kalau masalah pusing, sebagian penyebabnya mungkin karena tekanan darah saya yang relatif rendah ya, meskipun belum hamil. Jadi saya sudah terbiasa gitu ya dengan tensi 90/70 di kehidupan sehari-hari. Nggak pusing ataupun lemas. Namun, kondisi tersebut agaknya tidak sama saat sudah berbadan dua. Di trimester awal, tiap kali kontrol sebulan sekali ke dokter tensi saya tak lebih dari angka tersebut. Alhasil, setiap pagi saya mumet bin nggliyeng. Dokter tak meresepkan penambah darah karena kasus anemia itu berbeda dengan tensi rendah. Karena penasaran, saya sempatkan tes hemoglobin di laboratorium klinik, sekaligus tes gula darah, kolesterol dan asam urat, according to nyeri pinggang dan pantat yang saya ceritain tadi. Hasilnya, Hb saya bagus dan jauh dari kategori anemia. Gula darah normal, asam urat pun begitu. Hanya saja, kolesterol udah hampir melewati batas normal nih. Mungkin kebanyakan nasi padang yah T_T

Seiring dengan berjalannya waktu, pusing tiap pagi pun menghilang. Tensi saya sudah sekitar 100/80 sekarang ini. Senang rasanya, lama kelamaan semua yang bikin badan sakit ini sudah membaik. Terutama batuk ya, karena guncangannya yang maha dahsyat itu saya takutkan menggangu janin. Tapi Alhamdulillah, everything's fine.

Lalu apakah tiga bulan pertama selalu bercerita tentang sakit ini dan sakit itu? Well, kebanyakan wanita jika ditanya tentang pengalaman hamil muda mungkin itulah yang membekas ya. Tapi tenang saja, lepas dari tiga bulan pertama, masa-masa bahagia, takjub, dan kagum terhadap perkembangan janin akan segera tiba hingga semua yang sudah terjadi terasa layak dinikmati. :)



Senin, 20 Januari 2014

Pagi dan Laut

Seperti biasa, selepas sholat Subuh pukul 5 pagi, saya selalu membuka jendela-jendela kamar. Tentu saja karena udara pagi sangat segar dan terasa sejuk saat dihirup. Beberapa hari ini angin kencang memang sedang melanda Surabaya, kecepatannya, menurut berita sih 40-45 km/jam. Tak tahu pastinya, tapi cukup membuat pohon turi di halaman rumah bergoyang menyeramkan. 

Pagi ini, sembari menikmati angin dingin yang masuk, saya kembali merapatkan selimut. Karena lokasi perumahan ini tak jauh dari kawasan mangrove Surabaya, sudah pasti tiap pagi rumah-rumah berpohon akan disambangi burung-burung kecil. 

Saya susah memejamkan mata kembali. Tiba-tiba saja, saya rindu laut di pagi hari. Udara pagi ini mirip sekali dengan udara tepian laut saat fajar hampir menjelang. Terasa basah dan sepi. Suara dedaunan yang berderik kencang seakan-akan sama dengan suara hempasan ombak di bibir pantai. Lantas, ingatan saya melompat-lompat antara ke pantai Tanjung Bira di Sulawesi dan Dermaga Waingapu di Sumba Timur. 

Saya sering membaca kicauan teman-teman yang hobi bepergian, tentang kerinduan akan suatu destinasi. Tapi saya tak pernah membayangkan bagaimana rasa sebenarnya kangen terhadap tempat, hingga pagi ini datang. 

Rabu, 18 Desember 2013

Quickening Time!

Memasuki awal minggu ke-18.

Perut saya dari semalem heboh. Ada gerakan seperti 'meluncur' lalu 'berkedut' atau 'bergeser'. Walaupun hanya beberapa detik tapi saya gembira banget! Ini berarti janin saya sudah masuk masa quickening. She/ he will kick me immediately! 

Kejadian yang sama berlangsung tadi pagi. Kadang dia berhenti sejenak mungkin sedang tidur. Setelah jam makan siang, she/he did the same thing! :D

Mungkin lagi ikut 'ngunyah' bayem yang saya makan...

*yakali*