Rabu, 11 Mei 2011

Slow Traveling

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki gaya traveling yang berbeda-beda. Ada yang ngaku backpacker, light traveler, flashpacker, bikepacker, koperer dan beberapa er, yang lain. Saya sendiri bingung jika harus mendefinisikan diri sendiri sebagai traveler macam apa. Bukan berarti karena saya suka nenteng ransel lalu saya dengan bangga menyebut diri sebagai backpacker. No. Saya memilih memanggul ransel ya karena lebih efektif dan efisien saja untuk jalan-jalan. Dan saya percaya, bahwa yang namanya backpacker tidak bisa hanya dinilai dari penampakan bawaannya saja. It’s more than a backpack. Apapun itu, yang namanya traveling pasti memiliki makna tersendiri bagi tiap pelakunya. Ada yang untuk having fun, tuntutan pekerjaan, cari pengalaman atau mungkin pelarian.

Beberapa minggu yang lalu, saya diajak seorang teman untuk mengunjungi Lasem, sebuah kota kecil di wilayah pesisir Pantai Utara. Sempat ragu-ragu karena saya sendiri belum pernah bepergian dengannya untuk ukuran luar kota. Apalagi dia berencana untuk menghabiskan waktu selama seminggu di sana. Ya, seminggu untuk satu kota kecil saja! Saya belum punya bayangan pasti apa yang harus dilakukan di sana untuk kurun waktu selama itu. Tapi toh akhirnya saya mengiyakan ajakannya.

Ketika sampai di Lasem, kami bertemu dengan dua orang bapak dari Jakarta dan Bogor yang kemudian saya panggil Om David dan Om Andi. Keduanya memang teman dari teman saya itu, yang kebetulan sedang berada di Lasem juga. Mereka datang beberapa hari sebelum kami sampai.

“Rencana berapa lama di Lasem, Om?” tanya saya.

“Ya… semingguan lah…,” jawab Om David santai.

Kedua lelaki ini adalah para pecinta dan pemerhati bangunan tua di Indonesia. Mereka kerap traveling dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk memenuhi hasrat sebagai penikmat kota lawas. Lasem bagaikan firdaus bagi orang-orang macam Om David dan Om Andi. Dan ini bukan kali pertama mereka bertandang kemari.

Saya berkesempatan mengelilingi beberapa sudut Lasem dengan kedua lelaki ini. Pada setiap bangunan tua, kami menghentikan langkah, mengetuk pintu lalu berkenalan dengan empunya rumah dan meminta ijin masuk ke dalam. Walau tak jarang yang menghuni hanya seorang pembantu rumah tangga beserta empat anjing galak.

“Rumah ini perpaduan Indische dan Tiongkok… Coba perhatikan terasnya, perhatikan lekuk atapnya, tapi kamu lihat di depan ada patung burung elang besar. Itu gaya kolonial,” kata Om David kepada saya ketika kami berada di depan sebuah rumah tua suram yang tak berpenghuni. Puas melihat dan mengidentifikasi, lalu kami beranjak menuju tempat lain. Begitu, berulang-ulang.

“Penghuni rumah ini punya buanyak koleksi perangko lawas,” ujar Om Andi sambil menunjuk pada sebuah rumah tua dengan pohon-pohon rimbun yang sedang kami lewati. Lalu dia berhenti. “Nah, itu putranya."

"Hey, Nyo!” sapa lelaki berkacamata ini ketika melihat seorang anak kecil gemuk sedang mengangkat ember berisi air di teras rumah.

Si anak peranakan Tionghoa itu menoleh dan tersenyum. “Mau masuk, Om? Ketemu Papah? Aku bukain gemboknya.”

“Enggak deh, mau jalan-jalan ke depan,” jawab Om Andi.

Dua orang ini kerap menyapa penduduk sekitar. Ini yang bikin saya terpana. Mereka seakan telah menjelma menjadi warga Lasem, bukan sosok orang asing dari kota besar dengan dandanan kece, yang sibuk jeprat-jepret sana-sini. Saking akrabnya dengan penduduk setempat, kami bahkan sempat dijamu makan malam oleh Ibu Merry, seorang pembatik di Lasem.

Kebetulan sore tadi saya membaca sebuah artikel di Majalah Dewi tentang Slow Traveling. Dan saya meyakini bahwa orang-orang seperti Om Andi dan Om David adalah salah dua dari penikmat gaya traveling satu ini.

Mungkin tidak banyak orang yang menganut slow traveling. Ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan. Pertama, keterbatasan cuti kerja. Kedua, tidak ada ketertarikan tertentu yang membuatnya harus tinggal berlama-lama di satu destinasi.

Majalah bergaya kosmopolitan yang saya baca ini, memberikan beberapa gambaran seperti apa seorang slow traveler itu. Katakanlah ada tiket gratis PP Jakarta – Prancis, beserta uang akomodasi untuk berlibur dua minggu di sana. Maka seorang slow traveler pecinta kuliner tidak akan menghabiskan hari-harinya dengan mengitari Paris dan daerah wisata keren lainnya. Tapi dia akan memilih menyelami Lyon, sebuah kota kelahiran dan tempat berkiprahnya seorang master chef senior, Paul Bocuse. Menghabiskan hari-harinya dengan mengeksplor culinary Prancis sembari mengikuti kelas memasak di Institute Paul Bocuse yang terletak di tengah pasar gourmet terkenal, Les Halles de Lyon.

Fiuh! Saya langsung membayangkan betapa asiknya menjadi seorang slow traveler. Tidak menguras tenaga, tidak terburu-buru harus kesana kemari, semua terasa santai dan yang terpenting, tetap enjoy.

Sementara trend yang terjadi belakangan ini adalah sebaliknya. Banyak yang berencana untuk menghabiskan masa cuti kerja dengan menginjakkan kaki di berbagai negara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Om Teguh Sudarisman, seorang editor majalah wisata, bahkan pernah tergelitik dengan traveling macam ini dan menuliskannya dalam sebuah status Facebook.

"Merasa heran kalau ada orang yang mau 'backpackeran' dengan rute Medan - KL - Shanghai - Guangzhou - Macau - Hongkong - Medan hanya dalam waktu 6 hari. Jadi, rencananya cuma mau numpang mandi saja di kota-kota ini? :))"

In my humble opinion, slow traveling pasti akan menghasilkan sesuatu yang lebih berkualitas daripada traveling-numpang-mandi seperti status tadi. Tapi sekali lagi, orang berhak menentukan gaya traveling yang dianutnya selama dia nyaman dan senang atas pilihan tersebut. Tidak ada undang-undang yang mengatur traveler untuk menjadi A atau B. Dan selama tidak menggunakan uang orang lain, maka semua gaya traveling adalah sah hukumnya.

Cheers!

Senin, 09 Mei 2011

Change

Lagu Keane ini memang sudah lama menjadi senjata terfavorit saya untuk menunjukkan protes terhadap teman-teman terdekat yang mendadak menjadi orang yang sama sekali tidak saya kenal. Seperti yang diungkapkan band British ini, saya merasa menjadi asing ketika terjadi perubahan di sekitar. Saya merasa terganggu dengan hal-hal tertentu yang tidak semestinya mereka lakukan. Lalu saya menjadi orang yang sok tau bahwa yang seperti ini pasti bagus untuk mereka, dan sebaliknya.

Entah apa yang terjadi malam ini, yang jelas saya harus berani bilang bahwa perilaku saya yang suka ngedumel melihat ada yang melenceng sedikit adalah perbuatan yang tidak terpuji. Sepertinya saya sesosok orang yang terlalu dibiasakan melihat yang itu-itu saja. Lurus sesuai jalurnya. Padahal memang sudah seharusnya semua orang berubah dalam tiap detik hidupnya. Termasuk saya.

Saya baru sadar, bahwa setahun terakhir ini saya juga sudah nampak berubah terutama bagi orang-orang yang hidup di sekitar saya. Hingga catatan ini ditulis pun saya masih dalam rangka bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Sepertinya, pengalaman pribadilah yang membuat saya mulai berkeinginan menutup mulut untuk tidak berceracau panjang lebar lagi menghakimi perubahan orang lain. Entah itu berakhir buruk atau bahagia, alih-alih mencemooh, maka yang harus saya lakukan adalah belajar dari mereka.

Sebulan terakhir ini, saya bertemu dengan banyak teman lama. Teman SD, teman main, teman kuliah, atau temannya si teman yang lama tak bertemu. Satu pernyataan atau pertanyaan yang selalu mereka lontarkan adalah seputar keputusan-keputusan besar di luar jalur seharusnya yang nekad saya jalankan. Mengapa begini, mengapa harus begitu? Kalimat-kalimat yang biasanya saya lontarkan ketika melihat ada yang berbeda dari teman saya.

Baru saya tahu, beginilah rasanya terganggu. Saya bahkan hampir kehilangan jawaban ketika pertanyaan itu muncul lagi dan lagi, saking malasnya menjelaskan. Ini menjadi semacam peringatan untuk saya juga sih, seakan ada yang berteriak, “ih, rasain sendiri sekarang, Put!”

It’s been a year, dan mengapa susah sekali memahami, bahwa saya berubah hanya demi mengejar mimpi. Sementara hidup cuma sekali, maka saya pikir, tidak ada kesempatan lain lagi untuk mewujudkan apa yang ada di otak saya kecuali detik ini.

Alm. Mula Harahap pernah menulis bahwa beliau sedang membangun makam di dunia maya berupa tulisan-tulisan di blog pribadi, sehingga para keturunananya di manapun berada, kelak tidak perlu repot jika sewaktu-waktu ingin melakukan ziarah makam.

Sesuatu yang keren, yang sangat menghantui pikiran saya. Karena lagi-lagi, hidup ini cuman sekali, dan yang harus saya lakukan adalah merubahnya menjadi sesuatu yang bermakna. Alah, saya banyak cingcong rupanya. Intinya, saya tidak boleh berhenti begitu saja di sini, saya harus banyak meninggalkan jejak di dunia ini. Woho!

And yes, sekarang saya berani bilang bahwa everybody’s changing, termasuk saya, dan terbiasalah dengan pilihan saya. Tak perlu repot memikirkan bagaimana nasib keilmuan saya yang, menurut para penanya, bakal terbengkalai. Because I believe that things always happen for a reason. Biarlah saya nekad, biarlah saya menjadi yang tidak sama dengan lain. What a boring life kalau semua yang ada di dunia ini serba seragam kan? Kalau begitu, tolong jangan bertanya lagi, dan biarkan saya saja yang berbelok.

...to the place that has to be believed to be seen #U2

Jumat, 22 April 2011

First

Birthday reminder di Facebook berujar bahwa ada tujuh teman saya yang sedang berulang tahun hari ini, salah satunya adalah Augene Blackskin, teman dari teman-teman saya di ITS. Saya masih ingat, waktu itu Augene pernah berkata bahwa tanggal kelahirannya sama persis dengan pertama kali saya bikin postingan di blog ini tahun 2010. Well, artinya, blog saya hari ini juga sedang berulang tahun!! Yuhu, happy 1st anniversary, dear blog... Terima kasih telah menampung 110 postingan saya, yang sebagian besarnya adalah curhatan tak bermakna. Hehe!

Kamu (yeah, saya sedang ngomong sama blog saya) terlahir di tengah kebosanan yang melanda. Di antara keinginan saya yang saat itu sedang rajin menulis-apa-saja. Di kantor engineering tempat saya magang di Semarang. Berlanjut di sebuah kamar kos di Gedung Batu Selatan entah nomor berapa, di lantai dua. Pak Tris dan Bu Tris adalah sepasang kakek-nenek yang merawat rumah tua ini. Kamar saya terletak di pojok, memiliki jendela besar dengan pemandangan deretan rumah di bukit-bukit Semarang atas. Entah bukit, entah gunung, tanah Semarang memang berkontur naik-turun.

Ketika pertama kali bertandang dari Surabaya untuk mencari tempat kos, Novi, teman kuliah saya, langsung menolak tinggal di kamar pojok ini dan lebih rela menghibahkan untuk saya, sementara dia memilih menyewa kamar di bagian tengah. Dia bilang, "aku takut, jendelanya besar banget." Nah, kalau Novi sudah menggumam tentang 'takut', maka hal itu merujuk pada penghuni-penghuni ghaib yang mungkin numpang lewat di jendela itu kala malam tiba. Fiuhhh... Saya sih tidak pernah melihat yang aneh-aneh, walaupun kelambu jendela sering baru saya tutup ketika tengah malam menjelang tidur. Alhamdulillah ya...

Demikianlah, sejarah terciptanya kamu, blog... Semoga kita tetap bisa bekerja sama di tahun-tahun mendatang ya. Beruntung, kamu adalah sesuatu yang maya, maka saya tak perlu repot-repot menarik uang di ATM buat beliin kamu kado. Ih, tapi kan saya emang lagi kere, jadi kalaupun kamu hidup, ya saya tetap hanya mengucap selamat! :)

Once again, happy birthday, dear blog. Terimalah saya, owner kamu, dengan apa adanya...

*tiup lilin*

Minggu, 17 April 2011

The Hakka and The Mountain Songs

“Kenapa kamu tertarik mengikuti kegiatan ini?” seorang wanita cantik yang duduk di samping saya bertanya tak lama setelah saya berkenalan dengan beliau. Kegiatan yang dimaksud adalah Jejak Petjinan. Sebuah klub heritage yang tiap dua bulan sekali memiliki agenda melancong ke berbagai sudut Pecinan di Surabaya dan mempelajari sejarah yang tertinggal di dalamnya. Siang tadi kami mengunjungi tempat perkumpulan suku Hakka/ Hwie Tiauw Ka di daerah Slompretan.

“Mmm... Karena ibu saya seorang Tionghoa, sedikit banyak ingin tahu tentang budaya leluhur,” ujar saya sambil senyam-senyum.

“Oh ya? Tinggal di mana? Marga kamu apa?” Wanita bernama Zhu Yu Ping ini kemudian berkata dengan semangat menggunakan bahasa asing, yang saya yakin adalah bahasa Hakka, kepada seorang wanita tua berambut cepak di sampingnya. Kalau saya terjemahkan kira-kira seperti ini, “Eh, mamahnya Mbak ini Cina lho ternyata…”

Si Ibu tua manggut-manggut memandangi wajah saya yang ngga Cina sama sekali itu. Lalu saya menuliskan marga keluarga ibu saya dalam lembaran kertas. Saya takut salah ucap kalau mengatakannya langsung, secara lidah ini lebih terbiasa mencecap logat Jawa turunan dari keluarga Bapak.

“Dulu tinggal di Kapasan.Tapi sekarang di Jember bersama Bapak, tapi sampai sekarang tante saya masih Kapasan," jawab saya lagi.

“Wah! Bisa jadi kamu turunan orang Hakka juga. Jangan-jangan kita bersaudara!”

Saya tertawa renyah mendengar seruan wanita yang sejak lahir hingga tamat SMP tinggal di Meizhou, Provinsi Guangdong ini. Tidak tahu apakah ada leluhur saya orang Hakka atau tidak. Lah wong saya juga baru tahu marga keluarga saya! Ini juga gara-gara dipaksa si Zhuang Wubin, buat ngubek-ngubek cerita tentang Ibu saya untuk dijadikan sebuah proyek dokumenter awal 2011 lalu. Again, I thank to you, Wubin. Kalau ngga ngerjain proyek itu, saya bakal heng-hong dan malu abis untuk kesekian kali ketika ditanya tentang marga keluarga sendiri oleh wanita yang berprofesi sebagai guru bahasa Hakka di perkumpulan Hwie Tiauw Ka ini. (Yes, you can read about My Mommy here)

“Tapi saya tidak punya nama Cina, Bu…,” sambung saya.

“Saya pun belum memiliki nama Indonesia sejak pindah kemari.” sahutnya, tertawa.

Kata “Hakka” berarti “Tamu”. Ini disebabkan karena Hakka merupakan sekumpulan orang-orang pelarian dari China bagian Utara yang menyebar hingga ke daerah Selatan. Dulunya, kumpulan Hakka ini dikenal sebagai petinggi kerajaan yang berotak cemerlang. Jika tipikal orang Tiongkok yang terkenal ulet, maka suku Hakka konon, dua kali lipat lebih ulet! Lebih rajin dalam bidang pendidikan. Lebih mudah menerima pembaharuan. Para orang tua rela menjual apa saja agar anak mereka (terutama laki-laki) bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Menurut cerita yang saya dengar, 70-80% tokoh dunia yang berkebangsaan Cina berasal dari suku Hakka, sebut saja salah satunya adalah Dr. Sun Yat Sen.

Pada pelariannya, suku Hakka, yang juga dikenal sebagai orang Khek ini, banyak tinggal di daerah pegunungan, hingga muncul pepatah “di mana ada gunung, di situ ada orang Hakka”. Namun, sekarang ini sangat susah mencari orang yang murni berdarah Hakka. Kebanyakan sudah terjadi pernikahan antar suku yang berbeda. Walupun demikian, ada beberapa hal yang menjadi pemersatu suku Hakka, yaitu bahasa dan budaya. Suku Hakka memiliki bahasa sendiri yang berbeda dengan bahasa Mandarin. Bahasa inilah yang menjadi penanda mereka walaupun sedang berada di tempat asing.

“Kalau sedang berada di luar negeri, lalu tiba-tiba di jalan mendengar orang berbicara bahasa Hakka, walaupun kita tidak mengenalnya, ada perasaan lega… Seakan bertemu dengan keluarga sendiri, padahal sedang yang jauh dari rumah,” ujar Ibu Zhu Yu Ping dengan bahasa Indonesia yang agak terbata, mungkin pengaruh keseharian terbiasa menggunakan bahasa Hakka.

Karena tinggal di daerah pegununangan ini juga, orang Hakka mendapatkan stok sayuran yang melimpah. Dan kebanyakan mereka senang mengolahnya menjadi sayur asin, baik yang basah maupun kering, agar lebih tahan lama. Saya jadi ingat, ibu saya beberapa kali membawakan tante saya oleh-oleh berupa sayur asin ketika ke Surabaya. Mungkin memang dalam tubuh saya ada sedikit darah-darah Hakka kali ya! Haha!

Ada satu lagi budaya yang unik dari suku Hakka yaitu folk music. Mereka menyebutnya “San-Ko” atau “Nyanyian Gunung”. Konon, nyanyian yang semacam kidung ini dulunya dilantunkan bersahutan dari gunung satu ke gunung yang lain. Waw! Amazing! Saya tidak tahu bagaimana praktek sesungguhnya di masa lampau, tapi budaya ini hingga sekarang masih dipertahankan di Cina sana, dengan cara menggelar beberapa kontes Hakka Mountain Songs. Tentu saja tidak dinyanyikan dari gunung ke gunung, melainkan dibawakan oleh dua orang penyanyi yang bersahutan seperti sedang bermain pantun.

Perkumpulan Hwie Tiauw Ka yang pada 2011 ini berusia 191 tahun bukanlah tempat sembahyang umat tertentu. Mulanya bangunan ini adalah rumah dari seorang yang akrab dipanggil Paman Peng. Beliau merelakan kediamannya digunakan sebagai tempat berteduh orang-orang yang mengunjungi makam keluarga. Dahulu, daerah Slompretan ini dikenal sebagai Pasar Bong, di mana Bong berarti “tanah perkuburan".

Rumah Paman Peng ini kemudian direnovasi secara gotong-royong bertahun-tahun untuk dijadikan sebagai satu tempat perkumpulan untuk menghormati para leluhur Hakka yang bermukim di Surabaya. Seperti banyak diketahui bahwa daerah Utara ini adalah awal mula tempat orang Tionghoa membuka kehidupan di Surabaya, yaitu dengan berdagang, membuka toko dan sebagainya. Ini sebagai imbas dari keberadaan Kalimas, di mana sarana transportasi sungai adalah akses utama perdagangan dan perekonomian zaman dulu. Tak heran jika daerah ini dikenal sebagai Pabean, yang berarti “bea cukai”, di mana terdapat perputaran barang yang keluar dan masuk kota Surabaya melalui sungai tersebut. Dan kebanyakan orang Hakka maupun bukan, memang tinggal di daerah yang akhirnya akrab dikenal sebagai Pecinan Surabaya ini.

Sekarang, tempat perkumpulan Hakka sedang dikembangkan oleh para pengurusnya untuk dijadikan salah satu destinasi wisata heritage di Surabaya. Dengan harapan, turis domestik dan manca negara bisa berkunjung dan mengenal tentang budaya Hakka dari tempat ini. Kalau saya sendiri sih, pengen denger The Mountain Songs itu seperti apa, karena dari beberapa sumber yang saya baca, ada irama-irama khas yang dilantunkan sebagai penanda jauhnya jarak yang ditempuh sebuah nada dari gunung satu untuk didengar oleh para Hakka di gunung lainnya. Wih!