Sabtu, 29 Juni 2013

Selamat dan Terima Kasih, Rina!


Banyak orang yang berlalu lalang dalam hidup kita. Easy come, easy go. Sepuluh tahun lalu, kita bahkan tak ada bayangan akan menjadi seperti apa, berada dalam keadaan apa, hidup di mana, menjalin hubungan dengan siapa dan sebagainya. Pada akhirnya, perjalanan hidup seperti sebuah pertunjukan drama. Ada babak-babak tertentu yang harus dijalani lalu dilewati seberat apapun. 

Menjadi anak kos di Surabaya adalah salah satu babak hidup yang tidak akan saya lupakan. Dimulai pada tengah tahun 2005 hingga berakhir di awal 2013. Yap, 8 tahun. Entah betah atau malas mengemas barang, selama kurun waktu itu saya hanya pindah kos satu kali yaitu pada saat akhir semester satu. Selepasnya, kurang lebih 7,5 tahun saya hidup di dalam kamar kos yang itu-itu saja.

Kemarin, 22 Juni 2013, salah satu sahabat baik saya, Rina Fariana, melangsungkan resepsi pernikahannya. Well, sebenarnya dia dan suaminya sudah melaksanakan akad pada Maret silam. Semua digelar serba mendadak saat (calon) ayah mertuanya meninggal dunia. Saking tiba-tibanya, saya tidak bisa datang ke Jember untuk menyaksikan akad nikahnya. Tak apalah, yang penting doa tetap mengalir. 

Berteman dengan Rina, mungkin bisa menjadi sub babak tersendiri dalam kehidupan saya sebagai anak kos. Saya mengenalnya di ruang belajar yang sama saat kelas 3 SMA di Jember. Hal yang paling membekas di ingatan adalah ketika dia (dituduh) tidur di dalam kelas oleh Pak Ketut, guru Biologi, sekaligus walikelas kami. Wajah Rina memerah, malu sekaligus geram karena katanya sih dia tidak tidur, hanya menyandarkan kepala saja.

Saya tak terlalu dekat dengannya saat itu. Hingga tiba saatnya saya hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di bangku perguruan tinggi. Saya dan Rina bertemu lagi di sebuah rumah kos di Jalan Karang Wismo di Surabaya. Awalnya  Alycia, teman semasa SMP saya, mengajak untuk menyewa kamar kos di rumah yang sama. Kebetulan, gadis yang saat ini bekerja sebagai host di berbagai TV swasta ini, diterima menjadi mahasiswa Broadcast di Unair. Dia pun sudah memiliki calon rumah kos di Surabaya. Tak menunggu lama, saya mengabari Leny, kawan SMA saya yang juga diterima di Unair untuk ikut gabung di rumah kos tersebut. Setelah survey dan cocok dengan rumah tersebut, Leny mengajak Rina yang ternyata juga masuk sebagai mahasiswa baru Unair. Saat itu, saya sekamar dengan Alycia. Sedangkan Rina dengan Leny. Kami menempati dua kamar di lantai 3. Karena tak ada kamar lain, kami menganggap lantai 3 seperti rumah kami sendiri. 

Dengan formasi ini lah kami memulai episode baru di Karang Wismo selama enam bulan. Awalnya sih, kami hanya menarget satu bulan kos di sana. Ngga kuat naik turunnya. Tapi sebagai mahasiswa baru rupanya kami terbuai dengan kesibukan-kesibukan yang belum pernah dialami sebelumnya. Hingga tak sadar, satu semester telah berlalu. Libur menjelang semester dua kami manfaatkan untuk mencari tempat baru. Rupanya memang kami ditakdirkan untuk berada di lingkungan yang sama. Kebetulan ada rumah kos baru milik Mbak Maya, anak ibu kos di Karang Wismo, yang sedang dibangun di Karang Menur. Hanya sekitar 50 meter saja jaraknya. Dan disitulah kami berlabuh. Masih dengan formasi sama namun dengan kamar yang terpisah sendiri-sendiri. 

Di lantai 2, ada tiga kamar yang berjejeran diisi oleh Leny, saya dan Rina. Sedangkan Alycia memilih kamar di bawah. Kami berempat ditambah Novi, Dian Maia, Mbak Ratih, dan Elia adalah angkatan pertama di kosan yang masih bau cat itu. Pemilik rumah tak tinggal bersama kami, hanya ada mbak penjaga kos saja. Tentu hal ini menjadikan petualangan kami tambah seru (dan bandel). Yah, walaupun pada tahun 2008 akhirnya rumah itu ikut dihuni juga oleh Mbak Maya yang baru menikah.

Saya menjadi sangat dekat dengan Rina saat mulai kos di Karang Menur. Kamar kami bersebelahan dan kami punya agenda wajib yang bernama gelimbungan atau begadang curhat-curhatan sampai pagi. Leny tak terlalu suka tidur malam, sehingga dia jarang sekali ikut nggelimbung. Padahal kami terobsesi untuk gelimbungan di kamar Leny yang memang paling rapi di antara kamar atas. 

Sementara kamar saya tidak rapi karena berbagai majalah, kamar Rina bagaikan Ace Hardware, penuh pekakas dari yang kecil hingga besar. Dari yang aneh hingga yang wajar. Terakhir saya tengok, dia bahkan punya tiga set kipas angin dengan berbagai model. Dia punya rice cooker super mini, dan berbagai alat untuk mengeriting rambut. Rina ini lucu, saat sebelum kuliah rambutnya memang keriting alami. Namun saat itu kan lagi ngetreng rebonding, jadilah dia ikut meluruskan rambutnya. Dua tahun belakang saat booming K-pop dan K-drama, dia kembali mengeriting rambutnya a la mbak-mbak Korea. Oh iya, dia juga punya gorden anti sengat matahari, terus ada vacuum cleaner, alat A, lalu berganti B, kemudian ada yang C dan sebagainya. 

Sebagai tetangga kamar kos, dan partner gelimbungan, saya mungkin sangat tahu persis seluk-beluk percintaannya. Tak semua memang berjalan mulus. Saya masih ingat bagaimana dia begitu linglung saat hubungan yang sudah dijalin selama 3 tahun itu mendadak berakhir. Saya terkejut saat dua minggu lalu, saya membongkar isi hardisk dan ternyata masih menyimpan foto-foto wajah Rina dengan mata sembab dan bengkak. Malam itu Rina baru beberapa hari putus. Saya dan Novi menghiburnya dengan berbagai macam hal (yang sebenarnya tak membantu).

Bagi saya, Rina itu perempuan yang gigih sekaligus rapuh. Ada beberapa hal dimana saya bisa tahu persis bahwa dia sedang ngotot dan yakin pada pendiriannya. Sesepele mencari alamat di dalam peta. Namun ada kalanya saya bertemu dengan Rina yang tidak sanggup mengucap 'tidak', yang terlampau menurut, yang terlalu baik kepada orang lain yang jelas-jelas memanfaatkannya. Sampai saya geregetan. Eh, atau saya yang terlalu berprasangka buruk pada orang lain ya? Hahaha…

Hal yang paling nempel ketika membicarakan Rina adalah tahi lalat di wajahnya. Buanyak bo! Ada kejadian yang saya ingat, saat Pak Fatah, Bapak si Rina datang ke kos membawa gulungan kertas. Ketika dibuka, rupanya gulungan itu adalah banner raksasa yang memajang foto Rina mengenakan toga wisuda. Yang bikin kami ngakak lagi, tahi lalatnya Rina diilangin pake fotosop, bro! Dan ini adalah ide spektakuler Pak Fatah sendiri. Luar biasa… 

Tapi saya lumayan percaya ketika dibilang bahwa orang yang banyak tahi lalat diwajah itu banyak rejeki. Salah satunya ya pengalaman-pengalaman Rina. Rejeki kan bukan cuma duit ya. Kalau masalah duit doang sih buat Pak Fatah tuh urusan sepele. Hehehe… Ya mungkin itu efek kebaikan dan kegigihan Rina. Orang baik Insya Allah ngga jauh-jauh dari kebaikan juga. Dan disitulah rejeki. 

Nyebut Pak Fatah jadi ngerasa salah gini. Saya pernah mengajak Rina ke Karimun Jawa tanpa pamitan ke Pak Fatah. Bilang cuman mau ke Jepara doang. Udah gitu kapal ferry yang kami tumpangi sempat dihantam angin besar sampai hampir miring. Penumpang histeris. Terjadi keributan saat berebut rompi pelampung. Rina langsung tercekat pucat. Sepertinya dia kapok jalan sama saya lagi... :p Kecuali jalan ke mall tentu saja.

Well, tetapi kawan saya ini bukan copycat malaikat juga sih. Dia tetap manusia biasa yang lemot, ngerepotin, manja, cengeng, hobi bangun siang dan ngga pernah sisiran kecuali habis keramas. Suatu hari dia pernah tiba-tiba memeluk saya sambil menangis sejadi-jadinya. Lalu terbata dia menceritakan kesalahan besar yang diperbuat pada (mantan) pacarnya, yang notabene adalah sahabat masa kecil saya. 

Pada akhir curhatan dia bertanya, "Min, masih mau jadi temenku?"

Hingga saat ini saya tidak pernah menyalahkannya, karena Alhamdulillah sih, dia sudah sadar sendiri bahwa dia salah. Saya tahu persis bahwa Rina tidak pandai menyembunyikan kebohongan. Ah ya pokoknya Mbaksis dan Masbro, cinta memang masalah yang rumit. Ada hal-hal yang tidak bisa diterima, ada juga masanya kita menjadi maklum, lalu lupa, terakhir sih biasanya jadi lucu sendiri kalau diinget-inget. Yang penting, belajar dari kesalahan saja ya. 

Kok jadi macam blog motivator gini… 

Oh iya, saya dan Rina punya nama khusus yaitu "Min". Jadi kami memang sailing memanggil dengan sebutan itu. Entah itu diplesetkan jadi Mintok, Minul, Mina, dan sebagainya. I don't even know what the meaning of 'Min'. Lupa juga udah mulai kapan manggil kayak gini. 

Kalau ngomongin detil-detil babak ini, rasanya bisa bikin novel ya. Tapi palingan males mau nulisnya. Hahaha… Sudahlah. Well, selamat menempuh hidup baru, Min. Senang bisa berbagi kepercayaan sama manusia kayak kamu. Kita udah kayak orang pacaran sih ya, complete each other. Hehehe...  

Terima kasih sudah pernah memanjatkan doa buat saya dan Mas Dian (yang waktu itu statusnya masih calon suami) di Jabal Rahmah. Dan akhirnya tahun ini kita sama-sama jadi sarjana anak kos untuk masuk ke babak baru kehidupan. Be a wife! What a journey :) 

Ri(han)na Fariana - Umbrella ela ela ela - Ratu Boko DIY - Over years ago

Senin, 24 Juni 2013

A Not So Royal Wedding

Hellow! Been so long ngga pernah blogging, sampe disentil sama @nuranwibisono kemarin. Hehehe... Eniwei, saya baru pulang dari Sumba nih, seneng banget bisa balik ke sana dengan status baru yang eciye-banget di kosan Mas Dian. Dua minggu di sana lumayan dapet beberapa pandangan lain tentang Waingapu, kota tempat suami saya bekerja.

Lalu postingan ini bakal bercerita tentang apa? Bukan tentang Waingapu sih, hehe... Kapan-kapan ya, I promise! Jadi ceritanya barusan saya mampir ke blog @indohoy, salah satu blog favorit karena gaya bahasanya asik. Kebetulan mbak @viraindohoy barusan nikah gitu, dan entah mengapa nama pasangan kita sama-sama Dian, cuman suami Mbak Vira pake ketambahan Y, Diyan. Hehe, penting. Nah postingan terbaru Indohoy yang tentang sekilas prosesi pernikahan Mbak Vira dan Mas Diyan itu bikin saya pengan nulis hal serupa. Ga kreatif, biarin. Masa udah nulis tentang kegiatan H minus pernikahan malah pas hari H-nya ngga ditulis.

Ya udah ngga usa kebanyakan prolog... Mari kita flashback ke tanggal 8 Februari 2013!

Prosesi pernikahan di Indonesia mostly emang terikat adat kesukuan yang punya hajat. Tapi semakin ke  sini, sepengetahuan saya sih semakin banyak pasangan yang memilih tidak melakukan semua prosesi tersebut. Saya dan suami adalah salah satunya. Kami lebih mengutamakan apa yang dianjurkan oleh agama, dalam hal ini, Islam, dan pemerintah saja. Maka, mulailah kami melobi orang tua jauh-jauh hari, tentang apa yang kami inginkan dan sebagainya. Karena kedua belah pihak berdarah dominan Jawa, maka hal pertama yang kami tawarkan adalah bagaimana jika tidak usah melakukan siraman, midodaren, temu manten ataupun ngunduh mantu.

Mengapa? Pertama, bagi kami berdua yang penting sah di mata agama dan pemerintah. Kedua, irit bo! Bayangin berapa lembar rupiah yang berhasil dihemat tanpa melakukan adat yang hukumnya tidak wajib itu? Kalau memang kalian kelebihan duit, mungkin sebaiknya putar otak untuk membuang uang dengan membeli tanah, investasi reksadana, logam mulia, atau bahkan beramal. Syukur-syukur bisa buat umroh bareng ya... Ketiga, capek pasti. Menyiapkan pernikahan yang paling sederhana aja menguras tenaga banget, apalagi yang super lengkap.

Jangan takut dipandang lagi kere kalau emang ngga ngelakuin prosesi adat. Lebih baik tanya diri sendiri, do we really, really, need it? Tapi kalau memang kalian pingin, karena alasan once in a lifetime, ya monggo saja, bebas :D

Lah kok ya kebetulan kedua pasang orang tua kami setuju. Terlebih lagi keluarga mertua saya kebanyakan dari Semarang dan Yogyakarta, which is membuat acara yang sederhana akan lebih efektif. Kasian udah jauh-jauh dateng, kalo masih harus ribet upacara ini itu di rumah saya. Cuman yaaa, kami ngga mendapat 100% tempat untuk mengatur 'kebebasan' itu. Ayah saya masih menginginkan resepsi dengan alasan, dana memang sudah disiapkan dan saya anak perempuan satu-satunya.

"Ayah pingin mbancaki Putri," kata beliau. Bapak Ibu mertua pun tidak menggelar ngunduh mantu, tapi tetap mengadakan tasyakuran sederhana di rumah Semarang setelah kami menikah. Okelah, mari kita sebut ini win-win solution. Saya dan suami dapat apa yang dimau, begitupun orang tua kami. Walaupun 50% saya ngga kenal tamu-tamu resepsi itu, at least ada rasa bahagia terselip ketika melirik kedua orang tua saya bisa tertawa lepas saat kangen-kangenan dengan relasi mereka.

Prosesi paling awal yang saya lakukan adalah mengikuti pengajian ibu-ibu. Lalu malam harinya saya pamitan sama kakak saya, karena saya melangkahi antrean untuk menikah duluan. Simpel aja sih, ngasih kado yang memang diharapin si kakak. Well, lah kok dia kurang ajarnya minta mobil. Bzzzz... Saya pun melakukan offering sambil meringis dan maksa, "gimana kalo Levi's aja..."




Beberapa jam setelah ngasih kado itu, keluarga Mas Dian datang ke rumah melakukan lamaran. Bawa-bawa seserahan gitu deh. Di sini saya ngga boleh ketemu Mas Dian. Bahkan kalau kata adat sih, calon pengantin cowo ngga boleh masuk ke dalam rumah yang dilamar. Jadi nongkrong di pager gitu mungkin... Tapi karena sekali lagi, kami cukup longgar dalam hal-hal adat, maka Mas Dian bisa ikut masuk ke rumah dan makan sate plus incip-incip es buah.


Okey, lamaran diterima, keluarga Mas Dian kembali ke hotel dan saya ngga boleh tidur sampai jam 12 malam. 

Wait, really?

"Mbak, kalo bisa jangan tidur dulu sampai jam 12 ya," kata Bu Cita, perias yang ngedandanin saya. Hm, saya sih ngga paham ya masalah gini-ginian, tapi emang kenyataannya saya ngga bisa tidur sampe jam 2 pagi. Deg-degan bo, menjelang akad. Eh, ada juga tuh perias yang ngga ngebolehin mandi sampai akad selesai. Buset, untungnya Bu Cita ngga ekstrim kayak gitu. Saya bisa bebas mandi biar wangi pas ketemu suami di meja akad.

Pada saat akad, sahabat-sahabat dekat saya, Rina, Sulih dan Kiki kompak dateng ke rumah. Ada Icha juga pas malam lamaran. Seneng banget. Apalagi beberapa di antara mereka harus menempuh perjalanan darat dan udara untuk menuju Jember. Such a great feeling saat para sahabat dateng di hari yang begitu penting.

Ada beberapa teknis akad nikah dalam Islam yang saya tahu. Teknisnya lho ya... Calon pengantin cewe ada yang duduk bareng si cowo di hadapan penghulu. Ada juga yang nunggu di dalam kamar, ntar dijemput pas si cowo selesai Ijab Qabul. Nah saya melakukan yang opsi kedua. Kurang tahu sih perbedaannya gimana. 


Pada saat akad saya mengenakan kebaya modern warna putih tulang dengan bawahan jarit batik motif Sidomukti yang lazim untuk pernikahan. Sedangkan Mas Dian sederhana saja, berbalut jas berwarna abu-abu tua lengkap dengan peci hitam. Seumur-umur saya ngga pernah dandan dengan model jilbab yang dilibet-libet. Seneng aja sih (sekaligus capek karena berat) akhirnya ngerasain dipakein jilbab yang kekinian. Hahaha. 


Entah mengapa, tiap menghadiri akad teman, saya selalu menangis terharu. Lah kok pas kawinan sendiri malah ngga netes air mata kecuali pas sungkem orang tua. Saat Mas Dian selesai Ijab Qabul dan semua sudah sah, dia pun menjemput saya yang berada di dalam kamar. Tangannya dingin banget bo, hahaa...

"Tegang yo," ujarnya.

Tapi Alhamdulillah, suami sah saya ganteng banget... Apakah karena ini saya ngga jadi nangis?! Entahlah! Kami pun bergandengan menuju meja akad untuk tanda tangan buku nikah, mendengarkan wejangan pak ustadz, sungkeman orang tua, lantas foto-foto. 

Keesokan harinya kami disibukkan dengan persiapan resepsi. Saya make kebaya modern yang berat banget karena pake ekor berwarna oranye tua sepasang dengan beskap Jawa Timur (mereka bilang sih beskap Basofi) yang dikenakan Mas Dian. 

Mas Dian adalah penggemar berat mobil VW. Dia punya banyak sekali (miniatur) mobil-mobil VW yang dipajang dalam lemari terkunci di rumahnya. Salah satu cita-citanya kalau nikah mo naik VW kodok atau combi. Sayangnya, kota Jember ini ngga sebesar Jogja, Surabaya atau Jakarta yang pasti banyak komunitas mobil. Saya kesusahan nyari mobil VW yang mau disewa. Bisa nemu aja syukur deh. Hingga H-3 pernikahan, angan-angan pake mobil VW kodok atau combi itu pun hanya tinggal kenangan saja. Kami terpaksa manggut-manggut saat ditawari mobil BMW atau Mercy dari perias, walopun ngga terlalu tertarik. Ya masa naik becak ke gedung resepsi. 

Menjelang Maghrib, saat lagi sibuk-sibuknya didandanin di rumah. Mas Dian tiba-tiba nyeletuk, "aku kok kayak denger suara mobil VW di luar ya."

"Moso?" tanya saya bisik-bisik. 

Mas Dian ngangguk-angguk. 

"Kemarin bilangnya Mercy kok," tambah saya.

Ternyata pendengaran penggemar memang tak salah. Setelah selesai dandan dan siap berangkat menuju gedung, kami dikejutkan dengan kehadiran sebuah VW Beetle tahun 60-an berwarna hitam terparkir manis di halaman rumah. Suami saya girangnya minta ampun kayak abis menang undian mobil beneran.

Boys will be boys...


Kami langsung foto-fotoan pake si mobil. Eniwei ngomongin foto jadi inget tentang vendor pernikahan. Karena ngga semua hal bisa dilakuin sendiri, maka sudah jelas sebuah pernikahan itu butuh pihak ketiga, keempat, kelima yang membantu terlaksananya acara. Misal, undangan, dokumentasi, tata rias, dan lainnya.

Memilih vendor ini butuh banyak pertimbangan lho. Mau murah dan bagus? Sampai lahiran cicit pun ngga bakal nemu kasus kayak gitu. Tapi coba deh minta bantuan kanan kiri yang mungkin bisa memangkas budget kalian. Jaman udah canggih kayak gini, pasti ada satuuu aja temen kalian yang doyan motret, kenapa ngga dikasih kerjaan? Lumayan kan motret nikahan temen sendiri, dapet duit pula. 

Ya ampun, mau nikah miskin banget sih kudu ngemis-ngemis minta bantuan... Well, taukah kalian bahwa biaya ijin nikah itu sesungguhnya taklebih dari 100 ribu saja menurut undang-undang. Lalu mengapa bisa melebar sampai ratusan juta?? Ya, silahkan dijawab sendiri. Atas dasar itu, kami mencoba untuk waras dan berkepala dingin untuk memilih vendor.

Undangan? Saya serahkan desain-nya pada sahabat saya, Ayos. Laki-laki berperut buncit yang sudah saya anggap saudara sendiri ini menjadi salah satu kunci pertemuan saya dengan Mas Dian, jadi ya keahliannya sebagai mahasiswa desain harus dilibatkan (dan dimanfaatkan). Undangan saya ngga pake hardcover dan ngga pake foto. Yang penting pesannya kebaca aja gitu. 

Banyak yang mengira saya dan suami melakukan pre-wedding photo session. Itu karena saya memajang avatar yang sok-sok prewed di facebook. Padahal sesungguhnya hari itu kami hanya piknik selo ke Papuma sambil membawa tripod karena mo motret sunrise. Dimanfaatkan lah tripod itu untuk memotret kami berdua sekedar kenang-kenangan. Pake lensa fix manual which is hasilnya banyak yang ngeblur hahaha... Ya manual gitu ya, sapa yang mo ngulir kalo dua-duanya di depan kamera. Tapi dari situ kami tau, bahwa kami tak perlu menghabiskan jutaan rupiah untuk prewed. Sudah pasti sia-sia. Alasannya satu: kami tak pandai bergaya.

Teman saya pernah bercerita bahwa pernikahannya tak sampai menembus angka 15 juta. Padahal kalau ditelusurin, si temen ini masih berdarah ningrat gitu di Sumatra sana. Tapi karena dia keras kepala, dia mau menikah dengan cara dan uangnya sendiri. Adat-adat pernikahan ala Sumatra pun enggan dia lakukan. Lantas gunjingan terdengar dari para om dan tantenya.

"Gue labrak aja yang ngomongin gue. Bokap kandung gue aja ngga masalah. Kenapa mereka yang ribet?" Ehm, temen saya ini emang hardcore, apalagi kalo lagi laper, jangan deket-deket deh...

"Undangan gue bikin sendiri, buku tamu juga, banyak kok di gugel desainnya lucu-lucu tinggal pilih, seserahan gue ngga minta aneh-aneh, cuman buku-buku Quraish Shihab edisi lengkap. Terus gue pake pengamen jalanan di stasiun, karena gue suka banget ama suara penyanyinya. Dan pas gue tawarin, mereka mau banget nyanyi di nikahan gue. Seneng!" ujarnya berbinar-binar.

Eh iya pernah dengar ada yang minta seserahan Macbook Pro? Hehehe, jangan iri deh ah, itu namanya rejeki. Minta mahar dan seserahan itu kan kuncinya cuman satu, jangan ngeberatin calon suami. Kalo beli gadget mahal udah kayak beli pisang goreng, ya sah-sah aja sih. Kan pendapatan orang juga beda-beda. 

Ngomongin A-Z tentang prosesi nikah rasanya kok muter-muter dalam lingkaran uang, uang, uang dan uang ya? Lah cinta-cintaannya mana? Sayang-sayangannya mana? Sekali lagi, tergantung prespektif kalian memandang sebuah prosesi. Ngga selamanya prosesi adat itu salah, toh pasti ada doa dan harapan di balik semua itu. Menikah dengan siapa adalah pilihan. Menikah dengan cara apa juga patut dipertimbangkan. Sepanjang bisa dikompromikan sih, be wise couple aja... :)


PS:
Terkait dengan judul postingan ini, hal yang ngga bakal saya lupa adalah menjelang pernikahan, temen-temen saya di twitter pada bikin hestek #hifatlobrainroyalwedding. Mulanya sih @arman_dhani yang bikin +_+ Terus yang lain pada ikut-ikutan deh. Ah... I should've captured it ya... buat kenang-kenangan.

Rabu, 24 April 2013

Makan Apa di Festival Teluk Jailolo?



Gunung Jailolo habitat buah pala

Festival Teluk Jailolo 2013 sudah di depan mata. Dua kawan saya, @wiranurmansyah dan @kenarrox, beruntung berhasil mengantongi tiket gratis menuju pulau kecil di Halmahera Barat tersebut. Eh, bukan beruntung deng. Mereka patut menang lah ya, atas kerja keras otak mencari sudut pandang kreatif yang jarang dipikirkan orang lain saat membuat tulisan. :D

Anyway, buat kalian-kalian yang berencana kesana. Please, do two this important things: have fun and eat a lot! Itulah mengapa saya sengaja membuat postingan ini. Sekedar bernostalgia dengan masakan Bu Fao, satu-satunya pemilik homestay di Jailolo yang juga bertugas menyediakan masakan-masakan khas Maluku untuk tamu-tamu. Selama di sana, saya ngga kenal makan pagi, siang, atau malem. Asal ada makanan baru yang terhidang di meja, maka rombongan saya selalu dengan senang hati dan lapang dada untuk menyantapnya. Hehehe... 

Pisang Mulut Bebek
Mengapa dinamakan demikian? Karena kata orang sana bentuk si pisang mirip dengan lengkungan mulut bebek. Awalnya saya mengira, fungsi pisang ini sama seperti pisang di warung-warung Jawa, sebagai hidangan penutup atau sebagai camilan saja. Namun tidak di sini. Warga lokal menyantapnya sebagai pengganti nasi. Biasanya bersanding dengan menu ikan. Selain digoreng, umumnya pisang ini direbus dengan santan, yang kemudian disebut sebagai pisang santang. Nah, yang kayak gini nih sempet saya coba di homestay Bu Fao. Setelah di rebus warna pisang berubah menjadi kecoklatan dengan sisa-sisa santan yang menempel. Memang tak terlalu empuk sih, apalagi saya doyan makan pisang yang udah matang banget. Ternyata untuk membuat pisang santang memang sengaja dipilih buah yang masih muda agar tidak hancur. 


Papeda
Dari dulu saya penasaran banget dengan menu satu ini. Papeda memang tidak hanya bisa didapatkan di Maluku. Daerah dengan pangan pokok sagu biasanya juga membuat menu serupa, seperti Papua. Cara bikinnya? (Katanya) mudah kok! Tepung sagu ditaburi garam dan gula. Diaduk sembari dituangi air mendidih sampai lembut dan berwarna putih bening. Tekstur papeda yang menyerupai lem ini biasanya membuat orang asing kayak saya melongo. Rupanya perlu sepasang sumpit atau semacamnya lah untuk menuang papeda dari mangkuk besar ke piring-piring. Perlu sedikit kebiasaan untuk jago dalam hal satu ini. Seperti tepung yang lain, papeda ini pun sebenarnya terasa hambar. Karena itulah setiap ada hidangan papeda, umumnya disediakan pula sup ikan kuning yang Ya Tuhaaaaaan.... endang mbambang! Wenak tenan! Sueger, tuips! Kalau udah pake perpaduan papeda dan sup ikan kuning, ya ngga perlu ambil nasi lah ya. Dijamin kenyang!




Nasi Jaha
Nah, yang ini mirip banget rasanya sama lemper. Tapi tanpa filling daging. Nasi jaha juga terbuat dari beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang. Makanan ini oily dan lengket banget di mulut. Nasi Jaha kabarnya juga ada di Sulawesi. Meskipun judulnya ada kata 'nasi', tapi saya anggap sebagai camilan macem lemper. Hehe...



Nasi Kembar
Ini baru nasi beneran nih. Rasanya manis ya seperti nasi-nasi lainnya. Sekilas bentuknya yang terbalut daun pisang, bikin saya ingat lontong di Jawa. Tapi teksturnya ngga selembut itu. Karena nasi ini setelah berada dalam dua selongsong daun pisang, kemudian dimasukkan dalam bambu untuk dibakar. Makanya agak-agak keras gitu. Tapi wangi banget terkena paparan daun pisang.


Ikan Dabu-Dabu Manta
Pertama kali mendengar nama menu ini, saya beneran ngga ngarep bakal makan manta (pari). Dari ribuan warung sego sambel yang berjejer di Surabaya, hanya ikan pari yang ngga saya suka. Menurut saya, baunya aneh. Terlebih mendegar kisah ikan pari dan anak-anak Jermal, yang.. eum.. udahlah. Jadi ngga laper nanti. Hehe..


Alhamdulillah, ternyata 'manta' dalam bahasa lokal berarti mentah. Dinamakan seperi itu karena masakan ini dihidangkan dengan rajangan bumbu dan sayuran segar tanpa direbus atau digoreng. Biasanya sih pake ikan jenis tongkol. 

Setelah dibersihkan, ikan dibakar terlebih dahulu. Namun, ajaibnya saya sama sekali tidak melihat sisa-sisa pembakaran yang menempel di badan ikan. Bersih dan matang dengan sempurna. Sepertinya ada teknik khusus yang digunakan oleh masyarakat lokal dalam membakar ikan. Selanjutnya, tomat, cabai rawit, bawang merah dipotong kasar dan ditaburkan di atas ikan yang telah dibakar. Tak lupa beberapa helai daun kemangi dan perasan jeruk nipis untuk menambah harum dan rasa segar. Luar biasa enak! Saya nambah berkali-kali. Walaupun katanya sudah banyak yang jual di Jawa tapi biarin deh, jangan-jangan saya ngga bisa balik lagi ngerasain masakan Bu Fao. Beda tangan bisa beda rasa juga.

Menu masakan ini juga bisa dimodifikasi menjadi dabu-dabu rica. Baik rica maupun manta, biasanya sih disantap dengan pisang mulut bebek santang ataupun rebusan ubi. Kalo saya tetep pake nasi. Nasi for the win! Hehehe...

Gohu Ikan
Yang ini faporit!! Primadona di hati saya pokoknya! Hehehe... Sesungguhnya gohu ikan ini masakan yang masih mentah. Tapi ngga tau kok bisa ngga anyir yah. Jadi ikan ini memang harus segar dari nelayan dan dimasak saat itu juga. Biasanya sih jenis tuna dan cakalang. Ikan yang baru ditangkap ini segera dibersihkan dan dilumuri garam, kemudian dipotong menjadi seperti dadu-dadu kecil. Berbagai rempah yang wangi dan segar juga turut dilumurkan. Ada bawang merah, perasan jeruk nipis, rajangan cabe rawit, dan pasti daun kemangi. Semua itu disiram dengan sedikit minyak panas. 


Beneran ngga kayak mentah. Tangan saya ngga bisa berhenti ngambil. Huahahaha... Orang asing yang baru bertandang ke Jailolo pasti bilang bahwa gohu ikan ini mirip sashimi. Lah, saya sih nurut aja, ngga pernah makan sashimi sih. :p Anyway, biasanya gohu ikan ini dimakan bareng pisang santang atau roti sagu yang bentuknya mirip roti tawar panggang.


Selamat makan sodara-sodara, teruslah memperkaya lidah dengan khazanah kuliner Indonesia yang beragam. Hehe. Makanan di atas kayaknya minim resiko meningkatkan kolesterol yah? Jadi kayaknya aman nih buat yang suka cenat-cenut setelah makan jerohan. Selain dari homestay Bu Fao, makanan-makanan ini juga kembali dihidangkan dalam acara Horom Sasadu, semacem upacara paska panen gitu. Makan terus 7 hari 7 malem di balai adat! Buat yang mau berencana ke Festival Jailolo bulan Mei mendatang, nitip salam buat Bu Fao yah. Makanlah sampai puas, karena Bu Fao ngga buka franchise sampai Jawa. []


Horom Sasadu saat Festival Teluk Jailolo 2012

Minggu, 21 April 2013

Dulu, Hujan Tak Pernah Semengerikan Hari Ini

Badan kami sudah letih. Setelah berputar-putar berkeliling beberapa bagian di Surabaya sedari pagi, akhirnya kami pulang ke rumah menjelang Maghrib. Baju saya basah, sedangkan Mas Dian masih mengenakan jas hujan yang hanya sepasang itu. Kami memang sempat merasakan diterpa hujan angin hingga memutuskan berhenti di tepian jalan cukup lama. Saat kondisi cukup kondusif, Mas Dian menyalakan motor butut saya lagi. Hingga terpaksa berteduh di bawah jembatan layang, saat hujan tiba-tiba kembali menggila. 

Perjalanan ke pusat kota memang menjadi sangat jauh saat saya dan suami menyewa rumah di pinggiran Surabaya Timur. Selama hampir empat bulan sebelum menikah, saya berputar-putar mencari rumah yang strategis dan terjangkau dompet. Tipikal orang Indonesia lah, maunya murah dan bagus. Tentu saja yang seperti itu mustahil didapatkan di zaman apa-apa serba mahal ini. Mau murah ya di pinggiran! 

Banyak sekali perumahan mini yang di bangun di pinggiran kota Surabaya. Saya pun akhirnya menempati salah satunya, yang masih terbilang dekat dengan pusat kota dibandingkan yang lain. Namun tetap saja, daerah tempat tinggal saya ini lebih dekat dengan tambak dan perairan Surabaya Timur daripada Stasiun Gubeng. Tapi tetap bersyukur, mendapat rumah dengan halaman ekstra. Eksta besar dan ekstra juga tenaga perawatannya. 

Maghrib itu kami tiba di rumah. Hujan deras tadi rupanya menimpa wilayah kontrakan kami pula. Berharap segera mandi dan makan malam lalu santai-santai, saya cepat-cepat membuka pintu. Seketika kaget! Rumah kami ternyata kebanjiran! Air hujan masuk dari sela pintu ruang tamu. Merembet hingga ke kamar depan. Arrrgh... 

Saya dan Mas Dian kerja bakti malam itu. Mengepel lantai, mengeluarkan barang di kardus yang dasarnya digenangi air, lalu mengepaknya kembali. Tentu saja, semua kegiatan itu dibarengi dengan rutukan tentang desain rumah kontrakan yang serba kurang perhitungan. Sebelumnya memang pemilik rumah ini juga sudah berwanti-wanti agar sabar dengan rumah ini. Dia menyalahkan tukang bangunan yang bekerja sesuka hati tak sesuai perintah.

Semenjak kejadian itu, kami memperbanyak membeli keset dan kain pel. Semua dipasang berjejeran di sela pintu ruang tamu. Setiap hujan turun, Mas Dian selalu sigap keluar rumah untuk mengecek arah angin hujan. Bila condong miring ke Timur maka siap-siap ruang tamu akan tergenang lagi. Bila condong ke Barat, kami berlari ke pintu belakang dekat dapur tempat jemuran berada. Entah ide siapa yang menaruh pipa talang buangan air dari genteng ke dalam area rumah. Ya meskipun itu hanya sepetak kecil tempat jemuran yang tak beratap, sepertinya lebih baik untuk mengalirkan pipa tersebut ke arah luar. Jangan heran bila kelak datang ke rumah saya, kalian melihat banyak tumpukan keset di depan pintu. 

Persoalan tak berhenti di situ. Di kamar kami sendiri pun sama. Selang beberapa hari diributkan oleh masuknya air dari depan dan belakang, rupanya masih ada tempat yang harus mendapat pengawasan. Rembesan air di dinding kamar yang kata pemiliknya sudah ditambal berulang-ulang itu masih saja ada. Mengalir seperti air terjun mini. Meskipun lebarnya hanya 0,5 cm, tapi kalo ada tujuh rembesan ya itu namanya persoalan. Kami pun menaruh keset di pojokan kamar. 

Sehari setelah Mas Dian kembali ke Sumba, lampu ruang tengah tiba-tiba mati. Saya lantas menggantinya dengan yang baru. Tapi tak juga menyala. Lantas lampu baru tersebut saya coba pada fitting lainnya di kamar depan dan sukses menyala dengan terang. Masih bersabar, saya pasang lagi lampu itu di tempat yang mati. Gelap. Seketika saya menelepon suami, dan tangis saya pecah. 

Kalau dipikir saat ini, saya hanya bisa geleng-geleng kepala, bagaimana sebuah bohlam lampu mampu membuat saya menangis sekencang itu. Saya pernah terombang-ambing di laut perairan Madura-Sapudi selama tiga jam. Beberapa penumpang sudah menangis dan menyebut asma Allah. Tapi saya tidak meneteskan air mata sedikit pun. Malah berusaha untuk tidur. Di Sintang, saya pernah mendaki Bukit Kelam yang ternyata memang kelam. Saya hampir pingsan karena kurang gula. Tapi tak juga merengek minta turun ke bawah. Saya tetap berjalan sembari mengunyah wafer yang diberikan seorang kawan dan terus berpikir positif agar cepat sampai di camping ground. Lantas bertahun kemudian, saya di kamar, tersedu karena sebuah bohlam lampu. 

Seiring dengan seringnya hujan turun, maka rumput-rumput liar di halaman rumah pun tumbuh subur. Sebelum kembali ke Sumba, Mas Dian sempat menyemprotnya dengan herbisida lalu memangkasnya dengan gunting ruput. Tapi seperti kata Shancai, rumput liar bisa tumbuh dimanapun dan kapanpun. Maka mereka kembali bermunculan ijo royo-royo. 

Dulu, hujan tak pernah semengerikan ini. Setiap mendung terlihat, saya selalu was-was. Meninggalkan rumah untuk keluar kota menggarap pekerjaan pun tak bisa terlalu lama. Pikiran saya selalu ke rumah. Memang sudah ada keset-keset. Tapi toh mereka butuh dicuci dan dikeringkan agar rumah tak menjadi lembab dan menjadi tempat tinggal favorit berbagai jamur dan penyakit. Ah, pokoknya...!

Hujan di tengah malam adalah hujan paling mengerikan bagi saya. Apalagi jika terlihat cahaya petir yang menyambar. Membuat tidur saya semakin tidak enak untuk dilanjutkan. Ah tapi apapun itu, semuanya harus disyukuri ya. Paling ngga, warna rupa-rupa di awal bulan sudah menghiasi kehidupan pernikahan kami. Hari ini jalan menuju bulan ketiga kami mengontrak rumah ini. Ada banyak hal yang membuat saya berubah secara drastis. Ada yang enak, ada pula yang tak nyaman. Kapan-kapan saya ceritakan. :)

Sabtu, 30 Maret 2013

Transportasi Menuju Rammang-Rammang

Setelah postingan transportasi menuju Tanjung Bira, sekarang saya mau share transportasi ke Rammang-Rammang. Ini lebih karena saya pengen balik lagi kesana, for sure! Dan takut lupa rutenya. Buat yang belum tau dan malas googling, Rammang-Rammang ini sebetulnya sebuah desa di Maros. Kalau denger kata Maros apa sih yang terlintas? Jejeran Karst? Bantimurung yang surga kupu-kupu itu? Yap, keduanya betul! Tapi kemarin saya memang sengaja tidak mampir TN Bantimurung yang air terjun itu, karena hmm... katanya sih jadi tempat pacaran doang. Hahaha.. katanya lho yaaa... Lagian kalo pas musim ujan, katanya jugaaa, ngga banyak kupu-kupu terbang. Yaudah, saya memutuskan untuk ke Karst maros, yang sebetulnya pun masih merupakan bagian dari wilayah TN Bantimurung.

Nah, how to get there?

Gampang banget. Dari pusat kota Makassar, coba naik taksi atau pete-pete jurusan Mandai. Nah, lebih enaknya lagi, bilang aja turun depan Bandara (Sultan Hasanuddin). Terus, oper pete-pete yang jurusan Pangkep, minta turun di pertigaan pabrik semen Bosowa. Tarif yang dikenakan untuk pete-pete Pangkep ini 7500 rupiah. Tapi kayaknya, beda sopir, beda juga tarifnya. Saya sempat bayar 5000 doang tapi disuruh nambah, hehe... Yaudah... Total perjalanan dari pusat kota Makassar kira-kira 60-90 menit, tergantung kemacetan dan tingkat kengeteman pete-pete.

Abis itu, saya dan teman jalan kaki menyusuri jalan yang menuju pabrik semen tersebut. Sebetulnya ada pete-pete yang juga lewat sini, tapi kalau masih pagi belum ada. Kalau ngga kuat jalan, bisa naik ojek kok. Kira-kira 500 meter dari jalan raya tadi, di sebelah kiri ada gapura yang bunyinya Selamat Datang di Karst Maros. Masuk aja, cyin! Pas di pete-pete saya udah ngaplo gitu ngeliat jejeran karst dari kejauhan. Berasa di Ha Long Bay... Padahal ya belum pernah ke sana haha... Tapi mirip aja gitu kalo liat gambarnya di gugel. 

Ini belum masuk Rammang-Rammang, karena untuk menuju desa tersebut harus pake perahu dan menyusuri sungai. Jadi saya putuskan untuk mencari sungai itu dulu alih-alih masuk ke gapura tadi. Ya kira-kira nambah jalan kaki lagi 100 meter lah. Sampe nemu jembatan, ada dermaga keciiil banget di sebelah kiri. Sayangnya, waktu itu saya cuman nemu ibu-ibu lagi nyuci baju, dan anak-anak kecil berenang-renang di kali. 

Menurut info ibu tersebut, yang punya perahu sedang entah kemana. Memang kabarnya sih belum banyak yang menyewakan perahu ke Rammang-Rammang. Hanya ada satu dua orang. Tarifnya berkisar 100 ribuan. Sungainya ngga lebar kok, tapi di sepanjang kanan kirinya 'ditumbuhi' karst gitu. Alhasil saya cuman bisa celingak-celinguk aja di bibir dermaga. Dan setelah beberapa lama yang nyewain perahu ngga muncul juga, saya dan temen memutuskan untuk ciao. Kami kembali menuju gapura tersebut untuk melihat karst yang di berada di tengah persawahan. That's why I wanna go back there, karena belum kesampean nyusurin karst yang di pinggir sungai. 

Someday, yah, someday :)

Btw, foto karst Maros bisa diklik lewat sini sementara ya:
http://instagram.com/p/XOpi4Figee/

Lagi males nyolokin hardisk hehe...