Gunung Jailolo habitat buah pala
Festival Teluk Jailolo 2013 sudah di depan mata. Dua kawan saya, @wiranurmansyah dan @kenarrox, beruntung berhasil mengantongi tiket gratis menuju pulau kecil di Halmahera Barat tersebut. Eh, bukan beruntung deng. Mereka patut menang lah ya, atas kerja keras otak mencari sudut pandang kreatif yang jarang dipikirkan orang lain saat membuat tulisan. :D
Anyway, buat kalian-kalian yang berencana kesana. Please, do two this important things: have fun and eat a lot! Itulah mengapa saya sengaja membuat postingan ini. Sekedar bernostalgia dengan masakan Bu Fao, satu-satunya pemilik homestay di Jailolo yang juga bertugas menyediakan masakan-masakan khas Maluku untuk tamu-tamu. Selama di sana, saya ngga kenal makan pagi, siang, atau malem. Asal ada makanan baru yang terhidang di meja, maka rombongan saya selalu dengan senang hati dan lapang dada untuk menyantapnya. Hehehe...
Pisang Mulut Bebek
Mengapa dinamakan demikian? Karena kata orang sana bentuk si pisang mirip dengan lengkungan mulut bebek. Awalnya saya mengira, fungsi pisang ini sama seperti pisang di warung-warung Jawa, sebagai hidangan penutup atau sebagai camilan saja. Namun tidak di sini. Warga lokal menyantapnya sebagai pengganti nasi. Biasanya bersanding dengan menu ikan. Selain digoreng, umumnya pisang ini direbus dengan santan, yang kemudian disebut sebagai pisang santang. Nah, yang kayak gini nih sempet saya coba di homestay Bu Fao. Setelah di rebus warna pisang berubah menjadi kecoklatan dengan sisa-sisa santan yang menempel. Memang tak terlalu empuk sih, apalagi saya doyan makan pisang yang udah matang banget. Ternyata untuk membuat pisang santang memang sengaja dipilih buah yang masih muda agar tidak hancur.
Papeda
Dari dulu saya penasaran banget dengan menu satu ini. Papeda memang tidak hanya bisa didapatkan di Maluku. Daerah dengan pangan pokok sagu biasanya juga membuat menu serupa, seperti Papua. Cara bikinnya? (Katanya) mudah kok! Tepung sagu ditaburi garam dan gula. Diaduk sembari dituangi air mendidih sampai lembut dan berwarna putih bening. Tekstur papeda yang menyerupai lem ini biasanya membuat orang asing kayak saya melongo. Rupanya perlu sepasang sumpit atau semacamnya lah untuk menuang papeda dari mangkuk besar ke piring-piring. Perlu sedikit kebiasaan untuk jago dalam hal satu ini. Seperti tepung yang lain, papeda ini pun sebenarnya terasa hambar. Karena itulah setiap ada hidangan papeda, umumnya disediakan pula sup ikan kuning yang Ya Tuhaaaaaan.... endang mbambang! Wenak tenan! Sueger, tuips! Kalau udah pake perpaduan papeda dan sup ikan kuning, ya ngga perlu ambil nasi lah ya. Dijamin kenyang!
Nasi Jaha
Nah, yang ini mirip banget rasanya sama lemper. Tapi tanpa filling daging. Nasi jaha juga terbuat dari beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang. Makanan ini oily dan lengket banget di mulut. Nasi Jaha kabarnya juga ada di Sulawesi. Meskipun judulnya ada kata 'nasi', tapi saya anggap sebagai camilan macem lemper. Hehe...
Nasi Kembar
Ini baru nasi beneran nih. Rasanya manis ya seperti nasi-nasi lainnya. Sekilas bentuknya yang terbalut daun pisang, bikin saya ingat lontong di Jawa. Tapi teksturnya ngga selembut itu. Karena nasi ini setelah berada dalam dua selongsong daun pisang, kemudian dimasukkan dalam bambu untuk dibakar. Makanya agak-agak keras gitu. Tapi wangi banget terkena paparan daun pisang.
Ikan Dabu-Dabu Manta
Pertama kali mendengar nama menu ini, saya beneran ngga ngarep bakal makan manta (pari). Dari ribuan warung sego sambel yang berjejer di Surabaya, hanya ikan pari yang ngga saya suka. Menurut saya, baunya aneh. Terlebih mendegar kisah ikan pari dan anak-anak Jermal, yang.. eum.. udahlah. Jadi ngga laper nanti. Hehe..
Alhamdulillah, ternyata 'manta' dalam bahasa lokal berarti mentah. Dinamakan seperi itu karena masakan ini dihidangkan dengan rajangan bumbu dan sayuran segar tanpa direbus atau digoreng. Biasanya sih pake ikan jenis tongkol.
Setelah dibersihkan, ikan dibakar terlebih dahulu. Namun, ajaibnya saya sama sekali tidak melihat sisa-sisa pembakaran yang menempel di badan ikan. Bersih dan matang dengan sempurna. Sepertinya ada teknik khusus yang digunakan oleh masyarakat lokal dalam membakar ikan. Selanjutnya, tomat, cabai rawit, bawang merah dipotong kasar dan ditaburkan di atas ikan yang telah dibakar. Tak lupa beberapa helai daun kemangi dan perasan jeruk nipis untuk menambah harum dan rasa segar. Luar biasa enak! Saya nambah berkali-kali. Walaupun katanya sudah banyak yang jual di Jawa tapi biarin deh, jangan-jangan saya ngga bisa balik lagi ngerasain masakan Bu Fao. Beda tangan bisa beda rasa juga.
Menu masakan ini juga bisa dimodifikasi menjadi dabu-dabu rica. Baik rica maupun manta, biasanya sih disantap dengan pisang mulut bebek santang ataupun rebusan ubi. Kalo saya tetep pake nasi. Nasi for the win! Hehehe...
Gohu Ikan
Yang ini faporit!! Primadona di hati saya pokoknya! Hehehe... Sesungguhnya gohu ikan ini masakan yang masih mentah. Tapi ngga tau kok bisa ngga anyir yah. Jadi ikan ini memang harus segar dari nelayan dan dimasak saat itu juga. Biasanya sih jenis tuna dan cakalang. Ikan yang baru ditangkap ini segera dibersihkan dan dilumuri garam, kemudian dipotong menjadi seperti dadu-dadu kecil. Berbagai rempah yang wangi dan segar juga turut dilumurkan. Ada bawang merah, perasan jeruk nipis, rajangan cabe rawit, dan pasti daun kemangi. Semua itu disiram dengan sedikit minyak panas.
Beneran ngga kayak mentah. Tangan saya ngga bisa berhenti ngambil. Huahahaha... Orang asing yang baru bertandang ke Jailolo pasti bilang bahwa gohu ikan ini mirip sashimi. Lah, saya sih nurut aja, ngga pernah makan sashimi sih. :p Anyway, biasanya gohu ikan ini dimakan bareng pisang santang atau roti sagu yang bentuknya mirip roti tawar panggang.
Selamat makan sodara-sodara, teruslah memperkaya lidah dengan khazanah kuliner Indonesia yang beragam. Hehe. Makanan di atas kayaknya minim resiko meningkatkan kolesterol yah? Jadi kayaknya aman nih buat yang suka cenat-cenut setelah makan jerohan. Selain dari homestay Bu Fao, makanan-makanan ini juga kembali dihidangkan dalam acara Horom Sasadu, semacem upacara paska panen gitu. Makan terus 7 hari 7 malem di balai adat! Buat yang mau berencana ke Festival Jailolo bulan Mei mendatang, nitip salam buat Bu Fao yah. Makanlah sampai puas, karena Bu Fao ngga buka franchise sampai Jawa. []
Horom Sasadu saat Festival Teluk Jailolo 2012




















Judul foto: Rare Fish Market
Di indonesia memang banyak sekali ya pasar tradisional? tapi kalau pasar ikan bagaimana? se umur - umur baru dua kali saya mengunjungi pasar ikan. untuk foto kali ini adalah pasar ikan Kedonganan yang berada di bali. jenis ikannya lengkap, murah, dan bisa di bakar ditempat ^^
20. Adni Sholawati
nama/nama blog: adni sholawati/serenity
link blog: http://sholawati.blogspot.com/
Judul foto: Belum ke Solo kalau belum ke Klewer
Pasar yang dibangun tahun 1947 ini dulunya merupakan bekas pasar burung bernama Slompretan. Kemudian pada jaman Jepang menjadi pusat jual beli baju bekas yang dijual dengan cara "kleweran". Itu sedikit sejarah nama pasar ini.
Saat ini Pasar Klewer menjadi satu-satunya pasar tradisional di Solo yang menyediakan batik, baik batik tulis maupun batik cap atau printing dengan mutu yang berkualitas.
Sekilas tampak dari luar semrawut, kurang lebih sama seperti di dalam. Berdesakan dan saling menyenggol saat berbelanja sudah biasa di sini.
Tapi begitulah Klewer, tak boleh dilewatkan jika Anda berkunjung ke Solo. Dan saat Anda berbelanja di sini, walau sepertinya tak perlu diingatkan, rasa-rasanya saya perlu bilang, "Jangan lupa menawar!"
21. Ogi Philardi
link : www.mainmakan.com
Sukawati, one of the traditional art market in Bali, is the perfect place to shop art. This is the budget market located in Gianyar. Even so, the quality is comparable to the expensive one you find in town. Don't hesitate to make a deal with the shopkeepers, they will be very welcome to you.
Tak perlu sukar mencari peci, mampirlah ke sebelah Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Di situ ada Pasar Aceh, kau bisa memilih peci, sajadah dan tasbih sesukamu dengan harga yang sesuai kantongmu. Kau mau warna merah, biru, hijau semua ada. Datanglah kesana, dan kau akan merasakan uap-uap persahabatan ketika berbincang dengan si pedagang. Sederhana dan menyejukkan.
26. Tesya
Link blog : http://www.tesyasblog.com
Pasar terapung Damnoen Saduak, dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Bangkok. Pergilah kesana di pagi hari, agar pasar ini belum crowded dengan datangnya rombongan turis. Jika anda mencari salah satu hal unik yang bisa dilakukan di Bangkok, saya rekomendasikan Damnoean Saduak Floating Market:)
27. Niken Andriani
Blog: n-journal.com
Judul : Sarapan di pasar
Waktu paling tepat 'bermain' ke pasar sayur adalah pagi hari. Saat barang dagangan masih digelar dan ibu-ibu lalu lalang berbelanja. Di tengah hiruk pikuk dan bau jalanan becek yang tak sedap, ibu pedagang ini tetap santai menikmati sarapan paginya. Ia hanya kaget saat tiba-tiba saya potret. "Sarapan dulu, dik!" Katanya pagi itu di pasar pecinan, Semarang.
28. Nauval
Link blog : noval78.wordpress.com
Judul : Aku ingin itu
caption :
Pasar bisa jadi surga tempat impian seorang anak, karena segala bentuk mainan, jajanan, pernak-pernik dan pakaian-pakaian lucu tersedia disitu. Dan begitu pula dengan gadis cilik ini, ia sedang memperlihatkan pernak-pernik yang dia suka kepada ibunya di pasar malam Melaka, Malaysia. Pasar malam (night market) di Melaka berpusat di Jonker Street dan digelar di tiap akhir pekan, dari Jumat sampai Minggu, tiap malam. Hiruk pikuk pedagang dan pembeli tumpah ruah di sepanjang jalan itu.
29. Dina Dua Ransel
Link blog: http://www.duaransel.com/
Memasuki Gerbang Samping Kota Merah Marrakesh.
Kota merah Medinah Marrakesh, kota mimpi seribu satu malamku. Di gerbang samping kota tua ini, kami membuntuti seekor bagal penarik kereta sayur-mayur masuk ke dalam kota. Dua orang pria mengendalikannya. Mereka penjual sayur-mayur di salah satu dari sekian banyak pasar di dalam kota tua berdinding merah ini. Sekian banyak pasar kecil rakyat jelata yang tak tersentuh turis.
Medina Marrakesh bukan sekedar alun-alun ternama nan eksotik Djemaa el Fnaa dan souq raksasanya saja. Kehidupan tradisional masyarakatnya di balik tembok merah ini, lebih memikat lagi.
30. Ahmad Riyanto
Nama: Ahmad Riyanto
Link Blog: http://kucingbloon.wordpress.com
Jinli Street
Siapa yang sangka jalanan sempit nan sepi ketika siang hari dan dipenuhi toko-toko yang menjajakan pernak-pernik dan jajanan khas Cina ini ketika malam hari berubah menjadi pasar malam tempat dimana warga Chengdu berkumpul.
31. Yongky D
Nama blog: mimpipejuang.blogspot.com
Judul: Hidup adalah perjuangan
Words: Pasar, tempat mereka berjuang dalam hidup. Di usia yang sudah senja mereka masih mencari uang, bukan untuk menonton di bioskop, bukan untuk makan makanan enak di restoran, bukan untuk membeli gadget, bukan juga untuk membeli perhiasan, hanya untuk sesuap nasi.
Sudahkah kita berjuang & menghargai sebuah hidup???
Foto ini diambil di bawah terik matahari Pasar Kebalen, Malang.
32. Helena
Blog: http://helenamantra.blogspot.com/2012/10/pasar-ikan-talise.html
Judul: Pasar Ikan Talise
Setiap malam di pinggir Pantai Talise ada pasar ikan hasil tangkapan dari laut. So fresh from the sea. Ketika itu kami menemani Opa Jose, turis dari Peru, untuk jalan-jalan malam di Palu. Dengan kemampuan English yang pas-pasan, kami berusaha menjelaskan jenis dan harga ikan. Modal nekat buat jadi tour guide. Menurut Opa, harga seafood di sini lebih mahal daripada di negara asalnya. Hmm..kenapa ya? Padahal lokasi pasar ini tepat di sebelah pantai.
33. Nanie
Link Blog : http://jokkajokka.com/pecel-mbak-pecel-mas/
Pecel mbak, Pecel mas...
Di sisi kiri dan kanan gerbang masuk Pasar Beringharjo - Jogjakarta, berjejer penjual pecel dan jajanan lainnya. Saya duduk di kursi plastik pas depan jualan si Mbak, memesan pecel satu porsi dan es teh manis. Ditanya lengkap? pake mi? saya ho oh saja. Dan ketika pecel pesanan datang, saya takjub. Campuran sayurnya macem-macem, beberapa sayuran bahkan saya belom pernah coba, belum pernah liat, dan gak tau namanya :)) Tapi tempe dan tahu bacemnya uenakkk. Jika berkunjung ke Jogja dan sedang berbelanja atau berburu ole-ole di Malioboro atau Pasar Beringharjo, sempatkanlah mampir mencoba pecel ini.
judul: mine
Satu momen hening di daerah Kranggan, tepat di jantung kota lama Semarang. Dimana pasar dan kota lama yang tak terpisahkan oleh batas fisik. Lapak dagangan bisa di rumah, depan, samping bahkan di tengah jalan yang membelah gang-gang sempitnya. Selalu ada frame yang baru disini.