Tampilkan postingan dengan label playlist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label playlist. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Our House

Setengah jam lagi masuk 2 Februari 2013. Perut saya agak mules kalau liat kalender akhir-akhir ini... Nyanyi dulu wae ya... Lagu lawas, lagu simpel, tapi enak di kuping :)

I'll light the fire
You put the flowers in the vase
That you bought today 

Lah, kita kan ga punya perapian... Ngapain juga. Surabaya lebih butuh ase. Tapi rumah baru ngontrak masih kosongan :D

Staring at the fire
For hours and hours
While I listen to you 
Play your love songs
All night long for me
Only for me 

Hm, mungkin bisa diganti staring at TV aja ya, itupun kalau udah beli. Atau ngidupin iPod aja deh, kan aku udah punya. Terus aku nyanyi-nyanyi, kamu ndengerin sampe bete terus ditulis di twitter :))

Come to me now
And rest your head for just five minutes
Everything is good
Such a cosy room
The windows are illuminated
By the sunshine through them 
Fiery gems for you
Only for you 

Tentu saja our windows are illuminated, rumah kontrak kita kan deket daerah tambak ya, gersang pula. Matahari bebas mau masuk kemana-mana. Ntar aku mau urban farming wae lah. Nanem cabe, terong, tomat. Lumayan buat nyambel kalau tanggal tua. Kamu beli tahu tempe di pasar deket ITS. Aku tinggal colokin Miyako aja.

Our house is a very, very fine house
With two cats in the yard
Life used to be so hard
Now everything is easy
'Cause of you
And our la,la,la, la,la, la, la, la, la, la, la..... 

Alhamdulillah... Semuanya harus disyukuri. Hehehe... 

Song: Our House - Crosby, Stills, Nash & Young

Kamis, 03 Januari 2013

Don't Slip Away, My Dear...


Sedang gandrung mendengarkan The Fall, sebuah lagu yang saya kenal lewat twit Dimas Ario. Siang ini kebetulan main-main lagi ke blog mantan personil  Ballads of The Cliche itu, dan yuhu menemukan tiga mixtape terbarunya. Senangnya, lagu milik Rhye, yang juga saya ngga tau itu grup band dari mana, disisipin sebagai closing song dalam salah satu mixtape-nya. Kenapa saya suka The Fall? Ya, simpel saja sih, lagu ini nyaman di kuping saya. 

Ngomongin mixtape saya jadi inget ada salah satu sahabat saya, Nuran Wibisono, yang gemar nyebarin CD berupa mixtape lagu-lagu (yang mewakili perasaannya) untuk gadis-gadis yang lagi disepik, istilah masakini-nya gitu lah ya. Kayaknya sih sejauh yang saya lihat, cara ini cukup manjur. Hahaha...

Saya ketagihan mengunduh mixtape buatan Dimas Ario, sejak 2011 lalu, dari blog seorang teman di Jakarta. Buat saya sih, keberhasilan membuat mixtape bisa dilihat dari 'kebetahanan' pendengar untuk menghabiskan satu set list lagu. Lebih suka lagi, karena kebanyakan lagu-lagu di dalamnya hampir 90% ngga pernah saya kenal. Hingga berulang-ulang didengar pun saya masih malas mencari tahu itu lagu-lagu siapa. Yang penting betah denger aja. Hehehe... Ya, lagu bagus kan relatif sih ya. Sampai awal 2013 ini, Soulular Niggunim adalah mixtape bikinan Dimas Ario yang paling betah yang dengar berulang-ulang. Enak buat nulis, enak buat sekedar ngeliatin TL, kuping tetep rame tapi ga berisik. Eniwei, saya ngga kenal Dimas Ario, pokmen, suka mixtape bikinan dia aja sih! :)) 

Kembali ke The Fall... Hm, kembali apa ya? Ya sudah pokmen don't slip away aja dari pacar-pacar kalian, walopun kadang bosen melanda. :D

Rabu, 13 Juni 2012

Sementara Lupakanlah Rindu




Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti di sini

Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti di sini



PS: 
Judul asli lagu ini "Sementara", judul postingan suka-suka saya.
And yes this is one of my favorite song from Float. 
Thank you buat siapapun yang ngaplot beberapa lagu di #float2nature.

Jumat, 23 Maret 2012

Kucari Kamu


Guys, lagu Payung Teduh yang judulnya Kucari Kamu ini wenak banget! Recommended! Sebelumnya sih saya lebih suka mendengarkan Berdua Saja berulang-ulang. Tapi sekarang saya beralih haluan ke lagu ini. Monggo didengarkan lewat portal MySpace mereka guys, sore-sore sambil ngeteh di balkon, bisa jadi sedap, kecuali kalo liriknya mirip sama yang kalian alami lho yaaaa...

Plis, jangan #makjleb :D

Kamis, 01 Desember 2011

Desember


Dari kamar yang berantakan dan malam penuh lemburan beserta sederet playlist Norah Jones, saya turut mengucapkan, "Hallo, Desember!" 

:)

Minggu, 31 Juli 2011

Know How - Kings of Convenience



Riding on this know-how
Never been here before
Peculiarly entrusted
Possibly that's all

Is history recorded?
Does someone have a tape?
Surely, I'm no pioneer
Constellations stay the same

Just a little bit of danger
When intriguingly
Our little secret
Trusts that you trust me

'Cause no one will ever know
That this was happening
So tell me why you listen
When nobody's talking

What is there to know?
All this is what it is
You and me alone
Sheer simplicity

Selasa, 07 Juni 2011

Zsa Zsa Zsu



a bloody gorgeous man pours bloody mary into my glass
he asked me a couple questions of courtesy
and for god’s sake he stunned me
his voice so sweet like the mellow sound of saxophone
I bet he’s good at sex on the phone

she’s a happy maiden liberty, she got no wrong in her life
twist your head to change your point of view,
I give you my deepest condolences
and who the hell is she? real thing in front of me,
oh I just only see, but my heart is agree
and who the hell is she? real thing in front of me,
oh I just only see, perhaps you’ll find your zsa zsa zsu

we are a perfect match, cause we will become a featured cast
I suppose, I suppose, we supposed

This is a cool video from Rock 'N Roll Mafia, and I'm falling in love with the title! Zsa Zsa Zsu! Awalnya sih saya denger lagu ini versi Katjie & Piering. Uhhh... they great too!!! You can read and hear about Katjie & Piering by clicking this site. Uhm, ngomong apa lagi ya... Ah, ya intinya saya lagi suka Zsa Zsa Zsu baik versi elektroniknya RNRM atau penyajian tradisional ala Katjie & Piering. Yah pokokmen Kedua band Bandung ini keren adanya! Silahkan mendengar karya-karya mereka. :)

And copying from urbandictionary.com, zsa zsa zsu is....
Comes from "Sex and the City", where Carrie describes it as the feeling you get when you meet someone you really really like. That sort of lovey, butterflies feeling when you just want to be with someone.
Carrie: I met this new guy Berger, and I just get that zsa zsa zsu.

Selasa, 22 Maret 2011

Listen to The Traveltune

Nah setelah ngomongin travelmate, marilah kita menyinggung traveltune! Yeay, saya adalah pecinta musik. Everyday is my music day. Including ketika saya melakukan perjalanan. Sebuah mp3 player Creative yang jelas-jelas bukan punya saya, sudah menemani telinga saya hingga kemana-mana (haha! maksudnya ya di Jawa-Jawa situ aja sih). Ngga tau rasanya kurang afdol kalau ngga bawa benda kecil hitam itu turut serta ketika traveling.

Yang sebenarnya saya maksud traveltune di sini bukan lagu tentang perjalanan lho ya. Saya lebih suka mendefinisikan traveltune sebagai lagu yang akan mengingatkan saya pada sebuah destinasi. Ini ga harus dari playlist dalam mp3 aja sih. Kadang bisa bersumber dari pengamen yang kita temui di jalan, dari lagu-lagu absurd yang diputar oleh kondektur bus, dan sebagainya.

Em... contohnya nih, salah satu traveltune yang memorable adalah lagu band Domino yang apalah itu judulnya saya kurang tahu. Pokoknya ada lirik, "aku terperangkaaaap, di antara dua hati, mencintaimu, mencintaimu..."

Lagu ini menjadi 'berkesan' karena mengingatkan saya saat berada di atas KLM Wahyu Akbar, yang kemudian kita sebut sebagai The Rodeo Boat, saat melintas perairan Madura selama 3 jam demi mencapai sebuah pulau kecil penuh sapi bernama Sapudi.

Naik rodeo boat bukanlah pengalaman yang ingin saya ulang. Kapal kayu kecil berkapasitas 50an penumpang sedang beradu perang memecah ombak yang sedang tinggi-tingginya. Kanan kiri merapal doa. Anak kecil mabuk laut, dan seorang ibu gemuk heboh bertakbir keras-keras. Bahkan wanita dewasa di belakang saya beberapa kali tampak menangis. Saya panik dalam diam. Itu adalah tiga jam terlama dalam hidup saya. Saya sebal bukan main karena ngga bisa tidur dan harus mengatur tubuh saya yang melorot naik turun digoyang kapal, mendengar teriakan ibu gemuk tadi, melihat anak kecil muntah dan merasakan mesin kapal yang berkali-kali mati. Tidak terlihat daratan saat itu. Hanya gambaran langit dan laut biru gelap yang berganti-ganti secara kilat dari balik pintu kapal.

Di saat-saat tidak menyenangkan itu, sebuah handphone qwerty milik seorang penumpang, berdering keras memainkan lagu Domino. Suaranya pecah dan mengganggu telinga saya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Saya sedang tidak ingin mendengar lagu apa-apa saat itu, saya cuman ingin segera keluar dari rodeo boat ini. Maka sodara, silahkan ganti lirik 'di antara dua hati' tadi menjadi 'di antara hidup mati'.

Selama ini sih saya beranggapan bahwa dengan mendengarkan traveltune tertentu bisa membantu proses penulisan sebuah catatan perjalanan. Biar emosinya itu bisa dapet gitu ya. Bikin jari kita kesurupan di atas tuts keyboard sambil mendengarkan lagu itu berulang-ulang. Err... sebenarnya ngga harus gitu juga sih, tapiii... itulah yang saya lakukan untuk memperlancar mood menulis. Siapa bilang menulis itu gampang? Apalagi untuk orang 'berbau obat' seperti saya yang dulunya cuman rajin nulis laporan praktikum di dalam berbagai laboratorium kampus.

Tapi apapun itu gunanya, bagi saya traveltune itu semacam dokumentasi juga. Sebuah melodi yang ketika didengar, mampu melemparkan imaji pada memori yang terjadi dalam perjalanan menuju sebuah destinasi. Dari satu memori, lalu menjalar mengingat peristiwa yang lain. Entah itu pada teman-teman yang baru kita kenal, makanan asing yang baru kita rasakan, suasana rumah tempat kita menumpang tidur dan mandi, daaan sebagainya.

Marilah saya ceritakan satu traveltune lagi yang masih fresh from the oven. While My Guitar Gently Weeps, lagu lawas milik The Beatles yang kemudian dinyanyikan ulang oleh Santana bareng India Arie. Lagu ini adalah traveltune saya ketika di Baluran beberapa minggu yang lalu. Sebelum ke Baluran saya belum pernah mendengarnya, meski untuk versi yang lawas sekalipun.

Maka di sebuah kantor kecil nan berantakan, yang malam itu tampak dikuasai oleh seorang petugas pengendali ekosistem hutan bernama Swiss Winasis, adalah pertama kalinya saya mendengar lagu ini diputar berrrrulang-ulang. Kala itu, saya memaksakan diri untuk tidur di sebuah sofa setelah dijejali berbagai cerita horor oleh Mas Swiss, yang tragisnya, terjadi di seputar kantor tempat saya akan menghabiskan malam. Heuhuhu... Saya sebal sekaligus merinding bukan main. Langsung memasang mp3 player di kuping dan (pura-pura) tidur. Padahal masih ada satu cerita puncak yang kepengen buanget dia ceritakan katanya. Grrrr... Ngga minat! Akhirnya dia menyerah, dan kembali pada laptop dan sebotol temulawaknya, yang semula saya kira minuman keras karena warnanya mirip, haha.. Ditemani oleh istri terbarunya, Mbak Ismi, Mas Swiss mengerjakan tugas kantor sambil terus-menerus memutar lagu Santana ini, sampai saya hapal nadanya dalam beberapa jam saja.

Yaudah jadinya sekarang kalau saya ngedengerin lagu While My Guitar Gently Weeps ini langsung keinget suasana kantor PEH Baluran dan dua teman baru saya itu. Kapan-kapan kudu nulis chapter tentang a lovely wildlife couple, Mbak Ismi dan Mas Swiss di blog ini. Yes! Semoga ngga dibaca sama mereka nanti, haha!

Oke deh sekian dulu tulisan saya yang ngga mutu ini, kalau terus-terusan ngomongin traveltune ya bisa panjang dan sudah pasti bakal ngebosenin. Jangan remehkan tiap nada yang Anda dengar selama perjalanan, karena itu bisa menjadi automatically reminder yang mungkin suatu hari berguna. And I believe that every journey has its own song. Yah kecuali Anda pelupa berat dan kurang peka sama bunyi-bunyian. Oke, selamat mendengarkan traveltunes favorit! Selamat bernostalgia kembali.

:)


Senin, 21 Maret 2011

Karena Naif Cuma Satu


Oh yes, saya lagi suka banget sama lagu terbarunya Naif. Liriknya sih sebenernya mengandung berbagai gombalism (yang saya suka! haha!), tapi ya lagu ini simpel banget, easy listening juga, jadi dengan mudah bisa nyantol di otak. Dan semakin naksir ketika melihat tone colour video klipnya! Dreamy abisss... Haha, yo jangan heran dan jangan bosen, saya emang gampang jatuh cinta sama gambar-gambar dreamy feel. Anw, David Naif ternyata tambah berumur tambah ganteng ya? :)

Senin, 28 Februari 2011

The Scientist

"Kamu tau arti arti lagu ini?" tanya saya pada seorang teman, pagi tadi ketika secara tidak sengaja mendengarkan intro lagu Coldplay.

"Ya taulah. Scientist kan ilmuwan," jawabnya, setelah beberapa saat sebelumnya dia menjelaskan tentang detil kemunculan lagu ini dalam salah satu scene film Wicker Park.

Sungguh temen saya ini udah terkenal cerdas lho, sodara-sodara, tapi ya anak TK yang sekarang belajar bahasa Inggris juga ngerti kalo Ilmuwan itu bahasa Indonesia dari Scientist. Dan film bergenre seperti Wicker Park tentu tidak akan menampilkan Scientist, jika arti lagu ini benar-benar tentang "Ilmuwan". Setelah saya ngikik mendengar jawabannya, dan setelah temen saya bete melihat kelakuan saya, barulah saya kasih satu keyword tentang salah satu lagu favorit ini; broken heart. Mari kita tilik liriknya, dan biarkan saya sok-sok bisa menganalisa makna di balik tiap katanya.

Come up to meet you
Tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you
Tell you I need you
Tell you I set you apart
Tell me your secrets
And ask me your questions
Oh, let's go back to the start
Running in circles
Calling tails
Heads on a silence apart

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start

Oke, yang bisa saya tangkep dari bagian lirik ini, ada seseorang yang menyesal setelah melakukan kesalahan kemudian putus hubungan dengan kekasihnya. Namun, dia menyadari bahwa patah hati itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilewati, terlebih ketika dia sebenanya masih sayang gitu ya sama mantannya. "You don't know how lovely you are." And he (anggap saja pemeran utamanya adalah cowo, biar gampang nyebutnya) really needs to find her, say sorry, then back to the start again.

I was just guessing
At numbers and figures
Pulling the puzzles apart
Questions of science
Science and progress
Did not speak as loud as my heart
Tell me you love me
Come back and haunt me
I want to rush to the start
Running in circles
Chasing tails
Coming back as we are

Nobody said it was easy
Oh, it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start

Nah, baru nih di bagian ini, si cowo berusaha memperbaiki hubungan dengan menjelaskan berbagai logika permasalahan yang mereka hadapi. But science didn't speak as loud as his heart. Mungkin si Chris Martin menggunakan perumpamaan "Science", untuk menjelaskan sesuatu yang irreversible jika ternyata tidak berjalan dengan baik. Bisa terlihat juga kan dari official video lagu ini yang bergerak mundur. Sesuatu yang harus dijalani dan diperbaiki dari awal lagi untuk mendapatkan ending yang benar-benar diinginkan.

Oke, demikian ceracauan saya yang kacau hari ini tentang The Scientist. Anyway, selamat mendengarkan Coldplay :)

Kamis, 24 Februari 2011

Mabuk Laruku

Ketika saya tinggal di Jogja beberapa hari, tepatnya di kamar kosan adik sepupu, saya selalu tidak diizinkan untuk mendengarkan playlist yang 'saya banget'. Sebut saja, John Mayer atau Coldplay. Dua penyanyi favorit saya, yang selalu tersedia di playlist mp3 player maupun Winamp. Namun sdik saya bilang, lagu-lagu mereka bikin ngantuk, ngga cocok diputer keras-keras di dalam kamarnya. Haram.

Tempat kosan ini sebenernya bersifat turun-temurun. Kakak sepupu saya pernah tinggal sekitar 12 tahun lalu, kemudian disusul kakak kandung saya di tahun 2000, nah kemudian giliran si Apin, adik sepupu saya merupakan generasi ketiga yang menempati kosan Pringwulung ini. Karena masih sering menjadi tempat persinggahan ketika di Jogja, maka hardisk komputer Apin juga menyediakan file-file dari kakak sepupu dan kakak kandung saya, terutama lagu-lagu.

Saya selalu mendengarkan banyak lagu 'baru' yang everlasting banget di kamar ini. Sebut saja Dream Theater. Lebaran tahun lalu, saya dicekoki lagu Count of Tuscany yang durasinya sembilan belas menit itu! Beberapa bulan setelah itu, saya 'kerasukan' Wishful Thinking-nya John Petrucci yang terus-terusan di puter di Jet Audio komputer Apin. Nah, pas kemarin saya ke Jogja dalam rangka nonton Grebeg Maulud, lagi-lagi saya didoktrin untuk mendengarkan berbagai greates hits-nya Bon Jovi dan satu lagu Laruku. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, berbagai playlist 'aneh' itu akhirnya juga menjadi favorit saya sampai pulang ke Surabaya.

Salah satunya ya Laruku ini, dalam 2 hari saya bisa memutar hingga 30-an kali. Haha! Saya beneran mabuk Laruku! Sudah lama juga ngga mendengarkan lagu-lagu mereka, terakhir sepertinya SMP ketika saya banyak bergaul dengan Rere, teman saya pecinta berbagai manga dan lagu band Jepang. Pas SMP dulu juga, berbagai serial drama Jepang di TV mulai menjadi tontonan favorit saya, kayak Beach Boys, Anchor Woman, Beautiful Life daaaan sebagainya.

Maka ketika mendengar lagu Laruku ini untuk pertama kalinya, gendang telinga saya pun merespon dengan cukup baik. Saking baiknya hingga saya replay terus dan bikin adik saya, si empunya komputer, geleng-geleng kepala. Ini seperti nostalgia masa SMP, ketika masih doyan mendengarkan berbagai J-Pop soundtrack kartun dan serial drama.

Lagu Hitomi No Juunin ini kalo dalam bahasa Inggris artinya In Your Eyes, yeah... agak-agak gimana gitu ya kalau dilafalkan dalam bahasa Jowo Suroboyoan, hehe... Dan saya ngga tau apa ini official video-nya atau bukan, tapi yaaa silahkan mencoba untuk streaming dan menikmati lagu yang easy listening ini :)




Oke, ini potongan liriknya yang sangat cocok digunakan untuk merayu pasangan :)

I want to be by your side forever, gazing at your smile
I want to live each changing moment in your eyes
If one day I can take you out to a brilliant season
To where the flowers are, blooming in the sky like snow...

Selasa, 03 Agustus 2010

Thanks, The Adams!!

So, terima kasih banyak telah menemani saya menjelang sidang semalaman. Saya ngga bisa berhenti ikutan nyanyi tiap lagu 'Gelisah' kalian mampir di kuping saya. Lagu yang lucu, beat-nya enak, dan cocok untuk suasana hati saya. Cuman bedanya, kalian gelisah karena si pacar ngga bales sms, sedangkan saya, gelisah karena besok (baca: pagi tadi) harus melaksanakan ibadah sidang akhir profesi. :)

Selasa, 27 Juli 2010

Prisoner of Love


Saya inget dua tahun yang lalu udah niat ngedonlot lagunya Utada Hikaru yang Prisoner of Love ini, hahaa tapi ya kok lupaaa. Kebetulan beberapa waktu yang lalu, saya YM-an sama seorang temen, Rere. Kami berdua iseng-iseng ngobrolin mbak Ueno Juri. Lalu, tring!! Saya inget lagu ini, dan langsung saya unduh saat itu juga. Sekalinya saya pasang di playlist, langsung pake mode repeat track seharian, wehehe... Sebenernya saya bukan penggemarnya Hikki banget sih, paling ya suka sama beberapa lagunya kayak First Love, Sakura Drops, gitu-gitu aja...

Nah, kebetulan si Prisoner of Love jadi sontrek dorama Jepang yang judulnya Last Friends. Bukan dorama haha-hihi. Sudah bisa terlihat dari posternya kan?? Nah, kebetulan temen saya, si Rere lagi tergila-gila sama Nodame Cantabile, yang dimainkan oleh Ueno Juri tadi. Dia berperan jadi cewek manis tapi dodol dengan bakat luar biasa sebagai pianis. Kalo udah pegang tuts piano, dia kayak hidup di dunia lain.

Kebetulan saya nonton Last Friends duluan daripada Nodame Cantabile. Di sini saya jadi gegar-Ueno Juri. Kenapa??? Karena Last Friends sendiri adalah dorama tersadis yang pernah saya lihat. Ceritanya juga sangat kompleks. Lah kok si mbak Juri itu maen jadi tomboy, pembalap motor, lesbian pula... Mwahhaha, makanya beruntunglah si Rere yang belom nonton Last Friends. Ngga bakal ilfil duluan, kayak pengalaman saya. Eh, tapi beberapa orang bilang si Juri jadi kelihatan ganteng banget di film ini, hehe... Yaaah gantengnya orang Jepang, ganteng-ganteng cantik gitu... Pretty Boys...

Oya, di Last Friends juga ada Nishikido Ryo. Jangan bayangkan dia jadi cowo melankolis lagi kayak di Ichi Rittoru No Namida. Si Ryo berperan sebagai pacar sadis, psycho, sarkas, suka ngegampar cewe, trus kalo mo ditinggal si cewe, dia nangis-nangis kayak anak kecil. Pokoknya dia menjadi lelaki yang sangat menganggu, walopun udah ditolak berkali-kali sama si cewe.. Saya jadi agak ilfil juga sama si Ryo :D Yahh walopun agak males-malesan nontonnya, karena ngga ada lucu-lucuannya sama sekali, tapi selese juga 11 episode Last Friends itu. Hehe... Akting mereka bagus sih, sadisnya naujubilaah!!

Hm, kalo Prisoner of Love mungkin menggambarkan isi hati Ruka (Ueno Juri) kali ya.. Yah dia kan lesbian, sedangkan si cewe yang ditaksir cuman menganggap Ruka adalah teman terbaiknya yang selalu bisa diandalkan kapan saja. Ruka sendiri adalah tipikal orang yang 'tidak memaksakan', yang penting orang yang dia cinta itu bisa bahagia, walopun dengan orang lain, maka Ruka sudah bisa lega. Lega tapi miris.

Eh iya, isi lagu si Hikki ini jadi agak dangdut kalo ditranslet ke bahasa Indonesia...


"aku tahanan cintaaa... tahanan cintaa..." :p

Hm... ini postingan sebenernya ngomongin apa siih?? Wkkkwkw...

Sabtu, 26 Juni 2010

Love Letter To Japan


Sudah pernah mendengarkan Love Letter To Japan-nya The Bird and The Bee?? Lagu yang mirip soundtrack film Shaolin ini sangat menghibur dikala bete melanda. Terbukti dua temen kosan saya yang lagi ngga waras sejak pagi, sudah teracuni dengan melakukan senam kesegaran jasmani orang gila diiringi lagu ini. Sungguh tontonan yang menyegarkan sekaligus memprihatinkan.

西から東へと
(Nishi kara higashi heto)

あなたのところにとんできたの
(anata no tokoro nitondekitano)

遠い道のりをあなたのそばにいたくて
(touimishinori oh anatanosoba ni itakute)

この思いをすべて
(kono omoi oh subete)

あなたにささげます
(anata ni sasagemasu)


Artinya?? Ndak tau.
:D

Rabu, 09 Juni 2010

Mendengarkan Mereka Lagi :)

Semalem saya menata ulang hardis laptop saya yang berantakannya minta ampun. File foto, mp3, kuliah. Tiga itu beserta anak-cucunya yang geletakan dimana-mana. Terhitung sejak masuk kuliah profesi pertengahan 2009 lalu sepertinya kehidupan laptop ini agak semrawut! Uda overheating, tak punya baterai pula, bagaikan pasien cancer yang selama hidupnya tergantung obat, maka laptop saya tak akan menyala sedetik pun tanpa colokan listrik!

Dan karena semua itu akibat ulah saya sendiri [keranjingan nge-game The Sims, sampe batere drop!], saya berusaha berdamai dengan laptop ini. Bagaimana pun jasa-jasanya selama saya kuliah tidak bisa dibayar dengan materi saja.

Karena saya sedang menabung demi menginjakkan kaki di pasar tradisional Marrakesh [hohoho], maka saya tidak bisa menyisihkan uang jajan untuk membeli baterai laptop. Dari dulu juga ngga pernah sih sebenernya, hahaa... Yaaah saya putuskan untuk menata 'daleman'nya saja, this is the best i can do. Saya melek-melekin mata ini sampe jam tiga pagi semalam.

Dan tahu apa yang saya dapat?? Playlist winamp saya berubah total. Lupakan Belle and Sebastian, ERK, dan Alicia Keys, beserta segerombolan sontrek-sontrek film Hollywood yang selalu saya putar.

Saya mendengarkan kembali lagu-lagu yang sudah lama terkubur ini :p

Twentyfirst Night - Mungkin.
*Oh, vokalisnya ganteng! :D

Ipang BIP - Sekali Lagi
*Lagu keren ini menjadi soundtrack empat film pendek yang diperankan oleh para bintang iklan sabun Lux. Kebetulan lagu ini dipasang pada bagian filmnya Dian Sastrowardoyo dan si ganteng tapi udah laku, Christian Sugiono. Filmnya bagus, romantis, hooho... settingnya di kereta.
FYI, yang ini benar-benar FILM! Bukan 'film bintang Lux lain' yang lagi hueboh setengah mati itu, you know what and you know who.

Dewi Lestari - Simply
*You simply inspire me

Saras Dewi - Lembayung Bali
*Saya sendiri belum pernah tahu bagaimana wajah si Mbak bersuara merdu ini, tapi overall, this is a very beautiful song...

Slank - Juwita Malam
*Saya dengar ini setelah nonton Banyu Biru beberapa tahun yang lalu. Lagu lama yang dinyanyikan kembali oleh Slank dengan asik sekali...

Yap, winamp saya sekarang hanya berisi lima lagu itu. :)


Sabtu, 05 Juni 2010

True Colors


Sedang mendengarkan tante Cyndi Lauper dengan True Colors-nya. Lagu ini menjadi closing song di sekuel Sex and The City yang baru saya tonton beberapa jam yang lalu.

...

if this world makes you crazy
and you've taken all you can bear
you call me up
because you know I'll be there

your true colors are beautiful
like a rainbow

...

mungkin karena akhir-akhir ini saya lagi crazy campur unwell, lagu ini cukup mengena di hati, nyindir saya yang sebenernya pengen sembuh dari penyakit gila yang ga jelas ini.
I want my true colors back...

+__+

Senin, 31 Mei 2010

Carry You Home


Korban mode-repeat-track saya kali ini jatuh pada Carry You Home-nya James Blunt, hehe... Lagu ini sebenernya sudah saya punya lamaaa sekali, biasanya saya puter berbarengan dengan 1973, Same Mistakes and the famous- You're Beautiful. Tapi semalem saya mendengarnya lagi menjadi backsound di My Sister's Keeper. Weh, lagu yang sangat pas sekali untuk film ini... terutama pada bagian I'm watching you breathing for the last time... huaaaa... seakan ada bayangan Kate Fitzgerald yang lagi sekarat di depan saya +__+

Jumat, 30 April 2010

The Monophones and The Others

Beberapa hari yang lalu, saya ngga sengaja menemukan folder The Monophones di dalam hardisk external saya. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada nama foldernya, The Monophone – A Voyage to the Velvet Sun. Saya ngga tau itu siapa atau apa. Saya juga sudah lupa siapa yang ngasih folder itu. Yahhh.. hardisk saya itu suka kelayapan kayak yang punya. Pulang-pulang free space-nya sudah berkurang. Well, ternyata folder itu mengandung tujuh lagu. Okelah, saya mulai pasang telinga baik-baik, untuk memutuskan perlu dihapus atau ngga dari hardisk.


Terus terang saya ngga mendengarkan intro, langsung saya skip ke next track. Sepertinya saya terpengaruh temen kosan saya, Rina, yang suka bawel kalau dengerin lagu isinya kebanyakan suara musik daripada suara manusia.


Ketika mendengarkan lagu berjudul Mentari, saya langsung bisa menerka band ini pasti bergenre retro. Menurut saya menjadi lagu pertama dalam suatu album itu kedudukannya sangat penting! Sebagai pembuka, dia harus punya kemampuan menggoda pendengar untuk melanjutkan ke lagu berikutnya. Dan menurut saya, The Monophones melakukannya dengan baik dan benar, hoho... Then, lanjut ke track berikutnya, lagu yang memiliki judul sama dengan album, A Voyage to the Velvet Sun. Waaaw, lagu ini bikin saya menaikkan volume speaker laptop, haha... Lagu ini bikin saya pengen nyanyi juga. Langsung saja saya masuk google, tapi agak susah juga sih nyari liriknya... Dari browsing itu juga saya baru tahu kalau The Monophones ini band indie dari Jogja dan album ini sudah dikeluarkan sekitar tiga tahun lalu, hahaaa... Bel masuk sekolah udah bunyi tapi saya masih selimutan di kasur, wokelah... saya telat!


Begitu dapet liriknya, lagu ini saya repeat terus sampai saya hapal. Hahaaaa... Dan ngga tahu gimana, semakin dibaca, saya semakin inget dengan perjalanan dua sahabat saya yang intelek tingkat tinggi tapi unfortunately masih berprofesi sebagai jobseeker. Walopun udah dilempar kesana kemari, mengikuti berbagai interview dan seperangkat model tes masuk, di dalam dan luar pulau, menghabiskan banyak ongkos, banyak tenaga, yang ngga bisa dipungkiri kadang membuat mereka masuk ke zona saturasi, tapi temen-temen saya ini anti-desperate dan gooo ahead!!


I will wait until the sun won't be shining

I will wait until the earth stop turning

I will wait until the stars gone glimmering

And when has come the time

I'll standing till the end


Memasuki track 4. Volume laptop yang emang lagi keras itu mendadak saya kecilkan. Kaget aja lagu Rain of July itu intronya udah jadul, melas banget lagi. Huhu… Dalam bayangan saya, ada lelaki mirip Rano Karno pas masih gondrong dan langsing, berdiri di tengah derasnya hujan dengan wajah jadul yang suram dan nelangsa, di depan rumah seorang perempuan yang mirip Yessy Gusman. Si (mirip) Yessy cuman bisa ngeliat si (mirip) Rano dari balik jendela dengan tatapan merana. Ya, percintaan mereka ngga disetujuin ama tetangga si (mirip) Yessy. Hm, settingnya itu tanggal 4 Juli aja lah… Kenapa? Karena tanggal 5-nya, saya ulang tahun, jadi cuaca harus cerah. Mwahahaaa… bagus sekali film produksi otak saya. Tapi serius, ini lagu gloomy tapi enak. Yap, enak! Padahal kesan pertama adalah aneh. Tapi begitu mendengarkan lebih lama, saya yakin akan mengulang lagu ini berkali-kali dengan volume max. Hahaa... en I did it. Dengarkan juga versi akustiknya di track terakhir, wiiih… kali ini si (mirip) Rano ngga cuman berdiri nelangsa aja, tapi udah ngesot bawa-bawa silet.


Sejak Naif mengeluarkan lagu Mobil Balap, saya mulai suka sama band, kebanyakan berlabel indie, yang membawakan nada jadul. Walopun saya suka musik retro abad 21, tapi anehnya saya bukan penggemar berat The Beatles, Koes Plus, apalagi Elvis Presley, padahal katanya mereka itu para dewa retro.Tapi jauh dari playlist winamp saya hehe… Saya baru benar-benar mendengarkan The Beatles ketika nonton film Across the Universe.


Baru-baru ini saya juga mendengarkan kompilasi Day to Embrace (yang rilisnya sudah bertahun-tahun lalu juga). Di situ ada sebuah track yang hobi saya puter berulang-ulang, judulnya Ode tentang Kecantikan dari Greats. Nah, band dari Surabaya ini juga bau-bau retro. Tapi beda banget sama si The Monophones. Makanya mendadak saya jadi penasaran, sebenernya ada berapa aliran retro sih di dunia ini??? Apalagi saya juga hobi ngedengerin yang lain kayak The Banery, White Shoes and The Couple Company, Sore, dan band-band lain yang saya kira retro tapi ternyata bukan, atau sebaliknya… Hehe..


Nah, dari situ yang bikin saya ngga paham, sebenernya batas sebuah band disebut retro itu kayak gimana? Apakah penampilan di panggung harus pake celana cutbray, kemeja press bodi, kacamata polisi Amrik, atau yang cewe pake rok sampe di atas pinggang? Atau dari segi sampul album, harus mengusung tema pop art kayak The Monophones ini atau Mesin Waktu-nya Naif? Gimana cara menentukan apakah si band ini retro atau ngga tanpa melihat profilnya di MySpace?


Maka, saya, dengan iseng hati dan kurang kerjaan nanya temen yang cukup kompeten dalam bidang ini, disamping bidang kefarmasian tentu saja hehe… Begini, dia bilang, ngga ada pakem buat sebuah band untuk dibilang retro, cuman ada pattern tertentu yang khas sound retro. Walopun retro itu banyak cabangnya, tapi secara umum, retro tuh ada aliran good boy atau retro pop seperti White Shoes, en sepertinya The Monophones juga kayak masuk ke sini sih. Ada juga bad boy atau retro rock en roll kayak Elvis gitu, di sini sound gitar biasanya lebih ke drive atau grunch. Nah kalo si good boy, biasanya rajin pake nada-nada minor terus dinyanyiin secara lay back.


Apa itu drive?? (Anjie Drive?? Sheila Marcia??) Apa itu grunch?? Apa lagi itu lay back??


Saya lebih bisa merasakan daripada memahami pengertiannya hahaa… intinya saya ngga ngerti kata-kata itu, tapi sesuai instruksi teman saya: bandingin aja Mobil Balap versi Naif dengan versinya The Brandals… Naaah, baru dari situ saya bisa merasakan, oooh grunch tuh kayak gini, oooh pattern-nya rock en roll retro tuh kayak gitu…


*Mwhaahaa, ini sok tahu tingkat tinggi, sodara! Jangan percaya!*


Ada lagi tuh retro swing, hm kalau dari bau-bau namanya, ini pasti jazz jaman dulu. Tapi (kata dia lagi) biasanya tiap band retro malah menamai aliran mereka sendiri. Retro apaaa gitu, retro gloomy, retro keroncong, atau Retro Karno mungkin, hahaaa... Yah itu kalau saya yang bikin band.


Saya pernah baca, Naif sendiri ngga pernah mengkotak-kotakkan musik mereka harus retro, tapi mereka merasa nyaman saja dengan nada seperti itu. Nah, mungkin si ’nada seperti itu’ lah yang keluarnya menjadi sebuah sound vintage. ’Nada seperti itu’ juga yang mungkin dimaksud si temen saya tadi sebagai ’pattern khas’. Widddihhh... saya emang excellent with morality!


Oke, jadi maksud dari postingan ini adalah saya sedang suka The Monophones karena bisa memainkan ’nada seperti itu’. Saya ngga mau tau itu termasuk pop–retro atau swing-retro atau retro yang lain, hehe... Intinya kalau ada lagi lagu yang jatuhnya seperti nada itu, pasti nasibnya akan seperti Rain of July: saya putar berulang-ulang.



Thanks to Gami, teman kuliah saya, seorang vokalis band lokal beraliran rock n roll jadoel, yang jam terbang manggungnya sudah ngga bisa dihitung lagi, padat merayap, eh pernah muncul di Arek TV juga! *ihiiiiiiy, masuk tipi reeek…*

Good luck for ur band, and be hepi in Bandung with ur lovely motorbike, Mbah Koong :)