Senin, 28 Februari 2011

The Scientist

"Kamu tau arti arti lagu ini?" tanya saya pada seorang teman, pagi tadi ketika secara tidak sengaja mendengarkan intro lagu Coldplay.

"Ya taulah. Scientist kan ilmuwan," jawabnya, setelah beberapa saat sebelumnya dia menjelaskan tentang detil kemunculan lagu ini dalam salah satu scene film Wicker Park.

Sungguh temen saya ini udah terkenal cerdas lho, sodara-sodara, tapi ya anak TK yang sekarang belajar bahasa Inggris juga ngerti kalo Ilmuwan itu bahasa Indonesia dari Scientist. Dan film bergenre seperti Wicker Park tentu tidak akan menampilkan Scientist, jika arti lagu ini benar-benar tentang "Ilmuwan". Setelah saya ngikik mendengar jawabannya, dan setelah temen saya bete melihat kelakuan saya, barulah saya kasih satu keyword tentang salah satu lagu favorit ini; broken heart. Mari kita tilik liriknya, dan biarkan saya sok-sok bisa menganalisa makna di balik tiap katanya.

Come up to meet you
Tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you
Tell you I need you
Tell you I set you apart
Tell me your secrets
And ask me your questions
Oh, let's go back to the start
Running in circles
Calling tails
Heads on a silence apart

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start

Oke, yang bisa saya tangkep dari bagian lirik ini, ada seseorang yang menyesal setelah melakukan kesalahan kemudian putus hubungan dengan kekasihnya. Namun, dia menyadari bahwa patah hati itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilewati, terlebih ketika dia sebenanya masih sayang gitu ya sama mantannya. "You don't know how lovely you are." And he (anggap saja pemeran utamanya adalah cowo, biar gampang nyebutnya) really needs to find her, say sorry, then back to the start again.

I was just guessing
At numbers and figures
Pulling the puzzles apart
Questions of science
Science and progress
Did not speak as loud as my heart
Tell me you love me
Come back and haunt me
I want to rush to the start
Running in circles
Chasing tails
Coming back as we are

Nobody said it was easy
Oh, it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start

Nah, baru nih di bagian ini, si cowo berusaha memperbaiki hubungan dengan menjelaskan berbagai logika permasalahan yang mereka hadapi. But science didn't speak as loud as his heart. Mungkin si Chris Martin menggunakan perumpamaan "Science", untuk menjelaskan sesuatu yang irreversible jika ternyata tidak berjalan dengan baik. Bisa terlihat juga kan dari official video lagu ini yang bergerak mundur. Sesuatu yang harus dijalani dan diperbaiki dari awal lagi untuk mendapatkan ending yang benar-benar diinginkan.

Oke, demikian ceracauan saya yang kacau hari ini tentang The Scientist. Anyway, selamat mendengarkan Coldplay :)

Minggu, 27 Februari 2011

Belanja Terus Sampai Mati*

Saat itu bulan puasa Ramadhan memasuki hari kelima belas. Pukul sepuluh pagi saya dengan malas melajukan motor menuju Jembatan Merah Plaza (JMP) ditemani Yayas, seorang teman kuliah dan anak hakim terkenal. Semalam Ibu saya sms, mengingatkan saya untuk membeli dua pasang mukena di JMP untuk hadiah lebaran Mbak yang bantu-bantu di rumah Jember.

Sebenernya tugas itu sudah jamuran umurnya. Saya enggan sekali memasuki pusat perbelanjaan di bulan puasa, terutama seperti Jembatan Merah Plaza, mall favorit ibu saya. Selain jauh dari tempat kosan, pukul lima sore JMP sudah nutup. Dan itu memaksa saya untuk pergi pagi-pagi sekali atau sore sekali demi menghindari macet dan gerahnya Surabaya. Alasan lain, tentu saja karena saya ngga tahan melihat orang sebegitu banyaknya berdesak-desakan, kayak penampakan segelas dawet ayu. Mereka memenuhi stand-stand diskonan main obok-obokan berebut barang bagus dengan harga miring.

Pusing ngeliatnya.

Beberapa tahun terakhir, ketika sudah mulai memahami sifat-sifat kota Surabaya, saya sangat menghindari pusat perbelanjaan di manapun dia berada ketika Lebaran sudah dekat. Entahlah menurut saya itu sama saja dengan mengurangi pahala puasa. Begini, Surabaya itu sudah ditakdirkan menjadi kota yang serba gerah. Bangun tidur, badan gobyos kayak abis nguli. Siangan dikit, kamar kosan berubah jadi sauna. Mau keluar, mata silau banget kena matahari. Biasanya saya mencari cara yang efektif dan efisien yaitu dengan menjadi pecinta kampus walaupun ngga ada kuliah. Dari pagi hingga sore menjelang, saya akan di kampus. Di ruang baca terutama, karena di sana, saya ngga akan kekurangan stok AC. Adem.

Nah, menembus matahari demi belanja pada H minus dikit Lebaran, adalah tindakan yang kurang bijaksana. Terutama kalo Anda sekalian pengguna motor dan angkutan umum. Dehidrasi akan melanda kerongkongan yang kering seperti minta diguyur segelas es teler. Bete satu. Sampai mall, parkiran penuh. Bete dua. Masuk ke dalam mall, begitu mau bayar, antre panjang kayak main ular tangga. Bete tiga. Males antre, batal lah baju baru dibeli. Bete empat. Kebanyakan menggerutu, puasa pun berasa ngga afdol. Bete lima.

Tapi toh, akhirnya tiba juga saat yang tidak dinantikan itu. Saya dan Yayas sengaja berangkat ’lebih pagi’ untuk menghindari panas dan macet. Tapi pukul sepuluh pagi, Surabaya sudah cukup matang. Antrean parkir motor sudah panjang. Apakah sedang terjadi transmigrasi dadakan di dalam pusat perbelanjaan di kawasan Kota Lama Surabaya itu?

Suasana di Tunjungan Plaza tidak jauh beda. Yang membedakan cuman kenyamanan tempat saja. Di JMP gerah, di TP dingin. Gerai-gerai toko baju, tidak pandang merk, berlomba-lomba menampilkan koleksi Idul Fitri di etalase. Berbagai pernak pernik berbau Ramadhan dipasang untuk mendukung suasana. Box-box baju diskon menjadi tempat keramat yang selalu ramai akan pembeli.

Maka tulisan ini juga lebih afdol dengan mendengarkan lagu jaman baheula yang dibawakan oleh Dhea Ananda. Entah judulnya apa, saya lupa. Yang jelas lirik di dalamnya bagaikan obat bius bagi anak-anak kecil macam saya saat itu. Bunyinya seperti ini: baju baru... Alhamdulillah... tuk dipakai di hari raya...

Ohh ya ya, saya ngga mau sok-sok ngga suka kalo dibeliin baju baru. Saya malah hobi merengek kepada ibu untuk melaksanakan ritual cari-baju-untuk-sholat-Ied. Untung di kota kecil yang terbina itu ada sebuah department store yang cukup kece pada jaman saya masih pake seragam merah putih. Memakai segala sesuatu serba baru dan bagus pada saat hari raya rasanya seperti benar-benar terlahir fitri kembali walopun puasanya setengah hari. :p

Beberapa mall bahkan menggelar midnite sale menjelang akhir bulan puasa. Barang branded tapi mahal, itu uda klise, sopir angkot juga ngerti. Nah, kalo dapet branded dengan harga miring, itu baru namanya prestasi. Saya pernah satu kali ikut-ikutan ritual berburu diskon dini hari. Wiih, suasana belanjanya lebih magis daripada jam normal. Antre kasirnya sadis pula!! Just like there’s no tomorrow...

Yah, rupanya, beberapa setan masih belum benar-benar terpenjara di bulan Ramadhan. Simak saja sebagian lirik Efek Rumah Kaca ini: Atas bujukan setan, hasrat yang dijebak jaman, kita belanja terus sampai mati.

Saya juga ngga paham sejarah awalnya, hingga belanja menjelang Lebaran (mungkin) bisa disejajarkan derajat pahalanya dengan melakukan Sholat Taraweh full selama satu bulan Ramadhan. Rayuan gombal diskon mungkin lebih berasa efeknya ketimbang bujuk manis pria picisan mana pun. Kalau udah ngeliat diskonan, yang ada tuh barang yang semula ngga butuh, jadi ’dibutuh-butuhkan’. Itu manusiawi menurut saya, hehee... maka yang kuat iman adalah yang menang.

Kecuali profesi Anda setenar pedangdut Dewi Persik, kalo dipikir-pikir lagi, siapa sih yang bakal memperhatikan kostum kita sampe sebegitu detilnya? Memakai model apa? Payet yang gimana? Desainernya siapa? Tapi banyak yang ngga peduli tuh, buktinya mall-mall masih sangat rame tiap Lebaran datang. Rasa puas terhadap diri sendiri mungkin lebih penting daripada pandangan orang lain. Kalau ada yang perhatian, anggap saja itu bonus.

Bisa jadi, ini semua karena efek THR. Saat zakat sudah dikeluarkan, dan dompet masih dirasa tebal, maka pelampiasannya bisa dengan belanja. Apalagi bila dihubungkan dengan mudik di kampung. Mari kita bicara kampung dalam konteks sebenarnya. Kalo Anda bekerja di Jakarta, lalu berkata akan mudik ke ’kampung’ Surabaya, ya itu namanya kebohongan publik.

Saya ambil satu kisah. Bulan puasa lalu seorang Tante saya, yang terkenal rock en roll abis, mudik ke sebuah desa kecil di sekitaran Ternate bersama seorang putrinya, via kapal laut dengan bawaan sebanyak delapan belas koper!! Yap, dua perempuan dan delapan belas koper.

Konon, desa pesisir di Ternate sana, tempat kelahiran beliau ini, memang tidak pernah terjamah oleh investor-investor shopping centre. Lah wong sinyal henpon aja datang dan pergi sesukanya. Nah, maka dari itu, Tante saya ini selalu membawa oleh-oleh dari Jawa, dari Darmo Trade Centre lebih tepatnya. Berbagai pakaian, mukena, sarung, sepatu, kerudung, siap ditebar secara cuma-cuma untuk keluarga besar di sana.

Bisa saya bayangkan ketika semua koper dibuka, serempak seluruh keluarga berhamburan menanti jatahnya. Nah, menurut saya, ini baru yang namanya belanja Idul Fitri, belanja untuk membahagiakan sanak saudara dengan ikhlas. Bagi beliau, ribuan kilometer yang ditempuh, ditemani dengan delapan belas koper, terombang-ambing di atas laut lebih dari tiga malam bukanlah masalah gawat. Melihat sang ibunda yang sudah ompong tertawa bahagia menggunakan mukena baru hasil jerih payah beliau bekerja di Jawa, maka delapan belas koper rasanya mungkin seringan menggendong satu backpack.


*Judul postingan ini diambil dari sebuah lagu Efek Rumah Kaca - Belanja Terus Sampai Mati

Jumat, 25 Februari 2011

Let's Talk About Dream (part 2)

Lagi-lagi, harus saya akui bahwa saya naksir tulisan Mas Luthfi Nur Rosyidi! Saya pernah lho mencoba untuk menulis sesuatu yang nonjok abis seperti ini, tapi yaaa... setiap manusia diberi kelebihan dan kekurangan masing-masing, harap maklum kalau pada akhirnya yang bisa saya lakukan cuman kopas saja. Saya emang kroco tulen.

Entahlah, tulisan-tulisan kayak gini, lagi happening banget dalam diri saya. Sesuatu yang menyangkut dare to dream, work hard, learn more dan sebagainya. Makanya ngga butuh waktu lama untuk menyukai tulisan yang baru di-publish 2 hari lalu ini. Apalagi menurut Mas Luthfi, tulisan ini merupakan kelanjutan dari versi sebelumnya, yang juga sempat saya posting di sini. Pada chapter ini, beliau menulis tentang keberanian seorang sahabat ketika harus dihadapkan pada kenyataan untuk membunuh mimpinya sendiri.

Entah kebetulan atau tidak, seminggu yang lalu dalam perjalanan menuju Surabaya dari Jogja, sahabat saya, Nuran Wibisono, pernah berkata, "Orang yang paling jahat adalah mereka yang membunuh mimpi orang lain."

Nah, lantas bagaimana jika diri kita sendiri yang ternyata 'harus' membunuh mimpi? Karena, lagi-lagi, semua merupakan pilihan. Life is about choices, and the decisions we make. Yah, saya pribadi hanya bisa berharap bahwa apa yang saya lakukan selama ini merupakan pilihan terbaik. Yasudah, untuk lebih jelasnya silahkan membaca tulisan ciamik ini!

Bagaimana ku memulainya...

Sesaat ku tertegun. Seorang sobat karib mengabariku akan keputusan yang diambilnya. Cukup mencengangkan. Karena aku tak pernah mengira akan secepat dan sesederhana itu dia akan mengambilnya. Apalagi untuk kategori manusia super ruwet seperti dirinya.

Beberapa saat yang lalu datang satu permintaan darinya, permintaan yang berat, dan aku tak bisa menyanggupinya. Dia berkata, "Luth, ceritakan padaku, bagaimana caranya menjalani sisa hidup dg sebuah pengetahuan, bahwa Tuhan menguji kita dengan tak memberikan mimpi terbesar yg kita inginkan".

Aku tak bisa menjawab. aku tahu bagaimana rasa terpenggalnya sebuah asa. apalagi asa yang sudah dipelihara lama, dilahirkan dari lubuk jiwa, selalu dipupuk dan dipagari dari segala mangsa. Melihatnya dicerabut dari akarnya pastinya butuh satu ketabahan tak hingga, apalagi jika dengan terpaksa tangan kita sendiri yang harus membunuhnya.

Pernah suatu ketika dia berkata "sakit hati itu menyehatkan jiwa", aku tak sependapat dengannya. Bagiku sakit ya sakit, sehat ya sehat. dan sakitnya dia pastinya adalah sakitku juga. Kami bersahabat karena sama-sama pemimpi. Kami bersahabat karena sama-sama percaya kepada asa. Ketika dia berhenti menjulurkan tanganuntuk menggapai mimpi terbesarnya, maka yang terbunuh bukan hanya sebagian jiwanya, tapi juga sebagian rasa percaya yang ku pelihara. rasa percaya bahwa aku bisa.

Kembali kuberkata, menarik mimpi kedalam terangnya hari memanglah butuh seni tersendiri, dan terkadang menuntut proses yang abadi. Dan siapa yang tak punya mimpi maka sebenarnya dalam hidupnya dia mati.

Mungkin aku masih tak terima. Tapi terkadang memang kenyataan yang tersaji tak mau diajak kompromi. Sedangkan kita juga tidak punya daya tawar untuk bernegosiasi. Akan hal ini sungguh aku terlarut dalam emosi. Tapi kemudian aku mencoba menyesuaikan jarak agar mendapat sudut yang berbeda, yang mampu membuatku melihat sedikit lebih menyeluruh, bukan hanya fokus kepada drama pembunuhan anak kandung jiwa dan kesedihan di dalamnya.

Aku mendapati, ada kalanya ketika mimpi yang kita pelihara menjadi lebih besar dari kita, menjadi lebih kuat dari kita, menjadi lebih superior dari kita, maka bukannya kita yang memagarinya dari mangsa, tapi kita yang dipagari dari apa yang ditawarkan dunia. kita ditawan oleh obsesi. Kita dikendalikannya.

Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa untuk membunuh mimpi itu. dan memang itulah yang seharusnya. bukan karena tekanan fakta yang memaksa. tapi karena memang pilihan sadar untuk menjaga agar jiwa kita tidak dimangsa oleh asa. dan untuk itu, tidak ada kata lain selain salut sebesar-besarnya bagi kawan-ku yang telah berani mengubur mimpinya dengan tangannya sendiri.

Kawan, yang kau hadapi bukanlah ujian tentang tidak tercapainya mimpi, tapi anugerah kekuatan dan kecerdasan menukar satu mimpi dengan berjuta kesempatan yang akan segera tersaji. Tabahmu, tabahku kawan. Bahagiamu bahagiaku. Semoga kita tetap dimasukkan dalam golongan orang-orang yang bermimpi, tapi tak pernah dikungkung oleh mimpi. Barokallahu!


Yang menunggu kesempatan ngopi sebelum kau pergi


Luthfi Nur Rosyidi
Dinihari 23 februari

Kamis, 24 Februari 2011

Mabuk Laruku

Ketika saya tinggal di Jogja beberapa hari, tepatnya di kamar kosan adik sepupu, saya selalu tidak diizinkan untuk mendengarkan playlist yang 'saya banget'. Sebut saja, John Mayer atau Coldplay. Dua penyanyi favorit saya, yang selalu tersedia di playlist mp3 player maupun Winamp. Namun sdik saya bilang, lagu-lagu mereka bikin ngantuk, ngga cocok diputer keras-keras di dalam kamarnya. Haram.

Tempat kosan ini sebenernya bersifat turun-temurun. Kakak sepupu saya pernah tinggal sekitar 12 tahun lalu, kemudian disusul kakak kandung saya di tahun 2000, nah kemudian giliran si Apin, adik sepupu saya merupakan generasi ketiga yang menempati kosan Pringwulung ini. Karena masih sering menjadi tempat persinggahan ketika di Jogja, maka hardisk komputer Apin juga menyediakan file-file dari kakak sepupu dan kakak kandung saya, terutama lagu-lagu.

Saya selalu mendengarkan banyak lagu 'baru' yang everlasting banget di kamar ini. Sebut saja Dream Theater. Lebaran tahun lalu, saya dicekoki lagu Count of Tuscany yang durasinya sembilan belas menit itu! Beberapa bulan setelah itu, saya 'kerasukan' Wishful Thinking-nya John Petrucci yang terus-terusan di puter di Jet Audio komputer Apin. Nah, pas kemarin saya ke Jogja dalam rangka nonton Grebeg Maulud, lagi-lagi saya didoktrin untuk mendengarkan berbagai greates hits-nya Bon Jovi dan satu lagu Laruku. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, berbagai playlist 'aneh' itu akhirnya juga menjadi favorit saya sampai pulang ke Surabaya.

Salah satunya ya Laruku ini, dalam 2 hari saya bisa memutar hingga 30-an kali. Haha! Saya beneran mabuk Laruku! Sudah lama juga ngga mendengarkan lagu-lagu mereka, terakhir sepertinya SMP ketika saya banyak bergaul dengan Rere, teman saya pecinta berbagai manga dan lagu band Jepang. Pas SMP dulu juga, berbagai serial drama Jepang di TV mulai menjadi tontonan favorit saya, kayak Beach Boys, Anchor Woman, Beautiful Life daaaan sebagainya.

Maka ketika mendengar lagu Laruku ini untuk pertama kalinya, gendang telinga saya pun merespon dengan cukup baik. Saking baiknya hingga saya replay terus dan bikin adik saya, si empunya komputer, geleng-geleng kepala. Ini seperti nostalgia masa SMP, ketika masih doyan mendengarkan berbagai J-Pop soundtrack kartun dan serial drama.

Lagu Hitomi No Juunin ini kalo dalam bahasa Inggris artinya In Your Eyes, yeah... agak-agak gimana gitu ya kalau dilafalkan dalam bahasa Jowo Suroboyoan, hehe... Dan saya ngga tau apa ini official video-nya atau bukan, tapi yaaa silahkan mencoba untuk streaming dan menikmati lagu yang easy listening ini :)




Oke, ini potongan liriknya yang sangat cocok digunakan untuk merayu pasangan :)

I want to be by your side forever, gazing at your smile
I want to live each changing moment in your eyes
If one day I can take you out to a brilliant season
To where the flowers are, blooming in the sky like snow...

Rabu, 23 Februari 2011

Sekali Lagi Tentang Karapan Sapi




Seorang pemuda belasan tahun tampak resah berdiri di atas kleles ketika anggota tim lainnya berusaha menenangkan sepasang sapi yang akan dikerap. Kedua tangan kecilnya memegang masing-masing sebuah coraco, sebatang kayu berbentuk silinder sepanjang 15 cm yang diselimuti deretan paku-paku kecil. Sementara beberapa kali sapi yang ditungganginya terlihat rewel tak mau diam di garis start.

Rupanya mengatur sapi saat karapan tidak semudah yang dibayangkan. Satu tim biasanya memerlukan bantuan sepuluh hingga dua puluh orang untuk menggiring sapi-sapi balap ini. Butuh waktu hampir setengah jam bahkan lebih untuk membuat sepasang mamalia bertanduk ini benar-benar berada dalam posisi siap berlari.

Dan ketika aba-aba diteriakkan, para anggota tim dengan semangat melemparkan pukulan pecut pada tubuh sapi sebagai pemacu langkah awal. Sementara sang joki, melanjutkan tugas dengan menghantam badan sapi menggunakan coraco hingga mencapai finish. Logikanya, semakin sapi merasa marah karena pukulan tersebut, semakin kencang pula kecepatan berlarinya. Jangan salah, hal-hal seperti ini memang sudah bagian dari tradisi yang susah dihilangkan. Sebuah perlakuan brutal yang akan membuat wisawatan bergidik ngeri ketika pertama kali menonton karapan sapi.

Pagi itu matahari memang belum meninggi, namun panasnya sangat menyilaukan mata dan menyengat kulit-kulit yang telanjang. Ribuan penikmat karapan sapi baik dari Pulau Madura maupun daerah lain, tampak berlalu-lalang di Stadion Sunarto Hadiwijoyo Pamekasan untuk menyaksikan adu balap yang akan memperebutkan sebuah Piala Presiden tersebut. Beberapa memilih menonton dari tribun, sedang yang lain berdiri berdesakan di pinggir lapangan menyaksikan latihan terakhir peserta karapan sebelum acara inti dimulai .

Tanah becek dan genangan lumpur sisa hujan deras semalam rupanya cukup merepotkan penonton. Tak sedikit yang menggulung celana dan tampak berjingkat-jingkat agar alas kaki tidak terjebak di dalam genangan tersebut. Namun, semua itu seakan tidak mengganggu aura euforia di stadion yang sedang menggelar hajatan bertaraf nasional ini. Karapan sapi Piala Presiden yang hanya digelar satu tahun sekali itu, memang merupakan momen yang banyak ditunggu oleh para pemilik sapi kerap, sebagai ajang adu gengsi memperebutkan tahta sebagai yang sapi tercepat se-Pulau Madura.

Tidak gampang menjadi salah satu peserta karapan kali ini. Sebelumnya sapi-sapi tersebut harus mengantongi gelar juara karapan dari tingkat terendah hingga tingkat kabupaten. Enam pasang sapi juara dari masing-masing kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, akan mendapatkan tiket untuk beradu di ajang piala presiden. Tercatat dua puluh empat pasang sapi siap unjuk gigi pamer kecepatan berlari. Tak tanggung-tanggung, pemerintah akan menyediakan kendaraan roda empat sebagai hadiah utama.

Nyatanya hadiah semahal apapun bukanlah keinginan utama dalam kompetisi ini. Memenangkan suatu karapan sama halnya dengan mengangkat harkat dan martabat pemilik sapi. Namanya akan bergaung hingga pelosok Madura. Dan hadiah-hadiah tersebut akan dilemparkan begitu saja pada sang joki dan perawat sapi.

Demi sebuah prestise, para pemilik sapi rela mengeluarkan lembaran uang yang jelas tidak sedikit untuk membeli dan memelihara sapi kerap. Seorang lelaki menceritakan pekerjaannya sebagai perawat sapi kepada saya. Pak Halil, begitu ia biasa disapa, yang sudah dua puluh tahun lebih menekuni profesi unik ini.

Sapi kerap memang bukan sapi biasa. Sehari-hari Pak Halil harus memijat dan memandikan sapi kerap yang dititipkan kepadanya dengan menggunakan air hangat. Selain itu, lelaki asli Pamekasan ini yang menyiapkan makanan untuk sapi kerap berupa pohon jagung dan minuman jamu sehat yang ia racik bersama istrinya. Tiap perawat memiliki resep jamu andalan yang berbeda-beda. Namun umumnya, minuman ini terbuat dari campuran rempah-rempah, anggur malaga serta puluhan butir telur ayam kampung.

Bila dinominalkan untuk membuat jamu pada satu sapi kerap saja bisa menghabiskan uang hingga seratus lima pulu ribu rupiah tiap harinya. Lebih mahal makanan sapi kerap ketimbang dengan manusia yang memiliknya. Segala perlakukan istimewa ini dinilai sebanding dengan rasa sakit yang akan diterima akibat pukulan pecut dan coraco pada saat sapi diadu.

“Dua kali seminggu sapi dilatih, waktu larinya dibandingkan dengan juara. Kalau sudah bagus, itu artinya sudah siap dikerap,” ujar Pak Halil. Dahulu memang panitia memberikan batasan usia dan tinggi badan untuk sapi-sapi yang dikerap, namun sejak tahun 2003 peraturan ini dihilangkan. Tidak hanya masalah fisik, umumnya pemilik dan perawat sapi juga mengadakan persiapan secara spiritual ketika akan mengikuti suatu perlombaan. Hal yang sudah lumrah dilakukan dalam karapan sapi di Madura. Semua ini dilakukan agar sapi-sapi kerap dapat menunjukkan hasil yang maksimal di lapangan.

Dengan biaya perawatan yang besar, jangan heran apabila harga seekor sapi kerap bisa mencapai angka yang tidak masuk akal bagi orang awam. Di kediaman Pak Halil, terdapat sapi kerap kecil yang baru berumur 1,5 tahun tetapi sudah ditawar hingga dua ratus juta rupiah. Akan menembus angka yang lebih dari itu apabila sapi-sapi ini mencatat banyak prestasi di lapangan.

Memilih sapi kerap bukan perkara yang mudah untuk dilakukan orang awam. Sepintas memang ciri fisik yang terlihat dari seekor sapi kerap adalah sapi jantan Madura berkulit merah bata, berbadan atletis, dada bidang dan berpunggung lurus. Disini pula letak peran seorang perawat sapi. Konon mereka memiliki kemampuan lebih untuk melihat bibit, bebet, bobot seekor sapi kerap dengan mengandalkan ketajaman naluri.

Karapan sapi piala presiden layaknya pesta rakyat yang ditunggu masyarakat Madura. Sahut-sahutan alunan musik sronen, sebuah alat musik tiup khas Madura, yang dimainkan bergantian dari tenda satu ke tenda peserta yan lain selalu berhasil memancing rasa penasaran wisatawan yang bertandang. Beralaskan tikar sederhana, delapan hingga sepuluh pria tampak bersemangat memainkan kenong, kendang, gong dan kencer. Melantunkan berbagai lagu Madura lengkap dengan mengenakan pakaian tradisional berwarna menyolok dan aksesoris khas melingkar di kepala mereka.

Nyanyian ini sengaja dimainkan dengan volume maksimal untuk menghibur sekaligus mengelu-elukan sapi jagoan mereka. Masuk dalam deretan peserta karapan sapi Piala Presiden memang menjadi kebanggaan tersendiri. Maka tak heran jika para pemilik sapi benar-benar serius menyiapkan segala detil untuk meningkatkan performa tim, seperti menampilkan grup sronen, membuat seragam anggota, hingga menghias tubuh sapi-sapi kerap yang akan beraksi.

Sehari sebelum digelarnya piala presiden ini, alunan musik yang sama juga terdengar di alun-alun kota Pamekasan. Jika para pejantan saling beradu kecepatan melintasi lapangan sepanjang 180 meter, maka sapi-sapi Madura betina unjuk gigi melalui pagelaran Sapi Sono’. Sapi-sapi betina didandani layaknya putri. Digiring mengelilingi lapangan dengan santai sambil mengikuti alunan musik sronen. Kompetisi ini memang mirip dengan pemilihan model. Penilaian dilakukan atas dasar bentuk badan dan cara jalan pasangan sapi tersebut.

Sementara di sudut tenda lain, seorang joki bernama Dayat yang saya kenal dari kediaman Pak Halil, tampak santai bercengkerama dengan anggota tim menanti kompetisi ini dimulai. Tidak ada gurat gelisah dan gugup di wajahnya. Dengan ramah, dia mengizinkan saya mengambil gambar sepasang sapi dari kabupaten Sampang, yang akan bersanding bersamanya di arena balap nanti.

Tumbuh sebagai anak seorang perawat sapi, rupanya membuat pemuda 21 tahun ini tidak asing lagi dengan dunia karapan sapi. Pekerjaan sebagai joki sapi kerap sudah dilakoni semenjak kelas 6 sekolah dasar.

“Kalau jatuh dari sapi itu sudah biasa, hanya lecet saja...,” ceritanya. Selama ini memang, panitia penyelenggara tidak pernah menetapkan batasan usia joki. Adalah hal yang lumrah bagi penduduk Madura melihat banyak anak yang di bawah umur berdiri di atas kleles memacu sapi kerap di lapangan. Mereka beranggapan bahwa semakin ringan tubuh seorang joki, maka semakin kencang pula lari sapi yang dikerap. “Yang penting punya nyali besar,” tambah Dayat sambil tertawa ringan, tampak bangga dengan profesinya.

Cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa adu kecepatan lari sapi ini bermula dari Pulau Sapudi. Sebuah pulau kecil berdiameter 35 km yang terletak di timur Kabupaten Sumenep. Pulau ini dikenal sebagai penghasil sapi Madura terbaik hingga saat ini. Menurut penelitian, mamalia dari famili Bovidae di pulau ini disebut-sebut sebagai salah satu sapi ras murni Indonesia.

Lalu sejarah bercerita, bahwa pada abad ke-14, seorang panembahan tersohor di pulau tersebut bernama Adi Poday memperkenalkan metode pertanian menggunakan kleles, sebuah kayu yang digantungkan di leher sapi untuk membajak tanah. Alat ini kemudian berubah fungsi untuk menahan tubuh sang joki dikala balap sapi dilakukan pertanda masa pasca panen tiba. Pada akhirnya, sapi memang menjadi hewan yang spesial di Madura karena dapat membantu mengolah tanah pertanian yang terkenal tandus di daerah tersebut.

Dari pulau kecil yang penuh sapi itulah tradisi ini kemudian menyebar di seluruh pelosok Madura. Karapan yang semula dilakukan hanya untuk sebuah perayaan sebagai luapan kegembiraan pasca panen, menjadi suatu ajang adu kecepatan yang terikat oleh aturan dan kemudian berkembang menjadi simbol budaya dan pariwisata Madura.