Jumat, 09 Desember 2011

Traveler in Residence


When traveling meets drawing.

Setiap media dokumentasi perjalanan selalu memiliki cara penyampaian yang unik bagi peminatnya. Entah berupa tulisan, foto, video ataupun ilustrasi. Tak ada batasan untuk terus mengembangkan setiap bentuk dokumentasi tersebut, dan hanya kreativitas yang bisa menjadi penawar akan kejenuhan dalam proses pembuatannya. Hifatlobrain Travel Institute bersama c2o Library berusaha mengeksekusi opsi terakhir; mengawinkan traveling dengan drawing. Proyek ini bukanlah hal pertama yang pernah dilakukan di dunia. Tengok saja karya menakjubkan dari Tokyo By Foot dan They Draw and Travel, di mana impresi sebuah destinasi bisa digoreskan secara liar dalam media ilustrasi.

Kami mengundang seorang traveler untuk tinggal di Surabaya selama satu bulan dan bersama-sama mengerjakan proyek kreatif ini. Setelah melewati berbagai audisi dan pertimbangan, pilihan jatuh pada seorang gadis kalem berparas ayu dari Jakarta, Herajeng Gustiayu. Mantan mahasiswi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini dikenal sering malang melintang traveling di seputar Asia Tenggara. Selain memiliki blog yang begitu informatif di backpacker-notes.blogspot.com, Mbak Ajeng, panggilan akrabnya, ternyata juga gemar menggambar ilustrasi watercolor. Sebuah perpaduan sempurna untuk ambil bagian dalam proyek yang kami sebut Traveler in Residence ini. 

Traveler in Residence akan menghasilkan satu seri ilustrasi watercolor tentang Surabaya, yang akan dikembangkan menjadi sebuah travel guide dengan konten travel essential seperti how to get there, where to stay, where to eat. Namun kami juga akan memadukan insight dan in-depth-article yang tak kalah menarik. Seperti gerakan kreatif anak muda, produk fashion lokal, dan pertumbuhan eco-tourism di Surabaya. Semoga saja di bulan penuh hujan ini pun ada jadwal pertandingan sepak bola di Stadion Tambaksari. Besar keinginan kami untuk dapat mengajak Mbak Ajeng menyaksikan dan merasakan keriuhan supporter yang kerap berpakaian hijau dan akrab disebut sebagai bonek

Terhitung tanggal 5 Desember 2011 kemarin, Mbak Ajeng telah menginjakkan kaki di Surabaya. 30 hari mungkin waktu yang singkat untuk menghabiskan Surabaya secara keseluruhan, tapi kami tetap berharap proyek ini dapat diselesaikan dengan maksimal. Lebih lagi, Traveler in Residence ini sebenarnya kami tujukan untuk menjadi virus bagi para pejalan lain agar tak lelah berinovasi dalam mendokumentasikan perjalanannya.

Oke, doakan program bulan ini beserta pameran pada Maret 2012 berjalan dengan lancar yes! :)


PS:
Illustrating courtesy of Herajeng Gustiayu.
Update Traveler in Residence on travelerinresidence.wordpress.com.

Kamis, 08 Desember 2011

Katrok

Photo by @hiqID @madalkatiri
Kata @lucianancy, bahagia itu sederhana... Yap, ngeliat photo essay saya tentang Mekare nongkrong di Konferensi Pariwisata Nasional di Jakarta beberapa hari lalu, saya senangnya setengah hidup! 

Udah segitu aja postingan ndeso pagi ini, mau capcus ke Univ Petra dulu, having fun with Lukki and Giri, ngubek Pecinan dari sisi seorang arsitek cum antropolog. Oiya! Saya mau cerita tentang Traveler in Residence juga sih.. Tapi nanti ya... ;)

Ciao!

PS: Photo courtesy by @hiqID

Kamis, 01 Desember 2011

Desember


Dari kamar yang berantakan dan malam penuh lemburan beserta sederet playlist Norah Jones, saya turut mengucapkan, "Hallo, Desember!" 

:)

Sabtu, 26 November 2011

Around Outstadt




















Kota Lama mungkin satu-satunya hal yang membuat saya masih mau kembali ke Semarang. Saya bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk mengitari setiap sudut gang di dalamnya. Imaji selalu berloncatan liar membayangkan seperti apa kehidupan di sana di masa lampau. Sayang, beberapa bangunan sudah sangat tidak terawat. Saya perhatikan sejak pertama kali datang ke Semarang tahun 2009 lalu, hanya  sedikit gedung yang bertahan untuk terus mempercantik diri, seperti Gereja Blenduk, Kantor Jiwa Sraya, Kantor Pos, Stasiun Tawang, Kantor Bank Mandiri, dan Semarang Contemporer Art Gallery. Selebihnya, daerah yang pada zaman kekuasaan Belanda dinamakan Outstadt ini, banyak tertutup bangunan liar. Banjir rob yang juga kerap datang menggenangi seakan melengkapi pemandangan kumuh pada beberapa titik kawasan Kota Lama.

Minggu, 13 November 2011

Telepon di Bandara

Leaving West Borneo

8 November 2011 
Maskapai Singa terbang ternyata lumayan memuaskan hari itu. Tidak menunda jadwal penerbangan. Tepat waktu melandas di Soekarno Hatta dari Bandara Supadio Pontianak. Segera setelah turun dari pesawat dan mengurus lapor transit, saya menyantap semangkuk nasi soto ayam seharga lima puluh ribu rupiah di sebuah restoran. Mahal memang, tak begitu sedap juga rasanya. Tapi apa mau dikata, perut saya sudah melilit minta diberi asupan di dalam bandara. 

Penerbangan lanjutan menuju Surabaya masih pukul delapan malam, tapi saya sudah duduk manis di ruang tunggu sejak dua jam sebelumnya. Sesekali saya menepuk kedua pipi yang mendingin karena suhu ruangan yang cukup rendah. Melihat orang-orang yang seliweran, saya semakin yakin bahwa saya adalah makhluk terdekil di ruang A3 itu. 

"Mah, aku tambah item," ucap saya lewat telepon pada Ibu di Jember.
"Lho kan udah biasa, tiap pulang dari mana-mana selalu tambah item," Ibu saya berujar dengan nada yang sangat wajar. Saya tertawa seketika.
"Mamah takbeliin tas manik-manik bikinan orang Dayak, bisa buat arisan, Ayah aku oleh-olehi peci dari serat kayu," saya berujar sembari memandang tas plastik hitam yang sedari bandara Supadio Pontianak saya tenteng begitu saja. Sengaja tidak saya ikut masukkan dalam bagasi, takut peci Ayah saya rusak, dan manik-manik tas untuk Ibu saya mbrodhol terkena tumpukan barang. 

Sebenarnya saya jarang membelikan buah tangan pada keluarga. Tapi untuk kali ini, saya tidak ingin melupakan perjalanan 20 hari di Kalimantan yang sudah terlewati. Saya ingin mengingatnya kembali dengan memberikan sedikit sentuhan petualangan kemarin di rumah sendiri. Rasa kangen keluarga tiba-tiba menyelinap perlahan. Padahal saya belum tahu kapan bisa pulang ke Jember. 

Tak lama setelah menerima telepon Ibu, sebuah nama terpampang di layar, memanggil-manggil saya. 

"Halo... Bapak..."
"Assalamualaikum... Dimana, nak?"

Logat Bapak Hajau langsung melayangkan badan saya kembali ke Kedamin, Putussibau. Lelaki 59 tahun inilah yang menjadi juru batu sampan kami selama seminggu menyusuri sungai Kapuas, sungai Bungan dan sungai Bulit. Meskipun sudah berumur setengah abad lebih, jangan ragukan kekuatannya menarik sampan kami, melewati berbagai riam yang menggila di sepanjang sungai. Beliau adalah seorang Dayak Punan Hovongan yang lahir dan besar di Tanjung Lokang, sebuah desa terakhir di ujung sungai Bungan, dekat dengan perbatasan Kalimantan Timur. Beliau meninggalkan Tanjung Lokang setelah memeluk agama Islam dan mengikuti putra-putrinya yang membangun keluarga di Putussibau.

"Kalau bukan karena kampung sendiri, rasanya ndak akan saya mudik ke Lokang lagi," begitu ucapan yang pernah saya dengar dari mulut beliau. Dan setelah merasakan sendiri, dua hari perjalanan susur sungai yang saya lewati untuk mencapai desa yang dihuni oleh Dayak Punan Hovongan tersebut, rasanya wajar jika Bapak mengatakan hal tersebut.

"Saya sudah sampai di Jakarta, Pak. Bapak apa kabar?"
"Baik... Bagaimana dengan Anty dan Ian?"
"Kami menggunakan pesawat yang berbeda, Pak, mereka akan tiba di Jakarta sekitar pukul tujuh."
"Oh ya sudah, hati-hati ya, Putri... Besok Bapak kembali ke Tanjung Lokang, mengantarkan tentara."

Saya hanya mampu geleng-geleng kepala, dan menyelipkan pesan semoga sampai dengan selamat. Padahal Bapak masih cidera kaki saat membawa sampan kami kembali ke Putussibau. Lelaki-lelaki di Tanjung Lokang memang 'berbeda'. Telapak kaki mereka lebar dan begitu tebal. Sering kali mereka berjalan melewati bebatuan di pinggir sungai tanpa alas kaki. Padahal, alamakjang, batu-batu itu begitu tajam di kaki saya. Saya pernah mencoba bertelanjang kaki melewati jalanan berbatu di sungai Bulit, dan tidak ingin mengulangi kebodohan itu lagi. 

Jangan mencari lelaki bergelambir lemak di sana. Tubuh mereka hanya berbalut otot-otot keras. Pada suatu sore, Mas Ian dan beberapa teman dari Pontianak diajak bertanding sepak bola melawan lelaki Tanjung Lokang. Tapi 'tim kami' malah kabur perlahan.

"Gila aja tanding ama mereka, kalo badan gua ketubruk badan segede itu, bisa cidera tahunan!" bisik Mas Ian. Saya dan Mbak Anty hanya bisa ngakak dan memaklumi ketakutannya. Mas Ian memang berotot, tapi bikinan gym ibu kota, tidak sealami lelaki Tanjung Lokang. Hahaha. Mungkin satu-satunya lelaki berperut tambun di Tanjung Lokang adalah Mas Fajar, pegawai Taman Nasional Betung Kerihun di Resort Tanjung Lokang yang berasal dari Jogjakarta. Hehehe, no offense, mas :)

Lepas memutuskan telepon dari Bapak Hajau, ganti putra semata wayang beliau menghubungi saya. Bang Saleh begitu kami memanggilnya.

"Halo! Assalamualaikum!" Guru honorer ini menyapa dengan begitu semangat. Bang Saleh adalah motoris sampan kami. Dia sebenarnya juga enggan mudik ke Tanjung Lokang sejak lima tahun terakhir. Tapi pada kesempatan tersebut, Bapak Hajau sendiri yang memintanya langsung untuk menjadi motoris sampan, dan mengantar kami menyusuri sungai selama tujuh hari. 

"Aku mengajar Penjaskes di sekolah dasar," begitu dia pernah berkata di awal perkenalan kami. Ah, tak heran lagi saya. Lelaki Tanjung Lokang memang terbukti selalu bugar! 

Bang Saleh mengatakan dari telepon bahwa dia baru pulang berburu burung untuk dimakan. "Daripada ndak ada lauk."

"Dapat, Bang?" tanya saya.
"Dapat lah! Sepuluh ekor!" teriaknya begitu gembira. "Ini istriku sedang memasaknya."

Keluarga Bapak Hajau dan Bang Saleh menjadi begitu dekat dengan kami. Mungkin karena Bapak menganggap kami, yang masih muda dan lelet ini, seperti anak sendiri. Dan Bang Saleh adalah sosok lelaki yang supel dan begitu humoris. Selama lebih dari seminggu, tidak pernah saya melihat mereka marah. 

"Putri, aku dah bicara sama Anty, aku minta kalian mengajariku membuka internet. Itu kan ada kode-kodenya. Tolong lah aku diajari, agar aku bisa membaca tulisan kalian tentang Tanjung Lokang dan Data Opet di internet..." ujar Bang Saleh. Saya begitu terharu mendengar permintaannya. Inilah yang saya inginkan ketika melakukan perjalanan. Bertemu dengan orang-orang yang bisa mengajari saya banyak hal di luar bangku sekolah atau kuliah. Bang Saleh begitu rendah hati, tidak malu meminta tolong pada yang jauh lebih muda demi menjadi maju. 

Saya masih ingat, Bang Saleh yang begitu cerewet, tampak sangat terpana ketika mendengar Mbak Anty sedang menjelaskan masalah pajak dan inflasi kepada Bang Herman, seorang bendahara desa Tanjung Lokang. 

"Aku diam, karena aku ndak ngerti Anty ngomongin apa. Hahaha...," akunya. Saya memberikan kaos ACI berwarna merah padanya sebagai kenang-kenangan, walaupun ukurannya terlalu kecil, hingga ia akhirnya menghibahkan pada sang istri. 

"Iya, Bang, nanti aku ajari. Nanti Abang bisa lihat wajah Abang ada di internet," ucap saya. 

"Ah, ya begitu bagus, Putri. Oh iya, berapa tiket untuk terbang ke Surabaya dari Pontianak?" tanyanya penasaran.

"Kira-kira delapan ratus ribu, Bang, kenapa? Abang mau ke Jawa?"

"Ah mahal kali! Ke Tanjung Lokang hanya lima ratus ribu dari Putussibau!"

"Ahahahaa... Bohong kau, Bang! Yang betul lima belas juta!"

Lima belas juta memang bukan fiktif. Perjalanan susur sungai memang tidak murah. Makanya saya bersyukur mendapatkan destinasi yang 'mahal', karena entah kapan bisa ke Tanjung Lokang dengan biaya sendiri. Lebih lagi, saya bersyukur masih bisa merasakan kenyamanan sebuah keluarga meskipun bersama orang yang berbicara dengan bahasa dan logat berbeda seperti mereka.

Sebuah pengumuman boarding menghentikan perbincangan saya dengan Bang Saleh sejenak. Saya menyimak dengan seksama. 

Lalu Bang Saleh berkata, "itu suara apa, Putri?"

"Ah, sial, penerbanganku ke Surabaya mundur satu jam, Bang!"