Kamis, 03 Januari 2013

Don't Slip Away, My Dear...


Sedang gandrung mendengarkan The Fall, sebuah lagu yang saya kenal lewat twit Dimas Ario. Siang ini kebetulan main-main lagi ke blog mantan personil  Ballads of The Cliche itu, dan yuhu menemukan tiga mixtape terbarunya. Senangnya, lagu milik Rhye, yang juga saya ngga tau itu grup band dari mana, disisipin sebagai closing song dalam salah satu mixtape-nya. Kenapa saya suka The Fall? Ya, simpel saja sih, lagu ini nyaman di kuping saya. 

Ngomongin mixtape saya jadi inget ada salah satu sahabat saya, Nuran Wibisono, yang gemar nyebarin CD berupa mixtape lagu-lagu (yang mewakili perasaannya) untuk gadis-gadis yang lagi disepik, istilah masakini-nya gitu lah ya. Kayaknya sih sejauh yang saya lihat, cara ini cukup manjur. Hahaha...

Saya ketagihan mengunduh mixtape buatan Dimas Ario, sejak 2011 lalu, dari blog seorang teman di Jakarta. Buat saya sih, keberhasilan membuat mixtape bisa dilihat dari 'kebetahanan' pendengar untuk menghabiskan satu set list lagu. Lebih suka lagi, karena kebanyakan lagu-lagu di dalamnya hampir 90% ngga pernah saya kenal. Hingga berulang-ulang didengar pun saya masih malas mencari tahu itu lagu-lagu siapa. Yang penting betah denger aja. Hehehe... Ya, lagu bagus kan relatif sih ya. Sampai awal 2013 ini, Soulular Niggunim adalah mixtape bikinan Dimas Ario yang paling betah yang dengar berulang-ulang. Enak buat nulis, enak buat sekedar ngeliatin TL, kuping tetep rame tapi ga berisik. Eniwei, saya ngga kenal Dimas Ario, pokmen, suka mixtape bikinan dia aja sih! :)) 

Kembali ke The Fall... Hm, kembali apa ya? Ya sudah pokmen don't slip away aja dari pacar-pacar kalian, walopun kadang bosen melanda. :D

Selasa, 11 Desember 2012

Another Long Nite Kasodo



Joko Seger dan Roro Anteng gelisah. Buah hati yang menjadi idaman tak juga datang, meski mereka telah lama menikah. Suatu waktu sejoli ini naik ke puncak Gunung Bromo untuk berdoa kepada Sang Hyang Dewata agar dikarunia keturunan. Kesabaran dan ketulusan mereka rupanya membuahkan hasil. Sang Dewa mengabulkan permintaan dengan syarat saat anak terakhir beranjak dewasa, dia harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.


Dalam perjalanan hidupnya, Joko Seger dan Roro Anteng selalu diselimuti kebahagiaan yang meluap karena mendapatkan banyak keturunan terhitung hingga dua puluh lima anak. Karena perasaan kasih dan sayang terhadap semua anak, pasangan ini lupa akan janji lampaunya pada Sang Dewa.

Dewa pun murka karena merasa dikhianati. Lava dalam perut Bromo menggelegak muncrat. Anak terakhir pasangan Joko Seger dan Roro Anteng diambil paksa lewat lilitan lidah api Bromo. Si Bungsu pun lenyap tertelan kawah. Alkisah, sesaat setelah peristiwa itu terdengar suara si Bungsu dari dalam kawah yang meminta diadakan upacara peringatan setiap bulan Kasada pada pergantian malam ke-14 dan 15. Masyarakat Tengger, yang dipercaya sebagai keturunan Roro Anteng dan Joko Seger, kemudian memperingati kejadian tersebut setiap tahunnya sebagai Yadnya Kasada.

"Betul, memang itu folklore yang kami percayai selama ini," ucap Sutomo, lelaki 53 tahun yang dikenal sebagai dukun di Desa Ngadisari. Dalam tatanan masyarakat Tengger, dukun atau dikenal juga sebagai dukun gede bertugas sebagai rohaniawan yang memimpin prosesi keagamaan, pernikahan dan kematian.

"Banyak yang salah sangka, tapi kami sebagai dukun tidak mengurusi seputar masalah jodoh ataupun pesugihan," Pak Sutomo terkekeh. "Hal seperti itu dilakukan oleh mereka yang disebut dukun cilik di sini," sambungnya.

Sore itu, beberapa jam sebelum dilangsungkan acara puncak Yadnya Kasada, kediaman dukun yang telah menjabat menggantikan ayahanda sejak 2003 ini, disibukkan dengan pembuatan ongkek-ongkek. Sekitar enam orang lelaki, berkutat di antara tumpukan daun, bunga, batang-batang pisang dan gelintiran jagung.

Dilihat dari wujud fisik, ongkek adalah lengkungan. Sedangkan secara filosofis, Ong berarti Dewa seperti Brahma, Wisnu, atau Siwa. Karena itu mantra-mantra Hindu Tengger juga diawali dengan kata Ong. Sedangkan Kek adalah leluhur. Bisa disimpulkan bahwa ongkek adalah persembahan untuk dewa dan para leluhur. ongkek, sebagai sesaji yang mewakili satu desa, disusun melengkung menggunakan bilah bambu dan dirangkai dengan berbagai hasil bumi desa. Setelah selesai, ongkek akan disucikan dan didoakan terlebih dahulu. Pada tengah malam rangkaian sesaji tersebut akan diarak ramai-ramai ke Pura Luhur Poten untuk kemudian dilarung di kawah Bromo.

Pembuatan ongkek seperti di Desa Ngadisari ini adalah prosesi awal dari rangkaian upacara Kasada. Setidaknya ada 41 desa Tengger di Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang yang juga membuat sesaji serupa untuk dilarung. Bila dalam 44 hari sebelum perayaan Kasada ada warga yang meninggal, maka desa tersebut tidak akan membuat ongkek.

Tubuh saya mulai bergetar pelan. Rupanya sore hampir usai dan kabut-kabut mulai turun menyapa. Segera saya berpamitan pada Pak Sutomo untuk kembali ke Cemoro Lawang, desa tempat saya menginap. Ini adalah ketiga kali saya mengikuti prosesi Kasada. Setiap pulang dari Kasada, saya selalu kapok untuk datang kembali. Suhu terendah di Bromo memang berlangsung saat musim kemarau seperti hari ini. Tapi pada tahun berikutnya, begitu bulan Kasada semakin dekat, entah mengapa ada perasaan untuk kembali ke Bromo.

Pada setiap kunjungan, Bromo selalu memberikan kejutan, seakan menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa atas alam Tengger. Dua tahun lalu adalah malam Kasada paling cerah yang pernah saya rasakan. Tidak ada kabut menyelimut lembah. Penumbra bulan bahkan terlihat jelas mengiringi langkah-langkah kaki yang berjalan di lautan pasir menuju Pura Luhur Poten. Saya takzim pada suguhan bentangan langit malam itu.

Dibalik deru hardtop, truk ataupun motor warga yang bergerak turun menuju Pura, masih bisa saya dengar lamat-lamat, kidung doa yang mengalun syahdu dari sana. Nyanyian mantra dalam bahasa Jawa Kuna itu memantulkan resonan berupa puja-puja kepada dewata.

Pada akhir 2010 lalu, Bromo sekali lagi menunjukkan kuasanya dengan menyemburkan abu vulkanik hingga setinggi 1000 meter. Erupsi ini menyebabkan hampir seluruh wilayah kecamatan Sukapura tertutup abu. Meskipun berselang setengah tahun ketika saya datang pada Kasada 2011, namun sisa-sisa erupsi masih saja terlihat di sana-sini. Urat-urat Gunung Batok yang semula diselimuti dedaunan hijau, saat itu berubah menjadi monokrom akibat tertutup abu. Kasada tahun 2011 itu hampir menyebabkan saya tersesat di tengah tebalnya kabut pada dini hari saat berjalan menuju Pura. Bahkan mengeluarkan kamera pun menjadi pertimbangan, karena mata pedih dan dada sesak akibat badai pasir. Beberapa kali bau belerang juga mampir di lubang hidung.

Namun, Kasada tetap berlangsung. Truk-truk yang mengangkut masyarakat Tengger terus berdatangan. Mereka menembus kabut meski jarak pandang begitu pendek. Medan menuju kawah pun semakin berat karena lereng-lereng Bromo tertutup tebalnya pasir. "Itu hanya abu, Bromo tidak apa-apa," kata salah seorang lelaki Tengger yang saya temui di Cemoro Lawang. Pada tahap ini saya menyadari, bahwa apapun bisa disuguhkan oleh Sang Dewata penguasa alam Bromo.

Pada 2012, Yadnya Kasada digelar pada tanggal 3-4 Agustus lalu. Karena menganut ilmu penanggalan surya candra (matahari dan bulan) maka upacara Kasada tiap tahunnya selalu mengalami pergeseran. Yang tak pernah luput pada tiap Kasada hanyalah malam bulan purnama.

Ongkek-ongkek dari Desa Ngadisari pimpinan Pak Sutomo dijadwalkan turun ke lautan pasir pada sekitar pukul satu dini hari. Banyak warga dan pengunjung yang telah menunggu sejak pukul dua belas malam untuk ikut dalam rombongan pembawa ongkek. Jangan tanya bagaimana dinginnya Bromo saat itu. Sekedar berbincang dengan teman pun rasanya sangat malas, saking terkonsentrasi untuk memeluk badan sendiri dengan kedua tangan.

Dengan jarak hampir 5 kilometer dari gerbang Bromo, ongkek-ongkek diarak oleh rombongan menuju Pura Luhur Poten. Selama perjalanan, rombongan ini berhenti dua kali yaitu di situs dan petilasan leluhur Tengger yang juga terletak di lautan pasir. Para warga Ngadisari ini berjalan dengan begitu cepat, mungkin untuk mengalihkan hawa dingin. Bagi kami yang awam, level berjalan seperti itu sudah masuk kategori berlari. Dan berlari di bawah langit gelap, di tengah kabut, serta di atas gundukan pasir bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilakukan sembari menggigil kedinginan. Tapi jika tidak mengikuti rombongan ongkek-ongkek, siap-siap saja tersesat sampai subuh tiba.

Sehari sebelum malam Kasada berlangsung, beberapa dukun dari total 47 dukun Tengger terlihat sudah duduk anteng di balik ongkek-ongkek dan mulai melayani umatnya di Pura Luhur Poten sedari siang. Mereka ini adalah warga Tengger dari desa yang cukup jauh dari Bromo. Berbagai tandur tuwuh (hasil bumi) di bawa oleh masing-masing warga dalam gendongan kain dan wadah plastik. Sebelum dilarung, masing-masing sesaji tersebut didoakan terlebih dahulu oleh dukun dari desa asal. Tak hanya hasil kebun, beberapa warga tampak membawa seekor ayam dan anak kambing.

Banyak yang mengira bahwa pengambilan air suci di Semeru, Widodaren dan Madakaripura adalah bagian dari upacara Kasada ini. Menurut Pak Sutomo, prosesi tersebut adalah rangkaian acara Pawedalan, atau dalam agama Hindu Bali dikenal sebagai Piodalan, yaitu hari ulang tahun pembangun pura. Jauh sebelum Pura Luhur Poten ada, masyarakat telah merayakan malam Kasada di tempat yang sama.

"Kebetulan hari dibangunnya Pura Luhur Poten tepat sehari sebelum upacara Kasada, makanya Pura pun ramai sembahyangan sejak H-1 Kasada," ujar Pak Sutomo.

Malam Kasada juga disebut sebagai malam penuh ujian bagi calon dukun. Mereka ini yang nanti akan menggantikan dukun sebelumnya ketika sudah meninggal. Atau bisa juga saat diperlukan dukun tambahan di sebuah desa. Setiap dukun yang dilantik seyogyanya merupakan keturunan dari sebelumnya walaupun tidak harus selalu demikian.

Mendekati pukul empat pagi, ongkek-ongkek yang telah didoakan di dalam Pura, kemudian segera dibawa menuju kawah diiringi oleh lantunan alat musik tradisional. Penerangan malam yang begitu minim cukup terbantu oleh warga yang membawa obor. Namun saya sudah tidak bisa membedakan lagi, sedang bersama rombongan dari desa mana. Hingga kini saya masih heran, bagaimana warga Tengger kuat menahan dingin dengan hanya bermodal penghangat berupa sarung saja. Sementara saya harus menggunakan jaket berlapis, lengkap dengan kaos kaki dan sarung tangan juga masker dan syal.

Lagi-lagi, mengikuti rombongan ongkek-ongkek bukanlah hal yang gampang. Apalagi mereka sudah terbiasa dengan medan tanjakan di lereng Bromo, rasanya berjalan cepat pun tak masalah. Tak peduli tua ataupun muda.

Saya kehabisan nafas pada pertengahan jalan dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Pura Luhur Poten sudah cukup jauh di bawah tenggelam dalam halimun. Sementara dari arah Timur sayup-sayup sinar mentari mulai mengirim cahaya jingganya. Terlihat bukan hanya saya yang menikmati momen ini. Sepertinya pengunjung lain juga sudah rindu matahari setelah semalaman berjibaku dengan dinginnya Bromo.

Di bawah tangga Bromo saya bertemu kembali dengan Pak Sutomo yang baru saja turun dari kawah bersama para pengikutnya. Beliau terkekeh melihat nafas saya terengah-engah dan tertinggal rombongan ongkek-ongkek.

Tangga menuju kawah Bromo rupanya belum diperbaiki semenjak termakan panasnya abu vulkanik. Pasir-pasir juga masih saja menutupi bagian undakan. Namun, eksodus masyarakat Tengger yang akan melarung sesaji tetap tak terhenti, tak peduli bagaimana repotnya perjalanan menuju kawah. Bisa dibayangkan sesaknya suasana di atas nanti.

Pemandangan yang sama seperti tahun-tahun lalu kini saya saksikan lagi dari bibir kawah Bromo. Ratusan penangkap sesaji yang berdiri di bagian lereng kawah dengan sigap akan menghentikan setiap lemparan sesaji yang seharusnya meluncur sampai kawah. Mereka hanya berbekal kain sarung yang dibentangkan dan jaring bergagang kayu. Saya seperti menonton acara reality show dengan ekstrimitas tinggi yang menguji adrenalin. Masih tidak masuk akal bagi saya, bagaimana tubuh mereka tahan dingin semalaman berdiri di dekat kawah dengan hanya bermodal lampu minyak. Yang jelas, orang-orang tersebut tak mengidap phobia ketinggian.

Acara larung sesaji oleh warga Tengger berlangsung hingga sore hari. Seiring dengan itu, tangkapan warga penangkap sesaji juga sudah berkarung banyaknya. Warga Tengger lalu kembali ke desa asal untuk melakukan Puja Kasada bersama-sama sebagai tanda mengakhiri malam panjang upacara Kasada tahun ini.[]

PS:
Postingan ini emang ga ada fotonya, demi mengenang foto-foto Kasodo yang hilang entah gimana dan di mana. Ah sudahlah... :((

Senin, 05 November 2012

Sentimental Notes

Pagi ini, sembari masih ngulet-ngulet di kasur, saya berdiskusi santai via WA dengan Mas Pras yang sedang di Ngurah Rai Airport menanti Lion Air boarding menuju Yogyakarta. 

Saya: "Waktu itu Ayos nanya, selain untuk desainer, sebenernya apa sih gunanya tablet, kalau dengan smartphone kayak gini aja kita udah bisa ngapa-ngapain... Menurutmu gunanya tablet apa, Mas?"

Mas Pras: "Kalo buat kalian traveler kan cocok tuh semi laptop."

Saya: "Tapi aku belum butuh tuh, kebanyakan gadget malah ntar jalan-jalan jadi was-was. Lebih nyaman nyorat-nyoret langsung di kertas."

Mas Pras: "Ya kan tipe orang beda-beda. Kemarin pas rapat banyak yang bawa tablet buat nyatet ini itu. Lebih efisien daripada nggotong-nggotong laptop."

Saya: "Hmm... tapi aku lebih suka nyatet secara konvensional. Lebih sentimentil. Hehehe..."

Mas Pras: "Yo bedo kae, nduk... Kan ini ngomongin secara general. Atau ya mungkin buat beberapa orang, sebagai sarana buang-buang uang. :))"

Kemudian saya sarapan dan dia boarding. Iseng, saya membuka kembali beberapa note book (dalam arti sesungguhnya) yang sudah acak adul. Ketawa-ketawa sendiri membaca isi di dalamnya. Beberapa di antaranya selalu saya bawa saat bepergian. Jika sudah habis, saya beli yang lain tanpa membuang yang lama. Saya memang mendewakan kenangan rupanya. Lewat catatan kecil ini teman-teman perjalanan saya juga biasanya ikut nyorat-nyoret beberapa hal. 

Ketika traveling berempat ke Pulau Sapudi bersama Nuran, Ayos, dan Nurul, hanya Ayos yang membawa catatan kecil, tak ada pula yang membawa laptop. Smartphone? Uh, jangan tanya berlebihan deh hehe...  Selama di Sapudi kami bercerita di dalam catatan itu. Entah catatan itu masih ada atau sudah hilang. 

Saya ngga tau, apa hal yang sama bisa saya lakukan jika kelak saya menggantikan posisi notes ini dengan tablet. Kalau ngga percaya saya ini sentimentil, ya anggaplah saya memang kere karena belum bisa beli tablet. Hehehe, boleh lah tapi kalau ada yang mau nyumbang. Lumayan, buat motret sunrise di Bromo. *Kemudian ditoyor Idham* :))


Ini digambar oleh Ayos, beberapa hari sebelum saya pergi ke Kalimantan Barat. Ada gambar Mbak Anty dan Mas Ian dengan tubuh berototnya, lalu ada Mas Pras yang naik kuda Sandelwood. Hahaha... Bagian pojok kanan luntur terkena cipratan air sungai Kapuas yang merembes ke dalam ransel ketika bersampan menuju Tanjung Lokang.


Bukan, ini bukan gear impian saya di tahun 2012. Ini lagi-lagi Ayos yang bikin, dan ya kalau kamu baca ini deh ya Yos, 2012 tinggal 2 bulan lagi, wes tuku opo kowe? :))


Nulis ini pas lagi selo di Tanjung Lokang, far far away from Dian Prasetyo :') Eniwei, tulisan tangan kalian apakah juga semakin jelek seperti saya karena lama tak menyentuh pena?


Mini notebook saya, simpel, ringkas, tanpa baterai.


Baru kali ini saya menulis tentang vegetasi, itupun gara-gara diingetin Om Brendes yang notabene seorang wildlife photographer ketika bersama-sama ke Pulau Komodo. "Jangan lupa foto vegetasi!!" semprotnya. Mulai dari itu pada perjalanan berikutnya ke Maluku dan Kalimantan, saya selalu menyempatkan untuk memotret daun-daun dan pepohonan :p

Disclaimer: Semua ini pendapat SAYA lho ya, kalau kalian pengguna tablet, ya monggo-monggo saja, piss yo! :D

5 November

"Selamat ulang tahun, Yah... Mugi-mugi rejekine cekap, sehat selalu sampai nggendhong cucu... Hehehe... Amin Ya Rabbalalamin..."

Begitu isi pesan singkat saya pagi ini kepada Ayah di Jember. 5 November memang hari lahir beliau, tepatnya tahun 1956. Itu artinya sekarang Ayah berusia 56 tahun ya. Kalau di dunia per-PNS-an mungkin sudah saatnya Ayah menikmati masa retirement. Tapi toh keluarga besar saya memang tak ada yang bekerja nine to five di kantor. Darah-darah berwirausaha sudah diturunkan jauh dari eyang-eyang di atas sana. Baik Ayah saya, mbah kung, pakdhe dan om-om saya tak memiliki batas usia pensiun. Mereka akan berhenti bekerja bila sudah tak bertenaga. Pada usia ini, Ayah saya sudah tak bekerja sengoyo jaman saya masih SD. Mungkin karena kedua anaknya sudah menyelesaikan pendidikan dan mulai meniti karir dari nol. 

Saya jarang menceritakan tentang keluarga saya di blog ini. Padahal saya sudah merancang, kelak blog ini adalah 'wikipedia saya' yang bisa dibaca oleh cucu dan cicit saya pada jamannya. Lalu bagaimana nanti keturunan saya bisa mengenal leluhurnya tanpa saya tulis di sini? 

Kemarin saya membaca blog teman yang menulis tentang kenangannya pertama kali mengganti bohlam lampu. Rupanya ilmu sederhana itu diturunkan dari sang kakak yang sudah meninggal hampir 10 tahun lalu. Dia berterima kasih karena kakaknya secara tidak langsung mendidik bagaimana cara menjadi perempuan mandiri, meski hanya dengan mengganti bohlam.

Saya terhenyak membaca tulisan tersebut. Entah mengapa rasanya saya tidak ingin menulis tentang keluarga saya di dalam blog hanya untuk mengenang mereka yang sudah tiada. Saya pun semakin menua, kapasitas memori bisa saja mencapai ambang batas. Lalu kalau sudah dengan kondisi seperti itu, apa saya masih mampu menulis tentang mereka di sini? Belum tentu.

Kalau tidak karena mengikuti workshop Zhuang Wu Bin, si fotografer Singapore itu, saya bisa saja tidak akan pernah membuat dokumenter tentang Mama saya. Wu Bin memandang pergantian agama dan pernikahan beda ras orang tua saya adalah satu hal yang menarik. Sedangkan saya memandang itu hal yang biasa saja, hehehe... Belakangan saya menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita hidup yang tidak biasa di mata orang lain. Di mata saya juga. Ada sisi cerita mereka yang selalu membuatmu manggut-manggut, mengerutkan dahi atau kalau jaman sekarang sih ngasih hashtag #barutau :)

Ayah adalah lelaki yang cenderung pendiam. Jika ada masalah, beliau lebih suka menyimpan dalam kepura-puraan. Sifat ini yang rupanya menurun kepada saya. Meski demikian, beliau tetap seorang manusia yang punya sisi sentimentil. Ayah saya tak pernah terlalu lama menyimpan sms  yang masuk ke handphone-nya. Sehari dua hari jika tak penting, pasti langsung di-delete. Hanya ada satu sms yang masih tersimpan dalam folder inbox, yaitu sms balasan dari saya pada 5 Juli 2012, ketika ayah mengucapkan selamat ulang tahun. Sms itu berisi harapan saya, ucapan terima kasih dan permohonan maaf karena belum bisa membanggakan orang tua hingga berusia 25. Ya, begitulah :)

Saya pernah berdoa, agar mendapatkan pendamping hidup yang doyan nonton pertandingan sepak bola. Agar Ayah saya tak heboh sendiri ketika musim liga-liga bola itu berlangsung, hehehe... Selamat ulang tahun, Ayah, tetap semangat menghadapi putrimu yang bandel ini! :D

Ayah dan Mama plesir ke Mesir 12 tahun silam