Rabu, 18 Desember 2013

Quickening Time!

Memasuki awal minggu ke-18.

Perut saya dari semalem heboh. Ada gerakan seperti 'meluncur' lalu 'berkedut' atau 'bergeser'. Walaupun hanya beberapa detik tapi saya gembira banget! Ini berarti janin saya sudah masuk masa quickening. She/ he will kick me immediately! 

Kejadian yang sama berlangsung tadi pagi. Kadang dia berhenti sejenak mungkin sedang tidur. Setelah jam makan siang, she/he did the same thing! :D

Mungkin lagi ikut 'ngunyah' bayem yang saya makan...

*yakali*

Rabu, 04 Desember 2013

Cerita Tiga Bulan Pertama (1)


12 November 2013

Kemarin resmi ketemu si adik bayi lagi lewat layar monitor pak dokter :D

Kegiatan kontrol ke obgyn sebulan sekali ini selalu bikin saya sumringah. Walopun rumah sakitnya agak jauh dari rumah kontrakan saya tapi ngga apa-apa. Sebelumnya, saya dan si ayah jabang bebi ini memang agak pilih-pilih dokter dan RS setelah baca ini itu. Akhirnya keputusan jatuh juga di dr. Didi Dewanto di RS Husada Utama. Padahal ada rumah sakit Ibu dan Anak yang jaraknya hanya 15 menit berkendara dari rumah. Tapi tak apalah, toh buat anak sendiri.

Sejak memutuskan untuk ke dokter tersebut, saya selalu diwanti-wanti oleh beberapa teman yang sudah melahirkan di sana. Bukan, bukan dikasih wejangan yang nakut-nakutin. Mereka cuma bilang, “Ih, hati-hati… dokternya ganteng!”

Jeng! Jeng! Ternyata bener, sodara-sodara. Dr. Didi ini walopun udah beruban, tapi memang rupawan. Senyumnya murah dan tutur katanya menenangkan para ibu-ibu hamil yang kebanyakan makan mitos. Alhamdulillah, saya dan suami langsung merasa cocok dengan pak dokter.

Pada saat kontrol pertama kali, saya ditanya oleh pak dokter, “Wah, ini baru telat belum seminggu, kok sudah tau kalau hamil?”

Begini rahasianya, ibu-ibu… Jadi, siklus mens saya relatif teratur yaitu berkisar 26-27 hari. Pernah sih melompat sampai 31 hari, tapi kasus tersebut hanya sekali dalam setahun. Kebetulan, saya cukup rajin mencatat hari datang dan perginya mens kira-kira setahun sebelum menikah hingga sampai kehamilan. Sekarang mah udah jaman serba smart yah. Tinggal donlot aplikasi di henpon, udah mudah banget buat ngontrolnya. Ngga perlu ngelingkarin kalender secara manual. Yang saya pake selama ini sih aplikasi LoveCycles. Aplikasi semacam ini bakal ngasih tau dan ngitungin kapan kita masuk masa subur hingga tanggal mens bulan berikutnya. Walaupun semua sifatnya hanya estimasi, tapi believe me, itu sangat membantu daripada tidak ada record sama sekali.

Beberapa bulan setelah menikah, dan puas jalan-jalan berdua beberapa kali, saya dan suami memutuskan untuk memulai program kehamilan. Kami ngga berkunjung ke dokter sih. Karena saya pengen mencoba berbagai teori dalam mata kuliah reproduksi untuk memprediksi masa subur terlebih dahulu. Semacam, “beneran nih kalau kayak gini bisa hamil?” Hehehe…

Jadi selain pake sistem kalender lewat LoveCycles tadi, saya juga mengukur suhu tubuh sesaat setelah bangun tidur. Gunanya? Tidak lain, tidak bukan adalah menentukan masa subur. Lagi-lagi pake bantuan aplikasi dong! Jaman udah gampang, ngapain susah-susah ngegambar grafik ya kaaan… Di sini saya make aplikasi FertilityFriend, tinggal masukin suhu basal tubuh TIAP HARI sesaat setelah melek sebelum melakukan hal yang lain-lain, biar akurat. Nah, ntar sama si aplikasi langsung deh diplotin ke grafik secara otomatis. Teori pengukuran suhu ini yang bikin saya amaze sama tubuh wanita dan Allah SWT Sang Pencipta pastinya.

Bulan pertama sejak memakai FertilityFriend tidak langsung berhasil tekdung positif. Ada beberapa hal sih terutama kondisi saya dan suami yang LDR-an Surabaya – NTT. Praktis dong ya, ketemu sebulan cuman beberapa kali. Ya kalo tepat masa subur yang puncaknya cuman tiga hari itu, kalo ga? Yang terpenting adalah jalani semua dengan santai serta jangan lupa berdoa. Usaha udah pasti dong ya tapi jangan ngoyo juga nanti malah stress.

Beruntungnya saya dan suami tidak pernah mendapat gangguan dari (terutama) orang tua masing-masing yang menanyakan udah telat dateng bulan belum? Apalagi mereka juga tahu, bahwa kami tak bertemu setiap hari.

Lalu masa yang ditunggu-tunggu itu datang juga, kira-kira 3 bulan penuh rajin mengukur suhu basal, (dan setelah ‘bikin’ di Bali :p), saya mendapatkan grafik suhu yang agak tidak seperti biasa. Masih sabar, saya tunggu beberapa hari untuk memastikan bahwa model grafik ini yang memang saya tunggu-tunggu.

Jadi, aplikasi ini memberikan contoh grafik kayak gimana sih model grafik suhu hamil? Atau kayak gimana sih grafik negatif hamil? Hingga kasus keguguran pun bisa digambarkan.

Setelah lewat beberapa hari ditambah saya telat mens walaupun masih tidak lebih dari seminggu, maka saya langsung memberanikan diri untuk membeli testpack. Saat itu saya membeli dua merk yang berbeda. Bodohnya, saya tidak melihat tanggal kadaluarsa keduanya. Sampai rumah pun baru sadar bahwa salah satu merk sudah lewat masanya sebulan lalu. Hih! Gimana sih manajemen apoteknya? +_+

Besok pagi, seusai bangun tidur, saya tetap menggunakan keduanya. Ngga terlalu deg-degan karena udah keburu sebel semalaman mikirin testpack kadaluarsa. Pas muncul dua garis juga masih belum sreg, karena satu garis masih samar banget. Mungkin hormone HCG (yang dikeluarkan saat kita positif hamil) masih sedikit.

Akhirnya memutuskan untuk beli testpack lagi dan mengulang dua hari kemudian biar HCG-nya keliatan lebih jelas. Nah, menunggu dua hari ini nih yang baru kerasa deg-degan. Tapi Alhamdulillah, setelah tes urin lagi, dua garisnya mulai kelihatan lebih jelas. Beberapa hari kemudian, suami pulang ke Jawa dan kami berbarengan menuju dokter kandungan.

Deg-degannya belum berhenti sampe situ. Malem hari sebelum ke rumah sakit, saya sempet-sempetnya sesak nafas. Ngga bisa tidur dan sibuk ngomelin suami. Nafas jadi serba pendek. Dan semua berlangsung sampai di rumah sakit untuk kontrol kehamilan pertama kali.

Rupanya semua karena saya nervous. Hehehe… Setelah di usg dan terlihat kantong janinnya, sesak nafasnya tiba-tiba musnah. Hahaha! Kasian suami saya udah saya omel-omelin.

Oh iya, karena saya belum telat mens seminggu, alhasil harus pakai usg transvaginal. Kalo pake usg perut jelas belum terlihat. Di usia 4 minggu kehamilan pun yang terlihat baru kantong janinnya. Sementara untuk menunggu apakah embrio tersebut berkembang atau tidak harus nunggu sebulan lagi.

Never ending deg-degan lah ya pokoknya…

Tips:
Buat yang lagi program hamil, selain pakai cara kalender dan suhu basal tubuh, bisa juga ngecek lendir vagina walaupun cara ini gampang-gampang susah juga sih.

Rabu, 16 Oktober 2013

Ternyata Ngidam Itu...


17 September 2013

Hingga hari ini saya selalu bersyukur nyaris tak pernah ada mual muntah atau yang lazim disebut morning sickness itu. Mungkin adik bayi tau, ibunya jauh dari ayahnya. Bakal repot kalo harus mual-mual sepanjang trimester awal. Masih terlalu cepat menyimpulkan sih, tapi mudah-mudahn sisa trimester pertama ini benar-benar tanpa mual atau muntah yang berlebihan.

Alih-alih susah makan, yang ada saya malah pingin ngembat ini itu. Ngidam, orang bilang. Sebenarnya ini sah-sah saja, tapi namanya hamil muda, asupan nutrisi pun harus dipikirkan. Sudah makan sayur apa hari ini? Sudah mengasup protein kah? Bagaimana dengan buah-buahan? Sementara ngidam saya ini kebanyakan street food atau ya makanan di mall hehe yang susah diukur kadar gizinya. Apa yang mereka pakai di dapur pun bikin parno sendiri. Bersih atau ngga? Pakai MSG atau ngga? Padahal sebelum hamil, saya ngga pernah mikirin semua itu. :p

Saya tidak tahu apakah rata-rata ibu hamil newbie juga mengalami hal yang serupa. Namun saya pernah mendengar, kehamilan pertama memang kadang pingin serba perfect, lantas kehamilan berikutnya malah lebih santai dan enjoy. Semoga saya masih dalam taraf wajar ya.

Suatu malam, 12 September lalu, Mas Dian terbang dari Jakarta ke Surabaya sebelum kembali ke Waingapu. Sebelumnya dia memang sedang menghadiri rapat selama 4 hari di daerah Ancol. Kala itu kami belum tahu apakah saya benar-benar positif atau tidak. Modalnya hanya testpack yang bergaris dua saja sih. Sementara jadwal ke dokter kandungan baru keesokan harinya, karena saya sengaja menunggu si suami pulang ke Surabaya.

Sedari sore lidah saya tak henti-hentinya ingin mencecap kwetiaw goreng Wapo di daerah Unair. Mas Dian berkata akan mengantar ke Wapo begitu mendarat di Surabaya. Waktu itu seharusnya Mas Dian berangkat pukul 15.40 WIB namun sempat delay 20 menit. Saya masih kalem nih sembari menghitung-hitung perjalanan Jakarta – Surabaya, lalu bandara ke rumah. Perkiraan pukul 19.00 WIB Mas Dian sudah muncul di depan pagar. Bisa tuh langsung ke Wapo.

Pukul 18.30 WIB tak ada kabar apakah pesawat sudah landing atau Mas Dian sudah di dalam taksi atau belum. Biasanya saya menjemput di terminal Purabaya, karena rute bus bandara Juanda hanya sampai terminal. Namun, karena kami berdua yakin bahwa saya hamil, Mas Dian menyuruh saya anteng di rumah dan tidak beperjalanan terlalu jauh dulu.

10 menit kemudian saya mulai uring-uringan. Antara kelaparan dan merasa kasihan kalau si suami harus mengantar ke Wapo saat sudah terlalu malam. Dia pasti capek, pikir saya. Namun justru perasaan ini malah membuat saya makin menginginkan kwetiaw goreng yang mengepul-ngepul itu.

Smartphone saya tiba-tiba bergetar. Mas Dian mengirim pesan lewat WhatsApp. Pesawat yang ia tumpangi rupanya delay lagi 30 menit saat semua penumpang sudah berada di dalam kabin. Izin terbang harus antre mengingat padatnya lalu lintas udara. Alhasil dia pun baru mendarat di Juanda hampir pukul 7 malam.

Saya semakin sedih karena ini artinya Mas Dian akan nyampai rumah 45-60 menit lagi sekitar pukul 8 malam. Lalu menuju ke Wapo perlu 20 menit kalau ngga macet. Kemudian pesan makanan dan mungkin akan terhidang maksimal 30 menit setelah order. Itu jam berapa ya, sementara perut sudah keroncongan. Saya pun membalas WhatsApp sang suami menanyakan opsi apakah kita ke Wapo atau beli sesuatu yang dekat saja. Mas Dian tidak keberatan mengantar, walau saya tahu dia capek banget.

Akhirnya saya memutuskan akan keluar rumah sebentar untuk membeli martabak tak jauh dari kompleks. Dan yang luar biasa adalah saya menangis! Air mata netes-netes deras saat saya masih berkutat dengan pesan kepada suami. Serius, the power of ngidam ditambah hormonal seorang ibu hamil yang naik turun,  saya menangisi kwetiaw yang tak berhasil di dapat. Mata saya memerah dan muka saya jelek banget di cermin.

Sembari mengelus perut, saya berpikir, apakah yang pingin kwetiaw itu kamu, Nak? Atau cuma sugesti Ibumu?  

9 bulan masa kehamilan katanya sih masa yang penuh keajaiban. Mungkin cerita ngidam tak kesampaian ini jadi salah satu hal yang bakal membuat geleng-geleng kepala saat diingat. Anyway, besoknya Mas Dian mengajak makan siang di Wapo. Saya pun akhirnya makan kwetiaw goreng dengan penuh penghayatan sampai ludes.

Alhamdulillah ya :)

Kamis, 19 September 2013

Morning Glory

Selama lebih dari 26 tahun, saya baru sadar, bahwa pagi adalah sebaik-baiknya hari.

Seorang fotografer ternama di Indonesia pernah menyampaikan opini tentang waktu terbaik untuk memotret lanskap. Dia berujar, bahwa bangunlah saat orang lain masih terlelap di kasur, karena keindahan pagi tak pernah terganti dibandingkan dengan senja sekalipun. Anda boleh setuju atau tidak, namun memang pernyataan ini 80% akurat.

Tenang saja, saya tidak akan membahas pentingnya bangun pagi dalam ranah fotografi. Saya akan bercerita tentang fenomena yang terjadi pada diri sendiri. Saat masih lajang dan sedang asyik menikmati kehidupan jauh dari rumah sebagai anak kost di Surabaya, tidur di bawah pukul 21.00 WIB adalah hal yang paling saya hindari. Terlebih jika itu akhir pekan. Mengapa? Karena dalam benak, saya selalu berujar bahwa malam ini tidak boleh terbuang begitu saja. Definisi terbuang, apakah lantas saya melakukan hal yang bermanfaat bagi orang banyak.

Mmm... Ngga juga sih...

Jika ada tugas kuliah, saya lebih suka mengerjakan saat menjelang tengah malam. Jika besoknya libur, maka bisa jadi saya baru keluar kost pukul 11 malam. Ke mana? Dugem? Hahahaa.. Yakin deh ngga ada pub yang mau menerima tamu yang mirip anak SMP baru lulus SD kayak saya. Tapi memang ngga bohong, bahwa biasanya jam segitu saya nongkrong di McD bersama anak-anak kost lain, atau sekedar makan es kacang ijo di dekat kosan yang buka sampai dini hari. Atau kalau tidak ada teman, maka saya akan berdiam di kamar dengan sebuah laptop dan modem untuk internetan. Ya, browsing apapun yang saya mau. Chatting dengan yang sedang online atau sekedar nulis di blog walopun berakhir jadi draft saja. Lain lagi kalau temen sekos saya ngajak gelimbungan. Ini adalah kegiatan kongkow-kongkow di salah satu kamar hingga subuh menjelang. Ngapain aja? Surhaaaat... Surhat all nite looong...

Dari semua kegiatan (ngga berguna) itu intinya sih satu, jangan sampai saya tidur terlalu sore lalu menyesal tidak memaksimalkan malam sebelumnya. Entah mengapa tapi memang kenyataannya saya beropini demikian. Jumat dan Sabtu adalah hari-hari favorit. Maka haram hukumnya, kalau saya ngga tidur di atas jam 12 malam. Karena ada sugesti seperti itu, maka mata saya juga lantas ngga mengantuk! Hari Minggu malah biasa saja, karena besoknya Senin dan saya harus kuliah.

Pada tahun-tahun tersebut, malam hari adalah idola saya. Dan sudah bisa ditebak, jam berapa saya bangun keesokan harinya. Jam 9 - 10 pagi. Atau hingga Dzuhur? Hm, belum pernah sih, karena terlalu siang bikin kepala pusing. Kalau saya hidup di kampung mungkin sudah diguyur air ya disuruh bangun. Dan pasti dengan embel-embel, "Perempuan kok doyan bangun siang!" Anyway yang jelas saya ngga tau ada berapa banyak Subuh yang terlewat. :(

Hingga kemudian saya menikah.

Beberapa hal selain status di KTP pun berubah. Saya yang bertahun-tahun hanya mengurus kamar kos seluas 3x3 meter saja, sekarang harus menghadapi rumah kontrakan dengan halaman super luas. Rupanya perubahan ini bikin saya kelabakan. Nyaris tak pernah menikmati indahnya begadang malam hari. Karena batere badan saya udah keburu ngedrop setelah Isya'. Ya, setelah Isya'. Tertidur pukul 9 malam itu sudah istimewa sekali. Lah wong kadang, belum genap pukul 8 sudah nguap berkali-kali. 

Karena tidur terlalu 'sore' itulah, saya secara otomatis bisa bangun subuh-subuh. Bahkan sebelum adzan berkumandang. Perubahan jam biologis ini mungkin lebih banyak manfaatnya untuk kesehatan organ tubuh saya terutama liver. Karena orang yang doyan begadang, suatu saat pasti livernya bermasalah. Namun, dibalik semua keuntungan itu, ada satu hal sederhana yang saya sadari. Bahwa pagi itu indah. 

Setiap membuka jendela, udara dingin ala Surabaya yang mungkin hanya beberapa jam saja langsung berhembus. Segar sekali rasanya. Karena kompleks perumahan ini tak jauh dari area mangrove, maka setiap pagi rumah saya selalu kedatangan burung-burung. Saya tak tahu persis nama mereka apa. Yang jelas mereka bercicit-cuit di halaman sembari mengambil rumput-rumput kering untuk membuat sarang entah di mana. 

Pukul 6 pagi biasanya saya sudah keluar rumah untuk belanja sayur di warung ujung kompleks. Yang menyenangkan adalah saya masih bisa melihat kabut tipis dengan background sebuah apartemen mewah. Lalu di ujung Selatan saya pun melihat bayangan gunung. Gunung! Sejak tahun 2005, saya ngga pernah sekalipun melihat gunung di Surabaya. Kata kawan saya, itu gunung-gunung yang ada di Malang. Wow! Entah benar atau tidak tapi saya amaze bisa menikmatinya dari kompleks perumahan ini. 

Saya jadi agak nyesel pernah hobi begadang bertahun-tahun dan melewatkan ribuan pagi yang sejuk meskipun berada di tengah kota. Tapi akhirnya bersyukur bahwa ritme hidup saya sekarang sudah berubah lebih sehat tanpa jadi kelelawar lagi. Hehee... Walaupun kadang, saya kangen ngelayap jam 11 malam hanya untuk sepiring roti bakar di dekat kampus Unair. :p


Jumat, 09 Agustus 2013

Lebaran Pertama Jauh Dari Rumah

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, mohon dimaafkan segala khilaf kata dalam blog ini. Lebaran tahun ini pertama kalinya dalam 26 tahun saya ngga di rumah Jember bareng orang tua dan keluarga besar. Tahun ini saya mudik ke kampung halaman suami di Semarang. Kami memang sepakat untuk mudik secara bergantian tiap tahun. InsyaAllah, jika masih dipertemukan dengan Idul Fitri tahun depan, ya kami Sholat Ied di Jember. Begitu seterusnya.

Bulan puasa kemarin saya ngga sempat pulang sama sekali ke rumah Jember. Entah mengapa, tiba-tiba pekerjaan datang menumpuk. Bahkan pada H-4 Lebaran saya masih ada tugas motret di Surabaya Utara. H-1 mengerjakan revisi. Lalu hari ini pun, Lebaran hari kedua, saya baru menyentuh sedikit satu pesanan tulisan dengan deadline tanggal 20 Agustus.

Tapi, bukankah semua tetap harus disyukuri? Masih banyak pengangguran di dunia ini jadi sikat saja pekerjaan-pekerjaan itu, hehe...

Anyway, tidak berada di rumah orang tua sendiri saat Lebaran rasanya memang ada yang kurang. Tidak bisa sungkem langsung. Hanya bisa lewat telepon saja. Pada saat menelepon Mama untuk minta maaf, saya tidak bisa mencegah air mata yang menetes. Padahal belum tentu saat momen Lebaran tahun-tahun lalu saya bisa nangis saat sungkem langsung. Tapi saya berusaha menutupinya, ngga lantas sesenggukan di telepon. Paling tidak, saya menyadari bahwa orang tua tetaplah orang yang akan selalu kita rindu betapa pun bawelnya mereka.

Di rumah mertua, Lebaran hanya dihabiskan dengan silaturahmi dengan tetangga, lantas dengan keluarga inti saja; berenam. Jauh berbeda dengan keluarga Jember yang sehabis Sholat Ied selalu berkumpul di rumah budhe tertua. Puluhan orang tumplek-blek menghabiskan piring demi piring. Keluarga kami memang besar. Pagi itu saya menyempatkan menelpon budhe, dan suara keriuhan itu pun terdengar. Nangis lagi deh jadinya. Haha, kangen bikin cengeng ya ternyata. 

Hm, oke deh, segitu dulu posting Lebaran saya. Selamat makan opor, walaupun saya yakin udah banyak agak eneg, hehe... Maaf lahir batin ya! :)