Mencontek judul album Risky Summerbee and the Honeythief, saya pengen bikin list: The Place I Wanna Go. Tempat-tempat, yang entah kapan, pake uang siapa, dan bagaimana ceritanya, akan saya kunjungi suatu hari nanti, haha... Lalu kenapa ada part one? Karena nanti pasti ada part two dan seterusnyaa... :)
The Souk in Marrakesh Ini semua gara-gara nonton Sex and The City 2!! Salah satu scene yang bikin saya ngiler setengah mati di film itu ternyata bukan baju-baju yang dipake Carrie Bradshaw and frens , karena ngga mungkin juga saya make pakaian seheboh itu hahaaa... Bisa tenggelam ntar, huehe..
Adalah sebuah Pasar! The Souk, Pasar Bumbu, begitu kata Miranda yang sangat antusias ngajakin Carrie ngubek-ngubek Abu Dhabi. Well, well, pasar ini sangat keren sekali, lorong-lorong yang sangat eksotis, penduduk lokal yang sangat Arab, hehee... dan saya suka melihat warna-warni yang ada di sepanjang jalan sempit itu. *sok sok udah pernah ke sana :p Eniwei, setelah saya gugling, ternyata eh ternyata Pasar yang ada di scene Sex and the City 2 ini ada di Marrakesh!
Seperti kata lonelyplanet.com: What you’ll be missing in Marrakesh is predictability and all sense of direction. Marrakesh is too packed with mind-boggling distractions and labyrinthine alleyways to adhere to boring linear logic.
Huhu, blusukan till nyasar is my favourite type of traveling... and someday, yah, someday... saya pasti menginjakkan kaki di pasar ini kayak anak kecil ilang :)
Córdoba- Cordova Menghadapi kenyataan bahwa bapak-ibu saya sudah pernah ke sini tahun 2000 silam, adalah yang paling sulit. Setiap saya nengok souvenir piring bergambar Masjid Cordoba di lemari deket TV di rumah, hati saya selalu teriak-teriak: kenapa dulu saya ngga diajaaak????Se pa nyol... se pa nyol...
Dan setiap saya mengulang-ulang pertanyaan itu, Ibu saya dengan baik hati pasti bilang, "nanti pake uangmu sendiri, pergi sendiri..."
oke, berhubung doa Ibu adalah yang paling manjur, so I'll be there soon or later! :)
Sedang mendengarkan tante Cyndi Lauper dengan True Colors-nya. Lagu ini menjadi closing song di sekuel Sex and The City yang baru saya tonton beberapa jam yang lalu. ... if this world makes you crazy and you've taken all you can bear you call me up because you know I'll be there your true colors are beautiful like a rainbow ...
mungkin karena akhir-akhir ini saya lagi crazy campur unwell, lagu ini cukup mengena di hati, nyindir saya yang sebenernya pengen sembuh dari penyakit gila yang ga jelas ini. I want my true colors back...
Just finished reading this book: Marmut Merah Jambu. Iya. Saya memang rajin baca novel-novelnya Raditya Dika. Awalnya dulu saya nyolong si Kambingjantan dari kamar Alis, temen kos saya, pas masih semester satu dulu. Ternyata perbuatan kriminal ini membuat saya ketagihan. Walopun pada kenyataannya, menurut saya, novel pertama adalah yang paling lucu sampai bikin perut saya kram, tapi saya tetep baca semua bukunya. Bagaimanapun, buku adalah jendela dunia, hoho... Iya, bener lho, temen saya, sebut saja Bunga, baru saja iseng membaca buku ini di kamar saya. Lalu dia bertanya, ”Absurd itu apa yah?”
Nah, bener toh, walopun buku Raditya itu ’cuman kayak begini’, tapi akhirnya temen saya bertambah ilmunya. Dia sudah tau arti kata Absurd.
Lalu, bagaimana dengan buku kelima si Marmut Merah Jambu?
Ini adalah yang paling beda.
Kenapa?
Karena Raditya Dika (katanya) sedang dimabuk asmara. Ternyata memang suasana hati sangat mempengaruhi model tulisan yah? Saya ngga berani membayangkan kalau Raditya yang sedang jatuh cinta ayang-ayangan harus menulis novel thriller. Judul Marmut Merah Jambu, yang menurut saya menggambarkan sesuatu yang imut, lucu, kiyut, tipikal orang jatuh cinta dimana semuanya akan tampak indah, akan berubah jadi Marmut Keselek Biji Duren. Horrible.
Saya punya cerita yang berkaitan dengan si Marmut ini. Begini, beberapa waktu yang lalu, saya dan dua Om saya [bukan Om sebenernya] saling berbagi note di fesbuk. Saya memprofilkan mereka, mereka juga memprofilkan saya. Lalu saya berusaha mati-matian memasukkan profil kami pada Wikipedia, tapi ditolak. Hihi... [yaaa iyalah!]
Oke, back to nature, dalam sebuah note-nya tentang saya, Om Nuran, dengan baik hati membongkar rahasia saya, seperti ini:
Dulu Putri pernah keceplosan cerita kalau dia naksir seorang eksekutif muda yang kos didepan kosan si Putri. Dasar si Putri wanita alim, dia naksir gara-gara ngeliat si eksmud ini lagi sholat. Jadi pelajaran pertama adalah, untuk membuat Putri jatuh cinta pada anda, dia harus melihat anda sholat terlebih dahulu, hahaha. Tapi ternyata Putri ditinggal kabur oleh si eksmud ini entah kemana. Mungkin gara-gara si Putri kekeuh mempraktekkan lirik When You Love Someone-nya Endah N Rhesa kalau sedang naksir cowok: “Hide and watch you from distance.” Huahahaha, ini abad 21 Puuuttttt!!!
Sip! Paragraf favorit saya. Sebenernya, saya pengen membalas dengan melakukan pembelaan. Saya siap menulis dua halaman A4, spasi satu, Calibri 8, lalu saya kirim ke Om saya yang paling tengil itu. Tapi, oh tapi, saya sudah males duluan. Males, karena saya selalu kalah berdebat. Karena tidak ada yang membela saya. Om Ayos juga pasti akan mendukung Om Nuran. Huwaaa... jadi saya hanya bisa meringkuk, sendirian di kamar, bawa-bawa pisau, lalu ngupas apel, sambil nonton infotainment.
Kemudian, saya membaca buku ini! Pada chapter 1, Raditya Dika menggambarkan pengalamannya naksir cewe ketika SMP dulu. Dia kasih judul chapter itu: Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam. Huahaha… baru baca judulnya saja, saya langsung merasa tertohok. Hehee… Ngga deng. Saya suka, karena ternyata si Raditya Dika ngga bawa-bawa abad 21 segala, kayak kutipan note di atas.
Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya ‘menerima’. Orang yang jatuh cinta diam-diam, paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi bukan yang sesungguhnya kita butuhkan (Raditya Dika, 2010)
Kenapa saya suka ending chapter ini?? Pertama, saya jadi tambah alim, karena saya, sebagai orang yang pernah jatuh cinta diam-diam, hanya bisa ’mendoakan’. Ih, serius. Mendoakan itu susah. Susah ikhlasnya.
Kedua. Saya jadi orang yang ’menerima’. Ini penting. Karena saya dilahirkan sebagai anak manja. Dan yang diperlukan untuk anak manja, adalah sebuah pelajaran ’menerima apa adanya’. Dan yang paling krusial adalah pada akhirnya saya jadi tahu bahwa orang yang saya jatuhi cinta [oke, ini lebai, sebenernya bukan sampe Cinta Banget sih] itu, bukan yang saya butuhkan. Dan lagi saya ngga ada dorongan untuk membuatnya berubah status menjadi suatu ’kebutuhan saya’. Saya ngga kangen, dan dengan gampang melupakan kebodohan-kebodohan yang saya lakukan pas naksir si mas depan kos itu [bukan eksmud, eniwei!]
Bukan berarti saya salah atau benar. Saya hanya mengambil sisi positifnya saja. Semua buku cinta-cintaan pasti setuju, bahwa ngga ada salahnya sayang sama orang :p
Iya kaaaan, walopun diam-diam, yang penting saya ngga freak! Heheee...
Dan semalam, saya menyanyikan lagu sorak-sorak bergembira dengan gegap gempita. Kenapa? Begini ceritanya, saya dan Om Nuran ketemu di messenger, dan kita chat sampai jam 2 pagi. Saya mendapatkan satu fakta penting dari perbincangan itu.
He said, ”aku sedang mengikuti caramu. Hide and watch from the distance.”
Huahahhahaa… saya ketawa ngakak kayak nenek lampir. Saya senang luar biasa, karena ada yang kualat sama saya! Tidakkah cukup bukti, adegan kue prol tape ketinggalan di kereta gara-gara ngomongin saya, ahahhaa....
Dia lalu membela diri, “yahh... intinya sih, aku ngga begitu setuju sama hide and watch! Tapi untuk perempuan ini, terpaksa harus dilakukan cara seperti itu.”
Sepanjang apapun pembelaannya, tetep aja itu berjudul: HIDE AND WATCH!! Hihihihii... nenek lampir, part two.
Seperti yang saya alami, jatuh cinta diam-diam itu selalu membawa berkah. Lalu apa yang terjadi pada Om saya yang suka ngomong blak-blakan ngelewati lembaga sensor mulut ini?
Dia ngga flirting.
Walopun dia penasaran pada si cewe sampe setengah hidup gitu, tapi dia menahan buat ngga flirting. Waw… terdengar sangat bukan Om Nuran, hwahhaaa… Kidding!! Bagaimanapun ini patut diapresiasi, karena ini termasuk prestasi kelas tinggi.
Iya to? Jatuh cinta diam-diam itu emang ajaib… at least for me :)
NB: Semoga saya ngga dicincang Nuran abis bikin postingan ini.
Ada orang aneh. Bukan yang pake kacamata, itu temen saya, Al Sheila. Yang jilbaban, itu saya, dan sudah jelas kita berdua bukan orang aneh (i hope). Kita lagi di CCCL, abis nonton talkshow Vaincre le Paludisme, atau bahasa gampangnya Menaklukan Malaria. Trus siapa yang aneh? Iya, yang itu, yang cowo. Kenapa ada orang yang ikutan nampang di kamera orang yang ngga dikenal? Apa Mas itu ngga takut, fotonya saya masukin blog, trus saya komentarin kayak gini... Apa Mas itu ngga takut, saya 'bencongin' mukanya, terus saya aplot di fesbuk? Apakah proverb kuno sekarang sudah berubah menjadi, tak sok kenal, maka tak sayang.
Hm, eniwei, saya senang bisa mendengar kata-kata ini lagi dalam talkshow itu: larva, parasit, preventif, kuratif, promotif, blablatif... ternyata, saya bisa juga rindu kuliah farmakologi... :D
Iseng ngebuka folder foto saya beserta sub-sub foldernya yang sangat banyak, saya menemukan foto-foto editan ini... tertanda taun 2009 bulan apriL, sudah lama, jadi beberapa informasi sepertinya sudah tidak valid lagi... :)
just for refreshing my mind, eniwei... NB: saya lupa siapa yang motret, palingan ya Om Fotografer yang biasa dijajah oleh teman-teman kerennya ini :p NB lagi: ternyata saya sangat kreatif yaaah, huahhaa... huebat! *maksa