Minggu, 09 Mei 2010

Everyday Nyabung Ayam!!



Baru pertama kali ini saya nonton sabung ayam dalam jarak pandang super dekat Yah, itu juga karena diajakin si Ayos yang hobi motret. Sebenernya cukup sering saya lewat daerah ini, sebuah gang di Johar, kawasan Kota Lama Semarang, biasanya disebut gang Telkom karena letaknya yang bersebelahan dengan gedung Telkom. Sabung ayam diadakan setiap hari di sini! Yah, setiap hari artinya everyday!!! Everyday nyabung ayam! Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling ramai. Okelah, saya ngga akan membahas kenapa di daerah ini sabung ayam diperbolehkan, karena sepertinya toh bapak-bapak di sini anteng-anteng aja melakukan kegiatan rutinnya, jadi kenapa harus saya yang bingung hehee…



Yap, untuk beberapa orang pecinta fotografi, saya yakin tempat ini adalah surga, beuh, serius… Anda akan lupa waktu! Atau bahkan Anda jadi ingin ikut andil dalam sabung ayam? Haha, itu lain lagi masalahnya... Yah, bagaikan resto all u can eat, maka di gang ini, all u can shoot! Saya yakin, ratusan foto di kamera Anda akan 'berbau' ayam… Apalagi didukung dengan suasana Kota Lama yang akan memperkaya hasil jepretan kamera. Kandang ayam, penjual ayam, penawar ayam, ayam mandi, ayam makan, ayam digendong, ayam dielus, dan tentu saja yang paling ditunggu adalah saat ada ayam yang akan diadu. Semua orang berkumpul uyel-uyelan ingin menyaksikan pertarungan ini. Dari satu petak tempat ini saja, dapat diambil beeeerbagai macam gaya dan ekpresi ayam petarung. Ayam terbang?? Itu bukan sesuatu yang ngga mungkin untuk disaksikan di arena ini. Sampai akhirnya saya melihat seorang bapak agak esmosi, karena ayam jagoannya kalah, dan terluka. Si bapak langsung menggendong ayam keluar dari arena dan ngga sungkan ‘menyeruput’ darah yang sepertinya mulai keluar di kepala ayam. Hooo… saya speechless nonton adegan ini. Dan ternyata setelah diperhatikan baik-baik, wajah ayam-ayam di sini banyak yang bocel akibat ulah cakaran sodaranya sendiri… Hm… kasian…
Saya merasa agak-agak guilty pleasure gitu jadinya, hehe… Ya sudahlah, semoga suatu hari nanti ayam-ayam tangguh ini punya kesempatan untuk hidup dalam damai. :)



Jumat, 30 April 2010

The Monophones and The Others

Beberapa hari yang lalu, saya ngga sengaja menemukan folder The Monophones di dalam hardisk external saya. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada nama foldernya, The Monophone – A Voyage to the Velvet Sun. Saya ngga tau itu siapa atau apa. Saya juga sudah lupa siapa yang ngasih folder itu. Yahhh.. hardisk saya itu suka kelayapan kayak yang punya. Pulang-pulang free space-nya sudah berkurang. Well, ternyata folder itu mengandung tujuh lagu. Okelah, saya mulai pasang telinga baik-baik, untuk memutuskan perlu dihapus atau ngga dari hardisk.


Terus terang saya ngga mendengarkan intro, langsung saya skip ke next track. Sepertinya saya terpengaruh temen kosan saya, Rina, yang suka bawel kalau dengerin lagu isinya kebanyakan suara musik daripada suara manusia.


Ketika mendengarkan lagu berjudul Mentari, saya langsung bisa menerka band ini pasti bergenre retro. Menurut saya menjadi lagu pertama dalam suatu album itu kedudukannya sangat penting! Sebagai pembuka, dia harus punya kemampuan menggoda pendengar untuk melanjutkan ke lagu berikutnya. Dan menurut saya, The Monophones melakukannya dengan baik dan benar, hoho... Then, lanjut ke track berikutnya, lagu yang memiliki judul sama dengan album, A Voyage to the Velvet Sun. Waaaw, lagu ini bikin saya menaikkan volume speaker laptop, haha... Lagu ini bikin saya pengen nyanyi juga. Langsung saja saya masuk google, tapi agak susah juga sih nyari liriknya... Dari browsing itu juga saya baru tahu kalau The Monophones ini band indie dari Jogja dan album ini sudah dikeluarkan sekitar tiga tahun lalu, hahaaa... Bel masuk sekolah udah bunyi tapi saya masih selimutan di kasur, wokelah... saya telat!


Begitu dapet liriknya, lagu ini saya repeat terus sampai saya hapal. Hahaaaa... Dan ngga tahu gimana, semakin dibaca, saya semakin inget dengan perjalanan dua sahabat saya yang intelek tingkat tinggi tapi unfortunately masih berprofesi sebagai jobseeker. Walopun udah dilempar kesana kemari, mengikuti berbagai interview dan seperangkat model tes masuk, di dalam dan luar pulau, menghabiskan banyak ongkos, banyak tenaga, yang ngga bisa dipungkiri kadang membuat mereka masuk ke zona saturasi, tapi temen-temen saya ini anti-desperate dan gooo ahead!!


I will wait until the sun won't be shining

I will wait until the earth stop turning

I will wait until the stars gone glimmering

And when has come the time

I'll standing till the end


Memasuki track 4. Volume laptop yang emang lagi keras itu mendadak saya kecilkan. Kaget aja lagu Rain of July itu intronya udah jadul, melas banget lagi. Huhu… Dalam bayangan saya, ada lelaki mirip Rano Karno pas masih gondrong dan langsing, berdiri di tengah derasnya hujan dengan wajah jadul yang suram dan nelangsa, di depan rumah seorang perempuan yang mirip Yessy Gusman. Si (mirip) Yessy cuman bisa ngeliat si (mirip) Rano dari balik jendela dengan tatapan merana. Ya, percintaan mereka ngga disetujuin ama tetangga si (mirip) Yessy. Hm, settingnya itu tanggal 4 Juli aja lah… Kenapa? Karena tanggal 5-nya, saya ulang tahun, jadi cuaca harus cerah. Mwahahaaa… bagus sekali film produksi otak saya. Tapi serius, ini lagu gloomy tapi enak. Yap, enak! Padahal kesan pertama adalah aneh. Tapi begitu mendengarkan lebih lama, saya yakin akan mengulang lagu ini berkali-kali dengan volume max. Hahaa... en I did it. Dengarkan juga versi akustiknya di track terakhir, wiiih… kali ini si (mirip) Rano ngga cuman berdiri nelangsa aja, tapi udah ngesot bawa-bawa silet.


Sejak Naif mengeluarkan lagu Mobil Balap, saya mulai suka sama band, kebanyakan berlabel indie, yang membawakan nada jadul. Walopun saya suka musik retro abad 21, tapi anehnya saya bukan penggemar berat The Beatles, Koes Plus, apalagi Elvis Presley, padahal katanya mereka itu para dewa retro.Tapi jauh dari playlist winamp saya hehe… Saya baru benar-benar mendengarkan The Beatles ketika nonton film Across the Universe.


Baru-baru ini saya juga mendengarkan kompilasi Day to Embrace (yang rilisnya sudah bertahun-tahun lalu juga). Di situ ada sebuah track yang hobi saya puter berulang-ulang, judulnya Ode tentang Kecantikan dari Greats. Nah, band dari Surabaya ini juga bau-bau retro. Tapi beda banget sama si The Monophones. Makanya mendadak saya jadi penasaran, sebenernya ada berapa aliran retro sih di dunia ini??? Apalagi saya juga hobi ngedengerin yang lain kayak The Banery, White Shoes and The Couple Company, Sore, dan band-band lain yang saya kira retro tapi ternyata bukan, atau sebaliknya… Hehe..


Nah, dari situ yang bikin saya ngga paham, sebenernya batas sebuah band disebut retro itu kayak gimana? Apakah penampilan di panggung harus pake celana cutbray, kemeja press bodi, kacamata polisi Amrik, atau yang cewe pake rok sampe di atas pinggang? Atau dari segi sampul album, harus mengusung tema pop art kayak The Monophones ini atau Mesin Waktu-nya Naif? Gimana cara menentukan apakah si band ini retro atau ngga tanpa melihat profilnya di MySpace?


Maka, saya, dengan iseng hati dan kurang kerjaan nanya temen yang cukup kompeten dalam bidang ini, disamping bidang kefarmasian tentu saja hehe… Begini, dia bilang, ngga ada pakem buat sebuah band untuk dibilang retro, cuman ada pattern tertentu yang khas sound retro. Walopun retro itu banyak cabangnya, tapi secara umum, retro tuh ada aliran good boy atau retro pop seperti White Shoes, en sepertinya The Monophones juga kayak masuk ke sini sih. Ada juga bad boy atau retro rock en roll kayak Elvis gitu, di sini sound gitar biasanya lebih ke drive atau grunch. Nah kalo si good boy, biasanya rajin pake nada-nada minor terus dinyanyiin secara lay back.


Apa itu drive?? (Anjie Drive?? Sheila Marcia??) Apa itu grunch?? Apa lagi itu lay back??


Saya lebih bisa merasakan daripada memahami pengertiannya hahaa… intinya saya ngga ngerti kata-kata itu, tapi sesuai instruksi teman saya: bandingin aja Mobil Balap versi Naif dengan versinya The Brandals… Naaah, baru dari situ saya bisa merasakan, oooh grunch tuh kayak gini, oooh pattern-nya rock en roll retro tuh kayak gitu…


*Mwhaahaa, ini sok tahu tingkat tinggi, sodara! Jangan percaya!*


Ada lagi tuh retro swing, hm kalau dari bau-bau namanya, ini pasti jazz jaman dulu. Tapi (kata dia lagi) biasanya tiap band retro malah menamai aliran mereka sendiri. Retro apaaa gitu, retro gloomy, retro keroncong, atau Retro Karno mungkin, hahaaa... Yah itu kalau saya yang bikin band.


Saya pernah baca, Naif sendiri ngga pernah mengkotak-kotakkan musik mereka harus retro, tapi mereka merasa nyaman saja dengan nada seperti itu. Nah, mungkin si ’nada seperti itu’ lah yang keluarnya menjadi sebuah sound vintage. ’Nada seperti itu’ juga yang mungkin dimaksud si temen saya tadi sebagai ’pattern khas’. Widddihhh... saya emang excellent with morality!


Oke, jadi maksud dari postingan ini adalah saya sedang suka The Monophones karena bisa memainkan ’nada seperti itu’. Saya ngga mau tau itu termasuk pop–retro atau swing-retro atau retro yang lain, hehe... Intinya kalau ada lagi lagu yang jatuhnya seperti nada itu, pasti nasibnya akan seperti Rain of July: saya putar berulang-ulang.



Thanks to Gami, teman kuliah saya, seorang vokalis band lokal beraliran rock n roll jadoel, yang jam terbang manggungnya sudah ngga bisa dihitung lagi, padat merayap, eh pernah muncul di Arek TV juga! *ihiiiiiiy, masuk tipi reeek…*

Good luck for ur band, and be hepi in Bandung with ur lovely motorbike, Mbah Koong :)



Selasa, 27 April 2010

Sedikit Tentang Kota Lama

Traveling itu ngga harus ke gunung, ngga harus melihat sunset di pantai, ngga harus melintasi lautan berjam-jam demi menginjakkan kaki di pulau eksotik tak berpenghuni.

Yaaah, saya juga baru nyadar, kalo masih banyak cara untuk traveling tanpa harus jauh-jauh dari rumah. Hoho... yap, akhir-akhir ini, saya punya hobi merhatiin bangunan-bangunan vintage di beberapa kota Ngga banyak sih, cuman tiga kota aja, hehe... Tapi saya berniat mendokumentasikan seluruh bangunan jadul di Indonesia, kemudian menuangkannya dalam tulisan yang super lengkap hohohoo, karena setelah saya lihat-lihat, dari ketiga kota ini saja punya ciri khas dan cerita sendiri, apalagi kalau seluruh Indonesia saya posting ke sini?? Waw... Hahaa... Wawww lagi aaaaaah...

Sementara saya hanya mampu tiga kota dulu, hehe... keterangan super singkat dengan hanya pamer satu foto saja huhu... Kapan-kapan saya tulis lengkap deh dengan gambar yang lebih buanyaak! (yaaah, doakan sayaaa...)

Kotagede, Jogjakarta. Kota tua yang sangat Jawa sekali. Rumah Joglo sampai Masjid Kuno Mataram beserta situ-situs lain kerajaan tersebut, tersedia di kawasan ini.



Johar, Semarang. Kota tua dengan julukan Little Holland. Yang mau ngantor, silahkan, yang mau nyabung ayam, monggo :)


Jalan Gula; Jalan Rajawali; JMP, Surabaya. Kota tua dengan bumbu-bumbu Pecinan.
Parahnya, untuk Surabaya yang sangat saya cintai, dan Jalan Gula yang sangat saya kagumi, saya ngga punya dokumentasi dari kamera sendiri, karena tiga kali saya foto-foto di sana, cuman buat narsis-narsisan saja... hahaa... Yaaah bagaimanapun, dari ajang itu saya jatuh cinta beneran sama kota lama di Surabaya ini. Lain kali saya harus balik lagi, dan berusaha dengan baik dan benar menangkap suasana jadul di sana. Nah, kalau foto yang ini diambil di sebuah gang belakang hotel Ibis, tapi masih kurang berasa pecinannya :(


PS super panjang - cerita Rumah Lama:
Beberapa tahun silam, saya pernah mengantar Ibu ke sebuah laboratorium klinik di Jember untuk tes darah untuk memastikan penyakit yang sedang mengganggu kesehatan beliau. Waktu itu dokter menduga Ibu saya terkena infeksi si Salmonella thyposa. Yap, biasanya saya mengantar Ibu ke lab klinik X yang sudah sangat ternama di mana-mana, tapi malam itu, Ibu saya pingin ke lab klinik lain, dengan alasan agar lebih cepat didapat hasil tesnya.

"Tralisnya masih sama," ujar Ibu ketika memasuki pintu depan lab klinik Z tersebut. Well, well, ternyata lab klinik itu adalah bekas rumah almh. nenek saya, tempat di mana Ibu menghabiskan masa kecilnya, empat puluh sembilan tahun silam. Ngga banyak berubah kata beliau, pintu-pintu besar, ubinnya, ruangannya, tidak banyak yang dibongkar, hanya dindingnya saja yang dipoles lagi.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu (dalam setting hitam putih hehe) mungkin Ibu-kecil asik lari-larian sama Om dan Tante, sementara Nenek saya yang jago bahasa Belanda itu, pasti sibuk bikin kue yang lezatnya minta ampun untuk dijual di pasar wohoho...
Masih dalam bangunan yang sama, berpuluh-puluh tahun kemudian, Ibu duduk bersama saya, putrinya yang cantik, menunggu hasil tes darah dari ruangan yang dulunya dibuat usaha percetakan oleh kakek saya. Hahaaa... this is so weird, so magical, so beautiful...


Dear Galileo


Sepanjang sejarah saya dalam menonton trailer film di youtube, Dear Galileo-lah yang paling buaaanyak saya replay, mungkin dua puluh kali lebih... hahaa... yaaah... saya emang freak! So what?? :p

Saya suka merinding ngeliat adegan ketika si mbak jatuh gedubrakan sama kopernya, terus disambung ketawa ngakak kayak orang bego bersama travelmatenya... *yaaah ini merinding yang ngga jelas haha...*

Sayangnya, saya belom sempet nonton film ini, padahal sudah punya sekitar sebulan yang lalu, tapi tertinggal di Surabaya :(

Yasudah, nonton trailernya lagi aja...

Senin, 26 April 2010

Catatan Si Surabaya

Note: tulisan ini pindahan dari fesbuk saya hehe...

Tiba-tiba saya pengen nulis note, halah…
Fasilitas fesbuk ini hanya pernah saya gunakan 3 kali; satu saya gunakan untuk nge-tag tugas pada temen-temen waktu magang di dinas kesehatan, kemudian sekedar copas lirik lagu Disguise, dan lirik lagunya Endah en Rhesa. Untuk copas lirik saja, saya butuh pertimbangan berhari-hari, hahaaa.... Saya males dituduh sedang ini sedang itu sesuai isi si lagu. Saya juga bukan tipikal orang yang mudah menceritakan sesuatu lewat tulisan kecuali ngetik laporan kuliah. Tapi tiba-tiba cling, hari ini saya pengen nulis note....

Well, saya mau nulis apa? Saya juga bingung, saya bukan penulis yang baik, jadi yang baca jangan banyak protes tentang teknik menulis saya yang emang amburadul.
Saya pernah denger, dan saya sukses lupa mengingat denger dari sapa, yang jelas paling gampang itu menulis apa yang lagi happening aja… Sebenernya saat ini saya sedang merasa lapar, tapi ga perlu banget untuk mendiskripsikan suatu bentuk kelaparan anak kos yang memang sudah biasa terjadi.

Kalo gitu, dalam rangka akan segera pindah provinsi selama 2 bulan, saya pengen nulis betapa saya sedang jatuh cinta berat sama Surabaya... hahaaa... Well, itu beneran, serius... Beberapa waktu yang lalu saya berada di Jember selama lebih dari seminggu. Dan berada di rumah selama itu sebenernya jarang terjadi dalam kehidupan perkuliahan saya. Bukaaan, bukan sok sibuk, tapi kalo liburan, biasanya saya ngulang mata kuliah yang dapet jelek, hahaa... memalukan emang! Jadi pas kemarin itu, saya seminggu full sama bapak ibu, makan enak, ga keluar uang, ga perlu cuci baju, cuci piring, dan cuci-cuci yang lainnya. Kegiatan saya cuman makan, tidur, nonton TV, nonton dvd, main ke rumah si ini, si itu... Begitu saja...

Tapi anehnya pada saat saya di rumah, saya merasa super duper kangen Surabaya, dengan kamar kosan saya yang berukuran 3x3 meter, dengan TV saya yang remotenya ada dua dan rusak semua, dengan teh botol sosro dingin yang sering saya beli di toko depan secara kredit, dengan nasi padang depan gang Srikana, dengan mie pangsit tenda biru di Kayoon yang hanya boleh dimakan ketika saya berada dalam keadaan lapar tingkat dewa, dengan boneka ular saya si Bokin, boneka hadiah ulang tahun teman-teman kosan saya... Kenapa ular? Yaaah.... itu karena saya pernah naksir sangat amat lama pada mas kosan depan yang punya peliharaan agak aneh untuk ukuran anak kos; ular. Hwehe....Kenapa saya naksir si mas itu? Karena dari sekian banyak anak kosan di depan kos saya, dia yang paling rajin tarawih di mushola... hahaha, jadi pertanyaannya, mungkinkah waktu itu saya tarawih buat ngeliatin dia tarawih?? Yaowoh, ampuni saya...

Yang jelas saya juga kangen dengan acara rutin anak kosan saya, yaitu gelimbungan. Gelimbungan adalah suatu kegiatan yang dilakukan pada jam 12 malam ke atas di mana para peserta bebas melakukan apa saja dalam satu kamar; ngerjain tugas, nyanyi-nyanyi, ketawa ketiwi, tidur-tiduran, tidur beneran atau bahkan hanya diam saja mendengarkan musik dari earphone melihat si ini dan si itu lagi curhat-curhatan. Paling sering gelimbungan ini diadakan di kamar saya, atau kamar Rina. Sebenernya obsesi saya pengen gelimbungan di kamar Leny, biar kamar dia yang rapi itu jadi berantakan pas kita tinggal, hhahahaa...

Dan yang terpenting, saya kangen sensasi panas-panasan di kosan. Hooo... Surabaya emang punya gaya tersendiri dalam merebus penduduk di daerahnya. Satu lagi, satu lagi, saya kangen kelayapan dan keluyuran di Surabaya, dengan batas waktu yang tak ditentukan. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan ketika di rumah, hahahaaa... Alhamdulillah, bapak kos dan ibu kos saya masih muda nan gaul, jadi maklum kalau anak-anak kosnya suka pulang telat en ngerepotin pembokat.

Karena rasa kangen luar biasa itu, saya nekad minta sumbangan dana kepada Om saya pas kita sedang menghadiri acara pernikahan sodara di Bali, untuk dibelikan tiket pesawat pulang ke Surabaya, tanpa mampir ke Jember. Padahal saya masih ada libur dua minggu sebelum hijrah ke Semarang. Hahahaa... okelah saya emang keponakan tak tahu diri. Dan Om saya yang baik hati dan banyak duit itu (amin!) bersedia memfasilitasi saya dengan ikhlas. Hehee...

Akhirnya jam 9 pagi waktu Bali saya terbang dari Ngurah Rai, dan jam 9 waktu Surabaya saya sudah di dalam taksi menuju kosan di Karang Menur. Perbedaan waktu ini kadang bikin saya bingung en wondering, dimana letak persisnya batas waktu indonesia barat dan indonesia tengah??
Satu jam dari Juanda, dengan ongkos taksi 92 ribu (waw!), saya sampai dengan selamat di kosan. Saya langsung ke lantai atas dan ternyata 2 kamar lain di atas tak berpenghuni, mungkin yang satu sedang kuliah dan yang satu sedang kerja.

Ketika saya masuk kamar, hal yang pertama saya lakukan adalah membongkar tas laptop dan mengeluarkan modem karena ingin segera aplot foto. Nah, ketika saya akan menyalakan laptop itulah, saya baru sadar ada sesuatu menggenang di pojokan lantai, deket printer saya. Omaigaaaaaat, ternyataaaaa... satu botol tinta hitam saya jatuh tergeletak dan byuuuurrr.... menggenangi lantai di bawah meja printer... ooohhh.... padahal di sana tergeletak si Bokin, untungnya dia selamat padahal sedikit saja dia bergeser kulitnya yang lembut berwarna putih (ular putih?) akan ternoda!

Malam harinya, karena saya juga kangen sahabat saya di Gebang Kidul, yap, si Agitha yang Suci, saya mengajak dia jalan ke TP... Mungkin karena kami kurang bersedekah atau terlalu banyak ngomongin orang, pulangnya kami kehujanan dan kebanjiran... pas sekali saya juga ga bawa jas hujan! huwaaaaah kami berteduh di sebuah kantor di daerah Manyar selama lebih dari satu jam. Dan acara 'ngiyup' diisi dengan membicarakan si ini si itu... hahahaa....

Ketika sudah cukup reda, saya memutuskan untuk segera mengantar Githa pulang ke kosannya karena sudah jam setengah 11 malem. Sampai dikosannya, hujan malah mulai merintik lagi, si Githa mengajak saya nginep di kosannya, tapi ngga deh, saya kan ke Surabaya karena kangen kosan. Saya nekad menembus banjir yang cukup menghebohkan itu. Tapi anehnya saya ngga mengeluh apa-apa, cuman banyak-banyak doa biar motor saya ngga ngadat di tengah jalan.

Sampai di kosan jam 11 malem, dengan keadaan basah kuyup. Ternyata acara gelimbungan di kamar Rina sudah dimulai sodaraaaaaaa.... haha, saya segera bersih-bersih diri, dan gabung dengan mereka. Hwhaaaaa..... besoknya saya dan sahabat saya yang super ganteng, Ayos, nonton Endah en Rhesa di Unair waaawww..., Endah en Rhesa is soooo wawww....


Yap, dua hari di Surabaya, kepanasan udah, kebanjiran tinta udah, kebanjiran air hujan udah, kelayapan udah, gelimbungan juga udah.... Saya tambah cinta sama Surabaya ini, dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang sukses bikin saya hepi.... Biarin deh saya dibilang lebay pake nulis note ini segala, tapi yes i do... i’m gonna miss you a lot... Bye for a while Surabaya! :)

*290310*