Rabu, 19 Oktober 2016

Harmoni Gamelan Wirun

Ji ro lu pat… dolanan karo aku…
Ji ro lu pat… dolanan karo aku…

(Satu dua tiga empat... yuk bermain denganku...)

Saya ternganga melihat sebuah tayangan di youtube yang kabarnya sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Adalah sekelompok warga negara Polandia, yang tampak sedang asyik memainkan gamelan sembari melantunkan nyanyian berbahasa Jawa tadi. 

Meskipun saya tidak bisa bermain gamelan, namun dengan menonton tayangan itu saja, hati ikut bergetar. Antara bangga sekaligus kagum melihat ada masyarakat asing begitu fasih memainkan salah satu alat musik tradisional Indonesia.

Seketika itu saya memahami perasaan Ibu Ari, wanita pemilik industri pembuatan gamelan Ajigongso di Kabupaten Sukoharjo. Wanita itu bercerita dengan agak emosional tentang perjalanannya ke Pulau Dewata.

“Saat datang ke Denpasar, saya tidak sengaja melihat kempul buatan saya sedang dimainkan di sebuah sanggar. Saya minta izin melihat logonya, tiba-tiba ingin menangis rasanya. Betul itu buatan saya…”

Sebulan lalu, saya bertemu Ibu Ari di kediaman beliau saat saya melakukan perjalanan dadakan ke Solo. Liburan singkat ke kota yang akrab dengan kuliner tengkleng itu memang sering kali saya lakukan secara tiba-tiba. Akses dari Yogyakarta menuju Solo begitu mudah dan terjangkau. Hanya dengan 8000 rupiah dan duduk manis selama satu jam di dalam kereta, maka saya sudah sampai di Stasiun Solo Balapan.

Saat itu tujuan saya hanya dua hal, berbelanja di pasar antik Triwindu dan berkunjung ke industri pembuatan gamelan terbesar di Indonesia. Lokasinya di Desa Wirun, Kabupaten Sukoharjo yang bersebelahan persis dengan Solo. Dari stasiun Solo Balapan, saya berkendara menggunakan motor sewaan menuju Wirun. Desa tersebut  rupanya sudah tertanda dengan jelas di aplikasi peta digital dalam smartphone. Perjalanan berlangsung selama setengah jam dengan jarak tempuh hampir 10 km.

Meskipun berlokasi di Sukoharjo, namun beberapa hotel di Solo, kerap kali menyediakan paket kunjungan ke Desa Wisata Wirun. Selain dikenal sebagai sentra produsen gamelan, desa tersebut juga identik dengan industri penyulingan alkohol dan pembuatan genting. Ditambah lagi dengan suguhan alam berupa bentangan sawah-sawah yang mengelilingi desa.

Tak banyak yang saya ketahui tentang desa wisata tersebut sebelumnya. Bertemu Ibu Ari pun adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan. Saat saya berputar-putar jalanan desa, tiba-tiba terdengar dentang logam ditempa dari balik dinding sebuah rumah. Suaranya begitu nyaring, hingga saya memutuskan untuk memarkir motor di sana.

Benar dugaan saya, rumah tersebut adalah salah satu tempat produksi gamelan di Desa Wirun. Segera saya sapa seorang wanita yang tampak sedang membersihkan beberapa gamelan berwarna keemasan.

“Nama saya Ari, orang sini biasa nyebut Ari Ajigongso,” ujarnya menyambut jabat tangan saya.


Ibu Ari meneruskan usaha milik sang bapak yang sudah meninggal tahun 8 tahun silam. Dari penuturannya, industri gamelan di Desa Wirun pernah mencapai kejayaan pada awal tahun 90-an. Kini yang tersisa tinggal sepuluh pengelola saja. Walaupun demikian, mereka masih saling terikat darah persaudaraan karena berasal dari satu keturunan, yaitu Mbah Roso, yang dikenal sebagai pelopor industri gamelan Desa Wirun.

“Ini namanya bonang, yang itu kenong. Banyak sekali macam alat musik dalam gamelan. Ada yang dipukul, ditiup, digesek.” Ibu Ari nampaknya paham betul melihat raut wajah saya yang kebingungan melihat berbagai instrumen musik bertebaran di sana. Satu set gamelan lengkap biasa dijumpai dalam acara karawitan untuk mengiringi pertunjukan kesenian Jawa seperti wayang. 


Pembuatan gamelan termasuk pekerjaan kasar yang membutuhkan tenaga ekstra dan kulit tahan panas. Siang yang terik itu rupanya hari keberuntungan saya karena bersamaan dengan proses pembuatan sebuah gong. Akhir-akhir ini industri pembuatan gamelan sedang lesu. Proses produksi hanya dilakukan saat ada pesanan saja kata Ibu Ari.

Prang! Prang! Prang! 

Seorang lelaki berkupluk putih memukul-mukul gulungan tembaga dengan sekuat tenaga. Kelak tembaga tersebut akan dilebur bersamaan dengan timah di dalam bara api dengan perbandingan tertentu. Campuran tembaga dan timah akan menghasilkan bahan untuk gamelan perunggu.

“Perhitungannya harus tepat. Salah seratus gram saja, bisa-bisa gong tidak berbunyi,” ujar Ibu Ari. Rupanya tak hanya perasaan wanita saja yang sensitif, gamelan pun demikian jika formula penyusunnya kurang tepat. Dalam hati saya menjura keilmuan para pembuat gamelan zaman dahulu kala.  


Setelah dilebur, campuran tadi akan dicetak menyerupai lempengan. Lalu dibentuk sesuai dengan gamelan yang diinginkan dengan cara dipukul-pukul berulang-ulang. Dalam waktu setengah hari, pekerja Ibu Ari yang berjumlah dua belas lelaki, bisa memproduksi satu gong.  Saat itu para pekerja sedang menyelesaikan gong berdiameter 80 cm yang dibandrol dengan harga sekitar 9 juta rupiah.

Karena bobotnya yang luar biasa, sistem pengerjaan satu gong pun digarap secara bergotong-royong. Sekitar delapan orang mengerumuni sebuah perapian, tempat di mana gong tersebut dibentuk. Dengan tongkat besi, mereka tampak asyik membolak-balik lempengan itu laiknya sedang menggoreng tahu bulat di dalam wajan. Saya bergidik ngeri saat percikan api melayang-layang di ruang produksi. 



Industri pembuatan gamelan juga mengenal tingkatan kualitas. Gamelan berbahan dasar perunggu terbukti lebih awet dan tingkat kemewahannya nomor wahid. Lalu ada pula gamelan dari kuningan yang setingkat lebih rendah kualitasnya dibanding perunggu. Jarang sekali ada produsen gamelan kuningan karena harganya hanya selisih sedikit saja dibanding perunggu yang terbukti lebih bagus. Kualitas paling akhir adalah gamelan besi yang lebih mudah retak dibanding dua bahan lainnya.

Masing-masing industri gamelan di Desa Wirun ini memiliki pasar langganan tersendiri. Ada yang di sekitaran Jawa namun ada pula yang menjualnya hingga ke Bali. Tak jarang juga gamelan-gamelan buatan Wirun terbang hingga ke manca negara. Bisa jadi gamelan yang dimainkan oleh warga Polandia di Warsawa dalam tayangan youtube tadi merupakan salah satu buatan desa ini.


“Turis asing memang sering mampir kemari, ada yang hanya lihat-lihat dan bertanya saja. Tidak masalah buat saya, hitung-hitung berbagi pengetahuan. Syukur-syukur kalau ada yang pesan. Bapak saya sendiri pernah menggarap pesanan untuk dikirim ke Jepang,” cerita Ibu Ari dengan bangga.

Seperti usaha-usaha lain, produksi gamelan di Wirun pun pernah merasakan naik turunnya permintaan. Pernah ramai, namun juga kadang sepi berturut-turut. Kebanyakan para pemesan hanya membeli satu atau dua alat gamelan saja. Sangat langka mendapatkan kustomer yang menginginkan satu set gamelan apalagi harganya bisa mencapai 500 juta rupiah. Perkumpulan seni baik di Jawa atau Bali biasanya sudah memiliki satu set gamelan. Alat musik ini memang terbilang awet. Mereka hanya datang sesekali untuk memperbaiki gong atau tukar tambah gamelan lain yang sudah rusak.

“Mudah-mudahan, suatu hari nanti tiap kecamatan di Jawa Tengah, punya kelompok-kelompok seni yang menyediakan satu set gamelan. Jadi anak-anak muda bisa belajar bermain gamelan dengan lebih mudah.”

Saya mengamini harapan Ibu Ari. Saat ini kegiatan karawitan sering dijumpai sebagai ekstrakurikuler di sekolah-sekolah di Jawa Tengah. Di sana murid-murid berkenalan dengan gamelan serta berlatih tembang Jawa. Adanya kelompok seni di lingkungan rumah, seperti yang Ibu Ari harapkan, pasti akan membantu menelurkan generasi muda yang berminat mendalami musik tradisional Jawa tersebut. Tentu saja tak hanya regenerasi penabuhnya yang diperlukan, namun keberadaan industri pembuatannya di Desa Wirun juga harus lestari agar gaung harmoni gamelan senantiasa mendunia. []

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar